*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Siau, Sangir dan Talaud bukanlah nama baru. Tiga
nama ini sudah sangat dikenal sejak era Spanyol dan Portugis, bahkan lebih
dahulu terkenal daripada (pulau) Manado dan Minahasa. Siau, Sangir dan Talaud
sejaman dengan Ternate, Tidore dan Ambonia. Tersinkirnya Spanyol dan Portugis
oleh Belanda (VOC) menyebabkan Siau, Sangir dan Talaud menjadi terpencil.
Sebalinya Manado dan Minahasa tumbuh dan berkembang pesat.

Indonesia dari Sabang hingga Merauke dan dari Timor hingga Talaud. Kepulauan
Talaud berbatasan dengan (negara) Filipina. Dari sudut pandang Indonesia,
Talaud berada di pinggiran, tetapi dari sudut pandang negara lain, Talaud
berada di pintu gerbang. Orang di Manado, ibu kota provinsi menganggap Siau,
Sangihe dan Talaud ibarat jauh di mata dekat di hati. Namun kini, orang di
Siau, Sangihe dan Talaud melihat Manado, jauh di hati dekat di mata. Mengapa?
Tiga pulau besar di laut Sulawesi ini kini masing-masing telah menjadi daerah
otonom (kabupaten). Orang Talaud tidak perlu lagi ke (ibu kota provinsi) Manado,
sudah cukup ke ibu kota kabupaten di Melongguane, orang Sangihe ke ibu kota Tahuna
dan orang Siau ke ibu kota Ondong Siau.
Bagaimana sejarah tiga kabupaten yang berada di
antara pulau Sulawesi dan pulau Minadanao? Yang jelas penduduk di tiga kabupaten baru ini
mulai bangkit untuk mengenang masa kejayaan tempo doeloe. Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Permulaan inilah yang ingin dikenang Siau,
Sangur dan Talaud dalam narasi sejarah. Sebab selama ini sejarah permulaan kepulauan
ini kurang terinformasikan. Okelah. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi
sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam
artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman,
foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding),
karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari
sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan
lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru
yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain
disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.
Nama Siau, Tagulandang, Sangir dan Talaud
Nama-nama tempat di pulau
Tagulandang dan pulau Sangir sudah sejak lama dicatat di dalam catatan Kasteel
Batavia (Daghregister). Saat itu pusat perdagangan utama berada di Ternate.
Wilayah kerajaan Ternate tidak hanya di pulau Ternate (dan Halmahera) tetapi
mencakup daratan di sekitar teluk Tomini (Poso), semenanjung Sulawesi (Manado)
dan pulau-pulau diantara Celebes dan Mindanao.
Beberapa
catatan di dalam Daghregister antara lain: Daghregister 3 September 1679 Capiteyn
garnisu Ternate, Cornelis Sweers dibunuh di pulau Sangy (Sangir); Daghregister
16 Februari 1680 paket surat Spanyol yang ditujukan kepada seorang radja Sangier
dari Manila; Daghregister 31 Januari 1682 terjemahan dari pulau Sangir di
Limauw (Limau); Daghregister 5 November 1684 kontrak antara d’Edele Compagnie
dan Coning of Tagulande; Daghregister 8 Agustus akta pengalihan land Mindanao dan
Edele Compagnie oleh radja Candahar; Daghregister 6 Desember 1695 terjadi gempa
besar di Taroena; Daghregister 29 September 1724 pengangkatan Putra Mahkota di
Taboekan dan Mangani[toe] sebagai raja atas kerajaan-kerajaan tersebut;
Daghregister, 12 Februari 1725 pengangkatan sementara tiga raja untuk
Manganitoe, Taboekan dan Tagulanda sampai terpilihnya radja Candahar; Daghregister
10 Februari 1726 mengangkat pangeran Mangankobumy menjadi raja Candahar.
Dari catatan-catatan Kasteel
Batavia di era VOC tidak ditemukan nama-nama tempat di Siau, Biaro, dan
kepulauan Talaud. Nama-nama tempat yang dicatat di Tagulandang dan Sangihe
merujuk pada kerajaan. Lantas apakah radja-radja di Kandahar, Tagulanda,
Taboekan, Manganitoe yang ada ikatan (kontrak) dengan pemerintah VOC, sementara
yang lain tidak karena faktor potensi ekonomi. Nama Taroena sudah disebut
tetapi tidak ada catatan mengenai radjanya. Boleh jadi hanya empat kerajaan ini
yang eksis di kepulauan pada saat itu. Lalu apakah pulau-pulau di kepulauan
Talaud yang sekarang masuk wilayah kerajaan Taboekan?
Tunggu deskripsi lengkapnya
Pertumbuhan dan Perkembangan Siau, Sangir dan Talaud
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di
blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah
menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping
pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas
Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah–agar lingkungan tempat
tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton
sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan
sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam
memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini
hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish).
Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






