Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Tangerang (33): Kronologis Sejarah Tangerang, Terbentuknya Kota Tangerang; Dari Jaman Portugis Hingga Era NKRI

Tempo Doelo by Tempo Doelo
25.08.2019
Reading Time: 26 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN



























































































































































*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Tangerang adalah salah satu wilayah yang
catatan sejarahnya terang benderang. Cukup banyak data tertulis yang bisa
diakses pada masa ini. Demikian juga sejarah terbentuknya kota Tangerang,
datanya cukup tersedia yang dapat diurutkan secara kronologis. Begitu kayanya
data sejarah wilayah Tangerang dan kota Tangerang, kita pada masa ini tidak
perlu lagi menggunakan cerita rakyat atau hikayat. Demikian juga soal analisis,
penulis-penulis Belanda juga telah melakukan analisis-analisi awal yang dapat
meningkatkan pemahaman kita terhadap data yang ada.

Tangerang: dari tempo doeloe hingga masa kini

Sejarah Tangerang dan sejarah kota Tangerang memiliki data sejarah yang
dapat dikatakan lengkap dan bersifat kontinu. Oleh karena itu sejarah Tangerang
dan sejarah kota Tangerang tidak sepotong-sepotong. Dengan mengikuti data
sejarah yang kontinu kita dapat melihat perjalanan sejarah Tangerang dan
sejarah kota Tangerang secara komprehensif (menginput semua aspeknya). Awal
sejarah Tangerang dan kota Tangerang bukan di jaman kuno tetapi di era modern.
Penulis-penulis Portugis, Belanda dan Inggris telah memberi kontribusi sejak
awal. Surat kabar berbahasa Belanda dan berbahasa Inggris juga telah
memberitakannya. Demikian juga para ahli geografi sosial sudah memetakannya ke
dalam peta-peta. Tentu saja para pelukis telah menggambarkannya dengan baik.
Jangan lupa masih ada catatan harian kasteel Batavia, Daghregister Singkat kata:
Wilayah Tangerang dan kota Tangerang sangat beruntung memiliki data historis
yang tercatat (terdokumentasi) dengan baik. Semua data dan informasi tersebut
sangat penting untuk menjelaskan sejarah Tangerang dan kota Tangerang.
   

Artikel ini berisi susunan kronologis yang memuat
sari sejarah Tangerang dan kota Tangerang. Sejarah Tangerang dan kota Tangerang dalam
kronoligi ini hanya mendaftar hal yang penting-penting saja. Penting dalam
mendukung kronologis sejarah yang lengkap (bersifat kontinu). Untuk itu mari
kita mulai dari nama Tangerang sendiri.
Sumber
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Nama Tangerang Kali Pertama Dicatat Joao de Barros (1527)
Nama Tangerang sudah ada sejak lama, bahkan
sebelum terbentuknya Kerajaan Jacarta dan Kesultanan Banten. Ini merujuk pada
laporan seorang Portugis, Joao de Barros di dalam laporannya (1527) yang
menyebutkan di pantai utara Jawa terdapat tujuh pelabuhan penting, yakni:
Chiamo, Xacatara, Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang dan Bantam.
Penulis-penulis geografi Belanda mengidentifikasi Chiamo sebagai Tjimanoek (Indramajoe),
Xacatara sebagai Jacatra, Caravam sebagai Karawang, Tangaram sebagai Tangerang,
Cheguide (Tjikande), Pondang (Pontang) dan Bantam (lihat Tijdschrift van het
Aardrijkskundig Genootschap, 1906, 01-01-1906).

Peta-peta
awal tentang Hindia Timur dibuat olej orang-orang Portugis. Peta-peta Portugis
masih tampak sederhana seperti peta tertua tahun 1525. Pada peta yang dibuat
oleh ekspedisi Cornelis de Houtman (1595-1597) yang diterbitkan tahun 1598 peta
Sumatra dan peta Jawa sudah lebih detail tentang nama-nama tempat di pantai.
Peta ini merupakan peta tertua yang dibuat oleh Belanda. Peta 1524 (Portugis).
Peta-peta ini terus diperbarui dengan bertambahnya ekspedisi-ekspedisi yang
dilakukan oleh VOC/Belanda.

Pelabuhan-pelabuhan ini
diduga tempat interaksi (perdagangan) para pedagang dari seberang lautan
(seperti India, Persia, Arab, Tiongkok, Melayu) dengan para pedagang dari
pedalaman (Kerajaan Pakwan-Padjadjaran). Pelabuhan-pelabuhan ini sudah barang
tentu sudah eksis jauh sebelum kedatangan Joao de Barros. Sebelum kedatangan
orang Eropa (Portugis dan Sepantol), perairan Jawa sudah menjadi pusat lalu
lintas perdagangan dari barat di India dan timur (Tiongkok).

