*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bahasa Indonesia di blog ini Klik Disini
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
nama-nama negara ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang baku. Sebagai
contoh: Belanda (bukan Netherlands), Inggris (bukan United Kingdom/England), Jerman
(bukan Germany), Prancis (bukan France atau Perancis), Tiongkok (istilah baku
untuk China). Baru-baru ini daftar nama negara yang mengalami penyesuaian ejaan
terbaru Indonesia: Afghanistan menjadi Afganistan; Bangladesh (Banglades); Bhutan
(Butan) Brunei Darussalam (Brunei Darusalam); Cabo Verde (Tanjung Hijau); Chile
(Cili); Djibouti (Jibuti); Guinea (Ginea); Kazakhstan (Kazakstan); Lebanon (Libanon);
Liechtenstein (Liktenstin); North Macedonia (Masedonia Utara); Paraguay (Paraguai);
Thailand (Tailan); Switzerland (Swis); Uruguay (Uruguai).

Thailand
Jadi Tailan, Akankah Resmi Masuk KBBI? Ini Kata Badan Bahasa Kompas.com, 20
Januari 2026. Kompas.com. Pemerintah
melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) resmi menetapkan perubahan penulisan
dan pengucapan nama negara Thailand menjadi Tailan dalam bahasa Indonesia.
Perubahan ini tercantum dalam dokumen eksonim, yaitu daftar nama resmi
negara-negara dunia versi bahasa Indonesia. Pembaruan tersebut dimuat dalam
dokumen resmi bernomor GEGN.2/2025/122/CRP.122 yang disampaikan Indonesia pada
sidang United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di New
York, Amerika Serikat, pada 28 April–2 Mei 2025. Standardisasi ini merupakan
bagian dari inisiatif jangka panjang yang telah diajukan delegasi Indonesia
sejak 2019. Dalam dokumen UNGEGN bertajuk “Updated World Country Names: Short
and Formal Names, Submitted by Indonesia” tertanggal 10 Maret 2025, disebutkan
bahwa Indonesia mulai mengumpulkan daftar lengkap nama negara dan ibu kota
dunia sejak sesi perdana UNGEGN pada 2019. Upaya tersebut kemudian diperkuat
pada 2024 melalui pembaruan ejaan yang lebih akurat secara ortografis (tata
tulis) dan fonologis (pelafalan). Tujuan utama pembaruan ini adalah
menyesuaikan penulisan nama negara asing agar selaras dengan pelafalan dan tata
tulis bahasa Indonesia, tanpa menyimpang dari daftar resmi negara anggota
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti Thailand menjadi Tailan serta
Paraguay menjadi Paraguai.
Lantas
bagaimana sejarah nama negara lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI)? Seperti disebut
di atas, baru-baru ini ada sejumlah negara lain yang mengalami penyesuaian
dalam Bahasa Indonesia. Sebaliknya, nama Indonesia di berbagai negara lain sudah
ada sejak lama. Lalu bagaimana sejarah nama negara lain dalam Bahasa Indonesia
(KBBI)? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita
telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Negara Lain dalam Bahasa
Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Berbagai Negara Lain
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Nama Indonesia di Berbagai
Negara Lain: Hindia Belanda (Nederlandsch-Indië) bukan Suatu Negara, tetapi
Suatu Provinsi Dipimpin Gubernur (Jenderal).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok. Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Indonesia, saya memiliki hobi menulis artikel sejarah di blog di
waktu luang. Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Buku-buku sejarah yang sudah dipublikasikan:
Sejarah Mahasiswa di Indonesia: Generasi Pertama; Sejarah Pers di Indonesia:
Awal Kebangkitan Bangsa; Sejarah Sepak Bola di Indonesia; Sejarah Pendidikan di
Indonesia: Pionir Willem Iskander; Sejarah Bahasa Indonesia. Forthcoming:
“Sejarah Catur di Indonesia”; “Sejarah Kongres Pemuda dan Sumpah Pemuda”;
“Sejarah Diaspora Indonesia”. Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





