Aopok
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
Iklan Gratis
SUBSCRIBE
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis
No Result
View All Result
Aopok
No Result
View All Result
Home Sejarah

Sejarah Yogyakarta (2): Sejarah Asal Usul Nama Jalan Malioboro di Yogyakarta; Nama Gedung, Penamaan Jalan Braga Bandung

Tempo Doelo by Tempo Doelo
05.01.2019
Reading Time: 47 mins read
0
ADVERTISEMENT




false
IN




























































































































































false
IN



























































































































































Usulan jalur kereta api
Djogjakarta ke Tjilatjap mulai bergulir (De locomotief : Samarangsch handels-
en advertentie-blad, 04-12-1884). Gagasan ini tidak hanya menjadi lebih murah dari
Djogjakarta untuk tiga pelabuhan di pantai utara, tetapi juga arus komodisi
dari Ambarawa dan Megelang ke Djogjakarta. Oleh karena arus barang dan
penumpang yang semakin banyak stasion kereta api di Djogjakarta (Toegoe) ditingkatkan
dan selesai tahun 1887. Dalam perkembangannya tahun 1889 ruas antara
Djogjakarta dan Magelang dibangun. Dengan demiian, kota Djogjakarta semakin
menjadi pusat perdagangan yang penting. Perkembangan kota, yang sebelumnya
berpusat di sekitar kantor Residen mulai terlihat di sekitar stasion kereta api
Toegoe.

Kota baru Yogyakarta bermula
antara area Kraton Mataram/Yogyakarta dengan pusat pemerintahan Belanda. Pada
peta 1890 area ini diidentifikasi sebagai area antara kota kuno Mataram yang
berada di selatan dan  pusat (pemerintah)
Belanda di sebelah utara dimana terdapat stasion kereta api. Jalan lurus sejajar
dengan lintasan rel kereta api, diduga kuat adalah Jalan Raya Jogja (Jalan Raya
Ahmad Yani dan Jalan Raya Panembahan Senopati/Jalan Sultan Agoeng). Di selatan
jalan raya ini lokasi dimana Kota Mataram kuno atau Kraton Yogyakarta pada masa
ini. Jalan lurus dari Kraton ke stasion diduga jalan penghubung antara pusat
pemerintah lokal (Yogyakarta) dengan pusat pemerintahan Belanda yang kelak
menjadi jalan utama kota dimana kini terdapat ruas jalan Malioboro. Sedangkan
jalan sejajarnya ke arah rel kereta api diduga menjadi jalan Mataram/Jalan
Katamso yang sekarang.
Jataviasche koloniale courant, 05-01-1810

Perkembangan kota-kota
di Jawa terkait erat dengan jaringan transportasi, Satu program terpenting
Pemerintah Hindia Belanda (yang dimulai sejak 1800) adalah pembangunan jalan
utama di seluruh Jawa antara Anjer (di barat) dan Panaroekan (di timur).
Proigram ini dimulai pada era Gubernur Jenderal Daendels, 1809. Jaringan jalan
utama (Groote weg) yang menjadi jalan Trans-Java dimulai dengan menarik garis
dari Batavia ke Anjer (ke arah barat) dan dari Batavia ke Buitenzorg (ke arah
selatan). Oleh karena Buitenzorg telah menjadi ibukota kedua (setelah Batavia),
maka jaringan Trans-Java ke arah timur, tidak dimulai dari Batavia ke Chirebon
via Carawang (Karawang), tetapi dari Buitenzorg ke Chirebon melalui pembangunan
jalan baru via Tjiseroa, Tjiandjoer, Baybang (melalui Lembang) terus ke Sumadang
lalu Chirebon (Titik Kota Bandung yang sekarang, belum ada, masih rawa-rawa), Rute
jalan Trans-Java (Grooteweg) ini dibuat ditetapkan dalam peraturan perundang-undang
(reglement atau staadsblad) dan diumumkan ke publik (lihat Jataviasche
koloniale courant, 05-01-1810).

.      

Rencana kereta api Semarang-Jogjakarta, 1869
Setelah era jalan raya
Trans-Java (Grooteweg) di era Daendels, jaringan transportasi mulai berkembang
pesat. Jaringan transportasi tersebut selalu merujuk ke posisi jalan Trans-Java
(Grooteweg). Dalam perkembangannya jalan Trans-Java dikembangkan dari Semarang
ke selatan (Mataram/Jogjakarta) melalui Salatiga, Soeracarta dan ke
Mataram/Jogjakarta. Pasca Perang Jawa (Pengeran Diponegoro, 1825-1830) jaringan
jalan diperluas melalui Magelang, Demikian juga dari Soerabaja ke Soeracarta. Dalam
perkembangannya, semakin meningkatnya volume barang dan tonase kapal/perahu maka
muncul kesulitan baru dari wilayah Vortslanden (Soeracarta/Jogjacarta) ke
pelabuhan (Semarang/Tandjong Emas) dan Soerabaja/Tandjong Perak). Kesulitan
tersebut baik melalui darat maupun melalui sungai Bengawan Solo (karena dangkal
di musim kemarau), maka mulai dirintis pembangunan transportasi (massal) kereta
api. Lalu muncul rencana jaringan rel kereta api pertama (1864) di Hindia yang
dimulai dari Semarang ke Cartosorea/Soeracarta via Toengtang.

.
Namun dalam realisasinya yang
awalnya untuk fungsi pertumbuhan ekonomi, namun dalam perkembangannya rencana yang
sebelumnya Semarang-Soeracarta dibelokkan menjadi Semarang-Tanggoeng-Ambarawa
(untuk prioritas fungsi pertahanan). Kereta api Semarang-Ambarawa ini mulai
beroperasi tahun 1869.
Jalan utama dari Toegoe ke Kraton via Kantor Residen (1888)

Pada berikutnya ruas antara Batavia-Buitenzorg untuk
fungsi ekonomi mulai beroperasi tahun 1973, Sejak inilah jaringan transportasi
kereta api di seluruh Jawa berkembang dan terhubung antar satu kota utama
dengan kota lainnya termasuk menuju Jogjakarta (Mataram). Setelah ruas
Semarang-Ambarawa via Tanggoeng, baru kemudian dilanjutkan ruas
Tanggoeng-Soercarta dan pada tahap berikutnya dari Soeracarta ke Jogjakarta. Perubahan
rencana inilah yang membuat pertumbuhan kota Soeracarta/Jogjakarta sedikit
lebih lambat dibanding kota-kota utama lainnya. Untuk pembangunan ruas
Ambarawa-Jogjakarta via Magelang baru dilakukan pada fase berikutnya yang bersamaan
dengan pengembangan jalur kereta api jalur selatan (Bandoeng-Jogjakarta vis
Tjilatjap).

Sebelumnya jalur kereta api
Buitenzorg ke Bandoeng via Soekaboemi dan Tjiandjier mulai beroperasi tahun
1883 dan kemudian dilanjutkan ruas jalur Bandoeng-Chirebon yang bersamaan
dengan pembangunan jalur Bandoeng-Jogjakarta. Peta Rencana Perluasan Kereta Api
ke Jogjakarta (1869)
Kantor Residen Jogjakarta (1900)

Seperti tampak pada Peta
Kota Jogjakarta (1890), jaringan transportasi dari Semarang ke Jogjakarta sudah
terhubung, demikian juga jaringan transportasi kereta api jalur selatan
(Bandoeng-Jogjakarta). Dari sinilah lalu menandai awal perkembangan kota
Jogjakarta dengan semakin bersinerginya moda transportasi darat (pedati kerbau dan kereta kuda) dengan moda transportasi kereta api. Sejak ini pula Kota
Jogjakarta berkembang terus hingga munculnya nama Jalan Malioboro di Kota
Yogyakarta.

