Mengkonsumsi MSG Itu Aman – “Dasar generasi micin!” “Begitu deh kalau
kebanyakan makan micin!”
Sering mendengar/membaca kalimat-kalimat seperti itu? Itu bukan pujian.
Kalimat-kalimat itu biasanya membully atau paling tidak mengatakan bahwa
orang yang sedang ditudingnya itu bodoh. Tapi apa benar micin atau
MSG
bisa membuat kita bodoh?
Hmmm … kalau micinnya dijadiin makanan utama dan camilan trus gak makan
makanan lain mungkin iya bisa bikin bodoh. Lha, semua ahli gizi juga
mengatakan kalau komposisi makan yang tepat itu harus lengkap dengan
komposisi yang seimbang. Kalaupun harus diet, tetap sebaiknya konsultasi
ke dokter terlebih dahulu. Kayaknya gak ada ahli gizi atau dokter manapun
yang mengatakan makan micin aja cukup. Lagipula apa iya ada orang yang
sehari-harinya cuma makan micin?
Rasa ingin tahu saya pun berlanjut. Saya semakin penasaran tentang asal
mula kenapa micin selalu dikambing hitamkan sebagai penyebab kebodohan.
Dari berbagai sumber yang saya dapat, semua ini bermula pada tahun 1968.
Ada seorang dokter asal Maryland bernama Robert Ho Man Kwok menulis jurnal
tentang pengalamannya yang selalu merasa pusing usai menyantap Chinese
food. Gejalanya seperti Chinese Restaurant Syndrome.
Sebetulnya dokter tersebut tidak langsung menuding MSG lah
penyebabnya. Dokter tersebut justru mempertanyakan apakah penyebabnya
karena MSG, rempah-rempah, atau anggur yang dikonsumsinya. Tetapi
masyarakat terlanjur meyakini penyebabnya adalah MSG. Dan entah bagaimana
kemudian berkembang menjadi rumor kalau MSG itu bikin bodoh.Padahal
berbagai penelitian sudah membuktikan kalau anggapan tersebut salah.
Talkshow: “Mengkonsumsi MSG Itu Aman”
Sabtu (16/12) AJI-NO-MOTO® mengajak para blogger melakukan
#UmamiFoodMarathon selama satu hari. Kalau biasanya saya gak pernah
kepikiran untuk marathon *capek, cuy!😂* tetapi kalau yang ini berbeda.
Marathon yang ini bukan olahraga lari, tetapi kami diajak untuk menikmati
beraneka kuliner Betawi selama sehari. Tidak hanya menikmati kuliner, ada
juga talkshow tentang keamanan mengkonsumsi MSG dan juga demo masak.
dr. Diyah Eka Andayani, M.Gizi, SpGk mengatakan pemakaian MSG itu
aman bagi tubuh. Dan sebetulnya tidak ada takaran baku selain secukupnya.
Setiap orang kan kebutuhannya berbeda-beda. Tetapi bila dirata-rata,
idealnya sekitar 1 sdt per hari per orang. *Ya, Sahabat KeNai bisa
kira-kira sendiri apakah pemakaian MSGnya sebanyak itu atau tidak.
Chef Ari Galih menambahkan kalau Western food jarang menggunakan
MSG karena lidah orang barat sudah terbiasa dengan butter dan kaldu hasil
rebusan misalnya kaldu ayam. Sedangkan masakan Asia lebih kaya rasa karena
banyak menggunakan rempah-rempah. MSG juga banyak digunakan untuk makanan
Asia karena rasa Umami itu yang ingin didapatkan.
Ada 5 rasa dasar sebagai faktor penentu penerimaan kita terhadap rasa
masakan, yaitu manis, asam, asin, pahit, dan umami.
Sederhananya tuh kalau Sabahat KeNai bilang rasa makanannya ‘nendang’ nah
itu artinya ada rasa umami. Rasa umami jmemang merujuk ke rasa gurih atau
lezat. Beberapa chef juga mendeskripsikan rasa umami dengan sebutan
berbeda-beda, diantaranya
mouth watering, mildness, mouth fullness, delicate and subtle, atau
lainnya.
Kunci masakan lezat menurut Chef Ari Galih ada di bumbu dasar. Setelah
itu, ditingkatkan rasanya dengan menambahkan garam, gula pasir, dan
merica. Bila dengan bumbu dasar dan 3 bahan peningkat rasa saja rasa
masakan sudah gurih, maka tidak perlu lagi ditambahkan MSG.
Secara alami, rasa umami terdapat pada aneka bahan pangan. Dan rasa umami
dapat meningkat dengan adanya proses fermentasi (contoh: kecap ikan),
pematangan (contoh: tomat dan keju), perebusan (contoh: bouillon, kaldu
dashi, dan gao tang), penambahan bumbu (contoh: MSG dan terasi), dan
kombinasi dari berbagai bahan umami.
