Hingga tahun 1900 belum ada jalan yang menghubungkan antara Depok dengan
Tjimanggis. Jalan yang sudah terbentuk dari Tjimanggis baru sampau ke Depok
Ketjil (kira-kira kantor Pos Depok). Jalur yang menghubungkan Depok (besar)
dengan Depok Kecil adalah jalan setapak yang di atas sungai Tjiliwong terdapat
jembatan bamboo. Posisi ‘gps’ jembatan bambu tersebut berada di Jembatan Panus
yang sekarang.
![]() |
| Peta, 1901 |
Sementara itu jalan
yang sudah eksis adalah jalan yang menghubungkan Batavia-Buitenzorg via Depok
melalui Ratoe Djaja dan Pondok Terong di hulu dan Pondok Tjina dan Srengseng di
hilir. Rute jalan ini sudah terbentuk sebelum tahun 1835 (yang merupakan
pengembangan jalan setapak (jalan kuda) yang diduga sudah ada sejak jaman kuno
(era Padjadjaran). Peningkatan jalan kuno ini seiring dengan pembangunan
irigasi dari Buitenzorg hingga mencapai Land Depok. Selanjutnya pada tahun 1873
jalur kereta api Batavia-Buitenzorg via Depok mulai dioperasikan. Rute jalan
yang paralel jalur kereta api Batavia-Buitenzorg via Depok untuk ruas Pasar
Minggoe-Tjitajam lihat artikel dalam blog ini
Batavia-Buitenzorg via Tjimanggies dengan jalur kereta api Batavia-Buitenzorg
via Depok belum terhubung sepenuhnya (yang dihubungkan oleh jalan yang bisa digunakan
kereta kuda atau pedati). Dengan kata lain moda transportasi di sisi timur
maupun di sisi barat sungai Tjiliwong berkembang sendiri-sendiri.
Depok-Cimanggis
jembatan yang dibangun di atas sungai Tjiliwong selain jembatan yang berada di
Meester Cornelis (Batavia) dan jembatan yang berada di Buitenzorg (jembatan
Warung Jambu yang sekarang).
dibangun pada tahun 1745 bersamaan dengan pembangunan villa Gubernur Jenderal
(kelak menjadi istana Buitenzorg) lalu dibangun kembali tahun 1834 pasca gempa. Sedangkan jembatan Meester Cornelis (jembatan
di jalan Slamet Riyadi di Manggarai yang sekarang) dibangun tahun 1868
bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api ruas Batavia-Meester Cornelis.
![]() |
| De Preanger-bode, 21-05-1917 |
Jembatan yang pertama dibangun di atas sungai Tjiliwong diantara Buitenzorg
dan Meester Cornelis baru terjadi tahun 1917. Jembatan tersebut berada di
Depok. Jembatan baru ini akan menggantikan jembatan bambu yang selama ini
digunakan penduduk. Ini menandakan babak baru interaksi penduduk di sisi barat
dan sisi timur sungai Tjiliwong di Land Depok dan sekitarnya.
baru dari beton yang akan menghubungkan (land) Depok dengan (land) Tjimanggis.
Konstruksi jembatan baru ini dibuat dengan konstruksi lengkung dengan tiga
benteng 15 meter. Jembatan ini memakan biaya sebesar f35.600 (De Preanger-bode, 21-05-1917). Jembatan Depok yang menggunakan konstruksi lengkung, mirip Jembatan Merah di Buitenzorg (yang dibangun tahun 1855).
![]() |
| Jalan lama vs Jalan baru (Peta 1938) |
Peran partisipasi penduduk untuk membuka jalan akses Depok ke Cimanggis
ini adalah membangun jalan secara swadaya dari jembatan yang baru ke ujung
jalan Tjimanggis yang berada di jalan Sentosa Raya yang sekarang (Depok Tengah). Pembangunan
jembatan ini sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan jembatan ini selesai tahun 1919. Hal ini sesuai dengan pernyataan Direktur Tenaga Kerja Regional (directeur
der Gewestelijke Werken) Batavia, OJH Koen ketika melaporkan berbagai kegiatan fisik di dewan kota (gemeenteraad) Batavia. OJH Koen mengatakan bahwa tanggal 23 Oktober 1919 jembatan Depok-Tjimanggis dianggap telah selesai (Bataviaasch
nieuwsblad, 23-12-1919).
Penigkatan jalan ini dirangkaikan dengan pembukaan akses jalan lurus menuju
jalan trans-Java di Tjimanggis. Jalur lama selama ini mengikuti jalan lama yang
berbelok ke arah utara ke jalan pos trans Java.
Untuk peningkatan jalan akses ini pemerintah membantu sebesar f7.926.
Jalur baru inilah yang digunakan sebagai jalur utama antara Depok dengan
Cimanggis hingga masa ini.
![]() |
| De Preanger-bode, 03-11-1921 |
Pada tahun 1921
pemerintah mengalokasikan dana untuk penyeleaian lebih lanjut jalan yang sudah dirintis
oleh Gemeente Depok yakni jalan yang menghubungkan dari Depok ke Tjimanggies.
Besarnya dana bantuan pemerintah tersebut sebesar f7.926 (lihat De
Preanger-bode, 03-11-1921). Untuk
merawat jalan antara Depok ke Tjimanggis tersebut dialokasikan biaya
pemeliharaan rutin (De Preanger-bode, 14-08-1922).

Jembatan di Depok di atas sungai Tjiliwong ini kelak disebut penduduk sekitar sebagai
Jembatan Panus. Tidak diketahui jelas mengapa jembatan ini disebut demikian. Fungsi jembatan ini kini sudah digantikan dengan jembatan baru
yang dibangun berada di dekatnya. Situs jembatan Panus, jembatan pertama yang dibangun di Kota Depok (1917) itu hingga kini masih dapat dilihat. Pada kaki jembatan ini dijadikan sebagai penanda ketinggian air sungai Ciliwung.
utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman,
foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding),
karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari
sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja.