Tijdschrift van het
Aardrijkskundig Genootschap, 1906

Nama
sungai Tangerang diduga kuat sebutan orang dari lautan yang mengacu pada nama
tempat: Tangerang. Ini juga sama dengan tempat Bekasi untuk sungai Bekasi; Jacatra
untuk nama sungai Jacatra (Groote Rivier van Jakatra) dan Karawang untuk sungai
Karawang. Nama-nama tempat ini berada dekat pantai yang menjadi pelabuhan.
Sementara itu orang dari pedalaman menyebut sungai Tangerang sebagai Tjisadane;
sungai Jacatra sebagai Tjiliwong; sungai Bekasi sebagai Tjilengsi dan sungai Karawang
sebagai Tjitaroem. Nama-nama yang bersumber dari pedalaman tidak diketahui
apakah sebelumnya juga sebagai nama tempat atau hanya semata-mata nama sungai
saja.

Pada saat kedatangan ekpedisi pelaut/pedagang
Belanda (1595-1597), dalam laporan pemimpin ekspedisi Houtman tidak menyebut
nama-nama tersebut kecuali pelabuhan Banten dan Soenda Kalapa (lihat Journael
vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen,
strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van
tijt tot tijt aengeteeckent, …1598). Banten dan Soenda Kalapa saat itu sudah
menjadi pelabuhan penting dari dua kerajaan (Banten dan Jacatra). Batas antara
dua kerajaan ini berada pada titik (demarkasi) di pulau Oentoeng Djawa
(Belanda: Ontong Java) dan sungai Tangerang/sungai Tjisadane.
Sumatra (Peta 1598)

Dalam
perkembangannya, Jan Pieterszoon Coen mengambil posisi dan membangun benteng di
pulau Ontong Java. Dengan alasan pertama untuk melindungai Kerajaan Jacatra
(dari Banten), Jan Pieterszoon Coen yang telah menjadi Gubernur Jenderal VOC
menaklukkan Jacatra dan mendudukinya pada tahun 1619. Perjanjian pun dibuat
dengan raja Jacatra. Sejak saat inilah Jan Pieterszoon Coen memulai membangun
kota Batavia dan memperkuat benteng Batavia. Kekuatan benteng ini paling tidak
telah berhasil menahan serang dari Mataram (1629). Itu menjadi sinyal dari
Batavia untuk Banten.

Sejak itu, orang-orang Belanda dengan intens
memetakan secara detail setiap sisi dan sudut geografis. Peta-peta tersebut
berbeda dengan yang kita lihat sekarang melalui googlemap. Satu sudut geografis
yang penting yang telah dipetakan oleh orang Belanda/VOC adalah wilayah sekitar
pulau Ontong Java dan muara sungai Tangerang. Sebagaimana diketahui sejak 1667 muncul
kebijakan baru VOC/Belanda untuk menjadikan penduduk sebagai subjek.
Indoneis (Peta 1619)
Muara sungai Tangerang berada di dalam sebuah
teluk, dimana di dalam teluk digambarkan terdapat sejumlah pulau-pulai sedimem.
Kampong Moera ini pada masa ini terkesan berada di daratan (pedalaman), tetapi
pada masa lampau lokasinya berada di pantai. Peta muara sungai Tangerang ini
pada peta termuda (1690) masih relatif sama dengan gambaran peta-peta
terdahulu. Tiga kampong yang teridentifikasi di teluk ini adalah kampong Moera
di muara sungai yang diduga dihuni orang-orang Tionghoa. Di sepanjang pantai ke
arah timur, kampong kedua adalah kampong Malajoe (diduga perkampungan orang
Melayu) dan kampong yang ke arah timurnya lagi adalah kampong Tegal Angoes
(yang diduga dihuni oleh orang Jawa). Satu informasi penting dari Peta 1690 ini
adalah sungai yang mengarah ke utara adalah cabang sungai Tangerang (spruit
Tangerang). Peta 1619

Palisade (benteng) Tangerang, 1701

Gambaran ini mengindikasikan
saat VOC/Belanda mulai membangun pertanian di daerah aliran sungai Tangerang
pada tahun 1674, yang menjadi titik awal navigasi sungai diduga kuat dimulai
dari kampong Moeara. Posisi kampong Moeara (Tangerang) yang berada di muara teluk
ini yang begitu dekat dengan pulau Ontong Java dan pulau Onrust
(benteng-benteng Belanda). Teluk ini kemudian diduga adalah teluk yang
diasosiasikan dengan nama Teluknaga yang sekarang. Kampong Melajoe yang juga
berada di pantai ke arah timur diduga yang menjadi asal muasal nama desa
Kampong Melayu sekarang ini.