Pak Fahrurozi, Head of Public Relation AJI-NO-MOTO® mengatakan
tidak perlu khawatir mengkonsumsi MSG. Bila ada rumah makan yang mengklaim
tanpa MSG pada masakannya itu tidaklah tepat. Semua bahan makanan
mengandung MSG. Kerupuk saja ada MSG-nya. Bahkan ASI pun mengandung
glutamat yang merupakan asam amino bebas. Jumlah glutamat pada ASI manusia
juga lebih tinggi daripada susu sapi, domba, atau unta.
AJI-NO-MOTO® berarti sumber rasa. MSG ini terbuat dari tetes tebu
pilihan yang diproses dengan cara fermentasi yang berstandar
internasional di bawah lisensi AJI-NO-MOTO® Tokyo sebagai perusahaan
pertama yang sudah memproduksi penyedap rasa sejak tahun 1909.
MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat berupa serbuk kristal
berwarna putih dengan sifat tidak berbau, mudah larut dalam air, agak
sukar larut dalam alkohol, serta rasa agak manis dan asin. Sifat lainnya
adalah, glutamat bersifat “self limiting”, artinya penambahan berlebihan
menimbulkan rasa tidak enak.
Jadi kalau Sahabat KeNai merasa pusing atau gejala tidak enak lainnya
setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG, menurut Chef Ari Galih
kemungkinan karena pemakaian MSGnya berlebihan. Segala sesuatu yang
berlebihan memang gak baik. Jadi pakai MSG secukupnya saja seperti yang
sudah dijelaskan oleh dr. Diyah.
AJI-NO-MOTO® adalah produk MSG yang ada di Indonesia. Kita kadang
menyebutnya micin. Kalau Sahabat KeNai terbiasa menggunakan penyedap lain
misalnya Masako, itu termasuk MSG juga. Hanya bedanya kalau Masako sudah
ditambahkan berbagai rempah-rempah untuk menambah rasa. Sedangkan
AJI-NO-MOTO® hanya untuk meningkatkan rasa (flavor enhancer).
Tidak ada aturan baku kapan waktunya memberi MSG pada saat memasak. Bisa
diberikan di awal, tengah, atau akhir proses memasak. Tetapi memang lebih
enak di akhir proses memasak setelah masakan terasa bumbunya kemudian
ditingkatkan lagi dengan MSG sehinga timbul rasa umami.
Sedikit perbedaan pendapat antara Chef Ari dengan pak Fahrurozi adalah
tentang saat yang tepat memberikan MSG. Chef Ari Galih mengatakan MSG
tidak perlu lagi diberikan bila dengan garam, gula, dan merica saja sudah
cukup. Sedangkan pak Fahrurozi mengatakan MSG sebaiknya diberikan sebelum
garam. Kalau rasanya sudah umami, garam tidak perlu diberikan lagi.
Alasannya jumlah kandungan garam 3x lebih tinggi daripada MSG untuk ukuran
masing-masing 1 sendok makan. Banyak orang mulai mengurangi konsumsi
sodium karena erat kaitannya dengan hipertensi. Dan berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Yamaguchi dan Takahashi (1984), MSG juga dapat
mempertegas rasa asin. *Kok jadi semacam mengingatkan perbedaan saya
dengan mamah, ya? Kalau saya sepakat dengan Chef Ari, sedangkan Mama pasti
sependapat dengan pak Fahrurozi 😂
Usai talkshow, Chef Ari Galih melakukan demo masak. Chef Ari mengatakan
kalau MSG bukanlah hal yang terlarang di dunia kuliner. Banyak chef di
berbagai restoran juga menggunakan MSG untuk mendapatkan rasa umami dari
masakannya. Saya juga cukup akrab dengan berbagai produk AJI-NO-MOTO®.
Seperti yang dilihat di foto teratas, produk mana yang paling akrab buat
Sahabat KeNai? Kalau saya paling tidak tepung bumbu ayam goreng yang
paling sering digunakan.
Pada demo masak di hari itu, Chef Ari membuat 2 macam masakan yaitu
Gabus Pucung dan Pecak Bandeng. Salah satu tips menarik dari Chef Ari
adalah menghaluskan makanan dengan cara diulek membuat rasa masakan jauh
lebih enak daripada menggunakan blender atau food processor. Ada proses di
mana batu ulekan bertemu dengan berbagai bahan dasar yang bisa membuat
rasa masakan menjadi lebih enak.
[Silakan baca:
Rela Tekena Macet Demi Semangkok Soto Betawi Panas]
#UmamiFoodMarathon Kuliner Betawi bersama AJI-NO-MOTO®
Mengikuti talkshow udah, melihat demo masak juga udah, berikutnya adalah
membuktikan kalau MSG itu aman. Caranya dengan berwisata kuliner. Oleh
karena itu para blogger diajak oleh AJI-NO-MOTO® dan tabloid Bintang
Indonesia untuk wisata kuliner seharian menikmati berbagai kuliner
Betawi.
