*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa RM Ambia Poetro Soedibio
adalah satu hal. Bagaimana sekolah menengah HBS di Semarag adalah hal lain
lagi. Satu yang jelas adalah bahwa sekolah HBS Semarang dapat dikatakan kawah
candradimuka untuk pribumi yang melanjutkan studi ke Belanda. Mengapa? RM Ambia
Poetro Soedibio adalah salah satu lulusan HBS Semarang yang melanjutkan studi
ke Semarang.

kemudian dikenal sebagai Koning Willem III School (KWS). Sekolah HBS kedua
dibuka di Semarang pada tahun 1877 setelah dua tahun sebelumnya sekolah HBS di
Soerabaja. Sejak dizinkannya lulusan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) dari
golongan pribumi memasuki sekolah HBS, nama sekolah HBS menjadi banyak
dibicarakan. Hal itu karena siswa-siswa pribumi yang lulus dari sekolah HBS
Semarang banyak yang melanjutkan studi ke Belanda. Bahkan siswa pribumi pertama
lulusan HBS berasal dari sekolah HBS Semarang, yakni Raden Sosro Kartono (abang
dari RA Kartini) pada tahun 1896. Lantas apakah Raden Kartono menjadi sebab
pribumi lulusan HBS melanjutkan studi ke Belanda? Atau adakah faktor lainnya.
Lantas
bagaimana sejarah RM Ambia Poetro Soedibio? Seperti disebut di atas, RM Ambia
Poetro Soedibijo adalah lulusan sekolah HBS Semarang yang melanjutkan studi ke Belanda.
Lalu bagaimana sejarah RM Ambia Poetro Soedibio?? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan RM
Ambia Poetro Soedibio: Studi ke Belanda
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS) RM Ambia Poetro Soedibio
melanjukan ke sekolah menengah (HBS). Pada tahun 1902 RM Ambia Poetro Soedibio naik
dari kelas dua ke kelas tiga (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 09-05-1902). Disebutkan di HBS Semarang diadakan ujian yang
mana yang lulus naik dari kelas dua kelas tiga sebanyak 50 kandidat dan yang
lulus 35 diantaranya Raden Noer Singgih, Raden Mas Moeliono dan Raden Ambija
Soedokbijo. Di atas mereka satu tahun naik ke kelas empat antara lain Raden Mas
Kworo dan Raden Mas Soerardjo.
Raden Noer Singgih dan Raden Mas Moeliono
diterima di HBS Semarang pada tahun 1900 (lihat De nieuwe vorstenlanden, 30-04-1900).
Disebutkan diadakan ujian masuk di HBS Semarang yakni dua kandidat untuk kelas
dua. Juga dfadakan ujuan masuk 90 kandidat untuk kelas satu dimana dua
diantarnya inlanderer. Nama-nama yang lulus diterima di kelas satu antara lain
Raden Noer Singgih dan Raden Mas Moeliono. Pada tahun 1901 Raden Noer Singgih
dan Raden Mas Moeliono lulus ujian naik dari kelas satu ke kelas dua (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 09-05-1901). Tidak ada nama Raden Mas Ambia Soedibja pada dua
tahun ujian tersebut. Lantas apakah RM Ambia transfer dari HBS lain (Batavi
atau Soerabaja) dan lulus ujian masuk dan ditempatkan di kelas dua?
Pada
tahun 1904 Raden Mas Ambia Soedibia lulus ujian naik dari kelas tiga ke kelas
empat (lihat De nieuwe vorstenlanden, 27-04-1904).
Yang lulus bersama antara lain adalah Raden Mas Notosoeroto dan Raden Mas
Soedjono. Pada kelas tertinggi naik ke kelas lima antara lain Noto Kworo. Dalam daftar yang lulus tahun 1904 ini tidak
ada nama Raden Noer Singgih dan Raden Mas Moeliono. Apakah mereka tinggal kelas
atau menunda studi atau transfer ke HBS Lain? Sebaliknya, Raden Mas Notosoeroto
dan Raden Mas Soedjono transfer dari HBS lain ke HBS Semarang. Pada tahun 1905
yang lulus ujian naik kelas lima di HBS Semarang antara lain Raden Mas
Notosoeroto dan Raden Mas Soedjono. Sementara Raden Ambia Soedibjo harus
mengikuti her. Tampaknya Raden Mas Soedibjo tidak berhasil (lihat De locomotief,
28-04-1906). Sebab Raden Mas Soedibjo baru naik ke kelas lima (bersama Raden
Mas Gondowinoto). Sedangkan Raden Mas Notosoeroto sudah lulus. Pada tahun 1907
yang lulus ujian akhir di HBS Semarang adalah Raden Mas Gondowinoto, Raden Mas
Moenarijo dan Raden Mas Soedjono (tinggal kelas tahun sebelumnya). Lalu
bagaimana dengan Raden Mas Soedibijo?
