Siapa The Sein Tjo? Sejarahnya
tidak terinformasikan. Namun demikian, nama The Sin Tjo disebutkan terkait
dengan Sekolah Nasional Karangturi di Semarang. Okelah. Akan tetap sejarah
tetaplah sejarah. The Sin Tjo tentulah bukan oranng biasa. The Sien Tjo adalah salah
satu tokoh dalam sejarah menjadi Indonesia.
Semarang, sekolah yang pada awalnya bernama HCS Chung Hwa Hui ini berdiri pada
tanggal 1 Juli 1929 dengan jumlah murid hanya 20 orang. Pendirian sekolah ini
diprakarsai oleh The Sien Tjo dan tokoh-tokoh Tionghoa lainnya. Pemerintah
kemudian memberikan status dan otoritas yang sama dengan sekolah negeri pada
tanggal 1 Agustus 1936. Pada masa
pendudukan Jepang, sekolah ini pernah dibagi menjadi dua dan bertempat di
lokasi yang berbeda, yaitu Chung Hwa Hui A (di jalan Sidodadi) dan Chung Hwa
Hui B (di jalan Karangturi). Selanjutnya, pada tanggal 1 April 1946, Chung Hwa
Hui berubah status menjadi sekolah negeri dengan nama Karangturi School (A.L.S
Karangturi). Status tersebut berubah lagi menjadi status non-negeri (swasta)
pada tanggal 7 Februari 1949 atas permintaan pengurus sekolah yang disetujui
oleh pemerintah. Tetapi, pemerintah hanya mengizinkan satu Chung Hwa Hui yaitu
yang berada di jalan Karangturi (sekarang jalan Mataram). Untuk lebih
meningkatkan kinerja dan manajemen yang lebih baik, didirikanlah Jajasan Sekolah
Chung Hwa Hui yang diketuai oleh The Sien Tjo pada tahun 1950. Pada tahun
tersebut juga dibuka SMP dengan 5 kelas. Masih pada tahun yang sama, tepatnya
tanggal 15 November dibentuklah Chung Hwa Chung Sheng Hui (pada masa sekarang
biasa disebut OSIS). Kemudian, Jajasan Sekolah Chung Hwa Hui berganti nama
menjadi Jajasan Sekolah Karangturi pada tanggal 30 Juli 1963. Pada tanggal 18
Februari 1970, yayasan ini berubah menjadi Jajasan Sekolah Nasional Karang
Turi. Empat tahun berselang, tepatnya tanggal 1 Agustus 1974, nama yayasan ini
kembali mengalami perubahan menjadi Yayasan Sekolah Nasional Karangturi.
Sesudah mengalami beberapa kali perubahan nama, pada tanggal 14 Maret 1987,
diputuskan mengganti nama yayasan menjadi Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi
hingga sekarang.(https://karangturi.sch.id/sejarah).
Lantas
bagaimana sejarah The Sin Tjo?
Seperti disebut di atas, nama The Sin Tjo masa kini hanya dihubungkan dengan
Sekolah Nasional Karangturi di Semarang. Lalu bagaimana sejarah The Sin Tjo? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan The Sin
Tjo: Sekolah Nasional Karangturi
Setelah
menyelesaikan sekolah dasar berbahasa Belanda, The Sin Tjo melanjutkan studi ke
sekolah menengah umum (HBS), Pada tahun 1910 The Sin Tjo lulus ujian transisi
di HBS Semarang naik dari kelas satu ke kelas dua (lihat De locomotief, 06-05-1910). Yang satu kelas
antara lain Raden Mas Iso, M Soeroto dan Raden Koento. Pada tahun 1912 lulus
ujian naik ke kelas empat (lihat De nieuwe vorstenlanden, 23-04-1912).
Pada tahun 1908 di Belanda organisasi
mahasiswa pribumi didirikan oleh sebanyak 15 mahasiswa yang diberi nama
Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia). Ketua pertama adalah Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan. Pada tahun 1910 organisasi mahasiswa golongan
Cina didirikan di Belanda oleh 14 orang yang diberi nama Vhung Hwa Hui. Ketua
pertama adalah Yap Hong Tjoen.
