*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Papua
adalah tetangga Ternate. Wilayah Papua sudah sejak zaman kuno dikenal di
Ternate. Pada era VOC wilayah Papua berada di bawah Sultan Tidore. Nama Papua
berasal dari bahasa Melayu. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, wilayah Papua
dibagi dua: sebelah barat masuk wilayah (Hindia) Belanda, wilayah timur masuk
wilayah yurisdiksi Inggris. Pada Perang Pasifik. Australia (seperti halnya
Timor Timur) menginginkan Papua Barat (agar memiliki seluruh wilayah Papua),
tapi Australia mundur karena Belanda (NICA) menggertak.

era Portugis danSpanyol hingga era Belanda dan Inggris. Yang terakhir pada era
pasca Perang Pasifik antara Indonesia dan Belanda di satu sisi dan antara
Australia dan Inggris. Pada pasca pengakuan Belanda terhadap kedaulatan Indonesia,
Belanda masih ngontot menguasai Papua Barat. Saat inilah beberapa pemimpin Papua
mendesak agara Papua masuk Indonesia. Artinya para pemimpin Papua menolak
bertahannya Belanda, sementara di wilayah lainnya Belanda telah mengakui
kedaulatannya. Nama Irian muncul yang disingkat dari Ikut Republik Indonesia
Anti Nederland. Ketika tahun 1962 Irian atau Papua dibebaskan Indonesia,
wilayah dijadikan sebagai satu provinsi: Provinsi Irian Jaya dengan ibu kota di
Jaya Pura. Pada era Presiden Gusdur, nama Papua dikembalikan untuk menggantikan
Irian Jaya. Lantas mengapa nama Jayapura tetap dipertahankan?
Lantas
bagaimana sejarah Irian Barat atau Irian Jaya? Tentu saja sudah banyak ditulis. Lalu apa
hubungannya Irian Barat dengan Ternate? Tentu saja tidak hanya Papua di masa lampau pernah
berada di bawah kekuasan Kesultanan Tidore. Yang lebih penting adalah faktor
Belanda sendiri yang tetap ingin beryahan di wilayah Papua (barat). Bagaimana
semua itu terjadi? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Papua dan Irian: Papua
Ikut Republik Indonesia Anti Nederland
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Papua Menjadi Irian Barat,
Irian Jaya Menjadi Papua (Lagi)
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com








