“Lompatan-lompatan di dunia saat ini begitu cepat. Dari foto blogger
kemudian video blogger. Sebuah video bisa menjadi viral yang luar
biasa” – M. Isa Ismal, GM Aston Rasuna –
Sabtu, 21 Januari 2017, bertempat di The Bridge – Aston Rasuna diadakan
workshop Short Travel Videography 2.0. Acara ini merupakan lanjutan dari
workshop Short Travel Videography 1.0. Bapak M. Isa Ismail selaku GM
Aston Rasuna membuka acara dengan memberikan sambutan yang singkat
kepada seluruh peserta yang hadir.
[Silakan baca:
Workshop Short Travel Videography 1.0]
Sesi berikutnya adalah tentang
Tip & Trik Videography Smartphone oleh kang Dudi Iskandar.
Aktif di komunitas Tukang Foto serta mengelola web Jakarta Hitam Putih
(www.jakartahitamputih.com). Berbagai tulisan serta foto kang Dudi juga
bisa Sahabat KeNai lihat di www.kangdudi.com.
Video telah digeluti kang Dudi dalam 1 tahun terakhir. Sebelumnya lebih
fokus pada photography. Smartphone lah yang membuat kang Dudi jadi
tertarik videography. Proses membuat video dari mulai syuting, editing,
hingga sharing menjadi lebih praktis dan singkat bila menggunakan
smartphone.
Saat ini semua orang menggunakan smartphone. Bahkan banyak orang yang
sudah menganggap smartphone adalah kebutuhan primer. Gak bawa smartphone
bisa bikin mati gaya. Smartphone zaman sekarang banyak yang sudah jauh
lebih bagus kualitasnya. Gambar dengan kualitas full HD serta suara
stereo pada smartphone sudah sangat cukup untuk membuat vlog.
“Di era smartphone membuat video menjadi lebih mudah. Bahkan dalam
hitungan jam, hasil reportase sebuah acara sudah bisa diupload ke
YouTube,” ujar kang Dudi.
Membuat video biasanya ada timnya. Misalnya camera person, tugasnya
mengambil gambar saja. Tapi untuk vlogger, semuanya bisa dilakukan
sendiri asalkan memiliki 4 Kemampuan Dasar, yaitu
- Shooting
- Editing
- Membuat naskah
- Menyebarkan hasil video
Secanggih apapun smartphone yang dimiliki tetap ada kelemahannya bila
dibandingkan menggunakan mirrorless atau dslr. Ada baiknya Sahabat KeNai
mengetahui juga kekurangan membuat video menggunakan smartphone,
yaitu
-
Sensornya kecil sehingga kualitas gambar belum sebagus dslr atau
mirrorless. Tapi sensor yang ada sekarang pun lebih dari cukup -
Tidak bisa bokeh. Pernah lihat video yang gambar bagian depan
ngeblur lalu bagian belakang jelas atau sebaliknya? Kalau
menggunakan smartphone belum bisa seperti itu - Tidak ada diafragma
- Noise pencahayaan terutama bila pencahayaan kurang
Kang Dudi mengatakan walaupun ada kekurangannya tetapi smartphone zaman
sekarang tetap lebih dari cukup kualitasnya untuk membuat video. Agar
hasil lebih maksimal berbagai alat di bawah ini dapat digunakan untuk
membuat smartphone video, antara lain:
-
Smartphone – untuk proses syuting, editing, dan share. Bisa
menggunakan iPhone atau Android - Tripod – kalau untuk smartphone bisa menggunakan tripod kecil
-
Steadicam – alat bantu saat syuting agar gambar yang dihasilkan
stabil -
Tongsis – tidak hanya berfungsi untuk selfie tapi juga bisa membuat
gambar saat syut lebih stabil -
Lampu LED – Kelemahan smartphone adalah pencahayaan. Ketika
pencahayaan berkurang maka resolusi pun berkurang. Penggunaan lampu
LED bisa membantu. Lampu LED juga memungkinkan kita untuk mengatur
dari mana arah cahaya datang. - External microphone
Kecuali smartphone, Sahabat KeNai tidak perlu menunggu memiliki semua
peralatannya dulu baru mulai membuat video. Tetapi berbagai alat bantu
tersebut memang bisa membuat hasil video semakin maksimal.
