Nama Saroehoem sulit menemukan di
internet apalagi di medsos. Nama Saroehoem juga tidak tercatat dalam sejarah
nasional, apalagi dalam sejarah Semarang dan sejarah Soerabaja. Tentu saja tidak
hanya Saroehoem, banyak tokoh sejarah luput dari perhatian para sejarawan.
Padahal Saroehoem adalah seorang tokoh revolusioner yang dapat dikatakan mentor
politik pertama Adam Malik. Saroehoem sebagai jurnalis juga aktif dalam sarikat
jurnalis pribumi di Semarang dan Soerabaja.
di Semarang (sejak 1902), jauh sebelum surat kabar Medan Prijaji yang didirikan
Tirto Adhi Soerjo di Batavia (1908). Surat kabar Warna Warta sangat populer di
Semarang. Saroehoem adalah editor surat kabar Warna Warta Semarang sebelum
ditutup pada tahun 1931. Dalam Wikipedia
dicatat sebagai berikut: In 1931, a longtime editor Saroehoem left the board of
the paper and left Semarang for his native Tapanuli, citing disagreements with
his colleagues…In March 1933, Warna Warta renamed itself Djit Po; Ong Lee Soei
remained as director and Tan Hoa Bouw became editor. It continued publishing as
a daily newspaper. At the end of 1935 it was announced that the former editor
Saroehoem was returning to become editor-in-chief of the paper. Saroehoem juga
pernah menjadi editor surat kabar Sin Tit Po di Soerabaja. Saroehoem juga
menjadi bagian dari kerukunan (persatuan) Sumatra di Soerabaja bersama Radjamin
Nasoetion, anggota dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja. Saroehoem juga pernah
menjadi editor surat kabar Tjit Po (suksesi surat kabar Warna Warta).
Pertanyaannya: Mengapa Saroehoem begitu dekat dengan para jurnalis
Cina/Tionghoa? Apakah di dalam tubuh Saroehoem asal Padang Sidempoean juga
mengalir darah Tionghoa?
Lantas
bagaimana sejarah Saroehoem? Seperti disebut di atas, Saroehoem adalah salah
satu revolusioner Indonesia yang menjadi mentor politik Adam Malik. Saroehoem
van Padang Sidempoean terbilang begitu dekat dengan para jurnalis
Cina/Tionghoa. Lalu bagaimana sejarah Saroehoem? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia Wartawan
Saroehoem: Seorang Revolusioner van Padang Sidempuan di Semarang dan Soerabaja
Majalah
(mingguan berbahasa Melayu) Soeara Sini diterbiitkan di Padang Sidempoean
(lihat Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1929).
Disebutkan majalah Soeara Sini No 1 yang terbit tanggal 5 Juli 1928 dipimpin
oleh Saroehoem. Juga disebutkan sebagai co-editor adalah B. Ananda dari
Padanglawas, Mhd. Ali Harahap di Semenanjung Malaya, Raden Mhd. Joesoep di
Sumatera Selatan dan Raden Atmowisastro di Jawa Tengah. Administratue adalah A.
Hakim Loebis di Padang Sidempoean. Majalah ini dicetak di percetakan
“Tapian Na Oeli” di Sibolga.
& MA Machrnoed di Blinjoe, M Bangoen Siregar di Tandjoeng Karang, Noerhan
Nasoetion & Pamoentan Harahap di Batavia, Alamsjah di Fort vd Capellen,
Moesali Harahap di Goenoengtoea, Haroen Harahap di Pargaroetan, Abd. Manan di Singapore
dan O Harahap di Ipoh.
Dalam
edisi No 1 ini antara lain memuat petisi atas nama pengurus SI dikirim dari Sibolga
(ketua: Haloeddin) kepada dua anggota Volksraad tentang penghapusan pegawai
negeri di Tapanoeli dan penggantian dengan pajak jalan. Pada edisi 12 Juli Nomor
2 termasuk artikel tentang Hadji August Salim direkomendasikan untuk lowongan
di Raad van Ned. Indie sehubungan dengan penampilannya di Jenewa. “Srh.” [Saroehoem]
meminta perhatian Pemerintah terhadap penurunan ekspor produk Pribumi dan
beratnya pajak di Padang Lawas. “Non” dari Kajoe Laoet di Mandailing
mengeluhkan penyitaan karet olahan yang tidak bersih sempurna. Juga ada artikel yang mempertanyakan sekolah MULO
untuk Tapanoeli yang telah dibahas pada tahun 1927 disebutkan kaum Muslim tidak
bisa mengirim anak-anak mereka ke Sekolah Zending MULO.