Cornelis Snock yang memulai eksploitasi dan
okupasi di daerah aliran sungai Tangerang menyadari hubungan VOC/Belanda dengan
Kesultanan Banten yang pasang surut, untuk menjaga keberadaannya dan para
pekerja membangun palisade yang terbuat dari kayu dan bambu. Kelak palisade ini
dibangun permanen yang kemudian dikenal sebagai benteng (fort) Tangerang (cikal
bakal kota Tangerang). 
Peta 1690

Pada
tahun 1680, ketika posisi Cornelis Snock yang sudah digantikan oleh Cornelis
Vincent van Mook, eskalasi politik meningkat di (kesultanan) Banten, sang anak
menggulingkan posisi ayahnya sebagai sultan (Sultan Tirtajasa), situasi di
daerah aliran sungai Tangerang terganggu. Orang-orang Belanda yang berada di
sisi timur sungai Tangerang mulai lebih memperkuat pertahanan. Lebih-lebih
setelah Sultan Banten yang terguling telah menyingkir dan membangun basis di
Pontang dan Tanara.

Pulau Ontong Java (Peta 1700)

Posisi
(pelabuhan) Pontang dan Tanara begitu dekat dengan (palabuhan) Moeara Tangerang.
Cornelis Vincent van Mook yang sudah mulai merintis kanal irigasi di utara
benteng, memperluas fungsi kanal irigasi menjadi fungsi kanal irigasi untuk
pelayaran dari Tangerang ke Batavia (dan sebeliknya). Untuk mengerjakan proyek
besar ini, Cornelis Vincent van Mook mendatangkan tenaga kerja dari Indramajoe
dalam jumlah besar. Perluasan fungsi kanal ini, akibat ketegangan di (kesultanan)
Banten dan begitu dekatnya basis Sultan Banten di Tanara. Sebagaimana diketahui
nanti, Cornelis Vincent van Mook pada akhirnya menyelesaikan kanal Tangerang
hingga Pesing di Batavia tahun 1687. Kanal ini kemudian dikenal sebagai kanal
Mookervaart.  

Sultan Tirtajasa membangun kekuatan dengan
berkolaborasi dengan Inggris dan Denmark. Sultan Titajasa ingin kembali ke
kraton dan hubungan antara Inggris dan Belanda juga tidak kondusif. Akhirnya
kraton Banten dapat diduduki 1680. Sang anak (Sultan Hadji) tersingkir. Saat
inilah Sultan Hadji melalui penasehatnya orang Belanda (Cardeel) meminta
bantaun Belanda/VOC di Batavia. Namun pasukan yang dikirim dari Batavia yang
dipimpin Kapitain Jonker gagal dan terbunuh. Anakbuahnya yang masih hidup
ditawan, termasuk Letnan Moody.
Kampong Baroe, Tangerang, 1706

VOC/Belanda
di Batavia kembali mengirim ekspedisi yang lebih besar ke Banten yang dipimpin
oleh Majoor Saint Martin pada tahun 1684. Saint Martin berhasil bernegosiasi
dengan Kesultanan Banten dalam soal tawanan dan juga soal perbatasan Batavia
(eks Kerajaan Jacatra) dan Banten. Hasil negosiasi ini dituangkan dalam bentuk
perjanjian. Isi perjanjian adalah soal saling menahan diri dan wilayah Batavia
yang diperluas hingga batas sungai Tjikande/sungai Tjidoerian. Sisi timur dabn
sisi barat sungai Tjiliwong menjadi wilayah Batavia. Atas prestasi ini,
Gubernur Jenderal VOC memberikan hadiah lahan subur untuk Saint Martin di
Tjinere dan Tjitajam.

