*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Seperti
halnya sejarah pelaut Indonesia, dalam sejarah pendakian gunung di Indonesia
tidak kalah hebatnya. Namun dalam pendakian gunung di Indonesia tempo doeloe
hanya nama (orang) asing yang dicatat/tercatat. Nama-nama pemandu, yang justru
orang Indonesia terabaikan. Oleh karena itu, pada dasarnya pendaki-pendaki
gunung Indonesia sudah berpartisipasi sejak lama,

Hansen memposting di channelnya tentang pengalaman mendaki gunung di Indonesia
di gunung Kerinci. Kita dapat melihat secara visual bagaimana perjalanan
pendakian dilakukan hingga mencapai puncak. Tipologi gunung-gunung di Indonesia
yang padat vegatasi (jungle) menjadi nuansa tersendiri dalam sejarah pendakian
gunung di dunia. Dalam sejarah pendakian gunung di Indonesia, dimulai pada era
VOC yang pertama pendakian gunung Salak, kemudian gunung Gede. Di Sumatra, pendakian
gunung pertama dilakukan di gunung Ophir pada tahun 1838. Pada era Hindia
Belanda juga dilakukan pendakian gunung di bagian Jawa, Bali dan Lombok. Dari
waktu ke waktu jumlah gunung yang didaki semakin banyak termasuk gunung Leuser
di Atjeh dan gunung Cartenz di Papoea. Namun dari semua pendakian gunung itu
nama Eropa/Belanda yang dicatat, sedangkan nama-nama pendaki gunung pribumi
(Indonesia) hanya dicatat anonim.
Lantas
bagaimana sejarah pendaki gunung di Indonesia sejak tempo doeloe? Seperti
disebut di atas, pendakian gunung di Indonesia telah dimulai sejak era VOC dan
semakin banyak yang didaki pada er Hindia Belanda. Namun semua itu nama-anam
pendki gunung Indonesia hanya dicatat anonim. Lalu bagaimana sejarah pendaki gunung
di Indonesia sejak tempo doeloe? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia – Pendaki
Gunung di Indonesia Sejak Tempo Doeloe: Ophir hingga Cartenz
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pendaki Gunung di Indonesia
Sejak Tempo Doeloe: Nama Pendaki Gunung Dicatat Anonim
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