Ada juga sebuah artikel propaganda
‘Indonesia’, ia mendorong afiliasi dengan kaum nasionalis yang berjuang untuk
Indonesia Raya. Orang-orang berkumpul di bawah merah-putih dengan kepala banteng.
Penulis juga menyalin lagu nasionalis. Artikel lain menekankan kerjasama antara
raja dan penduduk, menunjukkan konsekuensi bencana dari pemisahan besar antara
penguasa dan rakyat Banten di masa lalu. Juga ada artikel yang menyoroti akibat
penembakan seorang kuli Pribumi oleh seorang tukang kebun Eropa di perusahaan
Sangkoenur, penulis mengatakan bahwa jika seorang Eropa membunuh dia
dilepaskan, tetapi jika seorang Pribumi melakukannya, dia digantung.
Majalah
Soeara Sini tampaknya adalah majalah politik. Lantas siapa Saroehoem? Apakah
Saroehoem ada kaitan dengan gerakan Parada Harahap di Batavia? Parada Harahap
adalah pemimpin surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean (1919-1922) dan
sejak 1922 hijrah ke Batavia yang pada
tahun 1923 menerbitkan surat kabar Bintang Hindia di Batavia. Parada Harahap
pada tahun 1925 mendirikan kantor berita Alpena dengan editor WR Soepratman
lalu pada tahun 1926 Parada Harahap menerbitkan surat kabar baru Bintang Timoer
di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 07-08-1926). Disebutkan terbit edisi
pertama Bintang Timoer, sebuah suratkabar berbahasa Melayu, di bawah editor
Parada Harahap,
Gerakan Parada Harahap di Batavia dimulai pada
tahun 1925. Parada Harahap di Batavia mulai menggalang
persatuan Hindia yang meliputi orang Indo, Cina, Arab dan pribumi (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 13-01-1925). Disebutkan badan pengurus adalah voorzitter,
PJA Maltimo sementara sebagai commissarissen Parada Harahap. Pada bulan bulan
September Parada Harahap menginisiasi pendidirian sarikat jurnalis Hindia di
Batavia (lihat Deli courant, 02-09-1925). Badan pengurus ketua terpilih pada
pertemuan: Tabrani DI (Hindia Baroe). wakil ketua: Kwee Kek Beng (Sin Po),
sekretaris: WR Soepratman (Alpena), bendahara Boen Joe On (Perniagaan) dan RS
Palindih (Berita). Anggota Dewan Pengawas adalah: Parada Harahap (Bintang
Hindia), Sing Yen Chen (Sin Po, edisi Mandarin), Khoe Boen Sioe (Keng Po), Boe
Giauw Tjoen (Sin Po) dan Achmad Wongsosewojo (Volkslectuur), (lihat Overzicht
van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers, 1925). Disebutkan serikat
pekerja juga telah dibentuk di Medan, dimana Parada Harahap akan melakukan
propaganda untuk afiliasi di Sumatera. Parada Harahap menginisasi
penyelenggaraan Kongres Pemuda pada bulan April 1926 tanggal 30 (hari Jumat) yang diadakan di gedung Loge
Freemason atau Lux Orientes (tidak jauh dari kantor surat kabar Bintang Hindia
dan kantor berita Alpena) yang turut dihadiri berbagai organisasi pemuda (lihat
De locomotief, 01-05-1926).. Panitia Kongres Pemuda pertama ini Tabrani
(ketua); Bahder Djohan (wakil ketua), Soemarto (sekretaris), J Toule Solehuwy
(bendahara); Komisaris P. Pinontoan. Selain Tabrani, semua adalah siswa STOVIA
dan Rechthoogeschool’, Dalam hal ini kantor berita Alpena dipimpin oleh Parada
Harahap di bawah NV Bintang Hindia dimana editornya adalah WR Soepratman. Sementara
itu di Bandoeng pada bulan
November 1926 Algenieene Studieclub menyelenggarakan rapat umum di Bandoeng
yang dihadiri asekitar 600 orang dengan tema “Politik dan Ekonomi dalam
pemerintahan kolonial” (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-11-1926). Pada bulan Juli 1927 di Bandoeng yang
dimotori oleh pengurus Algemenen Studieclub dibentuk sarikat baru yang diberi
nama Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) yang mana sebagai ketua Ir Soekarno.
