*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Secara
teknis pembangunan dan pengembangan berbagai sektor di negara-negara Asia
Tenggara yang sekarang baru dimulai pasca Perang Pasifik (pendudukan Jepang). Filipina
mendapat kemerdekaan dari Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 1946 dan fondasi
ekonomi Filipina tetap dijaga oleh Amerika Serikat (dan bahkan oleh sekutu-sekutunya
seperti Inggris yang masih tetap bercokol di Semenanjung dan Borneo Utara).
Filipina dapat dikatakan di Asia Tenggara satu-satunya negara yang sekarang
pada saat itu yang bebas sepenuhnya: bebas merdeka dan bebas mengembangkan
berbagai sektor utamanya sektor ekonomi dan perdagangan.

Agustus 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus
1945. Namun masalah tidak mudah. Militer Jepang masih berada di berbagai tempat
di Indonesia, sambil menunggu Sekutu (Inggris dan Australia) memulai pelucutan
senjata dan evakuasi militer Jepang dari Indonesia. Saat Inggris dan Australia
bekerja, pemerintahan Hindia Belanda (NICA) yang selama ini stand by di
Australia segera masuk (karena diberi jalan oleh Inggris). Terjadilah perang
kemerdekaan yang menyita perhatian pemimpin Republik Indonesia. Pemerintah
Hindia Belanda (NICA) segera ingin memulihkan situasi seperti sebelum Perang
Pasifik namun selalu mendapat perlawanan dari pihak republiken. Perang
kemerdekaan ini berlarut-larut hingga gencatan senjata bulan Juni 1949 dan
dilanjutkan ke perundingan di Den Haag (KMB). Hasil perundingan, (kerajaan)
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk Republik Indonesia Serikat
(RIS) yakni RI dan negara-negara federal yang dimulai pada tanggal 27 Desember
1949. Namun tidak berjalan mulus hingga akhirnya RIS dibubarkan dan kembali ke
dalam bentuk negara kesatua (NK)RI yang diproklamasikan pada tanggal 18 Agustus
1950. Orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia, kemerdekaan sepenuhnya
dimulai dan pembangunan mulai dijalankan. Indonesia tertinggal dari Filipina
selama empat tahun (4 Juli 1946-17 Agustus 1950).
Bagaimana
sejarah pembangunan sejak Filipina mendapatkan kemerdekaan sepenuhnya tahun
1946? Seperti disebut di atas, pembangunan di Filipina di
awal kemerdekaan nyaris tidak ada hambatan dan bahkan banyak dukungan (terutama
dari Amerika Serikat). Hal ini berbeda dengan di Indonesia, selain banyak
hambatan juga banyak masalah yang timbul. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Kemerdekaan Filipina dari
Amerika Serikat 1946
Republik
Filipina adalah salah satu negara yang ikut membentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dan salah satu penandatangan Piagam PBB 24 Oktober 1945. Dalam hal ini Filipina
menjadi salah satu dari 51 negara anggota pendiri. Negara-negara Asia yang
telah bergabung sejak 24 Oktober 1945 Arab Saudi, Iran, Filipina, Turki, Lebanon
dan China. Ada lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB yakni Perancis, Republik
Cina, Uni Soviet, Inggris dan Amerika Serikat. Kerajaan Belanda sendiri baru
bergabung PBB tanggal 10 Desember 1945. Itu berarti Filipina sudah berperan
sebelum mendapatkan kemerdekaan dari Amerika Serikat pada tanggall 4 Juli 1946.
Pada tahun 1946, pada masa ibu kota Republik
Indonesia di Djogjakarta, sebuah klub para fans Indonesia di New York menjuluki
Presiden Soekarno sebagai George Washington van Indonesia (Limburgsch dagblad,
21-08-1946). Ketua klub Indonesia-club di New York adalah John R. Andu. Saat
itu, Indonesia-club di New York akan melakukan pertemuan yang akan dihadiri 200
orang. Pearl Buck, penulis terkenal diundang untuk berbicara. Dukungan terhadap
kemerdekaan Indonesia (17 Agustus 1945) berupa ucapan selama dibacakan dalam
pertemuan di kota kantor PBB tersebut. Apa yang menyebabkan orang Amerika
Serikat mendukung kemerdekaan Indonesia dan mengapa Presiden Soekarno yang
harus hijrah ke Djokjakarta disebut mereka sebagai George Washington van
Indonesia? Tentu saja orang Amerika Serikat masih mengingat bagaimana Jenderal
Washington memimpin perjuangan rakyat Amerika Serikat dalam mengusir Inggris
dan berhasil memproklamasikan kemerdekaan Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli
1776.
Para
fans Indonesia di Amerika Serikat yang menjuluki Presiden Soekarno sebagai
George Washington van Indonesia tampaknya ingin menyindir Inggris (perwakilan
Sekutu dalam melucuti senjata dan evakuasi militer Jepang di Indonesia) yang
telah memberi jalan kepada Belanda (NICA) untuk kembali menjajah Indonesia.