Warung Mak Dower
Sekitar pukul 07.00 wib, kami sudah berkumpul di kantor AJI-NO-MOTO®,
Sunter – Jakarta Timur. Gak pake sarapan dari rumah karena bakal seharian
wisata kuliner bersama AJI-NO-MOTO®.
Selain seru, memang penting juga wisata kuliner kayak gini. Kan di
destinasi pertama ada talkshow tentang keamanan mengkonsumsi MSG. Setelah
itu juga ada demo masak. Nah, lebih afdol lagi memang mencicipi langsung
berbagai kuliner terkenal yang di semua masakannya menggunakan MSG
khususnya produk AJI-NO-MOTO®. Semacam pembuktian juga apa benar kalau MSG
itu aman dikonsumsi.
“PT. AJI-NO-MOTO® ingin menghapus stigma di masyarakat kalau MSG itu
membuat bodoh. Padahal MSG diperlukan tubuh asalkan dengan kadar yang
secukupnya,” ujar pak Fahrurozi.
Setelah sambutan singkat dari pak Fahrurozi, kami pun naik bis yang sudah
disediakan menuju destinasi pertama. Gak jauh lokasinya dari kantor
AJI-NO-MOTO®. Kami menuju Warung Mak Dower di Rawamangun.
Sahabat KeNai biasanya sarapan dengan menu apa? Kalau saya, sarapan
biasanya yang praktis aja. Nasi goreng, nasi dan telur dadar/telur ceplok,
bubur ayam, atau makanan sisa semalam yang dihangatkan hehehe. Kalau Keke
dan Nai malah cuma segelas susu atau setangkap roti. Kadang-kadang aja
sarapan dengan semangkuk sereal. Pokoknya sarapan pagi tuh yang praktis
banget, deh.
Tapi saat kami ke Warung Mak Dower berbagai hidangan yang menggugah selera
langsung terhidang di meja. Bahkan sejak dari parkiran, wangi ikan asin
jambal goreng sudah tercium. *Hmmm … langsung elus-elus perut dan ingin
segera sarapan.
Warung Mak Dower menawarkan berbagai kuliner Betawi. Nama makanannya pun
unik-unik dan kocak yaitu Jengkol Nampol, Cuwe Ngacir, Tutut Ngibrit,
Gabus Pucung, Tulang Jambal Sewot, Udang Lenje, Pecak Bandeng, Cumi
Lenong, Genjer Centil, Sayur Asem Demplon, dan Es Ondel-Ondel. Saya
cekikikan ketika dikasih tahu nama-nama makanan yang dihidangkan. Ya
sesuai dengan karakter orang Betawi yang memang kocak.
Warung ini diberi nama Mak Dower karena kebanyakan makanannya berasa
pedas. “Bisa bikin bibir jadi dower”, kata Mas Wandi, pemilik Warung Mak
Dower. Saya sih penggemar makanan pedas tentu aja senang menyantapnya.
Tapi buat yang gak kuat pedas, siap-siap aja bakal
huh-hah kepedesan. Sesekali bibir jadi sexy (baca: dower) karena
pedas kan seru. Lagipula siapa yang bisa menolak menu seperti itu? Dari
penampakannya aja udah menggiurkan. Bahkan saya yang seringkali menolak
makan jengkol, akhirnya mencicipi juga pulennya jengkol Warung Mak Dower.
[Silakan baca:
Nikmatnya Sate Afrika H. Ismail Coulibaly di La Piazza, Kelapa
Gading, Jakarta]
Soto Betawi H. Husen
Destinasi kedua adalah soto betawi H. Husen yang berlokasi di Manggarai.
Bila Sahabat KeNai penasaran dengan rasa soto betawi H. Husen yang legend
ini, datang sepagi mungkin pada saat akhir pekan. Pukul 06.00 wib aja
katanya udah antre banget. Padahal warung makan baru buka pukul 07.00 wib.
Kami datang ke sana sekitar pukul 10.45 wib. Hujan pun mengguyur dengan
deras. Pas banget kan hujan deras ditemani dengan seporsi soto betawi?
Saat kami ke sana, suasana sudah sangat ramai. Bahkan soto daging pun
sudah habis. Eyaampuuunnn, padahal belum jam makan siang!
Belum juga pukul 12.00 wib tapi jeroannya sudah tinggal segitu. Dagingnya
malah sudah habis.
Tapi ya begitulah, kalau lihat lemari display aja udah kelihatan kayak mau
habis. Padahal saat baru buka, isinya penuh banget dengan daging dan
segala jeroan. Saat akhir pekan memang warung ini ramai dari pagi.
Pengunjungnya pun gak hanya warga sekitar tapi ada juga yang dari jauh
makan di sini. Sedangkan kalau hari kerja, ramainya menjelang makan
siang.