Asal-Usul Nama Jalan Malioboro
Kota
Jogjakarta berkembang, berkembang terus. Suatu kota, termasuk Jogjakarta,
berkembang karena berbagai faktor. Faktor terpenting adalah faktor ekonomi yang
mana sebagai faktor akselerasi (pendukung utama) adalah keberadaan transportasi
kereta api, spesifiknya dimana stasion kereta api ditempatkan. Sebagaimana yang
sudah ada di tempat lain, lebih dulu ada transportasi 3 multi moda (pelayaran
laut, darat dan kereta api) di Batavia, Semarang, Soerabaja dan Padang dan transportasi
2 multi moda di Buitenzorg dan Bandoeng di Kota Jogjakarta dengan 2 multi moda baru
terwujud belakangan. Kota multi moda Jogjakarta relatif bersamaan dengan Kota
Medan.
Faktor lainnya yang terpenting dalam memacu perkembangan kota adalah kota
sebagai pusat pemerintahan kolonial. Berdirinya bangunan-bangunan pemerintah
baik untuk uusan administratif maupun untuk urusan ekonomi (perusahaan
pemerintah). Kota sebagai pusat perdagangan, pust pendidikan dan pusat wisata
memperbanyak bangunan-bangunan usaha seperti toko dan gudang, bangunan-bangunan
sekolah Eropah dan sekolah untuk pribumi, serta bangunan-bangunan akomodasi
(losmen dan hotel). Juga dibangunnya pusat-pusat kemasyarakatan seperti
organisasi (societeit), taman, lapangan (termasuk lapangan balapan kuda dan
sepak bola). Tentu saja munculnya pasar-pasar baru baik yang dikelola oleh
pemerintah maupun oleh masyarakat.   
De locomotief, 26-06-1865

Salah satu
bangunan yang terdapat di jalan utama sebelum adanya moda transportasi kereta
api adalah sebuah losmen (logement). Losmen ini bernama Malioboro. Losmen ini
dibuka pada tahun 1865 oleh Vincent (lihat De locomotief: Samarangsch handels-
en advertentie-blad, 26-06-1865). Dalam perkembangannya pada tahun 1869 muncul
nama losmen baru di Djogjakarta yang dibuka pada tanggal 18 (De locomotief :
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-06-1869. Losmen ini diberi nama
Mataram. Losmen Mataram ini berada di sebelah utaranya Losmen Malioboro. Baru
setelah adanya stasion kereta api di Djogjakarta muncul bisnis akomodasi baru
yang disebut hotel.

Selain
Losmen Malioboro dan Losmen Mataram di Jogjakarta pada tahun-tahun setelah
adanya moda kereta api terdeteksi sebuah hotel yang bernama Hotel Centrum.
Hotel ini paling tidak sudah beroperasi pada tahun 1898 (De locomotief :
Samarangsch handels- en advertentie-blad, 01-11-1898). Hotel Centrum ini
berlokasi di dekat/seberang jalan societeit (dekat Kantor Residen). Jika
mengacu pada kota-kota pedalaman, ada perbedaan sedikit antara losmen
(logement) dengan hotel. Di Buitenzorg, suatu kota pedalaman yang terbilang
pertama memiliki akomodasi, losmen yang ada menyediakan tempat untuk kuda
(istal), sedangkan hotel tidak menyediakannya. Para tamu hotel cenderung
orang-orang yang menyewa kereta kuda (seperti pejabat, investor atau pelancong).
Keberadaan losmen selalu mendahului keberadaan hotel. Pengelola losmen adalah
pemilik dan sekaligus tinggal di losmen tersebut, sedangkan pemilik hotel
adalah investor yang belum tentu tinggal di hotel tersebut. Losmen Malioboro
berada di pangkal kota (sebelum area kampement Tionghoa, tempat dimana
kereta-kereta kuda jarak jauh (semacam bis AKAP) datang dari Soeracarta atau
Semarang. Hotel Centrum berada di dekat ibukota (Kantor Residen). Dari losemen ke
hotel menggunakan kereta kuda lokal (semacam angkot). Losmen dalam hal ini
sering disebut pesanggrahan.
Namun
bagaimana losmen pertama di Jogjakarta ini disebut Losmen Malioboro juga tidak
begitu jelas. Kedua losmen yang berada di Djogjakarta dimiliki orang
Eropa/Belanda. Yang jelas Losmen Malioboro adalah salah satu tempat akomodasi
utama di Kota Jogjakarta. Losmen ini masih dimiliki oleh Vincent (De locomotief
: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-04-1872). Losmen Malioboro disebut
losmen yang menyenangkan. Losmen ini juga terletak tidak jauh dari pasar besar
(samping Vredeburg), setelah kampemen Tionghoa. Pasar ini kelak dikenal sebagai
Pasar Beringharjo.
Grand Hotel di Jogjakarta, 1910

Tempat
akomodasi di Jogjakarta jumlahnya bertambah dari waktu ke waktu. Losmen pertama
dibuka pada tahun 1865 (Losmen Malioboro). Lalu muncul losmen kedua pada tahun
1869 (Losmen Mataram). Sedangkan hotel pertama terdeteksi kali pertama pada
tahun 1898 (Hotel Centrum). Pada tahun-tahun berikutnya didirikan Hotel Grand
dan Hotel Mataram. Namun sebelum dua hotel ini berdiri diduga sudah berdiri
hotel di dekat stasion kereta api (Hotel Toegoe). Hotel Mataram dan Losmen
Mataram berdampingan yang diduga dimiliki oleh pemilik yang sama.

Selain berfungsi sebagai tempat akomodasi, Losmen
Malioboro juga kerap digunakan untuk pertemuan umum, baik oleh swasta maupun
pemerintah. Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan tahun 1908  kali pertama menggunakan losmen Malioboro
sebagai tempat rapat pada tanggal 4 Oktober 1909 (Het nieuws van den dag voor
Nederlandsch-Indie, 04-10-1909).
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-10-1909

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 04-10-1909: Dalam surat
edaran lebih lanjut Komite Sentral Asosiasi Boedi Oetomo diumumkan bahwa sampai
diadakannya Sidang Umum (kongres) kedua di Djokja, izin dari Residen
Djokjakarta diperoleh dan bahwa pertemuan ini akan diadakan pada tanggal 10
Oktober dan hari-hari berikutnya (tanggal 9 Oktober ditetapkan sebagai hari
awal), dan diadakan di Loge Malioboro (taman kota). Rapat akan dibuka pada
malam hari pukul 9 dan semua orang bebas untuk hadir. Pada hari pertama Dewan
Eksekutif akan membahas keadaan serikat, menjelaskan tujuan Boedi Oetomo, dan
hal terkait dengan organ yang akan dibentuk, dll). Catatan: Kongres pertama
Boedi Oetomo bulan Oktober 1908 juga diadakan di Jogjakarta (setelah
pendiriannya pada bulan Mei 1908).

Pada tahun
1912 nama losmen Malioboro sudah diidentifikasi oleh publik sebagai pananda
navigasi dalam kota (pada Peta 1909 ruas jalan tersebut sudah ditandai sebagai
Malioboro). Area sekitar losmen juga kerap disebut sebagai kawasan Malioboro (lihat
misalnya Bataviaasch nieuwsblad, 09-12-1912). Pada tahun 1918 sudah ada yang secara
eksplisit menyebut jalan di depan Losmen Malioboro sebagai jalan (weg)
Malioboro. Disebutkan perusahaan NV Djokjasche Machinehandel mangadakan rapat
umum di Toko Van Biene yang terletak di Jalan Malioboro (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 30-11-1918).

