Thio Thiam Tjong berasal dari
Semarang. Entah bagaimana begitu banyak tokoh-tokoh sejarah golongan
Cina/Tionghoa berasal dari Semarang. Thio Thiam Tjong termasuk salah satu tokoh
Cina/Tionghoa dalam awal sejarah menjadi Indonesia. Kota Semarang sebagai kota
melting pot sejak era VOC akan dideskripsikan sebagai artikel sendiri.
1896 – died on 22 September 1969) was an Indonesian politician, community
leader and businessman whose public career spanned from the late colonial
period to the early decades of Independence. He was a founding board member in
1928 of Chung Hwa Hui, a Chinese-Indonesian, colonial political party, and was
President of the group’s post-WW II political successor Persatoean Tionghoa,
formed in 1948, then renamed Partai Demokrasi Tionghoa Indonesia in 1950. Thio
was born in 1896 in Semarang. His father, the wealthy businessman Thio Sing
Liong (1871–1940), was a third-generation Peranakan Chinese and the founder of
Handel Maatschappij Thio Sing Liong, a leading export-import company. In
contrast to his father’s business background, Thio’s mother – Tan Tien Nio –
hailed from the ‘Cabang Atas’ gentry as a granddaughter of Tan Ing Kie,
Kapitein-titulair der Chinezen (1835–1895). Through his mother, Thio was
therefore a direct descendant of Tan Yok Sing, Kapitein der Chinezen of
Semarang (1737–1800) under the Dutch East India Company (V0C). Thio had an
entirely Dutch language-based education in Semarang, then at a Hogere
Burgerschool (HBS, secondary school) in Leiden in the Netherlands. He studied
engineering at Delft University, but left prior to graduating in 1922 to join
his father’s business. Following his father’s retirement in 1933, Thio took
over the family business and expanded it. He was also a board member of a number
of other companies. Thio emerged as a community leader in the late 1920s, and
played an important role in the Chung Hwa Congress of 1927, which led to the
founding in 1928 of the political association Chung Hwa Hui (CHH). The
influential group was later criticised by left-wing critics as the ‘Packard
Club’, a supposed cipher for the interests of the colonial Chinese
establishment, most notably the conglomerate Kian Gwan, owned by Thio’s
in-laws, the Oei family. Thio (first on the left) at part of the Preparatory
Commission of the Chung Hwa Congress of 1927. Thio sat on the central board of
CHH under the elder statesman HH Kan and became President of the group’s
Semarang branch in the 1930s. From 1930 until 1934, he acted as Chairman of the
Siang Hwee, or Chinese Chamber of Commerce, of Semarang. He also served as a
member of the Provincialen Raad van Midden-Java or the Provincial Council of
Central Java.
Lantas
bagaimana sejarah Thio Thiam Tjong? Seperti disebut di atas, Thio Thiam Tjong adalah
salah satu tokoh generasi awal sejarah menjadi Indonesia. Lalu bagaimana
sejarah Thio Thiam Tjong? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Thio
Thiam Tjong: Insinyur Lulusan Delft
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda di Semarang, Thio Thiam Tjong
melanjutkan studi. Tidak di HBS Semarang, tetap melanjutkan HBS di Belanda.
Thio Thiam Tjong berangkat pada tanggal 20 Juli 1911 dengan kapal ss Kawi dari
Batavia dengan tujuan akhir Nederland (lihat Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 19-07-1911). Dalam
manifes kapal juga terdapat nama Raden Sarengat (lulusan HBS Semarang);
Beberapa bulan kemudian Todoeng Harahap gelar
Soetan Goenoeng Moelia berangkat ke Belanda dengan kapal st Prinses Juliana
tanggal 2 November dari Batavia dengan tujuan akhir Nederland dimana pada
tanggal 25 singgah di Genoa (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 27-11-1911).
Seperti halnya, Thio Thiam Tjong, setelah lulus sekolah dasar Eropa (ELS) di
Sibolga melanjutkan studi ke Belanda. Dari ratusan penumpang hanya Todoeng
Harahap yang bernama non Eropa/Belanda. Sebagaimana kita lihat nanti Soetan
Goenoeng Moelia meraih gelar doktor (Ph.D) dalam bidang filsafat dan sastra di
Belanda dan menjadi Menteri Pendidikan kedua tahun 1945 (menggantikan Ki Hadjar
Dewantara).
Thio
Thiam Tjong lulus ujian akhir HBS 5 tahun di Zuid Holland (lihat Algemeen
Handelsblad, 30-07-1916). Thio Thiam Tjong disebutkan lahir di Semarang 9
December 1896 (lihat Verzameling van verslagen en rapporten behoorende bij de
Nederlandsche Staatscourant, 01-01-1917).
Thio Thiam Tjong melanjutkan studi di bidang
teknik di Universiteit te Delft. Sementara itu Soetan Goenoeng Moelia di Leiden
mengambil bidang pendidikan program guru. Setelah mendapat akta guru LO, Soetan
Goenoeng Moelia mengikuti program pendidikan lebih lanjut dan mendapat akta
guru MO (setara sarjana pendidikan). Pada tahun 1919 Soetan Goenoeng Moelia
kembali ke tanah air.
Thio
Thiam Tjong pada tahun 1921 menjadi ketua pantia lustrum Chung Hwa Hui di
Belanda (lihat De nieuwe courant, 19-04-1921). Disebutkan tanggal 14 ini Chuug
Hwa Hui merayakan ulang tahun kesepuluh dengan acara peringatan dan makan malam
di Hote des Indes, dimana diantara tamu-tamu adalah para pemimpin kedutaan
Chinarascha dan banyak tamu undangan lainnya. Setelah ketua panitia Thio Thiam
Tjong membuka, ketua Chung Hwa Hui Han Tiauw Tjong menyampaikan pidato. Pesta
itu sangat meriah, yang berlangsung hingga larut malam.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Thio Thiam Tjong” Partai
Demokrat Tionghoa Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