“Yang perlu diperhatikan saat membuat vlog hanya 2, yaitu gambar
steady dan suara clear,” ujar kang Dudi.
Sahabat KeNai pernah melihat video di YouTube yang gambarnya
goyang-goyang sehingga menontonnya jadi pusing? Atau paling tidak
bandingkan dengan gambar yang lebih stabil. Pasti lebih nyaman menonton
video yang tayangan lebih stabil.
Begitu juga dengan suara. Pernah lihat juga kan video yang suaranya gak
jelas padahal ada tanyangan orang lagi ngomong? Untuk itulah perlu
bantuan beberapa alat tadi agar video bisa lebih steady gambarnya
dan suara yang dihasilkan lebih clear.
Shooting
Nah, salah satu keuntungan ikut workshop ini adalah kang Dudi
memberikan beberapa tip dan trik terutama tentang
shooting memaksimalkan video yang kita buat meskipun peralatan
masih terbatas.
Cut to Cut
Bila Sahabat KeNai belum memiliki steadicam atau stabilizer,
maka sebaiknya jangan mengambil gambar secara long shot.
Mengambil gambar long shot sambil berjalan tanpa menggunakan
stabilizer membuat gambar lebih goyang.
Lebih baik mengambil gambar dengan cut to cut. Caranya diam di
satu tempat dan ambil gambar dangan durasi 5-10 detik. Bisa take
beberapa kali kalau belum puas. Kemudian pindah lagi ke tempat lain
untuk mengambil dari angle yang berbeda dengan durasi sama,
sekitar 5-10 detik. Tahan napas saat mengambil gambar biar hasilnya
gak goyang. Gak perlu khawatir, narik napasnya gak lama, kok. Cuma
5-10 detik aja per take. Cara cut to cut bisa meminimalkan
resiko gambar bergoyang.
Durasi
Durasi 5-10 detik juga dirasa cukup. Biasanya mata manusia mulai
lelah setelah dalam 1 frame gambar belum berubah lebih dari 3 detik.
Apalagi kalau gambar yang ditampilkan kurang menarik, membuat penonton
mudah bosan. Durasi pengambilan gambar hingga 10 detik tujuannya untuk
memberi kita keleluasaan bila ingin cut hasilnya.
Jangan lupa untuk selalu mengecek hasilnya agar bisa melakukan
shot ulang bila dirasa kurang memuaskan. Jangan sampai seluruh
hasil video tidak dipakai karena gambarnya goyang semua. Ya kecuali
kalau Sahabat KeNai sudah menggunakan gimbal stabilizer. Hasilnya
sudah pasti steady *Duh! makin mupeng ajah saya ma stabilizer* *Semoga
bisa punya alatnya. Aamiin*
Durasi shot 5-10 detik tidak berlaku ketika melakukan wawancara.
Boleh lebih dari 10 detik, tetapi arahkan agar narasumber bicara
to the point. Supaya bahasannya gak melebar. Kepanjangan hasil
wawancara juga bikin pembaca bosan.
Tripod atau Monopod
Beberapa fungsi Tripod atau Monopod, yaitu
- Gambar yang dihasilkan lebih stabil
-
Untuk zoom in dan zoom out. Jangan gunakan fitur zoom in/out di
smartphone karena resolusi jadi berkurang sehingga gambar bisa
pecah. Lebih baik dekatkan atau jauhkan kamera ke objek. Cara lain
adalah dengan croping gambar menggunakan aplikasi. Cara croping
ini tidak membuat gambar menjadi pecah. -
Membantu mengambil gambar dari berbagai angle (sudut)
termasuk high dan low angle - Untuk membuat time lapse
5 Cara Shoot
- Close up wajah – menangkap ekspresi objek
-
Close up aktivitas – menangkap aktivitas objek, misalnya ketika
sedang memasak, bernyanyi, dan lain sebagainya -
Wide shot – mengambil gambar objek secara keseluruhan dalam 1
frame - Side shot – mengambil gambar objek dari samping
- Over the Shoulder -mengambil gambar objek dari atas bahu
Kelima cara tersebut bisa divariasikan. Sesuaikan dengan kreativitas
masing-masing. Seperti apa video tersebut ingin dihasilkan.