Dua bulan kemudian Parada Harahap, yang juga sekretaris organisasi kebangsaan
Sumtranen Bond menggagas diadakan pertemuan para pemimpin organisasi kebangsaan
di Batavia pada bulan September di rumah Prof Husein Djajadiningrat (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 26-09-1927). Husein Djajadiningrat merupakan dekan fakultas hukum
di Batavia adalah mantan ketua Indische Vereeniging di Belanda (1910-1912)
dimana mantan ketua Indische Vereeniging yang pertama Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan di Batavia sebagai direktur sekolah guru Normaal School di
Meester Cornelis. Dalam pertemuan para pemimpin organisasi kebangsaan tersebut
sepakat membentuk federasi yang diberi nama Permoefakatan
Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia yang disingkat PPPKI. Badan
pengurus secara aklamasi ditunjuk MH Thamrin (Kaoem Betawi) sebagai ketua dan
Parada Harahap sendiri sebagai sekretaris. Program PPPKI pertama adalah
membangun gedung Nasional (gedung PPPKI) di gang Kenari dan menyelenggarakan
Kongres PPPKI pada bulan September 1928 di Batavia. Dalam pertemuan ini turut
dihadiri pewakilan Pasoendan, Jong Islamiten Bond, Studieclub Soerabaja yang
diwakili pimpinannya Dr Soetomo dan PNI Bandoeng yang diwakili ketuanya Ir
Soekarno. Dalam pertemuan ini jugaa dihadiri Abdoel Firman Siregar gelar
Mangaradja Soangkoepon yang baru terpilih sebagai anggota Volksraad dari dapil
Oost Sumatra. Catatan: Dr Soetomo adalah mantan Indische Vereeniging di Belanda
(1921-1922). Mangaradja Soangkoepon juga adalah mantanfg anggota Indische
Vereeniging (1910-1915). Pada minggu-minggu dimana di Padang Sidempoean majalah
Soera Sini terbit, di Batavia diadakan pertemuan para pemimpin organisasi
pemuda yang sepakat membentuk federasi dengan nama Persatoen Pemoeda dan
Peladjar Indonesia (PPPI) yang mana sebagai pengurus inti sebagai ketua Soegondo
(Jong Java), sekretaris Mohamad Jamin (Jong Sumatranen) dan bendahara Amir
Sjarifoeddin Harahap (Jong Batak). Pertemuan pembentuk PPPI ini juga akan
menyelenggarakan Kongres Pemuda (kedua) pada bulan Oktober 1928 di Batavia. Sebagaimana
kemudian hasil Kongres PPPKI adalah mengubah platform federasi organiasi-organisais
kebangsaan menjadi federasi partai-partai politik kebangsaan. Sedangkan hasil
Kongres Pemuda II adalah kesepakatan pemuda satu nusa, satu bangsa dan satu
bahasa: Indoneisa. Dalam Kongres Pemuda ini juga diperdengarkan lagu Indonesia
Raya karya WR Soepratman. Catatan: lirik lagu ini yang juga disalin di majalah
Soera Sini. Sedangkan merah putih dan kepala banteng dihubungkan dengan PNI (Ir
Soekarno).
Besar
dugaan Saroehoem sebelum menerbitkan majalah Soeara Sini di Padang Sidempoean, sebelumnya
Saroehoem sudah lama (tinggal) di Batavia. Saroehoem dalam hal ini diduga
adalah bagian dari gerakan Parada Harahap yang mana Parada Harahap mengutus
Saroehoem ke Tapanoeli di Padang Sidempoean. Nama Parada Harahap adalah nama
yang cukup berpengaruh di Tapenoeli umumnya dan Padang Sidempoean khususnya.
