
Menyaksikan Pacu Jawi atau dalam bahasa Indonesia bernama Balapan Sapi ini, memang pengalaman yang luar biasa dan sangat mengesankan. Untuk pertama kalinya
saya melihat balapan sapi khas Minangkabau ini.
2017, saya bersama rombongan peserta Sosialasiasi Branding Pesona Indonesia Kementrian
Pariwisata mengadakan filed trip melihat pertunjukan Pacu Jawi di Sawah Si Ujang, Jorong
Ruah XX, Nagari Labuan, Kecamatan Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra
Barat.
Ratusan Tahun

terik. Meski tengah hari, tapi suasannya tidak panas menyengat. Antara mendung
dan cerah. Bus yang saya tumpangi sudah tiba di persimpangan menuju lokasi pentas.
dan rombongan turun, kemudian kami berjalan melewati perkampuangan penduduk
setempat, masuk ke area persawahan hingga tiba di arena Pacu Jawi.
nagari berupa balapan sapi yang diadakan
selepas panen padi. Kabarnya atraksi ini telah ada sebelum zaman penjajahan dan
masih di era kerajaan Pagaruyuang. Meski belum ada catatan sejarah Pacu Jawi yang
mengulasnya lebih detail mengenai hal ini.
area persawahan yang berair dan penuh dengan lumpur sebagai arena
pertunjukannya.
berkembang di Kabupaten Tanah Datar dan menjadi iven parwisata yang menjadi
daya tarik masyarakat dunia.
atraksi Pacu Jawi ini, hanya terdapat pada empat kecamatan yang meliputi
Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan
Sungai Tarab.
setahun. Semenjak menjadi iven pariwisata, aktraksi Pacu Jawi terus
diadakan setiap akhir pekan sebanyak empat kali berturut-turut dalam sebulan. Pelaksanaannya selalu ada sepanjang tahun dengan lokasi yang berbeda-beda di empat kecamatan tersebut.
waktu yang tepat untuk menyaksikannya usai salat Zuhur. Kabarnya, dalam satu
pertunjukan, jumlah sapi yang berpacu bisa mencapai 500 hingga 800 ekor.

Pacu Jawi ini. seluruh arena pertunjukannya sudah disesaki oleh masyarakat.
Penontonnya berbaris rapi.
modern. Mengapa? Para penonton yang didominasi oleh orang dewasa ini
mengugunakan topi-topi yang kesannya jadul serta raut mukanya nampak
kedaerahannya. Seakan membawa saya ke dalam masa penjajahan tempo dulunya.
talempong silih berganti terdengar. Begitu juga suara gendang yang dipukul
turus menyemarkan atraksi Pacu Jawi.
berpagar perbukitan dan terlihat Gunung Marapi yang menjulang mejadi
harmonisasi yang indah antara alam dan kehidupan manusia.
penampilan kesenian Minangkabau berupa tari piring yang dibawakan oleh
anak-anak nagari. Kerennya terdapat anak kecil yang sudah lincah menari-nari.
bisa diungkapkan ketika menyaksikan Pacu Jawi ini. Saya berdiri diposisi finish
yang merupakan posisi untuk para fotografer.
mudahnya para sapi yang berlari-lari ke arah saya. Cipratan lumpur menggumpal
dan bertebarangan ke segala arah menjadi atraksi yang menarik. Begitu juga
teriakan si joki dan tawa pengunjung yang turut memeriahkan pelaksanaan tradisi
ini.
yang dipasangkan bingkai bajak sawah. Kemudian dipacu oleh seorang joki dengan
berpijak di kedua ujung bingkai bajaknya.
mengigit ekor sapi dengan sekuat tenaga. Harapanya agar kedua sapinya dapat berlari kencang. Setelah itu, sang joki akan memegang ekornya untuk menuntun laju kedua sapinya hingga mencapai titik finish yang telah ditentukan.
hingga selesai, ada pula baru mulia sudah belok, dan ada juga keluar jalur. Sesekali ada
pula sapi yang menuju saya.
diseruduknya atau setidaknya terkena cipratan lumpurnya. Untuk mengatasi hal tersebut
lintasan pacu lebih rendah posisinya dari para penonton dan dipagar
sebagai bentuk proteksi untuk mengurangi risiko kecelakaan pada pengunjung.
Filosofis Kehidupan

perjalanannya berkembang menjadi olahraga. Hal ini sebagai bentuk aktualisasi
nilai-nilai warisan budaya yang telah hadir di tengah-tengah masyakarkat.
masyarakat usai panen padi serta untuk mengisi waktu luang menjelang masa
penanaman padi berikutnya.

