*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Kota Amurang di (kabupaten) Minahasa Selatan
bukanlah kota kecil. Pada masa lampau, Amurang adalah kota besar, bahkan jauh lebih
besar dari kota Manado. Oleh karena itu pada permulaan Pemerintah Hindia
Belanda, Amoerang pernah dijadikan sebagai ibu kota Residentie Manado. Lautnya
yang tenang di teluk, membuat kapal-kapal dari berbagai tempat berlabuh dengan
aman. Kota pelabuhan Amoerang menjadi salah satu pusat perdagangan yang
penting.Amurang adalah kota tua, kota yang sudah terbentuk sejak era Portugis.

Amurang berada di Minahasa. Pada tahun 2003 Kabupaten Minahasa dimekarkan
dengan membentuk kabupaten Minahasa Selatan yang mana ibu kota ditetapkan di
Amurang. Penetapan Amurang sebagai ibu kota seakan Amurang baru memulai
sejarah, tetapi kenyataannnya kota Amurang sudah pernah dijadikan sebagai ibu
kota Residentie Manado. Penetapan Amurang sebagai ibu kota kabupaten Minahasa
Selatan seakan mengembalikan marwah kota Amurang tempo doeloe yang sempat
terlupakan karena perkembangan kota Manado yang sangat pesat.
Apakah sejarah kota Amurang sudah ditulis?
Mungkin iya, mungkin belum. Mari kita pastikan dengan menyusun sejarahnya. Sebagaimana
diketahui sejarah adalah narasi fakta dan data, maka untuk menyusun kronologis sejarah
kota Amoerang haruslah berdasarkan fakta dan data. Kita mulai dari permulaan. Seperti
kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah
pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Amoerang: Kota Besar Tempo Doeloe
Pada era Portugis, Amoerang belumlah termasuk nama-nama tempat yang
penting. Nama-nama tempat yang kerap dicatat pada era Portugis adalah Ternate, Tidore,
Manados (baca: Manado Toewa), Kaidipan, Toli-Toli, Siaou, Sangir dan Talaod
(lihat AJ van Aernsbergen dalam Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde
van Nederlandsch-Indië, 1925). Nama Amoerang berada di antara Kaidipan dan Toli
Toli. Di tempat-tempat pelabuhan tersebut sebelum kedatangan Portugis (Katolik)
adalah wilayah perdagangan orang-orang Moor (Islam). Diduga pedagang-pedagang Moor
adalah orang yang menyiarkan Islam di Ternate dan dan Tidore. Orang-orang
Portugis di tempat-tempat yang disebut tersebut baru muncul pada tahun 1547.

Moor adalah pelaut-pelaut andal yang berasal dari Mediteranian Afrika Utara
(dekat Portugis dan Spanyol) yang beragama Islam. Seperti halnya Portugis,
orang-orang Moor juga sudah banyak di Sumatra dan Jawa. Mereka kemudian
menyebar ke Celebes, Maloekoe dan Mondanao. Ornag-orang Portugis dan Spanyol
menyebut orang-orang Moor di Halmahera dengan sebutan Batachina atau Batochina
del Moro. Nama (bangsa) Moor inilah yang diduga menjadi asal-usul munculnya
bangsa Moro (Mindanao) dan nama pulau Morotai. Lantas apakah nama Amoerang [A-Moer-ang] juga berasal-usul dari nama (bangsa)
Moor?
Orang-orang Belanda baru menyusul setelah
ekspedisi pertama Belanda pada tahun 1595 yang pada tahun 1597 sudah singgah di
Lombok dan Bali (dan melakukan perjanjian dengan radja Bali). Semakin intensnya
ekspedisi Belanda, pada tahun 1605 pelaut-pelaut Belanda mengusir orang
Portugis dari Amboina (Fort Victoria). Orang-orang Belanda menjadi pesaing baru
bagi orang-orang Portugis dan Spanyol di kawasan (sebelumnya orang-orang
Portugis dan Spanyol menjadi pesaing baru bagi orang-orang Moor).

antara Portugis dan Spanyol di kawasan terutaa Halmahera dan Semenanjung
Celebes (Manado hingga Toli Toli) pada akhirnya orang-orang Spanyol terusir ke
Mindanao dan Luzon pada tahun 1641. Inilah awal keberadaan Spanyol
(terkonsentrasi di Filipina). Orang-orang Belanda (VOC) yang semakin menguat di
Bali, Timor, Banda dan Amboina pada akhirnya berhasil mengusir Portugis dari
Ternate. Wilayah Ternate termasuk wilayah Semenanjung Celebes (termasuk
kepulauan Siaou, Sangir dan Talaod). Pada tahun 1654 kepala suku Minahasa
mengirim duta ke pos perdagangan VOC di Tèrnate untuk menjalin hubungan sekutu.
VOC kemudian berhasil mengusir Portugis dari Manado. Pemerintah VOC melalui
Gubernur Maluku Simon Cos kemudian mendirikan sebuah benteng di pantai dekat
Manado pada tahun 1657. Inilah mengapa pos perdagangan VOC merelokasi pos
perdagangannya tahun 1661 ke muara sungai Tondano. Sejak inilah Belanda (VOC)
tidak terusik di Manado (muara sungai Tondano). Portugis tamat di (pulau)
Manado dan juga di teluk Amoerang.
Salah satu sisa peninggalan Portugis di teluk
Amoerang adalah benteng yang tetap digunakan oleh orang-orang Belanda (VOC). Di
dekat benteng (eks Portugis) inilah Pemerintah VOC membangun pos perdagangan
dan mengembangkan kota (sebagai cikal Kota Amurang yang sekarang). Pada Peta
1695 pantai utara Celebes (antara Manado dan Toli Toli) adalah lalu lintas
perdagangan yang ramai (paling tidak teridentifikasi tanda navigasi kedalaman
laut) di sepanjang pantai. Kedalaman laut di Amoerang sekitar 40 meter.
Kawasan
pantai utara Celebes ini dari Toli Toli hingga Manado adalah satu wilayah
genealogis. Pada era Poertugis, Raja Tolitoli adalah bersaudara dengan Raja
Boeol, Raja Manado, Raja Bolaang dan Ratu Kaidipan. Musuh mereka adalah Radja
Makassar. Sementara di pedalaman terdapat penduduk Alifuru (penyembah berhala) yang
berpusat di Tondano–yang dalam hal ini adalah penduduk yang berada di
pedalaman Minahasa.
Penduduk pantai-pantai (dan pulau-pulau) bukanlah
Alifuru (Minahasa) tetapi penduduk yang berbeda dengan penduduk asli Minahasa. Penduduk
pantai-pantai (dan pulau-pulau) ini dapat dikatakan penduduk campuran (mix
population). Yang dalam hal ini sudah barang tentu telah terjadi interaksi
(perkawinan) antara penduduk pesisir pantai dan penduduk (asli) pedalaman.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Bernard Wilhelm Lapian van Amoerang
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di
blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah
menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat
tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton
sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan
sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam
memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini
hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