Jalan
utama (hoofd weg) Jogjakarta (Foto 192
0)

Losmen
Malioboro tampaknya sudah berganti pemilik (lihat Overzicht van de Inlandsche
en Maleisisch-Chineesche pers, 1918, no 46, 08-01-1918). Disebutkan
administrator gedung Logeergebouw Malioboro adalah Vermeeren. Sebagaimana di
tempat lain, aministrator losmen biasanya merangkap sebagai pemilik, tetapi
jika fungsi administrator bukan pemilik, itu berarti profesional yang
dipekerjakan sebagai manajer. Sebagaimana losmen Malioboro, losmen Mataram juga
masih eksis. Hal ini terdeteksi pada tahun 1920 Boedi Oetomo mengadakan rapat
umum (lihat De Preanger-bode, 15-04-1920). Untuk sekadar menambahkanm sebelumnya,
pada Peta 1903 sudah diidentifikasi keberadaan Hotel Mataram. Ada dugaan
pemilik losmen Mataram adalah juga investor Hotel Mataram. Sebab losmen dan
hotel Mataram, kedua tempat akomodasi tersebut berada dalam posisi berdampingan. Jalan utama
(hoofd weg).

.

Jalan Malioboro dari waktu ke waktu semakin dikenal dan
terkenal. Dalam berita-berita maupun dalam iklan-iklan Jalan Malioboro
disebutkan. Jalan Malioboro yang sejak lampau hanya disebut jalan utama (hoofdweeg). Jalan utama juga disebut pada ruas jalan lainnya yang terhubung dengan jalan Malioboro. De Indische courant, 09-08-1923 menyebutkan
jalan utama (di) Jogjakarta adalah ruas jalan Toegoe, Malioboro, Patjinan dan Résidentielaan.
De Indische courant, 09-08-1923

Pada tahun
1924 dibuka jalan baru di Jogjakarta (De Indische courant, 11-02-1924). Disebutkan
bahwa pada hari Sabtu pagi diadakan di gedung Nillmij pembukaan jalan baru
sebagai jalan penghubung dengan lingkungan baru (nieuwe wijk) Malioboro.
Pembukaan jalan baru ini dilakukan oleh Sultan dan Residen. Jalan baru ini
terletak dekat dengan Grand Hotel. Masyarakat akan diizinkan untuk berjalan di
jalan/jembatan tersebut pada pukul 12 siang. Dari informasi-informasi tersebut
bahwa nama Malioboro tidak hanya sebagai jalan utama (hoofdweg) tetapi juga
area di sekitar menjadi kelurahan baru (nieuwe wijk) yang baru. Grand Hotel sendiri
paling tidak sudah terdeteksi pada tahun 1910. Sebaliknya, nama Hotel Centrum tidak pernah
muncul lagi. Terakhir terdeteksi Hotel Centrum tahun 1905. Pada tahun 1914
muncul nama Hotel Centrum di Soerabaja. Oleh karena lokasi yang berbeda dengan
Hotel Centrum, besar dugaan Grand Hotel dimiliki oleh investor baru di tempat
yang baru. Nama Grand Hotel juga muncul di Soekaboemi. Beberapa tahun kemudian keberadaan
nama Hotel Grand muncul di Lembang. Grand Hotel dapat dikatakan suksesi Hotel
Centrum (satu manajemen jaringan hotel) yang dalam hal ini bersaing dengan Hotel Mataram di Jogjakarta.

Lantas
bagaimana dengan Losmen Malioboro?.Meski sudah ada hotel besar (Hotel Grand dan
Hotel Mataram) di Jalan Malioboro, keberadaan Losmen Malioboro masih tetap
eksis, paling tidak hingga tahun 1924 (lihat  De Indische courant, 15-08-1924). Disebutkan
bahwa di Loge Malioboro diadakan pertemuan umum. Jalan Malioboro lambat laun menjadi
sangat ramai. Akan tetapi dalam perkembangannya Loge Malioboro tidak pernah
terdeteksi lagi.
Jalan Malioboro
(
Foro 1931)

Di Bandoeng, seperti halnya Jalan
Malioboro yang terkenal juga terdapat jalan yang terkenal yakni Jalan Braga. Awalnya
nama Braga adalah sebuah organisasi pecinta seni (musik, opera dan lainnya).
Gedung baru Braga ini terletak di dekat Societeit Concordia yang berlokasi di
hook jalan Trans-Java, Grooteweg dan Jalan Asisten Residen. Tidak jauh dari
gedung Societeit Concordia di Jalan Asisten Residen berada gedung (asosiasi
seni) Braga. Pusat seni dan gedung Braga dirintis oleh seorang Italia. Lambat laun gedung seni Braga ini menjadi terkenal karena kerap
dilakukan konser musik dan pertujukan lain. Dalam perkembangannya Jalan Asisten
Residen lebih dikenal sebagai Jalan Braga (ini mirip penamaan jalan Malioboro di Jogjakarta yang sebelumnya hanya sebaga nama losmen).

.  

Pada Peta 1925 di
sekitar Jalan Malioboro tidak ditemukan lagi nama Losmen Malioboro. Nama-nama
bangunan di seputar Jalan Malioboro yang terkenal adalah Hotel Grand, Hotel
Mataran dan Loge Mataram. Nama loge Malioboro tidak terdeteksi lagi. Lantas bagaimana
akhir sejarah Loge Malioboro?
Hilangnya nama Loge Malioboro sepintas adalah teka-teki.
Tetapi sesungguhnya mudah ditebak. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Pada tahun
1909 Loge Malioboro berada di taman kota (stadtuins), Losmen Maliboro dan Losmen
Mataram berdampingan. Lalu pemilik Losmen Mataram membangun Hotel Mataram. Dalam
perkembangannya, pemilik Losmen Mataram tidak hanya membangun hotel, tetapi
juga mengakuisisi Losmen Malioboro. Lalu Hotel Mataram tetap di tempatnya,
sedangkan losmen yang sebelumnya bernama Malioboro diganti dengan nama Loge
Mataram. Lantas bagaimana dengan losmen Mataram? Area losmen ini telah diubah
menjadi perluasan Hotel Mataram.  Dengan
demikian di area sisi timur Jalan Malioboro ini hanya eksis Hotel Mataram dan
Loge Mataram. Memang Losmen Malioboro telah tamat, tetapi namanya masih eksis
sebagai nama jalan.

Loge Malioboro dalam hal ini dapat dikatakan sebagai
tempat penginapan (pesanggrahan) paling awal di Jogjakarta. Nama Losmen
Malioboro telah bertransformasi menjadi nama jalan utama di Jogjakarta, Jalan
Malioboro. Hal yang mirip dengan ini di Bandoeng, gedung seni Braga telah
bertransformasi menjadi nama Jalan Braga. Pasca kemerdekaan RI (setelah
pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda) Loge Mataram (eks Loge Maliboro)
dijadikan sebagai gedung dewan (kini di lokasi tersebut berada Gedung DPRD).
Pada tahun 1950 nama-nama jalan di seluruh Indonesia direvisi: nama-nama
Belanda dan nama-nama Tionghoa diganti. Salah satu nama pada era kolonial Belanda, Jalan Braga
tetap dipertahankan. Hal ini karena Jalan Braga adalah heritage. Sehubungan
dengan perubahan nama-nama jalan saat itu, nama Jalan Malioboro tidak perlu
diubah dan bahkan tidak perlu dipertimbangkan, karena Jalan Malioboro adalah
nama jalan, asli Indonesia.