pasangan lawannya, tapi hanya dibiarkan saja lepas melaju lurus hingga sampai
finish. Hal ini agar menghindari unsur perjudian dengan adanya taruhan antar
pemilik sapi.
sehari-hari agar selalu pada jalan yang lurus. Artinya berada pada ketentuan
Tuhan.
digambarkan harus saling berjalan bersama. Oleh karena itu, sapi yang dipakai
untuk atraksi Pacu Jawi ada dua ekor.
atraksi Pacu Jawi menjadi ajang unjuk gigi kelihaian para joki dan kekuatan
sapi. Bila sapi yang terbaik, biasanya secara otomatis akan menaikan harga
jaulnya sehingga dapat berdampak untuk meningkatkan perekonomian pemilik sapi.
memberikan income tambahan bagi perekomomian masyarakat yang menjadi
lokasi pertunjukan, seperti munculnya pedagang dadakan. Ada yang menjual
minuman, makanan hingga kue-kue tradisional. Bagi saya atraksi Pacu Jawi ini
unik dan mengesankan.
Pacu Jawi Beda dengan Karapan Sapi

Jawi ini hanya berlangsung di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten
Limapuluhkota. Sekilas atraksi ini mirip dengan Karapan Sapi di Madura, tapi
nyatanya sangat berbeda.
Jawi diselenggarakan di hamparan sawah yang berteras-teras dan arena pacu yang
berupa petak sawah berlumpur. Posisi penonton berdiri di petak sawah
yang lebih tinggi dari arena pacu.
dilombakan dengan pasangan lawan untuk menentukan pemenangnya dan mendapatkan
hadiah.
batang kayu dan disusun serta dikaitkan ke dua sapi tersebut agar dapat berlari
kencang. Joki pun menggunakan cambuk berduri untuk memulainya.
dan mempertahankan kegiatan Pacu Jawi ini sesuai tradisi dan kebiasaan
masyarakat.
mengemas acara ini menjadi lebih baik sehingga bisa dipromosikan dan dijual
kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara. Seperti ditulis dalam situs pacujawi.com.
kecamatan hingga nagari. Melalui PORWI inilah yang mengkoordinir jadwal
pelaksanaan secara bergiliran.
Foto Atraksi Pacu Jawi

memikat perhatian pengunjung. Bukan sekedar tradisi yang rutin digelar, tapi menjadi telah pesta rakyat yang ditunggu-tunggu. Pacu Jawi
tidak akan lengkap bila hanya menontonnya saja tanpa diabadikan.
antusias ketika melihat atraksi Pacu Jawi ini. Betapa tidak, mereka dituntut
untuk bisa memotret tiap rangkaian Pacu Jawi ini sehingga menghasilkan karya
yang mengesankan.
potretnya agar memperoleh ekspresi yang humanis. Terpenting dari aktraksi Pacu
Jawi ini secara tidak langsung menguji kemampuan para fotografer dalam
mengambil komposisi gambar yang bernilai estetik.

atraksi Pacu Jawi ini telah mengantarkan para fotografer keren belahan dunia
untuk merahi prestasi dalam berbagai kompetisi foto baik tingkat nasinal dan
internasional.
lomba dari hasil jepretan Atraksi Pacu Jawi ini. Luar biasa bukan? Membawa berkah.
mengabadikan moment aktraksi Pacu Jawi ini. Saya mengambil posisi di lintasan
finish bersama pak EJK dan rombongan lainnya.
yang bagus itu tidak mudah, harus tahu kondisi lingkungan sekitar, cuaca, dan
tentu peralatan pedukung serta setting kameranya.
atraksi Pacu Jawi, tiba-tiba salah satu rombongan mengingatkan kami untuk
kembali ke bus.
menuju Kota Padang. Kata Pak EJK, ibarat sedang asik main bersama teman,
kemudian orang tua memanggil. Begitulah rasanya hehe
- Menuju lokasi tidak sulit, meski berada di dalam perkampungan warga. Dari Kota Padang menuju Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar sekitar 102 km dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit berkendara. Jika dari Bandara Internasional Minangkabau sekitar 80 km dalam waktu 2 jam.
- Transportasi yang digunakan bisa motor, mobil dan bus pariwisata.
- Waktu yang paling baik untuk menyaksikan atraksi Pacu Jawi usai salat Zuhur.
- Selalu menggunakan topi, jaket dan pakaian yang tidak menyerap panas dan nyaman, karena berada di tanah lapang yang langsung terpapar sinar matahari. Kemungkinan akan terkena cipratan lumpur, jangan lupa bawa pakaian ganti.
- Sesampainya lokasi disarankan menggunakan sendal jepit atau sendal untuk berpetualang sebab akan berada di lingkungan yang berlumpur dan becek.
- Bagi yang ingin memotret jangan lupa membawa pelindung lensa agar aman dari cipratan lumpur.
- Jangan lupa bawa makanan ringan dan air mineral selama menyaksikan atraksi Pacu Jawi atau bisa juga membelinya di lokasi sebab banyak pedagang yang menyediakannya. Nanti buang sampah pada tempatnya ya.
- Selalu cari tahu informasi jadwal atraksi Pacu Jawi di situs resmi pacujawi.com atau sosial media di Sumatra Barat.
the spirit of Minangkabau.
Bayu Haryanto – biasa disapa Ubay. Penikmat senja yang bermimpi untuk explore Indonesia dengan tagline #JelajahNagariAwak. Pemotret yang suka dipotret. Perngkai kata dalam blog kidalnarsis.blogspot.co.id. Jejaring sosial Twitter @beyubay dan Instagram @beyubaystory.






































