
Memasuki perayaan Imlek akan ada nuansa berbeda di satu sudut kawasan Kota Tua Padang. Oranamen lampion dengan warna merah menyala menjadi ciri khasnya akan menghiasi bangunan. Pernak pernik lainnya pun turut memeriahkan perayaan Imlek yang diadakan tiap tahunnya. Seperti negeri tirai bambu. Ditambah dengan lagi suguhan atraksi keseniaannya seperti tarian naga (liong) dan barongsai. Begitu menarik dan memikat pengunjung.
Sudah berabad-abad lamanya masyarakat etnis Tionghoa berkelana dari negerinya datang ke wilayah pesisir Sumatra. Kemudian menatap di beberapa wilayah, terutama di Kota Padang. Hal ini seiring juga dengan datangnya Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) ke Kota Padang sekitar abad ke-17. Kemudian semakin ramai pedagang asing yang datang seiring dengan Kota Padang kala itu menjadi pusat perdagangan.
![]() |
| Kelenteng See Hin Kiong Lama  (2017| Koleksi Pribadi) |
Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat keturunan Tionghoa telah membangun peradaban dan membentuk satu perkampungan Tionghoa di Kota Padang. Umumnya, dilihat di kawasan Kota Tua Padang tepatnya di Kelurahan Berok Nipah dan Kelurahan Kampung Pondok. Terlihat jelas di Jalan Nipah, Niaga dan Kelenteng.
Kelenteng See Hin Kiong, Tertua dan Pertama di Minangkabau
![]() |
| Kelenteng See Hin Kiong Lama  (2016| Koleksi Pribadi) |
Sayangnya, akibat gempa 30 September 2009 kelenteng ini mengalami banyak kerusakan sehingga tidak lagi digunakan untuk tempat ibadah. Sebagai gantinya, tahun 2010 kembali dibangun kelenteng baru dilokasi yang berbeda dan tidak jauh tempat yang lama. Kelenteng See Hin Kiong menjadi lokasi favorit bagi masyarakat Kota Padang untuk dijadikan lokasi berfoto dan tempat nongkorong kaula muda.
Baca:Â Asiknya Nongkrong di Kelenteng See Hin Kiong Sembari Seruput Kopmil
![]() |
| Mural di Jalan Borong 2 Kawasan Kota Tua Padang (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Peserta Padang Heritage Walk 5 melewati Jembatan Gantung (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Peserta Padang Heritage Walk 5 menuju Jembatan Biru Kuning (2017| Koleksi Pribadi) |
Kemudian melewati Jembatan Evakuasi Biru Kuning. Jembatan ini memiliki bentuk yang artistik dan asik untuk berfoto, tapi lokasinya sangat padat dilalui oleh kendaraan bermotor. Jadi harus berhati-hati bila melewati jembatan ini atau ingin berfoto sekalipun.
![]() |
| Gedung Hong Jang Hoo (2017| Koleksi Pribadi) |
Kantor NV Internatio. Bekas Perusahaan Besar di Zaman Belanda
![]() |
| Gedung NV Internatio (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Peserta Padang Heritage Walk 5 di depan Gedung NV Internatio (2017| Koleksi Pribadi) |
Sayangnya akibat gempa 30 September 2009, bangunan ini mengalami kerusakan berat, meliputi atap, dinding, lantai, bangunan lantai 2 juga hancur. Saat ini hanya masih utuh dinding bangunan tampak depannya dan dimanfaatkan bagian lantai satunya sebagai Bat and Arrow Cafe tanpa atap dan beberapa bagiannya menjadi penginapan
Kafe ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan asing yang datang dan ingin berlibur ke Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk bermain ombaknya alias surfing. Sebenarnya Kafenya ini asik untuk bersantai dan kongkow, terlebih suasananya sangat fotogenik.
![]() |
| Gedung PT Buana Andalas (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Peserta Padang Heritage Walk 5 di depan Gedung Padangsche Spaarbank (2017| Koleksi Pribadi). |
Baca: Padangsche Spaarbank Riwayatmu Kini

Terakhir bangunan cagar budaya yang dilewati Padang Heritage Walk di Jalan Batang Arau yaitu PT Kurnia Jagad Abadi. Gedung ini dibangun sekitar akhir abad ke-19 yang berada di Jl. Batang Arau No. 24 Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Gedung ini merupakan banguan cagar budaya dengan nomor invenetaris 35/BCB-TB/A/01/2007.Â
![]() |
| Peserta Padang Heritage Walk 5 di Kawasan Tiongkok-nya Kota Padang (2017| Koleksi Pribadi) |
Sepanjangan koridor jalan ini terasa sekali nuansa Chinese Town, apalagi bila hari Imlek tiba. Ornamen dan pernak pernik bangun khas Tiongkok ini begitu kental terlihat. Patung singa, gapura khas perkampungan Tiongkok, patung naga diatap rumah atau tempat ibadah hingga papan nama rumah dengan tulisan Mandarin. Bisa dibilang kawasan Jalan Kelenteng ini Chinese Town-nya Padang.
![]() |
| Rumah Tinggal Andreas CHÂ (2017|Â Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Gedung Hok Tek Tong (2017|Â Koleksi Pribadi) |
Terdapat tiga pintu masuk, pintu utama berada di bagian tengah yang diapit oleh dua buah jendela di kiri kanannya yang berbentuk bulat, pintu utama ini berbentuk persegi panjang, sedangkan dua buah pintu lagi yang berada di masing-masing ujung bangunan berbentuk melengkung di bagian atasnya.
Di bagian tengah dari teras terdapat dua buah patung singa. Lantai satu berupa ruangan terbuka, di bagian sisi kiri diberi penyekatan ruangan yang dipergunakan sebagai kantor kesekretariatan HTT. Dibagian teras belakang terdapat dua buah pilar yang diberi ornamen lilitan naga berwarna merah.
![]() |
| Rumah Tinggal Ang Sia (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Gedung Himpunan Keluarga Tan (2017|Â Koleksi Pribadi) |
Perhimpunan Keluarga Tan yang dibangun tahun 1888 yang berada di Jl. Kelenteng No. 327
Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Bangunan ini
merupakan banguan cagar budaya dengan nomor invenetaris 43/BCB-TB/A/01/2007.
etnis Tionghoa yang bermarga Tan. Dari tampilan muka bangunan saat ini sudah
mengalami perubahan bentuk dan penambahan bangunan. Gedung saat ini terdiri
dari tiga lantai, semua lantai terbuat dari keramik. Hampir 90 % unsur bangunan
merupakan komponen baru. Komponen yang masih asli dari bangunan ini hanya pintu
masuk dan dinding di lantai satu. Di bagian halaman terdapat dua buah patung
singa yang ditempatkan di antara pintu masuk.
Beragam Gedung Milik Marga-Marga etnis Tionghoa
![]() |
| Gedung Himpunan Keluarga Tjoa dan Kwa (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Gedung Himpunan Keluarga Marga Huang (2017| Koleksi Pribadi) |
![]() |
| Rumah Duka Himpunan Bersatu Teguh (2017| Koleksi Pribadi) |

Kenali Negerimu, saatnya Jelajah Nagari Awak. Yuk jelajah Kota Tua Padang. Mengenal lebih dekat Kota Tua Padang, karena menjelajah tak melulu ke alam.
———————————————————————————————————————————————————





