Asal
Usul Mataram Menjadi K
ota
Modern

Ada perbedaan Kota
Mataram kuno dengan Kota Yogyakarta modern. Semua kota-kota tua di Indonesia
pada masa kini, cikal bakalnya, seharusnya dilihat dan dimulai sejak kehadiran
Belanda di kota tersebut. Sebab, mereka dengan sadar merancang kota sebagai
pusat pemerintahan dan pusat pertumbuhan ekonomi serta perkembangan sosial.
Pengalaman mereka dari Eropa yang cenderung hidup sebagai warga kota (urban)
memahami betul bagaimana mereka memulai lingkungan baru sebagai kota baru dengan merancang baru atau merperkaya lanskap yang lama.
Secara teoritis VOC/Pemerintah Hindia
Belanda tidak pernah mengakuisisi kota (kampung) lama menjadi kota baru.
Faktanya VOC/Pemerintah Hindia Belanda, karena berbagai faktor, mereka memulai
kota baru di tempat/ruang yang kosong tetapi tidak jauh dari kampung (kota)
lama. Sebab, penduduk pribumi adalah mitra strategis mereka.
Pada era VOC permulaan
kota baru dimulai dari benteng (fort). Sementara pada era Pemerintahan Hindia
Belanda, meski terkesan berbeda tetapi memiliki pola sama, permulaan kota baru
dimulai dari kantor pemerintah (controleur/asisten residen, Residen/Gubernur).
Dari dua titik beda era inilah kota=kota tumbuh dan berkembang. Dalam fase perkembangan awal,
kota Eropa/Belanda mulai terintegrasi area kota modern Eropa/Belanda dengan area kota
tradisional pribumi. Dengan kata lain, kota=kota kita pada masa ini adalah gabungan dari dua area tersebut.
Lalu dalam perkembangan lebih
lanjut, bagian kota tradisional ditingkatkan melalui perbaikan maupun
penggantian atau tata ulang baik karena inisiatif sendiri maupun bagian dari
program pemerintah (hasil keputusan dewan kota). Oleh karenanya permulaan kota
modern dimulai dari area (kota) Eropa/Belanda lalu diintegrasikan dengan
pemukiman (kampement) Tionghoa/Arab dan perkampongan orang pribumi (tempatan).
Kota Mataram/Yogyakarta
lama bermula ketika di dekat Kota Mataram mulai didirikan benteng (fort) Vredeburg.
Sebagaimana Kota Mataram (di dalam pagar), benteng VOC/Pemerintah Hindia Belanda
saat memulai koloni, sejatinya benteng (fort) dan di dalamnya menggambarkan
semacam miniatur kota. Bangunan utama di dalam benteng adalah rumah/kantor
pejabat tertinggi (sebagai komisaris), Bangunan lainnya adalah rumah para
pedagang lainnya dan petinggi militer, barak militer, barak tenaga kerja (kuli),
bangunan gudang komoditi (ekspor), bangunan bahan kebutuhan sehari-hari,
bangunan tempat persenjataan dan bangunan untuk tahanan.
Benteng sebagai fungsi pertahanan,
benteng juga dilengkapi dengan beberapa bastion. Sementara pintu gerbang
benteng dibuat dua. Pintu gerbang utama yang dijaga ketat dan pintu kedua (di
belakang atau di samping sebagai pintu escape). Pintu utama menghadap ke jalur
utama (perdagangan) dan pintu escape ke jalur akses sekunder (yang biasa
sulit/jarang dilewati yang merupakan barier seperti laut, sungai, tebing dan
sebagainya). Benteng di Jogjakarta pintu escape dibuat berlawanan arah dengan kraton.    
Benteng Vredeburg
didirikan di era VOC/Belanda sekitar tahun 1760. Oleh karena rezim VOC/Belanda
telah mengubah kebijakannya menjadikan penduduk sebagai subjek sejak 1667 (setelah VOC/Belanda
menaklukkan Kerajaan/Kesultanan Gowa), pemerintahan VOC/Belanda tidak hanya
sekadar berdagang di pantai, tetapi mulai 
merintis pengembangan komoditri ekspor melalui koloni (hidup di tengah
penduduk) sambil membangun kekuasaan. Pembangunan benteng Vredeburg di Mataram
adalah wujud misi kolonisasi itu. Pembangunan benteng sejatinya adalah awal mulai
fungsi pemerintahan dimana tempat tinggal dan kantor para pejabat VOC/Belanda berada
di dalam benteng. Benteng sendiri sekaligus menjadi fungsi pertahanan (sekaligus ibu kota baru).   
Di Macassar, selain
benteng Rotterdam juga teedapat benteng Vredeburg. Mengapa dibuat dengan nama sama,
boleh jadi karena pembangunannya di masa yang sama, investornya besar
kemungkinan berasal dari Vredeburg. Benteng VOC/Belanda di Cartosoera, 1705 (1=lingkungan
kraton; 2-benteng VOC)
Posisi benteng Vredeburg
mengambil posisi di utara kraton Mataram. Posisi benteng yang berada di luar
area kraton menempati lahan kosong yang tidak produktif. Posisi ini menarik
garis terdekat dengan posisi benteng-benteng lain yang berpusat di benteng
Missier di Tegal (dibangun 1705). Benteng besar VOC/Belanda lainnya di Rembang,
1708, di Demak, 1708 dan Japara, 1708 dan benteng Semarang, 1708 di muara
sungai Semarang. Benteng terdekat dari Mataram adalah benteng kecil VOC/Belanda
di Cartosoera yang keberadaannya sudah ada pada tahun 1705. Benteng-benteng
kecil antara Semarang dan Cartosoera ada sebanyak tujuh buah. Benteng di Tegal,
1706 dan Benteng di Rembang, 1708
Belum pernah ditemukan benteng
ditempatkan di lahan pertanian (sawah dan kebun) dan bahkan tidak jarang
benteng didirikan di lahan marjinal seperti lahan yang lebih rendah atau rawa-rawa.
Pembangunan benteng di Mataram, karena tidak ada laut dan sungai agak jauh,
posisi yang diambil adalah menghadap ke jalan utama (tipikal kota-kota pedalaman seperti Buitenzorg dan Bandoeng). Jalan utama ini adalah
jalan utama menuju pintu gerbang (gate) Kraton Mataram. Perencanaan pembangunan
benteng bukan oleh petinggi militer tetapi para ahli pertahanan (bagian zeni), ahli teknik
sipil dan bahkan menyertakan ahli geografi sosial (landschappen). Benteng
Vredeburg meski berada di darat, benteng diperkuat dengan membuar barier dengan
menggali selokan besar yang mengelilingi benteng. Antara benteng dengan jalan
dibangun jembatan penghubung yang menjadi jalan menuju pintu gerbang benteng.
Benteng menjadi benar-benar terlindung di tengah-tengah wilayah penduduk
Mataram. Besar kecilnya benteng yang dibuat VOC/Belanda sangat tergantung pada
perhitungan prospektif wilayah di sekitarnya secara ekonomi. Dalam hal ini,
benteng yang nilainya ribuan gulden menjadi investasi awal, yang tentunya harus
kembali dalam bentuk manfaat (ekspor, pajak dan kekuasaan yang semakin kuat di
wilayah).
Posisi benteng Vredeburg
dan Kraton Mataram ini masih terlihat jelas hingga sekarang di ruas jalan Margo
Mulyo. Antara letak Kraton dan letak benteng kelak dikembangkan atau berkembang
menjadi aloon-aloon kota baru di era Pemerintahan Hindia Belanda.
Selama VOC/Belanda benteng terus
mengalami perbaikan dan penyempurnaan. Namun perkembangan area di antara kraton
Mataram dan benteng Vredeburg tidak mengalami banyak perubahan spasial. Pada
masa Pemerintahan Hindia Belanda, terutama era Daendels, perubahan spasial
mulai terjadi. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengakuisi lahan-lahan
tertentu untuk digunakan bangunan pemerintah dengan cara membeli baik dari
swasta maupun dengan cara konsesi dengan pemimpin lokal (raja atau sultan).
Pasca perang Jawa
(1825-1830) Pemerintah Hindia Belanda kembali menempatkan orangnya di
Jogjakarta setingkat Asisten Residen yang berkedudukan di Mataram/Jogjakarta.
Seperti di tempat lain, rumah pemerintah (Asisten Residen) tidak lagi di dalam
benteng (fort) tetapi dibangun oleh detasement zeni militer yang lokasinya
tidak jauh dari benteng. Dengan kata lain, para pemimpin pemerintahan (Hindia
Belanda) sudah mulai berada di luar benteng karena tidak memadai lagi (sebagai pengganti fungsi benteng, meski masih tetap sebagai pertahanan terakhir, yang dikembangkan dan diperkuat adalah garnisun militer).
Berdasarkan Almanak 1810 belum ada
pejabat di Jogjakarta. Pejabat Belanda hanya terdapat di district Tagal,
Paccaloengan, Japara dan Rembang. Pada era pendudukan Inggris (1811-1815) konsentrasi
orang Eropa/Inggris hanya terdapat di Batavia, Buitenzorg, Semarang dan
Soerabaja dan kota-kota pantai lainnya. Selain Buitenzorg, satu-satunya kota di pedalaman Jawa yang
cukup banyak orang Eropa/Inggris adalah Soeracarta. Sebaliknya di Jogjakarta
tidak seorang pun ditemukan orang Eropa (lihat Almanak 1815). Pemerintah Hindia
Belanda yang kembali berkuasa mulai memasuki wilayah-wilayah pedalaman (ekspansi)
sekitar tahun 1820. Di Jogjakarta pada tahun 1827 terdapat pejabat setingkat
Asisten Residen (Jhr JB de Salis), post-kommies, guru, pengawas koffiecultuur, Namun pemerintahan ini tidak terlalu efektif karena situasi dan
kondisi keamanan (Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro). Setelah
Perang Jawa terlihat peningkatan garnisun di Djogjakarta, yang setingkat dengan
di Semarang. Disamping itu fungsi/pejabat sipil juga bertambah. Jumlah orang
Eropa/Belanda di Djogjakarta sudah lebih dari 100 orang (lihat Almanak 1831),
kira-kira setengah dari jumlah yang terdapat di Soeracarta. Berdasarkan Almanak
1831 di Soeracarta sudah ada sekolah negeri, sementara di Djogjakarta belum ada
sekolah namun sudah ada seorang dokter. Aktivitas gereja/zending mulai terlihat
di Soeracarta dan Djogjakarta. Residen Djogjakarta adalah Mr ]EW van Nes yang
dibantu oleh pejabat lokal Raden Adipattie Danoe Redjo dan dibantu dua orang
Eropa/Belanda masing-masing sebagai sekretaris dan penerjemah (bahasa
Jawa-Belanda). Koffiestelsen juga mukai diterapkan di Djogjakarta. Struktur pemerintahan tampak lebih gemuk di Soeracarta,