Parada Harahap sendiri di Batavia mulai berpolitik terbentuknya sarikat
jurnalis di Batavia dimana Parada Harahap berpolemik dengan pers (berbahasa)
Belanda (lihat antara lain De Indische courant, 17-09-1925). Baru-baru ini Parada Harahap kembali
berpolemik dengan jurnalis Belanda (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indië, 08-11-1927).
De Sumatra post, 25-02-1927 (Inlandsche ambtenaren en pers): ‘sebuah
artikel di Soeara Tapanoeli dengan judul Over zicht van de Inlandsche Pers yang mana para pejabat pribumi saat ini
dengan mudah di koran-koran menulis tidak seperti sebelumnya. Menurut penulis
ini karena adanya Parada Harahap-isme, yang para pejabat takut dengan pers.
Pejabat Pemerintah menulis di Padang Sidempoean yang dikeluarkan Inlandschblad,
Poestaha yang dulu editor majalah ini, terutama Parada Harahap, Sekarang tidak
lagi percaya kepada editor lembar asli dan ini adalah kerugian bagi masyarakat.
Oleh karena itu berharap bahwa pejabat ETI dan dewan akan mengikuti arah
gubernur yang melarang pejabat pribumi menyatakan pendapat di surat kabar itu.
Kasus ini diduga muncul dari adanya kolaborasi besar antara administrasi
pemerintahan dan Polisi. (pengkhianatan itu tentu saja tidak cukup, tapi tampaknya
dapat diteruskan ke penjara. Kegunaan media untuk penduduk dapat
dipertanyakan’. Bataviaasch nieuwsblad, 24-05-1927: ‘Sabtu, 21 Mei,
Sumatranen in de Vrijmetselaarsloge melakukan pertemuan public pertama.
Organisasi ini didirikan pada tahun 1918 dalam kaitan pencalonan Abdoel Moeis
di Volksraad. Dalam pertemuan ini, Parada Harahap ke mimbar mewakili Tapanoeli.
Anggota Volksraad di Pejambon berasal dari Sumatra juga turut hadir dalam
pertemuan ini. Tiga diantaranya (anak Padang Sidempoean) adalah Todoeng (Harahap)
gelar Soetan Goenoeng Moelia, wakil Batavia, Abdul Firman (Siregar) gelar
Mangaradja Soeangkoepon, wakil Oostkust Sumatra dan Alimoesa (Harahap) wakil
Tapanoeli’. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 08-11-1927
(Wat Gisteren in de Krant stond!…): ‘diskusi tentang mayoritas Indonesia,
bahwa Indonesia adalah warisan nenek moyang, sebagai protes keras Parada
Harahap dari Bintang Timur. ‘Jika Indonesia warisan nenek moyang, KW cs
menganggap sebagai pemberontakan.. Jadi saya memahami komunikasi yang dilakukan
oleh Pemerintah, bermain aman! Dan Anda? K.W’.
Nama
Saroehoem muncul di majalah mingguan Pelita Bangka di Soengeiliat pada edisi 24
September 1928. Diesebutkan Saroehoem mengomentarasi kemarahan sebagian pers
pribumi tentang pembatalan utusan pribumi ke Belanda, dimana dia tidak
menganggap ini penting, karena hal itu adalah suara sebagian kecil dari
mayoritas keinginan rakyat. Di Belanda dianggap bahwa pemberian itu akan
sepenuhnya memuaskan penduduk pribumi tetapi hal ini dan hal-hal semacam itu tidak
terlalu penting selama Belanda memegang kendali disini. Baik ketika proposal
diterima dan ketika ditolak, disini orang harus tetap fokus untuk mendapatkan
kendali rezim ke tangan kita sendiri.
Bagaimana komentar Saroehoem ini dikutip
majalah Pelita Bangka tidak terinformasikan, apakah komentar ini diperoleh dari
majalah Soera Sini atau dari media lain ditempat lain. Dimana dan dalam konteks
apa Saroehoem memberi komentar atas utusan pribumi ke Belanda itu juga tidak
terinformasikan.
Dua
kutipan di atas (Soeara Sini dan Pelita Bangka) adalah adalah nama Saroehoem
kali pertama muncul di ruang publik. Setahun kemudian baru muncul kembali nama
Saroehoem. Saroehoem sendiri tampaknya cukup mobile. Saroehoem terkesan sebagai
seorang yang menjadi bagian dari gerakan besar: gerakan (perjuangan bangsa) Indonesia.