Sejak selesainya kanal Mookervaart pada tahun
1687 dan situasi dan kondisi keamanan yang semakin kondusif di district
Tangerang (yang sudah diperluas hingga batas sungai Tjikande), maka
pedagang-pedagang Eropa/Belanda semakin banyak yang membuka lahan dari benteng
Tangerang hingga ke sisi barat sungai dan ke daerah hulu sungai
Tjisadane/sungai Tangerang hingga ke Serpong. Untuk mendukung keamanan yang
prima, VOC/Belanda meningkatkan benteng Tangerang tahun 1695 dan juga membangun
benteng baru di Sampoera (Serpong). Adanya benteng Sampoera di Serpong,
pedagang VOC/Belanda juga semakin jauh membuka lahan hingga Tjiampea.
Peta 1724

Pada
masa-masa inilah terjadi pembukaan lahan-lahan yang masif di wilayah Tangerang.
Pada tahun 1699 gunung Salak meletus. Terjadi gempa besar dan tsunami di
daerah pantai bahkan di muara sungai Tangerang. Wilayah sekitar gunung Salak
rata dan tertutup oleh hujan debu vulkanik. Pohon-pohon yang bertumbangan
bersama-sama dengan lumpur yang pekat terbawa arus sungai Tangerang hingga ke
laut. Satu hal yang penting di muara sungai Tangerang, kayu-kayu gelondongan
dan lumpur pekat ini telah mempercepat proses sedimentasi di muara sungai
Tangerang. Pulau-pulau sedimen yang sebelumnya terpisah-pisah telah menjadi
menyatu membentuk daratan yang lauas. Sisi-sisi terluar yang dulu teluk
(Teluknaga) menjadi daerah aliran sungai yang baru (satu jalur ke utara dan
satu jalur ke timur (lihat Peta 1720). Pulau Oentoeng Djawa telah diganti dengan nama baru pulau Amsterdam..

Lalu lintas Batavia-Tangerang menjadi terpusat di
kanal Mookervaart. Lalu lintas via sungai Tjisadane/sungai Tangerang semakin
sepi. Hal ini karena sungai Tangerang/sungai Tjisadane di hilir telah mengalami
pendangkalan (dampak letusan gunung Salak) Lebih-lebih muara sungai telah
bergeser dari kampong Moeara (lama) ke arah timur, yang lebih dekat dengan
pulau Onrust (jalur sungai ini membentuk jalur utama sungai Tangerang;
sedangkan jalur yang kearah utara menjadi cabang sungai atau spruit). Persoalan
yang muncul adalah navigasi pelayaran sungai menjadi semakin jauh (antara
pantai dan benteng Tangerang).

Gambaran masa kini

Pada
fase inilah diduga muncul perkampongan baru di hilir di muara sungai Tangerang.
Perkampongan baru ini, sesuai geografisnya, juga disebut kampong Moeara (baru).
Nama kampong Moeara (lama) lambat laun lebih kerap disebut kampong Teloknaga,
sementara kampong Moeara (baru) disebut kampong Moeara. Orang-orang-orang
Belanda menyebut kampong Moeara (baru) ini dengan sebutan de Qual (kuala).

Pada satu sisi jalur pelayaran ke Batavia (atau
sebaliknya), kanal Mookervaart semakin berkembang, pada sisi lain jalur
pelayaran ke Batavia melalui sungai, via kampong Moeara (baru) semakin sepi.
Pada dua sisi jalur kanal Mookervaart berkembang land-land baru yang dimiliki
oleh orang Eropa. Sedangkan pada sisi selatan hilir sungai Tangerang hingga
kampong Moeara (baru) berkembang pemukiman-pemukiman baru pribumi. Mengapa sisi
selatan hal itu karena di hilir sungai Tangerang hanya sisi selatan yang
terbilang kering, sedangkan sisi utara yang merupakan delta bersifat basah dan
kerap mengalami banjir.
Kampong-kampong
yang berkembang di sisi selatan hilir sungai Tangerang, selain kampong
Teloknaga, kampong Malajoe dan kampong Tagal Angoes, juga muncul perkampongan
baru seperti kampong Lemo, kampong Moeara (baru) dan kampong Pangkalan dan sebagainya.
Jalur navigasi sungai di sepanjang hilir sungai Tangerang ini terus berkembang
(utamanya bagi orang-orang Tionghoa dan pribumi).
Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang Cina
terutama di Batavia. Pemerintah VOC melakukan perang frontal yang justru
mengarah kepada genosida. Lebih dari 10.000 orang Cina terbunuh. Perlawanan
orang Cina tidak hanya di Batavia, tetapi juga di Bekasi dan Tangerang,
Mereka
ini adalah imigran dari Tiongkok yang didatangkan oleh para pedagang VOC dalam
industri gula. Sementara itu orang-orang Tionghoa sudah ada sejak lama. Orang-orang
Tionghoa bahkan sudah ada yang membuka kampong di dekat Depok (kini dikenal
sebagai Pondok Cina).
Berdasarkan catatan harian Kasteel batavia,
Orang-orang Cina yang berada di Batavia yang masih selamat dari kejaran militer
VOC/Belanda banyak yang melarikan diri ke Tangerang. Mereka ini mengumpul di
Kadaoeng (kini berada di kecamatan Neglasari, Tangerang) dan Moeara (de Qual).
Mereka yang berada di daerah aliran sungai Tangerang ini tidak lagi ‘diburu’
oleh militer tetapi hanya dilokalisir dan diawasi. Mereka yang mengumpul di
Kadaoeng diduga orang-orang Tionghoa yang berada di Tangerang sedangkan yang
mengumpul di Moeara de Qual (kini desa Muara) diduga yang melarikan diri dengan
perahu dari Batavia. Para imigran Cina yang terus menetap (tidak kembali ke
Tiongkok) diduga kemudian berbaur dengan orang-orang Tionghoa yang berada di
daerah aliran sungai Tangerang. Populasi orang-orang Tionghoa di daerah aliran
sungai menjadi bertambah.
Muara (Teluknaga), Kedaung (Neglasari) dan Tangerang