Dengan semakin banyaknya urusan dan semakin banyak
pegawai-pegawai yang membantu, pemerintahan juga semakin tinggi dan meluas. Meski
bangunan-bangunan pemerintah sudah berada di luar benteng, namun untuk urusan
pertahanan benteng tetap diperhitungkan plus membangun garnisun-garnisun
militer baru. Fungsi benteng di Jogjakarta hanya digunakan untuk (tempat)
pertahanan terakhir.

Rumah/kantor Asisten Residen Jogjacarta
ini dibangun persis di depan benteng Vredeburg. Luas lahan peruntukkan
rumah/kantor Asisten Residen ini hampir seluas lahan benteng Vredeburg. Jalan
yang berada di antara bangunan benteng dan bangunan kantor merupakan
jalan utama dari Kraton. Lalu dalam perkembangannya dibangun jalan di sisi dua
bangunan ini ke arah kraton. Jalan baru ini dari barat ke timur sehingga hook
dua bangunan milik pemerintah Hindia Belanda ini menjadi perempatan. Jalan ini
kini dikenal sebagai Jalan Jogja/Panembahan Senopati. Dua bangunan pertama
VOC/Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda ini kelak menjadi Gedung Museum
Benteng Vredeburg dan Gedung Agung Yogyakarta. Rumah Residen di Jogjakarta,
1900
Pembangunan jalan baru
ini (kini Jalan Jogja) akhirnya menjadi semacam garis pembatas antara
lingkungan Eropa/Belanda (di sebelah utara) dan lingkungan kraton (di selatan).
Dalam perkembanganya, ruang kosong antara jalan baru dengan pagar/tembok kraton
semacam ruang demarkasi antara Eropa/Belanda (pemerintah) dengan pribumi
(kraton).
Salah satu bangunan pertama yang
dibangun setelah kantor Asisten Residen adalah bangunan untuk mahkamah. Lembaga
peradilan ini dalam perkembangannya menjadi Landraad. Gedung mahkamah/landraad
dibangun di sisi selatan benteng Vredeburg atau sisi kanan jalan utama antara
kraton dan benteng Vredeburg. Dalam perkembangannya di sekitar gedung mahkamah
ini dibangun kantor pos. Kelak kantor pos ini diintegrasikan dengan kantor
telegraaf (menjadi Kantor Pos dan Telegraf).
Sehubungan dengan
meningkatnya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Tionghoa
yang berasa; dari pantai utara, maka kampement (perkampungan Tionghoa)
ditempatkan di utara benteng Vredeburg. Seperti di kota-kota lain, penempatan
yang berbeda ini selalu dilakukan. Di Mataram/Djokjakarta sudah terbentuk tiga
lingkungan pemukiman: pribumi (sekitar kraton), Eropa/Belanda di sekitar
benteng dan kantor Asisten Residen; serta lingkungan Tionghoa (di utara benteng).
Untuk para pendatang lainnya,
terutama dari golongan Moor dan Arab menempati lingkungan yang dekat dengan
kraton dan penduduk pribumi lainnya. Lingkungan pendatang Atab/Moor ini berada
di sisi selatan Kantor Residen dekat dengan kraton. Persisnya di sisi barat aloon-aloon.
Lingkungan ini kemudian dikenal sebagai Kaoeman dimana terdapat masjid besar.
Dengan demikian warga kota Jogjakarta semakin beragam: pribumi, Eropa/Belanda,
Tionghoa dan Arab/Moor. Di area empat lingkungan inilah bermula kota modern
Djogjakarta. Di area lingkungan orang Tionghoa cepat berkembang sebagai pusat
pedagangan eceran. Lingkungan ini kemudian dikenal sebagai Petjinan.
Oleh karena ujung kota
Djogjakarta berada di lingkungan kraton, maka aktivitas ekonomi lebih
berkembang ke arah utara, di sekitar Petjinan dan sebelah utaranya lagi. Untuk
mengantisipasi para pendatang yang datang dari arah utara (Soeracarta dan
Semarang) seperti petugas pemerintah, wisatawan dan investor maka muncul
penyedia akomodasi yang dalam hal ini didiga yang pertama adalah pendirian
losmen Malioboro. Losmen ini berada di pangkal jalan utama di utara Petjinan.
Demikianlah selanjutnya, kota
Djogjakarta terus berkembang. Di lingkungan Eropa/Belanda semakin banyak bangunan
pemerintah dan juga semakin banyak orang Belanda sebagai pegawai-pegawai yang
memerlukan perumahan; di lingkungan Tionghoa semakin banyak orang-orang Tionghoa
dan di lingungan Kaoeman semakin banyak pendatang yang beragama Islam. Satu
kelompok lagi adalah para militer yang mengambil tempat di dalam benteng atau
belakang benteng. Societeit Vereeniging, 1939  
Wilayah (Residentie)
Mataram/Djogjakarta kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Residen.
Rumah/kantor Residen dibangun di dekat kantor/rumah Asisten Residen. Dengan
semakin intensnya pemerintahan (yang terlihat dari peningkatan kepala
pemerintahan dari Asisten Residen menjadi Residen) juga terjadi bertambah banyaknya
orang Eropa/Belanda di Djogjakarta dan juga semakin banyaknya tentara dan pensiunan
militer maka muncul organisasi-organisasi sosial (societeit).
Setelah tiga puluh tahun
kemudian, pemerintah Hindia Belanda semakin berkembang bahkan hingga ke
wilayah-wilayah pedalaman. Jika dibandingkan kondisi tahun 1831, situasi dan
kondisi di Djogjakarta sudah banyak berubah. Sejak tahun 1865 Residentie
Djogjakarta dibagi ke dalam delapan regentsachappen: Bantoel, Kalasan, Sleman, Nanggoelan.
Kalibawang, Sentala, Pegasik dan Goenoeng Kidoel. Total sebanyak 115 distrikten dan 4.381 desa
dengan jumlah penduduk  Eropa/Belanda
sebanyak 1.143 jiwa, pribumi 366.553 jiwa dan Tionghoa 1.752 dan lainnya 149
jiwa. Sejak 1865 Residen adalah AJPHD Bosch. Perangkat pemerintahan semakin
lengkap. Residen dibantu asisten residen dan urusan pertanian, djaksa,
penghoelo dan para pemimpin Tionghoa. Di masing-masing regentschappen dipimpin
oleh seorang bupati yang langsung berada di bawah Sultan.