Tips & Trik
-
Kenali fitur kamera. Kamera dari setiap brand memiliki fitur yang
berbeda. Fitur kamera di brand A, belum tentu ada di brand B.
Kenali setiap fitur yang ada di kamera kemudian maksimalkan
penggunaannya.“Semahal apapun alat yang dimiliki tidak akan maksimal bila
penggunanya tidak menguasai” -
Pilih resolusi maksimal. Sesuaikan dengan kebutuhan atau gadget.
Untuk upload di YouTube minimal resolusi HD. Adakalanya aplikasi
tidak support smartphone yang dimiliki. Misalnya smartphone kita
sudah bisa full HD tetapi aplikasi yang biasa dipakai ternyata
hanya bisa HD. -
Atur jarak dengan objek terutama dengan narasumber. Seperti
ditulis di awal, kadang ada video yang gak kedengeran suaranya
padahal di gambar terlihat ada narasumber sedang berbicara.
Apabila Sahabat KeNai belum memiliki
external microphone sebaiknya diperhatikan jarak kamera
dengan narasumber supaya suaranya tetap terdengar dan tidak banyak
noise. -
Arah cahaya. Sumber utama foto dan video adalah cahaya.
Perhatikan arah cahaya agar gambar yang dihasilkan optimals.
Apabila cahaya cukup, alat bantu tidak diperlukan. Gambar yang
dihasilkan pun tetap bagus. Tidak banyak noise dan
backlight. Jangan membelakangi datangnya cahaya kecuali
bila ingin membuat siluet. Suasana dan sinar matahari pagi
(sebelum pukul 09.00) atau sore (setelah pukul 15.00) bisa
menghasilkan gambar yang artistik dengan sudut 45 derajat. Selama
hasil gambar tidak terlalu gelap, pencahayaan bisa diadjust
melalui aplikasi.Tidak disarankan menggunakan flash karena hasilnya menjadi
kurang natural. -
Lensa pastikan bersih. Sebelum memotret atau shooting, bersihkan
dulu lensa kamera. Kebersihan lensa kamera bisa mempengaruhi
gambar yang dihasilkan. Apalagi kamera smartphone tidak memiliki
pelindung jadi wajib memperhatikan kebersihan lensa -
Variasikan angle. Jangan hanya mengambil gambar dari satu
angle saja. Pastikan memory di smartphone cukup agar bisa
mengambil banyak variasi gambar. Minimal ada space memory sekitar
4GB di smartphone. -
Olah dengan aplikasi. Apabila merasa hasil syut masih ada
kekurangan bisa coba dioleh menggunakan aplikasi untuk
meminimalisir atau memperbaiki kekurangan tersebut.
Rule of Thirds

Bagi yang suka memotret, rule of thirds tentu bukan hal asing. Di
video pun juga ada rule of thirds. Menurut penelitian, fokus pertama
seseorang (41%) ketika melihat gambar adalah di kiri atas. Jadi,
ketika kita mengambil gambar objek dengan pemandangan sebaiknya objek
tersebut berada sebelah kanan atau kiri.
Bisa juga mengambil gambar secara diagonal. Objek ditempatkan di
sebelah kiri atau kanan. Tidak disarankan menempatkan objek di tengah
karena terlihat kurang menarik. Bisa juga diagonal dari sebelah kiri
atau kanan.
Di video tidak ada fitur grid seperti kamera foto. Jadi dikira-kira
saja gridnya.
Setelah kang Dudi selesai mempresentasikan materi tip & trik
videography, saatnya bagi kami untuk praktek. Seluruh peserta dibagi
menjadi 4 kelompok, yaitu proses check in, house keeping, kitchen, dan
spa. Setiap grup sudah ditentukan flow syutnya.