Kadaoeng
adalah salah satu tanah partikelir di Tangerang. Nama kampong ini sudah adanya.
Ketika Abraham van Riebiek memperkenalkan tanaman kopi di Hindia, lokasi yang
dipilih pertama adalah di Kadaoeng pada tahun 1711. Sementara itu, para imigran
Cina yang diburu juga banyak yang melarikan diri ke arah pedalaman. Mereka ini
mengumpul di selatan Meester Cornelis. Seperti halnya di Tangerang, besar
dugaan para imigran Cina ini berbaur dengan orang-orang Tionghoa yang sejak
lama ada yang kemungkinan tempat itu dikenal sebagai kampong Bidara Tjina.

RELATED POSTS

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

Setelah tragedi 1740, pemerintah VOC/Belanda
mulai memulihkan situasi dan kondisi orang-orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa
di daerah aliran sungai Tangerang dipusatkan di sekitar benteng Tangerang.
Untuk memudahkan pengawasan terhadap mereka, pemerintah VOC membuat kebijakan
bahwa orang-orang Tionghoa dikumpulkan dalam satu perkampongan yang khusus di
Tangerang. Perkampongan ini berada di sebelah selatan benteng Tangerang.
Sementara area pemukiman orang-orang Eropa.Belanda berada di sekitar benteng.
Perkampongan (kampement) orang-orang Tionghoa ini menempati kampong Baroe
(kampong yang sudah sejak lama ditempati oleh orang-orang Sulawesi seperti dari
Makassar.
Pada
era pemerintah Hindia Belanda para pemilik land mulai diizinkan untuk membangun
pasar. Pemilik land Tangerang membangun pasar di dekat kampement Tionghoa.
Pasar inilah yang kemudian menjadi pasar Tangerang (masih eksis hingga ini
hari).

Era Perkembangan Tanah-Tanah Partikelir

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi:
akhirmh@yahoo.com

ADVERTISEMENT
Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetSendShare
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Kanker darah tidak boleh makan ini
Sejarah

Peta kuno dari tahun 1724: Jawa dalam tujuh bagian

11.07.2024
Sejarah

Pasukan Inggris meninggalkan Indonesia, 29 November 1946

10.07.2024
Sejarah

Peta kuno berbahasa Jerman dari tahun 1790: Jakarta

09.07.2024
Sejarah

Apel terakhir pasukan Inggris sebelum meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kontrol militer kepada tentara Belanda, 28 November 1946

08.07.2024
Sejarah

Peta kuno dari sekitar tahun 1633: Posisi Nusantara di Asia

07.07.2024
Sejarah

Pemindahan warga Belanda/Indo mantan penghuni kamp Jepang ke Australia, 1946

06.07.2024
Next Post

ALLAH MENJAGA ANAK KETURUNAN ORANG SHALIH

Penyakit Áin & Rawatannya

Iklan

Recommended Stories

Alamat dan Nomor Telepon Kantor Asuransi IFG Life di Surabaya

Hidden Shadow / Feng Ying Ran Mei Xiang – 烽影燃梅香 (2025) Part III

28.05.2025

Kiat Istiqamah di Jalan Allah (3)

08.05.2018
‘Keukeh’ nya Ustadz HTI, Demokrasi Pilkada Pepesan Kosong

‘Keukeh’ nya Ustadz HTI, Demokrasi Pilkada Pepesan Kosong

12.12.2015

Popular Stories

  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

OPPO Reno15 Pro Max: Flagship Reno dengan Bezel Tertipis dan Kamera 200MP Terbaru

23.01.2026
Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya

23.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Kuliner
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Review
  • Sejarah
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?