Pesan ini tentu saja dimaksudkan kepada Australia yang turut membantu Inggris
di Indonesia. Sebagaimana diketahui Amerika Serikat, setelah membebaskan
Filipina dari pendudukan militer Jepang telah memberikan kemerdekaan kepada
Filipina pada tanggal 4 Juli 1946. Dalam hal ini Amerika Serikat telah membantu
kemerdekaan Filipina, Lantas bagaimana dengan Inggris dan Australia? Justru
mebantu Belanda untuk menjajah Indonesia kembali. Dalam konteks inilah para
fans Amerika Serikat, mendukung kemerdekaan Indonesia dan menamai Presiden
Soekarno yang harus mengungsui ke Djogjakarta sebagai George Washington van
Indonesia. Tampaknya Amerika Serikat ingin konsisten sebagaimana nenek moyang
mereka tempo doeloe yang dipimpin George Washington mengusir penjajah Inggris.
Filipina yang telah mendapatkan kemerdekaan 4
Juli 1946 dan yang telah menjadi anggota PBB, tentu saja para pemimpin Filipina
sangat respek terhadap perjuangan Indonesia yang masih belum selesai. Sesama
Asia (Tenggara) tentu Filipina akan mendukung Indonesia sebagaimana klub
Indonesia di New York, Seperti disebut di atas, akhirnya Kerajaan Belanda
mengakui kedaulatan Indonesia (yang mulai berlakuk pada tanggal 27 Desember
1949). Sejak Juni 1949 telah dilakukan gencatan senjata antara Pemerintah
Hindia Belanda (NICA) dengan para pejuang Republik Indonesia yang dilanjutkan
ke perundingan yang dilaksanakan di Den Haag. Selama perundingan berlangsung di
Belanda antara Belanda dan Indonesia, Prof. Mr. Todoeng Harahap gelar Sutan
Gunung Mulia, Ph.D (Menteri Pendidikan RI kedua) memimpin delegasi Indonesia
(bersama delegasi Belanda) ke Sidang Umum PBB ke-4 yang diadakan pada tanggal
20 September 1949 di Lake Success, New York (lihat De Telegraaf, 22-10-1949).
Segera
setelah mendapat pengakuan kedaulatan dari Belanda (27 Desember 1949), dalam
negeri Indonesia masalah banyak masalah. Masalah yang pertama masih eksisnya
orang-orang Belanda di Indonesia sementara rakyat Indonesia yang baru habis
perang dalam masalah ekonomii yang akut, kemiskinan dan tingkat inflasi yang mulai
naik. Sementara perekonomian Filipina tengah berada di atas angin sebagaimana
pernyataan Presiden Quirino.

voor Nederlandsch-Indie, 06-01-1950:
‘Manila. Presiden Quirino, dalam pesan extemporaneus State of the Nations yang
dialamatkan kepada Kongres, mengatakan bahwa meskipun terjadi control ekonomi
baru-baru ini, wilayah Filipina sama sehatnya dengan yangterdengar seperti apa
pun di muka bumi ini. Tidak ada alasan untuk ketidakpercayaan dan ketakutan’.
Pernyataan
Presiden Filipina di PBB mengindikasikan ekonomi Filipina sehat wal afiat. Selanjutnya
dengan dibubarkannya RIS dan kembalik ke NKRI, maka orang-orang Belanda mulai
kembali ke Belanda. Tidak lama setelah Indonesia kemnali menjadi NKRI, Indonesia
kemudian menjadi anggota PBB pada tanggal 28 September 1950. Saat Indonesia
menjadi anggota PBB, ekonomi Filipina sudah berjalan di dalam track yang benar.
Ekonomi Indonesia masih tidak menentu.
Kemajuan pembangunan di Filipina ditopang dari
dua sisi luar. Pertama, atas rekomendasi PBB (The Economie and Social Council
of tbe United), Jepang harus memulai program rekonstruksi, termasuk dalam hal
negara yang mendapat prioritas adalah Korea dan Filipina (lihat Nieuwe courant,
01-11-1950). Dua negara ini adalah sangat dekat dengan Amerika Serikat. Kedua,
adanya bantuan Amerika Serikat untuk mengucurkan dana pembangunan di Filipina
(lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1951).
Filipina
yang mendapat angin segar dari mana-mana, terutama Indonesia yang baru
memuliskan situasi dan kondisi tetapi masih sangat lemah dalam ekonomi, tidak
lupa saling menghargai sesama tetangga, terutama Indonesia. Kepada pemimpin
Indonesia, Presiden Soekarno Filipina cukup respek. Oleh karena itu Filipina
akan mengundang Presiden Soekarno untuk dianugerahi gelar kehormatan. Juga
tenttu Filipina akan memperlihatkan kemajuan yang ada di Filipina.
Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1951:
‘Manila.. Narasumber yang berwenang hari ini mengatakan bahwa Presiden
Indonesia Soekarno, akan tiba disini di Sabtu dalam kunjungan kenegaraan selama
7 hari, akan menerima gelar Legiun Kehormatan Republik Filipina dan gelar
doktor kehormatan bidang hukum dari Universitas Far Eastern’. Java-bode :
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 27-01-1951: ‘Manila.
Pesawat angkatan perang Filipina akan meninggalkan Manila pada hari Minggu
untuk mengunjungi pabrik yang membawa Presiden Soekarno dan rombongannya di
lepas pantai utara Palawan dan mengawal ke Bandara International Manila, demikian
diumumkan Departemen Luar Negeri’. Presiden Soekarno dianugerahi gelar doktor pada
tanggal 30 Januari 1951,
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pengakuan Belanda terhadap
Kedaulatan Indonesia 1949
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