Saya ditempatkan di grup 1 dengan shot leader mas Teguh Sudarisman.
Tugas grup 1 adalah mensyut proses check in hingga tamu (diperankan
oleh model, yaitu mbak Marcellina Sutanto) diantar ke kamar. Flow syut
grup 1 adalah sebagai berikut:
-
Tamu membawa koper dan tas jinjing (clutch bag) disambut bellboy
(porter) di luar lobi setelah melewati security check. Porter
membawakan koper si tamu. - Staf Aston membukakan pintu menyambut tamu
-
Tamu menuju resepsionis untuk check in. Resepsionis menanyakan
nama tamu dan meminta tanda pengenal/KTP -
Staf resepsionis menyerahkan form yang mesti ditandatangani
tamu, mengembalikan KTP, dan menyerahkan kunci kamar sambil
menjelaskan ttg kupon breakfast dan wifi - Porter memandu tamu ke lift sambil membawakan koper
-
Di dalan lift, tamu mengamati pergerakan angka lantai
hotel (opsional) -
Porter membukakan pintu kamar tamu, menaruh koper,
membuka korden ruang tamu, menjelaskan ttg fasilitas
kamar -
Porter menanyakan apakah masih ada yg kurang jelas? Kalau tidak
ada, porter minta pamit. -
Tamu menyibak korden di ruang tidur, melihat pemandangan di luar,
lalu merebahkan diri di tempat tidur. Selesai.
Flow syut yang sudah ditentukan di awal ini sangat membantu saya
untuk membayangkan seperti apa sebuah video akan bercerita. Selama ini
saya sekadar syut saja. Ceritanya gimana nanti saat editing. Tenyata
lebih enak menentukan flow syut terlebih dahulu. Keuntungan lain yang
saya rasakan adalah jadi bisa meminimalkan waktu untuk editing karena
sudah terbayang jalan ceritanya.
Prakteknya kami menjalankan flow syut ini tidak kaku tapi
menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Seperti spontan terlontar ide
dari salah seorang peserta untuk mensyut mobil yang dipakai mengantar
tamu. Kemudian syut juga saat tamu keluar dari mobil.
Saya tidak memasukkan salah satu flow syut nomor 9 yaitu saat tamu
merebahkan diri. Gambar yang saya syut untuk adegan itu kurang
memuaskan. Hasilnya gelap. Flow syut nomor 6 malah saya tidak ambil
sama sekali. Kalau syut di lift sepertinya bakal ‘bocor’ karena
terlihat banyak peserta yang sedang merekam (dinding lift kaca semua).
Begitu juga ketika diminta memasukkan suara saat tamu sedang
dijelaskan oleh staf resepsionis atau oleh porter. Suara yang
dihasilkan oleh smartphone saya kurang jelas. Alhasil saya memilih
back sound full music saja di videonya. *Lain kali saya harus bawa
external microphone*
Editing
Aplikasi
Setelah selesai syuting, kami kembali ke ruangan workshop untuk
melakukan editing. Ada berbagai pilihan aplikasi editing yang bisa Sahabat KeNai
gunakan, misalkan
- Power Director
- Kinemaster
- Quick
- Legend
- Dan lain sebagainya
Untuk sesi editing, giliran mas Teguh yang presentasi. Sambil
mendengarkan presentasi, kami melakukan editing. Sejak ikut workshop
Short Travel Videography 1.0, mas Teguh selalu menyarankan untuk
menggunakan aplikasi Power Director terutama yang pro. Saya pun
mengikuti saran mas Teguh instal Power Director Pro serta 2 aplikasi
lain yaitu Legend dan Quick. Aplikasi Legend dan Quick bisa dipakai
untuk membuat Judul video atau tulisan lainnya. Saya menggunakan
aplikasi untuk judul video.
Fitur editing di video tidak sekompleks photo. Tapi pengaturan
brightness, crop, dan pengaturan standar lainnya tetap ada.
Hati-hati ketika memasukkan musik sebagai back sound. Jangan sampai
video yang kita buat dianggap melanggar hak cipta karena musiknya.