Untuk rasanya? Hmmm … Gak heran deh saya kenapa soto Betawi H. Husein
termasuk legend. Kuah santannya yang kental berpadu dengan aneka jeroan.
Gurih dan mantaaapp!
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Kalau Sunter, Rawamangun, dan Manggarai lokasinya tidak berjauhan, untuk
destinasi terakhir kami lumayan menjauh yaitu ke arah Jagakarsa. Bila
Sahabat KeNai ingin lebih mengenal Betawi tidak hanya kuliner tetapi juga
budaya dan sejarahnya, tepat banget kalau main ke Perkampungan Budaya
Betawi Setu Babakan. Kami disambut dengan salah satu tarian Betawi yaitu
nyecek setapak.
Sebelum kulineran di sini, kami dijelaskan secara singkat tentang sejarah
Betawi oleh abang Roni. Bicara betawi memang akulturasi dari berbagai
budaya. Makanya tidaklah heran kalau kuliner, bahasa, dan lain sebagainya
juga akulturasi dari berbagai budaya lokal ataupun internasional.
Cepek, gopek, seceng, berbagai sebutan mata uang lainnya sering Sahabat
KeNai dengar terutama kalau orang Betawi ngomong. Padahal itu akulturasi
dari bahasa Tionghoa. Begitu juga dengan bebagai hal lain, misalnya
kuliner.
Buah buni lagi musim di Setu Babakan. Rasanya bikin mata merem melek 😂
Rimbun banget suasana di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan. Seolah-olah
tidak seperti di Jakarta. Jauh dari gambaran di mana kalau ingat Jakarta
adalah gerah, macet, dan gedung yang serba tinggi. Tapi di Setu Babakan
ini banyak sekali pohon.. Termasuk pohon yang udah jarang ditemui.
Danaunya pun bukan danau buatan. Piknik asik murah meriah bisa seru di
sini. Gak ada tiket masuk, tapi siapkan saja sejumlah uang untuk menikmati
berbagai kuliner Betawi atau jajanan lainnya.
Salah seorang pebatik muda yang dengan telaten membuat batik tulis
Deretan batik cetak di Setu Babakan
Sebelum kulineran, kami diajak melihat proses pembuatan batik terlebih
dahulu. Ada batik cetak dan batik tulis. Saya kagum dengan para pebatik di
sana yang masih muda-muda. Kan, biasanya saya selalu melihat pebatik yang
usianya sudah lanjut. Jarang juga melihat para pebatik muda. Mungkin salah
satu faktornya karena membuat batik tulis butuh ketelatenan dan kesabaran
yang besar.
Di Kampung Budaya Betawi Setu Babakan, kami mengikuti demo membuat bir
pletok dan kerak telor. Tenang aja, bir pletok gak bakal bikin mabok.
Justru menghangatkan karena diolah dari 15 macam rempah-rempah. Rasanya
manis, pedas, dan langsung menghangatkan tubuh.
Saya langsung beli 2 botol besar. Keesokan harinya, 1 botol langsung
tandas diminum oleh suami. Padahal ya, 1 botol besar minuman berkhasiat
yang dibuat tanpa pengawet ini bisa tahan sampai 3 bulan. Tapi karena
memang suka jadinya malah cepat habis hehehe. Musim hujan memang enak
minum minuman hangat seperti ini.
Kami juga melihat proses pembuatan kerak telor. Baru kali ini saya
mencicipi rasa kerak telor *Selama ini saya kemana aja? 😅* Ternyata enak
juga, ya. Apalagi serundengnya. Ada rasa manis, asin, dan gurih karena
terbuat dari berbagai bumbu yaitu bawang merah, jahe, kencur, dan lainnya.
Demo membuat kerak telur mengakhiri wisata kuliner kami. Hujan turun
dengan sangat deras membuat kami harus menunggu sejenak supaya bisa
kembali ke parkiran bis. Semua tempat makan dari pagi hingga sore tentu
saja merupakan tempat pilihan yang tidak hanya sudah dikenal oleh banyak
masyarakat karena kelezatannya tapi juga tempat-tempat tersebut setia
menggunakan MSG AJI-NO-MOTO®.
Apakah saya merasakan pusing atau gejala tidak enak badan lainnya setelah
mengkonsumsi makanan yang diberi MSG selama seharian? Alhamdulillah
enggak. Saya hanya merasakan lelah dan ngantuk akibat kekenyangan dan
hujan. Efek lainnya adalah saya merasa bahagia karena sudah diajak
berwisata kuliner #UmamiFoodMarathon dengan makanan yang semua rasanya
umami!
[Silakan baca:
5 Wisata Kuliner Nusantara di Rawamangun]





