The
Sin Tjo diperkirakan lulus ujian akhir di HBS Semarang pada tahun 1914.
Tampaknya The Sin Tjo tidak melanjutkan studi ke fakultas/Belanda. The Sin Tjo
mengambil kursus. Pada tahun 1917 The Sin Tjo lulus ujian akuntansi di
Soerabaja (lihat De locomotief, 16-01-1917). Disebutkan lulus ujian akuntansi
antara lain kandidat dari Semarang The Sin Tjo yang dibimbing oleh dosen
boekhouder dan akuntansi. Dalam perkembangnya di Semarang The Sin Tjo
dicalonkan sebagai salah satu untuk anggota Volksraad.
Pada bulan November 1917 di Semarang diadakan
pertemuan umum dalam hubungannya dengan pencalonan anggota Volksraad dari
golonganh Cina (lihat De locomotief, 08-11-1917). Pertemuan dihadiri sekitar 50
orang, termasuk 21 delegasi dari berbagai asosiasi Cina. Hasil dari pertemuan
itu, kandidat diberikan kepada Be Soen Tjang, Oei King Gwan dan The Sin Tjo
untuk dipilih sebagai anggota Volksraad dari wilayah Semarang. Satu kursi untuk
golongan Cina dimenangkan oleh Lim A Pat (lihat De locomotief, 08-04-1918). Lim A Pat dari
Bangka.
Meski
hanya sebatas kandidat untuk Volksraad, The Sin Tjo mengindikasikan adalah
seorang terpelajar dan menjadi tokoh muda penting di Semarang. Pada bulan
Januari 1918 di Semarang diadakan pameran Pancy Fair (lihat De Indier, 07-01-1918).
Pameran ini dilsenggarakan oleh asosiasi Tiong Hwa Hwee Koan di Kebondalem. Pukul
lima pembukaan berlangsung dengan pidato yang apik dalam bahasa Melayu oleh The
Sin Tjo, ketua panitia, yang dihadiri oleh kepala pemerintahan setempat dan
rekan-rekannya. Residen telah memberikan pemberitahuan tertulis bahwa tidak
bisa hadir. Dalam pidato pembukaan singkatnya, ketua panitia memaparkan tujuan dari
pameran dan menyatakan harapan bahwa masyarakat tidak akan gagal untuk
menunjukkan minatnya dalam hal ini, dimana itu berlaku disini untuk mendukung
asosiasi yang sangat berguna.
The Sin Tjio adalah seorang pebisnis. Hal ini
sesuai dengan pendidikan akuntasi yang pernah diikutinya. The Sin menjadi salah
satu komisaris dalam pendirian perusahaan NV Isjfabriek ‘Semarang-Tegal’ di
Semarang (lihat De Indische mercuur; orgaan gewijd aan den uitvoerhandel, 1918).
Disebutkan berdasarkan Java Courant 24 Agustus perusahan pabrik es ini dengan
modal f75.000 yang terdiri dari 150 lembar sahan yang masing-masing dengan
harga f500. Sebagai direktur adalah Wan Hong Kwa, wakil direktir Tan Liang Ping.
Komisari adalah The Sin Tjo dan Siek Djwee Kioe.
Setelah
lama The Sin Tjo tidak terinformasikan, pada tahun 1924 The Sin Tjo menjadi
anggota dewan kota (gemeeteraad) Semarang (lihat Algemeen handelsblad voor
Nederlandsch-Indie, 15-07-1924). The Sin Tjo berhasil menjadi anggota dewan
kota (lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 03-12-1924).
Jumlah anggota dewan sebanyak 18 orang. Selain
anggota dewan dari golongan Eropa/Belanda, jumlah kursi untuk pribumi sebanyak
tiga yang dijabta oleh Gondo Soebario, Raden Slamet dan Soemali, Untuk golongan
Cina tiga kursi yakni The Sin Tjo, Tan Kong Tjiau dan Tan Tek Peng.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
The Sin Tjo: Sejarah Sekolah
di Semarang dari Masa ke Masa
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