Deli courant, 26-11-1929: ‘Ksatria. Di
beberapa majalah pribumi baru-baru ini dipasang iklan dengan judul “Kabar
Nasional Indonesia”, yang memuat puisi Saroehoem (terakhir diketahui
sebagai editor Soeara Sini di Padang Sidempeoan), tetapi menurut iklan sekarang
– tinggal di Fort de Koek) berjudul ‘Semanget Nasional Indonesia’ adalah paper yang
berisi sejarah Diponegoro, Tjipto, Soekarno, Asmaun, Tjokroaminoto dan banyak
pemimpin terkenal gerakan nasionalis di Hindia, sejarah Diponegoro yang
ditelusuri ksatrya dalam pikiran dan kekaguman penduduk pribumi, kami menemukan
masuk akal, Sejarah adalah masa lalu dan kejayaan Diponegoro memotivasi untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya dan fakta penting dari hidupnya bahwa
setiap liter yang masih hidup Tjipto, Soekarno, Tjokro dkk. dituli, memberikan
kesan kebencian yang disengaja atau apakah kita berurusan disini dengan
seseorang yang menemukan bisnis baru dan yang berdagang di bawah pengaruh para
pemimpin yang digambarkan pada selera pembelian? Sekarang ketika epos
direkomendasikan oleh para pemimpin sendiri di pertemuan publik, penulis adalah
buku sejarahnya. hilang cukup cepat dan telah melayani tujuan Indonesia dengan
cara yang tidak menguntungkan kantongnya sendiri’.
Saroehoem
tampaknya adalah salah satu dari barisan revolusioner Indonesia yang tengah
menggeliat di Batavia, Bandoeng dan Soerabaja. Saroehoem tampaknya bukan
jurnalis (editor) yang tinggal di Padang Sidempoean, tetapi salah satu
revolusinoer yang tinggal di Batavia yang mendapat tugas untuk melakukan
kampanye dan advokasi di sejumlah tempat dimana gerakan Indonesia dimungkinkan
dapat tumbuh dan berkembang seperti di Padang Sidempoean, Bangka dan Fort de
Kock. Dalam perkembangannya Saroehoem ditangkap.
Aneta memberi sinyal dd hari ini dari Padaug: Petugas investigasi kriminal
menangkap jurnalis Saroehum dari Padang Sidempoean karena mendistribusikan pamflet
terlarang berjudul “Semangat Nasional Indonesia”. Pamflet sudah
disita’.
Bagaimana
perkembangan lebih lanjut kasus Saroehoem tidak terinformasikan. Beberapa bulan
kemudian diketahui Saroehoem dalam keadaan bebas sebagaimana diberitakan surat
kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-06-1930: ‘Perjalanan
Studi Jurnalistik ke Eropa. Tampaknya digunakan di dunia jurnalistik Pribumi
saat ini untuk mempelajari jurnalisme Barat di Belanda. Dorongan untuk ini dilakukan
oleh Djamaloedin alias Adi Negoro dan Mohamad Tabrani. Saroehoem, seorang
jurnalis pribumi di Fort de Koek yang ditangkap tahun lalu sehubungan dengan
brosur yang menghasut, akan segera berangkat untuk perjalanan studi jurnalistik
ke Belanda. Kita juga mendapat keterangan bahwa tahun depan, jika tidak ada
halangan, Pemimpin redaksi Bintang Timoer, Parada Harahap, juga akan pergi ke
Eropa untuk memperluas wawasannya’.
De Indische courant, 25-09-1930: ‘Volkscourant (nama
sebelumnya De Courant) di Batavia, seperti yang kita baca di AID dijual kepada Parada
Harahap. Sehubungan dengan ini maka Java Express (edisi bahasa Belanda surat
kabar Bintang Timoer) berhenti beroperasi. Volkscourant sekarang berpindah ke jalan
Krekot (kantor NV Bintang Hindia)..Aneta, 25 September melaporkan bahwa surat
kabar baru Volkscourant di Weltevreden akan terbit mulai tanggal 1 Oktober
dalam format yang lebih besar’. Bataviaasch nieuwsblad, 26-11-1930
(persdelict): ‘Parada Harahap dan Kontjosoengkono masing-masing CEO dan editor
Bintang Timoer kontra CW Wormser, directeur editor Alg. Ind. Dagblad (AID) di
pengadilan kemarin. Koran edisi bahasa Belanda, Bintang Timoer digugat yang
dalam hal ini Koentjosoengkono, asisten editor karena dianggap menghina Wormser.
