*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Aceh dalam blog ini Klik Disini
Secara
teoritis penduduk di pedalaman adalah penduduk asli. Seperti di wilayah
lainnya, dalam arti teknis penduduk yang lebih awal jika dibandingkan dengan keberadaan
penduduk di wilayah pantai. Seperti halnya penduduk Tanah Karo di Sumatra Utara,
hal ini di Aceh dapat dialamatkan kepada penduduk Tanah Alas dan Tanah Gayo.
Tiga kawasan pedalaman bagian paling utara pulau Sumatra ini, tidak hanya
sama-sama berada di pedalaman, juga dari segi unsur budaya banyak bersesuaian. Penduduk
Alasan di Tanah Alas berpusat di kabupaten Aceh Tenggara

penduduk Jawa yang berada di pedalaman. Sementara di pulau Borneo (Kalimantan)
terdiri dari fraksi-fraksi penduduk yang secara keseluruhan disebut penduduk
Dayak. Sedangkan di pulau Celebes (Sulawesi) diantaranya adalah penduduk
Toradja dan penduduk Minahasa. Karakteristik utama dari penduduk asli di
pedalaman umumnya tidak memiliki kearifan lokal dalam bidang navigasi pelayaran
di lautan. Dengan kata lain mereka bukan pelaut. Penduduk asli pedalaman sangat
mengandalkan perdagangan di kota-kota (pelabuhan) pantai dari sisi produksi
(berburu, pengumpulan hasil hutan dan budidaya pertanian serta pertambangan).
Lantas
bagaimana sejarah penduduk Alas? Yang jelas sejarah penduduk Alas baru mulai
terinformasikan setelah Perang Atjeh 1873. Perseteruan (kesultanan) Atjeh dengan
Pemerintah Hindia Belanda (bahkan sejak era VOC) menjadi satu faktor penting
mengapa keberadaan penduduk Alas kurang terinformasikan. Ternyata penduduk di
Tanah Alas terbilang padat. Okelah itu satu hal. Hal yang lebih penting adalah
bagaimana sejarah penduduk Alas di Tanah Alas? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.

sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Nama Alas di Aceh
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Kota Cane di Tanah Alas
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir
Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok
sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan
Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti
di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi
berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau.
Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu
senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah),
tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis
Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang
dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