Bagaimana gambaran situasi dan kondisi umum di
Jogjakarta dilaporkan seorang pelancong yang dimuat pada surat kabar Delftsche
courant, 17-09-1867 yang dapat digarisbawahi sebagai berikut: Jalan dan
jembatan menuju Jogjakarta dari Magelang/Ambarawa sangat buruk bahkan hingga
mendekati kota Jogjakarta, jauh lebih buruk daripada Soerakarta, sangat berbahaya
untuk kendaraan kereta (kuda). Kehidupan sosial di Jogjakarta tampak sangat
buruk dibandingkan Soeracarta. Di sepanjang jalan menuju pasar besar dan di
sepanjang pasar besar yang kaya adalah para haji. Di sebelah timur pasar itu
juga ada makam Panembahan Sénapati. Saya datang ke Kantor Residen untuk menunjukkan
paspor saya ditandatangani. Sawah dan padi tidak bagus di Jogjakarta: selama
kehadiran saya harga beras per pikol adalah tiga belas gulden, suatu dampak bahwa
tanah-tanah hampir seluruhnya disewakan kepada orang Eropa. Bentuk dessa dalam
kondisi yang buruk. Laki-laki tampaknya sangat kurus karena kelangkaan makanan dan
banyak ditemukan berbagai jenis penjahat. Saya tinggal di Jogja tidak terlalu
lama dan tidak dapat mengatakan semuanya sepenuhnya.

Adanya societeit menandai awal munculnya kehidupan
kosmopolitan (urban). Melalui societeit berkembang kegiatan-kegiatan sosial
seperti pacuan kuda, pentas seni dan pertunjukan serta minat-minat khusus
lainnya baik di kalangan dewasa maupun anak-anak orang Eropa/Belanda. Untuk
orang-orang militer termasuk pensiunan membangun ruang pertemuan societeit di
bangun di belakang benteng. Sedangkan
orang Eropa/Belanda (pemerintah/swasta) membangun gedung societeit di dalam
lahan pemerintah (di dekat Kantor Residen). Societeit ini disebut Societeit
Vereeniging. Societeit ini juga menjadi simpul bagi para pangeran-pangeran
berinteraksi secara intens dengan orang-orang Eropa/Belanda

Pada tahap berikutnya
mulai bermunculan para investor-investor besar baru. Para investor besar ini
seperti sebelumnya, umumnya orang-orang Eropa/Belanda. Para investor menyewa
lahan-lahan yang lebih luas dari orang kraton (konsesi). Makin lama makin jauh
lahan-lahan konsesi ini. Disamping itu juga mulai masuk perusahaan-perusahan besar
di bidang jasa untuk melayani para investor di bidang keuangan, perdagangan dan
layanan lainnya. Perusahaan jasa ini apakah milik swasta atau milik pemerintah.
Perusahaan-perusahaan itu antara lain Nillmij, Java Bank dan Escompto.
Semakin banyak para
investor masuk ini sehubungan dengan beroperasinya jalur kereta api
Semarang-Djogjakarta via Soeracarta. Stasion kereta api ditempatkan di utara jalan
utama yang kemudian dikenal Toegoe. Adanya stasion kereta api di Toegoe membuat
positioning losmen Malioboro semakin baik.
Sudah sejak lama Djogjakarta
terisolasi, apakah terkait dengan politik atau faktor geografis yang memang
dari sudut pandang kemajuan di pantai-pantai utara Dogjakarta seakan wilayah
terpencil. Namun dengan adanya jalur kereta api membuat Djogjakarta semakin
terbuka dan lebih cepat berkembang. Seperti dilaporkan seorang pelancong tahun
1867 kehidupan sangat sulit di Djogjakarta (relatif terhadap kota-kota lain di
pantai utara termasuk Soeracarta). Keadaan yang mulai membaik sejak adanya
kereta api, tetapi Djogjakarta sangat tertinggal dalam hal bidang pendidikan.
Dalam bidang pendidikan Soeracarta termasuk terawal dalam kemajuan pendidikan,
lebih-lebih setelah dibukanya sekolah guru (kweekschool) negeri yang pertama
pada tahun 1851 di Soeracarta. Sekolah guru kedua dibuka di Fort de Kock tahun
1856. Pada tahun 1857 seorang lulusan sekolah dasar di Mandailing en Angkola
(Afdeeling Padang Sidempoean) Residentie Tapanoeli berangkat studi ke Belanda
untuk mendapatkan akte guru. Orang pribumi pertama studi ke Belanda. Setelah
lulus tahun 1861 kembali ke Mandailing dan membuka sekolah guru di Tanobato
pada tahun 1862. Sekolah guru ini adalah sekolah guru ketiga. Pada tahun 1866 dibuka
sekolah guru di Bandoeng. Pada tahun 1879 sekolah guru Tanobato ditingkatkan
dengan membuka sekolah guru baru di Padang Sidempoean.
Pada tahun 1896 seorang lulusan HBS
(sekolah setingkat SMA Eropa) di Semarang bernama Raden Kartono berangkat studi
ke Belanda untuk meraih gelar sarjana. Raden Kartono adalah abang dari Raden A.
Kartini, pribumi pertama studi di perguruan tinggi (di Belanda). Sementara di
Djogjakarta kebutuhan guru sangat akut. Baru tahun 1897 sekolah guru dibuka di
Djogjakarta. Sangat terlambat, sebab sekolah guru sebelumnya sudah dibuka di
Probolinggo, Tondano, Ambon, Bandjarmasin dan Makassar. Pada saat pembukaan
sekolah guru (kweekschool) Djogjakarta ini sangat banyak peminat. Suatu bukti
bahwa selama ini para siswa di Djogjakarta banyak yang ingin melanjutkan
pendidikan dan menjadi guru. Dari lowongan yang tersedia hanya untuk sembilan
orang yang mendaftar terdapat 220 kandidat. Sekolah guru ini dibuka secara
resmi pada tanggal 7 April (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 05-04-1897). Di Belanda jumlah mahasiswa semakin
banyak. Pada tahun 1905 dari Padang Sidempoean, seorang guru, alumni sekolah
guru (kweekschool) Padang Sidempoean, Radjioen Harahap tiba di Belanda untuk
studi di perguruan tinggi untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Radjioen
Harahap gelar Soetan Casajangan adalah mahasiswa kelima yang studi di Belanda.
Pada tahun 1908 pada saat jumlah mahasiswa pribumi di Belanda sebanyak 20 orang,
Soetan Casajangan menggagas didirikan organisasi mahasiswa yang disebut Indische
Vereeniging yang sekaligus menjadi presidennya. Indische Vereeniging kelak
diubah namanya menjadi Perhimpoenan Indonesia.

.

Para tamu lambat laun makin banyak dan pemilik losmen
terus meningkatkan kapasitas. Losmen Maliboro ini sebagai tempat transit dan
akomodasi yang penting menjadi populer sendiri, tidak hanya tamu yang menginap
tetapi juga rekanan bisnis mereka yang sudah berada di Djogjakarta. Losmen
Malioboro muncul sendiri ke permukaan sebagai tempat yang paling dikenal umum.