Kontjosoengkono didenda f20 dan penjara kurungan selama 10 hari’. De
Sumatra post, 06-01-1931: ‘Parada Harahap berdiri untuk keseratus
kalinya di meja hijau. Kali ini Parada Harahap dipanggil ke pengadilan karena
korannya memuat iklan tagihan hutang. Si penagih hutang digugat karena dianggap
mencemarkan nama dan juga editor Bintang Timoer, Parada Harahap juga diseret.
Ketika dituduhkan Parada Harahap ikut bertanggungjawab karena iklan itu menjadi
pendapatannya. Di pengadilan Parada Harahap menjawab: ‘Bagaimana saya
bertanggungjawab?. Polisi mencecar: ‘Anda kan direktur editor?’ ‘Iya, tapi saya
hanya bertanggung jawab untuk bagian jurnalistik’, jawab Parada Harahap. ‘Bagian
administrasi bertanggungjawab untuk iklan’. ‘Ah’, kata Sheriff, ‘tanya
sekarang, setuju bahwa di koran Anda muncul iklan cabul, apakah Anda akan
mengatakan tidak bertanggung jawab?’. ‘Oh, kalau soal itu tanggungjawab saya’
demikian jawab Parada Harahap.
Tampaknya
Saroehoem telah pulang studi jurnalistik dari Eropa. Namun bagaimana
realisasinya tidak terinformasikan. Pada bulan Maret 1931 sebagai sekretaris
Sarikat Seni Sumatra diberitakan menyelenggarakan pertujukan seni di Batavia.
Sarikat Seni Sumatra adalah bagian (bidang) di dalam organisasi kebangsaan
Sumatranen Bond. Sebagaimana diketahui sekretaris Sumatranen Bond adalah Parada
Harahap. Sumatranen Bond sendiri didirikan pada tahun 1918.
Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 26-03-1931:
‘Seni Sumatra. Di gedung klub Sobo Karti di jalan Dr. Djawastraat, rangkaian
pertunjukan Kesenian Sumatera akan digelar mulai 1 hingga 3 April pukul
setengah delapan malam. Pertunjukan tersebut diselenggarakan oleh Saroehum,
sekretaris Sarekat Seni Sumatra. Bagi orang yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan
untuk menjadi “orang Indonesia”, biaya masuknya dari f 0,30 hingga f
1,25 dan bagi orang yang tidak dapat memenuhi “persyaratan” ini,
biaya masuknya adalah f 0,50 hingga f2. Programnya meliputi: Maen Berandai
(Permainan Randai), Saber Tarung, Taripiring, Maen Pisau (Adu Pisau), Tari
Sinandong, Maen Pajoeng, Tari Bataksche Serimpi dll’.
Sebagai
jurnalis, apa yang menjadi media Saroehoem tidak terinformasikan. Namun diduga sebelumnya
Saroehoem adalah salah satu editor dari salah satu media Parada Harahap di
Semarang. Hal ini karena kaitan antara Parada Harahap dan Saroehoem saling
terkait sejak awal ketika Saroehoem menjadi editor Soeara Sini di Padang
Sidempoean. Sebagaimana diketahui menjelang Kongres PPPKI dan Kongres Pemuda
pada tahun 1928, Parada Harahap menerbitkan surat kabar Bintang Timoer edisi
Semarang dan surat kabar Bintang Timoer edisi Soerabaja. Dalam hubungan ini pada
bulan Juli 1931 ini Saroehoem menjadi ketua panitia Kongres Jurnalis Pribumi yang diadakan di Semarang.