Di HBS Semarang yang lulus ujian akhir pada
tahun 1908 antara lain Raden Soemito (lihat De Preanger-bode, 25-05-1908).
Disebutkan dari 10 kandidat di HBS Semarang yang lulus ujian akhir adalah HW de
Bruin, JG Bouman, GAC Weehuizen, Raden Soemito dan Be Tiat Tjong. Raden Soemito
sendiri diterimas di HBS Semarang pada tahun 1903 (lihat Bataviaasch nieuwsblad,
02-05-1903). Disebutkan yang lulus ujian masuk antara lain Jap Hong Tjoen dan
Raden Soemito. Sedangkan yang juga lulus ujian masuk sebelumnya antara lain Be
Tiat Tjong, Raden Manas Notodiningrat, Raden Mas Mas Ario Poernomo, Raden Mas
Simbardjo dan Raden Mas Soehoed dan Raden Mas Soerjopoetro (lihat De locomotief,
25-04-1903). .
Raden
Mas Soedibijo diberitakan lulus HBS tahun 1908 (lihat Soerabaijasch handelsblad,
13-05-1908). RM Ambia tiak lulus di HBS Semarang tetapi di HBS Soerabaja. Besar
dugaan RM Ambia sebelumnya tidak lulus di HBS Semarang dan kemudian mengikuti
ujian masuk di HBS Soerabaja. Pada bulan Juli Raden Mas Ambia Soedibijo dan
Raden Mas Soemito berangkat ke Belanda (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-07-1908).
Disebutkan kapal ss Kawi berangkat dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland
pada hari kemarin. Dalam manifes kapal dengan ratusan penumpang hanya mereka
berdua nama non Eropa/Belanda.
Raden Mas Ambia Soedibijo dan Raden Mas
Soemito akan menjadi dua dari 147 mahasiswa baru di Technische Hoogeschool di Delft
(lohat De nieuwe courant, 10-09-1908). Dua yang lainnya yang berasal dari
Hindia (non Eropa/Belansda) adalah Be Tiat Tjong dan RM Notodiningrat. Raden
Mas Ambia Soedibijo dan Raden Mas Soemito adalah bersaudara. Het vaderland, 14-08-1908:
‘dari Koetoardjo adalah dua putra dari Regent disana, Raden Mas Ambio dan Raden
Mas Soemitro, juga cucu Bupati Banjoemas, berangkat ke Belanda. Ayah mereka
menemani mereka ke Bandoeng. Di Maos kakek-nenek berpamitan dengan cucu mereka.
Keduanya telah menyelesaikan ujian akhir sekolah menengah atas, yang pertama di
Surabaya, yang kedua di Semarang. Sekarang mereka akan pergi ke Belanda
melanjutkan studinya’.
Pada
bulan Januari 1909 diketahui Raden Soemito kembali ke tanah air (lihat Het
vaderland, 18-01-1909). Mengapa Raden Mas Soemito kembali ke tanah air? Jelas
bukan gagal dalam studi, karena perkuliahan belum mencapai satu tahun. Apakah
karena sakit atau karena diminta orangtua mereka harus kembali? Yang jelas
Raden Ambio Poetro Soedibijo, sang abang, tetap di Belanda.
Dalam narasi sejarah masa kini, nama Raden
Soemito dipertukarkan dengan nama Raden Soemitro. Raden Soemitro adalah siswa
HBS di Batavia yang meneruskan sekolahnya di HBS di Leiden dan lulus tahun 1908
dan diterima di perguruan tinggi Indisch Administrative Dienst. Sedangkan Raden
Soemito yang diterima di Delft diktehui telah kembali ke tanah air. Oleh karena
itu Raden Soemito dan Raden Soemitro adalah dua orang yang berbeda. Raden
Soemitro sendiro menjadi sekretaris Indische Vereeniging di Belanda yang
diketuai oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
RM Ambia Poetro Soedibio: Sejarah Sekolah HBS Semarang
Seperti
disebut di atas, Ambia Soedibio yang mulai sekolah HBS di Semarang, akhirnya
lulus ujian akhir di HBS Soerabaja pada tahun 1908. Pada tahun yang sama
adiknya Raden Soemito juga lulus di HBS Semarang. Pada bulan Juli 1908 Raden
Ambia Soedibio dan Rade Soemito berangkat ke Belanda (lihat Sumatra-bode, 07-07-1908).