RELATED POSTS

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

Dengan semakin banyaknya investor
besar masuk dan para pejabat pemerintah baik dari pusat (di Batavia) atau
pejabat di Residentie lainnya (seperti Semarang dan Soerabaja), maka muncul peluang
mendirikan akomodasi yang lebih baik dan lebih mahal. Penyedia akomodasi yang
melihat ini adalah investor baru yang mendirikan Grand Hotel. Hotel besar ini
menjadi komplemen bagi Losmen Malioboro untuk menampung tamu yang lebih mampu
membayar. Hotel Grand ini cepat berkembang, sedangkan Losmen Maliboro tampaknya
tidak terlalu ekspansif. Losmen Maliboro menjadi akomodasi untuk kelas menengah
ke bawah. Dalam perkembangannya muncul pesaing Losmen Malioboro yakni pemilik
Losmen Mataran. Persaingan head to head antara Losmen Malioboro dan Losmen
Mataram menjadi tantangan sendiri bagi Losmen Malioboro. Dalam perkembangannya,
Losmen Mataram juga ekspansi dengan membangunan Hotel Mataram yang berada di
samping Losmen Mataram yang mana di dekatnya sudah beberapa waktu berdiri Hotel
Grand. Dalam hal ini, seperti sebelumnya Losmen Malioboro tidak sendiri lagi,
demikian juga Hotel Grand sudah ada pesaing baru. Toegoe (Witte Paal), 1939
Losmen Malioboro boleh
jadi mulai tertatih-tatih dengan semakin banyaknya pesaing dan semakin
berkembangnya kota Djogjakarta. Namun nama Malioboro sudah dipatenkan menjadi
nama jalan. Losmen Malioboro yang semakin menua, tetapi namanya tetap lestari.
Losmen Malioboro lalu hilang selamanya tetapi nama Jalan Malioboro lestari
selamanya. Itulah kisah Losmen Malioboro yang namanya menjadi nama jalan dari bagian/ruas
jalan utama di Jogjakarta.
Jalan kuno Mataram yang
sudah ada sebelum datangnya VOC/Belanda telah bertransformasi menjadi jalan
raya besar, jalan utama di jantung kota modern Jogjakarta. Jalan utama ini
kemudian terbagi ke dalam beberapa ruas, yakni: 1. Jalan Kraton (Kraton weg)
yakni jalan yang membelah aloon-aloon dari pintu gerbang Kraton; 2. Jalan
Kadaster (Kadasterweg), jalan antara benteng/Kantor Residen dengan aloon-aloon
di depan gedung Mahkamah/Landraad (yang fungsinya dicatat sebagai nama jalan
(jalan Kadaster); 3. Jalan Resident yang mengambil nama Kantor Residen; 4.
Jalan Petjinan, ruas jalan di sekitar kampement Tionghoa; 5. Jalan Malioboro,
jalan yang dipenuhi berbagai akomodasi seperti losmen, tempat pertemuan dan
hotel. Di jalan Malioboro ini juga muncul tempat-tempat hiburan, pertokoan
menjual barang-barang elit dan sejumlah restoran dan cafe; dan 6. Jalan Toegoe,
sebagai terusan Jalan Malioboro di sekitar stasion kereta api. Di sekitar
stasion ini juga kemudian didirikan Toegoe Hotel. Kelanjutan Jalan Togoe ini
adalah jalan yang melalui lingkungan/area Djetis.
Sejak era Daendels sudah
mulai disusun jalan utama (hoofdweg). Yang pertama kali ditetapkan (sesuai
staatblads) adalah Groote weg (jalan Trans-Java dari Anjer ke Panaroekan vis
Buitenzorg, Tjisaroea, Sumadang, Tjirebon, Semarang, Joana, Sedajoe dan
Soerabaja). Sesuai dengan perkembangan wilayah, ditetapkan kembali perluasan
Groote weg. Salah satu diantaranya dari Semarang ke Djogjakarta via  Oengaran, Ambarawa dan Magelang. Sehubungan
dengan adanya panamaan jalan di dalam kota, sesuai staatblads tahun 1933, Groote
weg di Jogjakarta adalah sebagai berikut: (a). Groote weg van Magelang (dari
utara), Toegoe Koeloen, Toegoe Wetan, Gondokoesoema/Gondolajoe, Balapan terus
ke Solo (timur); (b) Toegoe Kidoel, Malioboro, Petjinan, Residentielaan,
Ngabean,  Ngadiwinatan, Soerjobrantan,
Gendingen, Soerjowidjaja terus ke Poerworedjo (ke barat). Pada masa ini Groote
weg adalah jalan negara atau jalan nasional).

Sehubungan dengan keberadaan Groote weg, untuk
pertigaan atau perempatan dalam pengembangan Groote weg dibuat penanda navigasi
utama yang disebut Witte Paal yang dalam bahasa setempat sering disebut Toegoe
Poetih. Beberapa tugu putih yang terkenal diantaranya di Batavia (di Bidara Cina,
kini di Tugu Cawang), di Buitenzorg (kini di Air Mancur), di Soerabaja (di
Simpang) dan di Jogjakarta (di Tugu). Di Jogjakarta Witte Paal atau Tugu Putih
menjadi nama wilayah.

Malioboro Suatu Heritage: Ibukota Mataram?

Jalan Malioboro adalah
heritage Jogjakarta. Secara teoritis nama Malioboro diduga berasal dari malyhabara sebagaimana (pernah)
diusulkan oleh Dr. Peter Carey. Namun bagaimana malyhabara menjadi malioboro tidak dijelaskan. Hasil penelusuran
ini menunjukkan bahwa sebutan malyhabara
masih eksis hingga kedatangan VOC/Belanda dengan melapalkan dalam teks sebagai
Marbongh untuk menggambarkan lingkungan (area) kraton
.
Marbongh: Catatan Ekspedisi Jacob Coeper ke Mataram (1695)

Jelas dalam hal ini malyhabara
yang didengar si penulis teks sebagai Marbongh, tetapi tepatnya adalah
Malioboro. Sebab pelapalan malyhabara
bagi orang Eropa/Belanda dengan malioboro tidak terlalu sulit. Dengan kata
lain, Marbongh dan Malioboro adalah dua pelapalan bagi orang Eropa/Belanda
untuk malyhabara yang dapat saling
manggantikan. Malioboro juga sesuai dengan pelapalan orang Jawa. Dengan
demikian, Malioboro adalah suatu sebutan lama untuk lingkungan kraton. Dalam
bahasa sekarang lingkungan Kraton Mataram (Malioboro atau Marbongh) pada masa
itu adalah ibukota.

Dalam hal ini, nama Mataram
adalah jelas nama Kerajaan/Kesultanan. Sementara yang menjadi ibukotanya (pusat
kerajaan) adalah Malioboro itu sendiri. Idem dito, dugaan bahwa Pakuan adalah
ibukota Kerajaan Padjadjaran. Yang jelas bahwa di Kota Jogjakarta, nama
Malioboro dan nama Mataram telah diadopsi oleh orang Eropa/Belanda sebagai nama
cantik untuk losmen dan hotel mereka. Nama Mataram dan nama Malioboro kemudian
dipopulerkan oleh orang-orang Eropa/Belanda. Oleh karena losmen Malioboro lebih
tua dari losmen/hotel Mataram yang lahir kemudian, nama Malioboro yang sudah
familiar maka nama Losmen Malioboro yang diidentifikasi warga sebagai nama
jalan: Jalan Malioboro.
Laporan ekspedisi yang dipimpin
Majoor Jacob Coeper ke Mataram tahun 1695 yang mengindetifikasi Marbongh
(malyhabara) sebagai area pusat Kerajaan/Kesultanan Mataram. Hal yang mirip
juga telah dilakukan oleh Sersan Scipio yan memimpin ekspedisi tahun 1687 ke
muara sungai Tjiliwong yang menemukan eks (reruntuhan) Kerajaan Padjadjaran.
Dalam laporan Scipio mereka menandai lokasi dengan mendirikan benteng yang
ditulis sebagai Fort Padjadjaran. Titik dimana tempat garnisun dibangun yang
disebut Fort Padjadjaran pada tahun 1754 dibangun villa Gubernur Jenderal yang
kelak menjadi Istana Gubernur Jenderal (kini Istana Bogor). Jelas dalam hal ini
ada kemiripan dalam pencatatan di era yang relatif sama (sebelum berakhir abad
ke-17). Jacob Coper mencatat nama ibukota Kerajaan/Kesultanan yang masih eksis yakni
Malbongh atau Malioboro, sedangkan Scipio sebaliknya mencatat nama Kerajaan
yang telah hilang, yakni Padjadjaran (seperti diketahui ibukota Padjadjaran
sendiri adalah Pakwan/Pakuan).

