*Untuk melihat semua artikel Sejarah Filipina
dalam blog ini Klik Disini
Apakah
orang Filipina perantau? Pertanyaan itu yang ingin diketahui. Lantas mengapa
pertanyaan itu muncul? Sebab orang Filipina banyak ditemukan di Asia, termasuk
Indonesia, di Eropa dan Amerika Serikat. Bukankah warga negara lain, juga
termasuk yang warganya di Asia, di Eropa dan Amerika Serikat? Okelah, tetapi
pertanyaan apakah orang Filipina perantau tetap penting ditanyakan dan yang
lebih penting diketahui jawabnya. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional,
mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

sebanyak 100 Juta jiwa dengan kepadatan 335 jiwa per Km2. Bandingkan Indonesia
270 Juta jiwa (hasil sensus penduduk 2020) dengan kepadatan 140 jiwa per Km2
(secara khusus penduduk di pulau Jawa sebanyak 150 Juta jiwa dengan kepadatan
1.170 jiwa per Km2). Penduduk pulau Sumatra sebanyak 58 Juta jiwa yang kurang
lebih setara dengan penduduk pulau Luzon, Filipina sebanyak 55 Juta jiwa.
Penduduk Metro Manila sebanyak 12 Juta jiwa (bandingkan dengan penduduk DKI
Jakarta sebanyak 10.56 Juta jiwa), Berdasarkan Migration and Remmitances
Factbook (World Bank 2016) Filipina merupakan negara pengirim remitansi
terbesar ketiga di dunia setelah India dan China. Ini mengindikasikan bahwa
orang Filipina pada masa kini terbilang yang banyak warganya berada di luar
negeri.
Perantau
kurang lebih sama dengan migran (penduduk atau warga yang migrasi dari satu
tempat ke tempat lain). Yang dimaksud migran disini adalah migran antar negara,
dari wilayah (negara) Filipina ke luar negeri. Para migran ini dapat dibedakan
migran semasa hidup (lahir dan masih tecatat di luar negeri), migran risen
(migran sekitar lima tahun terakhir) dan migran sirkuler (karena bekerja dalam
jangka waktu pendek). Lantas bagaimana sejarah migrasi orang Filipina ke luar
negeri? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Awal Migrasi Orang Filipina ke
Luar Negeri: Modal Bahasa Inggris
Siapa
yang lebih dulu migrasi di zaman kuno: Filipina atau Indonesia? Maksudnya penduduk pulau-pulau di Filipina dan
penduduk di pulau-pulau di Indonesia. Apakah zaman kuno penduduk di Filipana ke
Indonesia atau sebaliknya penduduk Indonesia ke Filipina. Tentu saja tidak ada
datanya. Namun pertanyaan tetaplah pertanyaan—suatu pertanyaan yang seharusnya
bisa dijawab. Lalu bagaimana menjawabnya?
Dalam bahasa teknologi masa kini, untuk memahami
lika-liku kota Manila, orang Indonesia tidak perlu terbang ke Manila (atau
sebaliknya orang Manila ke Jakarta). Cukup buka aplikasi googlemaps atau
googleearth. Demikian juga penduduk bumi ingin mendarat di bulan tidak perlu
harus ada yang lebih dahulu mengalaminya. Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat
membantu menjelaskannya. Hal itulah tentang data sejarah zaman kuno. Bahasa adalah salah satu data zaman kuno yang
dapat eksis hingga ini hari. Bahasa cenderung diturunkan, dilembagakan dan
digunakan. Bahasa Tagalog jika diperhatikan sesungguhnnya, bukan mirip bahasa
Melayu, tetapi bahasa Melayu yang berevolusi menjadi bahasa Tagalog, seperti
halnya bahasa Betawi, Minangkabau, bahasa Manado, bahasa Atjeh dan bahasa Ambon.
Bahasa-bahasa yang terbentuk ini telah menggeser bahasa-bahasa asli (bahasa
punah). Terbentuknya bahasa Tagalog (menggeser bahasa asli) mengindikasikasikan
ada arus orang dari berbagai pulau ke Manila dan sekitar dengan lingua franca
yang sama (yang kelak disebut bahasa Melayu). Secara teoritis bahasa Melayu
pada zaman kuno adalah bentuk perkembangan berikutnya dari bahasa Sanskerta
(asal dari barat di India). Tentu saja pedagang-pedagang India zaman kuno yang
menjadi sebab terbentuknya bahasa Sanskerta tidak dimulai dari pulau Luzon atau
pulau Formosa, tetapi dari pulau Sumatra, Semenanjung dan Jawa. Jika bahasa
Tagalog berakar dari bahasa Melayu (dan Sanskerta) mana arus orang di zaman
kuno sudah terjadi dari Semenanjung dan Sumatra ke pulau-pulau di Filipina.
Pada era Portugis-Spanyol lingua franca adalah bahasa Melayu, termasuk di
pulau-puau di Filipina yang sekarang. Arus orang inilah yang memperkaya
penduduk asal Manila (dan Filipina) yang sekarang yang membentuk bahasa
Tagalog.
Dengan
menggunakan bahasa, lingua franca (bahasa Melayu yang membentuk bahasa Tagalo di
jaman lampau dapat dikatakan telah terjadi migrasi penduduk dari pulau-pulau di
sebelah barat (Sumatra dan Jawa) ke pulau-pulau di sebelah timur (Borneo, Nusa
Tengara, Sulawesi, Maluku dan Papua) dan ke pulau-pulau di sebelah utara
(Mindanao, Panay, Palawan, Mindoro dan Luzon).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Migran Filipina pada Masa Kini
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