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1931: ‘Congres
Inlandsche Journalisten. Kongres jurnalis pribumi pertama diadakan di Semarang
pada 8 Agustus. Kongres ini diketuai oleh jurnalis Semarang yang juga sebagai sekretaris
jurnalis Sumatra, Saroehoem. Agenda kongres, antara lain: Editor surat kabar Bahagia
di Semarang, Joenoes akan memberikan persentasi tentang ‘Jurnalisme dan
pengembangan bisnis surat kabar”; Haji [Agoes] Salim akan presentasi dengan
topik ‘Jurnalisme dan kode etik’; RM Soedarjo tentang ‘Orang-orang dan
Jurnalisme; Maradja Loebis tentang ‘Jurnalisme dan kehidupan sosial’; Saeroen
dari Siang Po: tentang ‘Jurnalisme dan gerakan rakyat’ dan Parada Harahap
tentang ‘Jurnalisme dan ekonomi’. Sementara editor Soeara Oemoem akan berbicara
pada ‘Jurnalisme dan malaise’. Organisasi jurnalis pribumi saat ini Saeroen
sebagai ketua dan Parada Harahap sebagai sekretaris dan bendahara, sedangkan
sebagai komisaris adalah Bakrie, Joenoes
dan Koesoemodirdjo’. Soerabaijasch handelsblad, 05-11-1931 “Een
en ander over de Inlandsche Pers. Bintang Timoer telah menjadi salah satu surat
kabar yang terbaik di Hindia adalah hanya karena Parada Harahap’.
Saroehoem
pada akhirnya diketahui sebagai pimpinan redaksi surat kabar Cina berbahasa
Melayu yakni Warna Warta di Semarang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 15-09-1931).
Disebutkan Saroehoem, pimpinan redaksi surat kabar Warna Warta, seorang yang
masih muda. Namun tidak diketahui seberapa muda karena tidak terinformasikan.
Banyak peristiwa yang terjadi setelah Kongres
PPPKI pada tahun 1929 bulan September di Solo. Satu yang pasti pasca kongres
ini, pada bulan Desember Ir Soekarno dkk ditangkap karena terbitan mereka
sebelumnya yang dianggap menghasut. Tentu saja apa yang dialami oleh Ir
Soekarno sudah dialami oleh Saroehoem lebih dahulu (1928). Saat dimana Ir
Soekarno di penjara, ketua PNI Mr Sartono membubarkan partai. Namun dalam
perkembangannya pada bulan April 1931 partai baru didirikan Partai Indonesia
(PI atau Partindo). Pimpinan PI cabang Batavia adalah Amir Sjarifoeddin Harahap
dan pimpinan PI cabang Soerabaja adalah Mohamad Jamin. Sementara itu, sebagian
eks PNI yang tidak berafiliasi dengan Mr Sartono membentuk partai sendiri yang
dimotori antaralain Soetan Sjahrir yakni Partai Pendidikan Nasional Indonesia
(Partai PNI). Pada saat Ir Soekarno bebas dari pernjara memilih bergabung
dengan PI. Sedangkan Mohamad Hatta yang belum lama pulan studi dari Belanda
memilih bergabung dengan Partai PNI. Pada fase inilah mulai muncul
gerakan/persatuan Indonesia yang lebih tajam antara golongan nasional
(pribumi) di satu pihak dan golongan Eropa/Belanda di pihak lain. Golongan
Cina dan Arab terbelah: pro nasionalis atau pro Belanda.
Dalam
perkembangannya diketahui bahwa Saroehoem telah keluar dari Warna Warta (lihat Algemeen
handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1931). Disebutkan minggu ini nomor
pertama penerbitan surat kabar mingguan dengan nama ‘Warta Politik’. Saroehoem,
mantan redaktur harian Tionghoa-Melayu Warna-Warta, adalah pemimpin redaksi’.
meninggalkan posisi pimpinan redajasi di Warna Warta belum diketahui. Lantas
apakah ada kaitan keluarnya Saroehoem dari Warna Warta dengan perkembangan
politik yang terakhir? Namun boleh jadi Saroehoem yang telah menjadi
revolusioner sejak awal, mulai mendapat
angin baru dalam misi perjuangan. Dalam hal ini boleh jadi Warna Warta tidak bergeser
ke arah suara politik, sehingga pada akhirnya lebih memilih keluar dan
mendirikan surat kabar mingguan dengan nama Warta Politik.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Wartawan Saroehoem: Warna
Warta, Sin Tit Po dan Djit Po
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