Disebutkan kapal ss Kawi berangkat tanggal 11 dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland.
Mereka ini adalah generasi lebih lanjut pribumi yang sekolah di HBS Semarang.
Siapa yang menjadi pribumi pertama bersekolah di HBS Semarang, tidak diketahui
secara pasti, tetapi diduga kuat adalah Raden Oetojo.
Pada tahun 1891 Raden Mas Oetojo lulus ujian
akhir di HBS Semarang (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 08-06-1891). Disebutkan berita yang diterima dari surat kabar
di Batavia, ujian akhir HBS sebanyak empat siswa lulus dimana Raden Oetojo
dengan nilai 119 sebagai rangking kedua. Dalam hal ini, jika dan hanya jika,
Raden Mas Oetojo lancar studi, diterima di HBS Semarang pada tahun 1886. Setelah
lulus HBS Semarang, Raden Mas Oetojo tampaknya tidak melanjutkan studi ke
Belanda, tetapi bekerja pada pemerintah. Pada tahun 1894 Raden Mas Oetojo
disebutkan sebagai penulis di kantor Pekalongan,
Siswa
kedua pribumi yang diterima di HBS Semarang, diduga kuat adalah Raden Boesno
dan kemudian Raden Sosro Kartono (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 13-05-1891). Disebutkan di HBS Semarang diadakan ujian
saringan masuk dimana yang lulus empat perempuan dan 32 laki-laki. Diantara
yang lulus adalah Raden Sosro Kartono dengan nilai 38. Dari semua yang lulus
nilai tertinggi adalah 38 yang diperoleh oleh Raden Kartono dan FD Otken. Di
bawah nilai tersebut nilai 36 adalah AC Groeneveld. Nilai terendah adalah 28.
Ini mengindikasikan bahwa Raden Kartono tidak kalah bersaing dengan kandidat
siswa Eropa/Belanda.
Pada tahun 1892 Raden Kartono lulus ujian naik
dari kelas satu ke kelas dua afdeeling B (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 16-05-1892).
Afdeeling B adalah jurusan Matematika dan IPA. Pada kelas tertinggi naik dari
kelas empat ke kelas lima diantanranya Raden Boesono.
Pada
tahun 1893 Raden Kartono lulus ujian naik ke kelas tiga (lohat De locomotief :
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-05-1893). Pada tahun 1894 lulus
naik ke kelas empat (lihat De locomotief
: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 12-05-1894). Pada tahun 1895 lulus
nai ke kelas lima (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en
advertentie-blad, 11-05-1895). Akhinta pada tahun 1896 Raden Kartono lulus
ujian akhir HBS (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor
Nederlandsch-Indie, 11-06-1896). Disebutkan diadakan ujian HBS di Batavia
dimana salah satu yang lulus adalah Reden Pandji Sosro Kartono. Ini
mengindikasikan bahwa Raden Kartono lancar dalam studi di HBS.
Ujian HBS diadakan di Batavua untuk tiga
sekolah HBS yang ada di Batavia, Semarang dan Soerabaja. Dari 56 kandidat yang
mengikuti ujian disebutkan lulus sebanyak 39 siswa (lihat Java-bode : nieuws,
handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-06-1896). Nilai Raden
Kartono terbilang cukup tonggi dengan perincian vak nilai 116 dan roebriek
dengan nilai 34 yang secara keseluruhan Raden Kartono berada di peringkat
ketiga.
Raden
Kartono setelah lulus HBS Semarang berangkat ke Belanda. Pemberitahuan ini
dapat dibaca pada surat kabar De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad,
18-07-1896 yang menyebutkan telah berangkat tanggal 16 Juli dengan kapal
Prinses Marie dengan tujuan Nederland. Raden Kartono, anak dari Bupati Djapara
kemudian disebutkan akan kuliah di Polytechnische School di Delft (lihat De
Preanger-bode, 27-07-1896). Bderita itu menjadi viral di Hindia maupun di surat
kabar di Belanda. Boleh jadi itu karena yang pertama pribumi studi di perguruan
tinggi.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




