*Untuk melihat semua artikel Sejarah Ternate dalam blog ini Klik Disini
Para
pahlawan nasional dari Maluku Utara terbilang pahlawan masa lampau. Umumnya
pahlawan nasional Indonesia adalah pahlawan masa kini. Seperti halnya Soeltan
Hasanoeddin dari Makassar (Gowa) dan Iskandar Moeda dari Atjeh di era VOC, dua
pahlawan nasional dari Maluku Utara hidup pada era Portugis dan era VOC yakni Sultan
Nuku Muhammad Amiruddin dari Tidore pada era VOC dan Sultan Baabullah dari
Ternate pada era Portugis. Hanya sedikit pahlawan nasional yang hidup di era
VOC, pada awal era Pemerintah Hindia Belanda beberapa pahlawan nasional antara
lain Pangeran Pattimura dari Saparua dan Pengeran Diponegoro dari Jawa.

1738 adalah adalah seorang sultan dari Tidore (dinobatkan 13 April 1779). Sultan
Nuku meninggal tahun 1905. Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Sultan
Nuku sebagai Pahlawan Nasional Indonesia tahun 1995. Sultan Baabullah dari
Ternate lahir tahun 1528 (dinobatkan menjadi sultan pada tahun 1570). Pemerintah
Republik Indonesia menganugerahkan Sultan Ternate sebagai Pahlawan Nasional
Indonesia tahun 2020. Dalam daftar pahlawan nasional, nama yang pertama
ditabalkan sebagai pahlawan nasional adalah Abdul Muis pada tahun 1956.
Lantas
bagaimana sejarah dua pahlawan nasional Tidore dan Ternate? Sudah barang tentu sudah ada yang menulisnya. Namun
sejarah tetaplah sejarah. Sejauh data baru ditemukan, penulisan narasi sejarah
Ternate tidak pernah berhenti. Okelah kalau begitu. Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Sultan Baabullah dari Ternate
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Sultan Nuku dari Tidore
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