Lantas bagaimana nama Malioboro menjadi nama jalan. Di
era VOC/Belanda sudah barang tentu belum ada penamaan jalan di kota-kota.
Demikian juga, penamaan nama jalan di lingkungan pribumi jelas tidak lazim.
Perlunya penamaan jalan muncul karena semata-mata untuk kebutuhan navigasi
ketika kompleksitas kota semakin meningkat. Semakin banyak ruas jalan di kota
(urbanisasi), diperlukan identifikasi untuk membedakan ruas jalan yang satu
dengan ruas jalan lainnya. Tidak hanya berguna bagi petugas pos tetapi juga
bagi warga kota. Jaringan jalan di kota Jogjakarta baru berkembang pesat di era
Pemerintahan Hindia Belanda, tepatnmya setelah terhubungnya jalur kereta api
dari Semarang ke Jogjakarta. Bagaimana nama Malioboro menjadi nama jalan untuk
ruas antara Toegoe (stasion) dan kampemen Tionghoa, sudah barang tentu didasarkan
pada situs terkenal di ruas jalan tersebut.

ADVERTISEMENT
Situs terkenal di ruas jalan antara
Toegoe dan kampemen (perkampungan) orang Tionghoa adalah Losmen Malioboro, Nama
losmen inilah yang kemudian dijadikan sebagai nama jalan ruas tersebut
(Malioboro straat). Ini juga berlaku untuk ruas di kampemen Tionghoa disebut Petjinan
straat; ruas jalan di depan Kantor Residen disebut Residentielaan; ruas jalan
di depan Kantor Landraad disebut Kadaster straat; dan ruas jalan di tengah
alun-alun di depan kraton disebut Kraton weg. Semua ruas jalan tersebut berada
di dalam satu garis lurus.  

Itulah riwayat pertumbuhan dan perkembangan awal kota
modern Jogjakarta. Dalam masa pertumbuhan dan perkembangan ini nama Malioboro
muncul sebagai nama losmen. Lalu kemudian nama Losmen Malioboro diadopsi
sebagai nama jalan. Dalam hal ini nama  Malioboro dapat dikatakan sebagai wujud
modernisasi dan jantung Kota Djogjakarta, suatu nama kuno yang dapat dirujuk
sebagai ibukota Kerajaan/Kesultanan Mataram. Oleh karena itu tidak salah pada
masa kini Malioboro di jantung Kota Jogjakarta adalah bentuk lain dari ibukota Mataram
tempo doeloe. Anda mau berkunjung ke Djogja? Jangan lupa sejarah lama dan juga jangan lupa ke Jalan Malioboro, Bro.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.

Tags: IlmuInformasiPengetahuanPeradabanSejarahZamam Dahulu
ShareTweetPin
Tempo Doelo

Tempo Doelo

Related Posts

Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah ginalun (belimbing Cina)

20.01.2026
Sejarah

Sejarah Bahasa Indonesia (12):Nama Negara Lain dalam Bahasa Indonesia (KBBI); Nama Indonesia di Negara Lain Sejak Kapan?

20.01.2026
Sejarah

Karel Doorman, Panglima Laut Gabungan Sekutu yang memilih tenggelam bersama kapal perangnya setelah kalah dari Jepang di pertempuran Laut Jawa

19.01.2026
Sejarah

Dari kumpulan dokumen lama di Wellcome Collection: Gambar kuno tentang buah jambu bol

18.01.2026
Sejarah

Sejarah Jepang (5): Orang Portugis, Orang Belanda dan VOC di Jepang; Awal Bermula Orang Portugis di Indonesia di Hindia Timur

18.01.2026
Sejarah

Kepulangan Jenderal Mansergh dari Surabaya ke Inggris setelah konflik pasukannya dengan para pejuang menyulut pertempuran Surabaya

17.01.2026
Next Post

DAPATKAN PAHALA PUASA DUA TAHUN PENUH

Orang Berilmu yang Hakiki adalah yang Tawadhu

Keindahan Gunung Rinjani Harus ditutup Sementara Pasca Gempa Lombok

Iklan

Recommended Stories

Misteri Manusia Purba – Benarkah Nabi Adam Tingginya Mencapai 27 Meter?

Sensasi Perjalanan dan Keindahan Alam di Jalur Cangar kota Batu

08.04.2015
Menanti Kedatangan Umar dan Shalahuddin

Milkiyo, Kenikmatan Susu Sapi Segar di Pontianak

14.12.2018
Alamat PT Pegadaian Di Gianyar

Alamat PT Pegadaian Di Gianyar

18.04.2017

Popular Stories

  • Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    Pemerintah Masih Buka Peluang Beri Insentif Industri Tekstil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Video Viral Andini Permata Bersama Bocil

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga iPhone 14 Turun di Indonesia Jadi Mulai Rp 8 Jutaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Denada Tolak Ganti Rugi Rp7 Miliar, Ressa Rizky: Saya Cuma Mau Pengakuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Timnas Indonesia Akan Hadapi Bulgaria, Kepulauan Solomon & Saint Kitts & Nevis bersama John Herdman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Aopok

Aopok merupakan layanan informasi terbaru dan terpercaya yang mengabarkan berita di indonesia dan seluruh dunia.

LEARN MORE »

Terkini

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Bagaimana Nasihat Guru Mengubah Jalan Hidup Imam Hanafi

21.01.2026
Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

Xiaomi Resmi Luncurkan Kids Watch Dengan pelacakan lokasi canggih

21.01.2026

Kategori

  • Berita
  • Bisnis
  • Bulutangkis
  • Daerah
  • Dunia
  • Edukasi
  • Entertainment
  • Explore
  • Food & Travel
  • Lainnya
  • Lifestyle
  • Nasional
  • Otomotif
  • Religi
  • Sepakbola
  • Sports
  • Teknologi & Sains

Navigasi

  • Tentang
  • Kontak
  • Subscription
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Cookies dan IBA
  • Terms

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Filter
    • Terbaru
    • Spesial
    • Istimewa
    • Hot
    • Galeri
  • Berita
    • Daerah
    • Dunia
    • Nasional
  • Bisnis
  • Explore
    • Alamat
    • Food & Travel
      • Kuliner
      • Resep Masakan
    • Kode Pos
    • Masjid
    • Wisata
  • Religi
  • Sports
  • Tekno
  • More
    • Otomotif
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Edukasi
    • Lainnya
  • Network
    • Artikel
      • Biodata Viral
      • Chord Lirik
      • Religi
      • Resep Masakan
      • Ulasan Film
      • Tempo Dulu
    • Iklan Gratis
    • Media Sosial
    • Terviral
    • Seputar Bisnis
    • Pasang Iklan
    • Jok Bangka
    • Ulasan Bisnis
    • Trading
    • Top Bisnis

© 2026 Aopok.com - theme by Iklans.com - Pugur.com.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?