Untuk amannya, cari saja musik dari website yang memberikan berbagai
jenis musik yang free license. Sahabat KeNai bisa cari di
www.musicarchieve.org, www.bensound.com, atau di website lain. Di
YouTube juga biasanya ada pilihan musik yang bebas digunakan.
Mengapa Pilih yang Pro?
Pastinya kalau sudah pakai yang pro tidak ada lagi watermark. Yang
saya rasakan kalau melihat foto ada watermark, apalagi kalau gede,
pandangan kita agak terganggu. Jadi melihat ke watermark. Mas Teguh
juga mengatakan kalau Power Director sudah bisa menghasilkan video
kualitas 4K.
Seperti kata pepatah, ala bisa karena biasa. Selain Power Director,
saya sudah mencoba berbagai aplikasi movie editor lain seperti Filmora
dan Viva. Bagi saya apapun aplikasinya harus terus dicoba sampai bisa.
Awalnya mungkin bingung tapi kalau gak terus dicoba, gak akan
bisa.
Kalaupun pilihan saya membeli Power Director Pro karena sudah 2 kali
ikut workshop mas Teguh Sudarisman dan selalu direkomendasikan
aplikasi ini. Saya pikir kenapa juga gak saya ikuti? Harga aplikasinya
juga murah, kok. Cuma IDR79K++ (walaupun ++ tetep gak sampe IDR100K,
lah). Ternyata saya mulai terbiasa dengan aplikasi ini. Apalagi
tampilan Power Director di smartphone dan laptop tetap sama. Cocok deh
buat saya yang kadang suka gak mau repot. Kalau tampilannya sama gak
perlu belajar 2x lagi.
Membuat Naskah
Sama halnya seperti menulis di blog, ketika membuat vlog pun
sebaiknya ada naskah agar video lebih bercerita. Unsur 5W + 1H tetap
diperlukan.
- Deskripsi no, penjelasan yes
- Lugas, tepat, dan tidak berarti ganda
- Hindari formalitas
- Gunakan kalimat aktif
- KISS (Keep It Short & Simple)
- Pilih struktur kalimat sederhana
- Satu kalimat maksimum 20 kata
- Hindari rujukan waktu dan tempat terlalu detil
Dalam pembuatan video, deskripsi sudah terlihat digambar. Sehingga
tidak perlu dideskripsikan lagi. Beri penjelasan secukupnya, terutama
untuk hal-hal yang tidak terdeskripsikan di gambar. Rujukan waktu dan
tempat. Cara ini bisa menghemat durasi juga.
Penonton vlog tidak sedang menonton sesuatu yang formal seperti
menonton acara berita di tv. Jadi sesuaikan saja dengan bahasa
keseharian yang sederhana dan mudah dipahami.
Share
Setelah video selesai dibuat, Sahabat KeNai bisa mengupload hasilnya
di YouTube. Untuk workshop kali ini saya menggunakan smartphone Lenovo
P70. Editing menggunakan aplikasi Power Director Pro dan Legend. Alat
bantu yang saya gunakan hanya tongsis. Silakan Sahabat KeNai lihat
video karya saya di bawah ini. Sekalian subscribe tentu saya bakal
lebih senang.
Video dan foto lain tentang kegiatan workshop Short Travel
Videography ini juga bisa Sahabat KeNai lihat di fanpage Rasuna
Creative Center. Digagas oleh 5 orang, Rasuna Creative Creative Center
dibuat untuk mengembangkan berbagai ide kreatif baik di seputar
ataupun di luar kawasan Aston Rasuna. Untuk tahun ini sudah ada 2
workshop yang diselenggarakan. Pertama tentang food photography dan
kedua tentang travel videography.
Sahabat KeNai like aja fanpage Rasuna Creative Center untuk
mendapatkan berbagai info aktivitas terbaru. Siapa tahu kapan-kapan
bisa ikutan. Kalau kata saya sih gak rugi. Malah banyak manfaatnya.
Dilike sekarang juga, ya!





























