
ada sebuah tradisi unik yang masih berjalan hingga saat ini hlo. Tradisi unik
tersebut tak lain berada di Desa Trunyan yang mana meletakkan jenazah pada alam
terbuka. Nah, jika kebetulan pembaca di Bali atau baru akan merencanakan
berlibur disini jangan sampai lupa untuk mengunjungi Desa Trunya ini ya.
Kamu akan mengerti lebih detail akan daya tarik yang paling berbeda bila
dibandingkan obyek wisata lain disekitarnya. Dari cerita yang didapatkan, yang
membuat mayat-mayat disini tidak berbau busuk adalah pohon “Taru Menyan”, Taru
artinya Pohon dan menyan Artinya wangi.
menetraisis bau busuk yang disebabkan oleh mayat. Melangkah lebih jauh, pembaca
akan melihat jejeran tengkorak manusia lengkap dengan tulang-tulang lainnya. Saking
banyaknya, dari beberapa pengunjungnya bahkan mungkin tidak sadar bahwa yang diinjak
adalah sisa-sisa tulang dari mayat yang dimakamkan.
Jika sedang beruntung, dapat melihatsecara langsung mayat yang masih utuh. Untuk menghindari mayat agar tidak dirusak
binatang buas, mayat yang baru dimakamkan akan diberi penghalang dari ulatan
bambu yang dibentuk seperti segitiga. Wisata kali ini lebih condong kepada
wisata misteri atau musium tulang, yang mana tengkorak beserta tulang belulang
manusia berjejer rapi.
di bawah pohon taru Menyan di alam terbuka atau “mepasah”. Asalkan pembaca
tahu, tidak semua mayat dapat dimakamkan disini hlo. Hanya mayat orang-orang
yang meninggal secara wajar yang dimakamkan disini. Pemakaman “mepasah” dapat
dilakukan jika waktu meninggal telah
berumah tangga, masih bujangan dan anak-anak ( gigi susunya telah tanggal ).
orang yang meninggal karena kecelakaan, setelah meninggal cacat tubuhnya,
penyakitan ( cacar, lepra dll ), dibunuh maupun bunuh diri dan meninggal yang
terbilang tak wajar lainnya akan dimakamkan di tempat yang bernama “Seme Cerik”.
Menurut mitos dari masyarakat yang beredar hingga kini, ketika orang yang
semasa hidupnya selalu berbuat dosa maka mayatnya akan lama mengalami
pembusuakan.
Desa Trunyan
Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum sehingga membuat Ratu Gede
Pancering Jagat menyambangi sumber bau tersebut. Kemudian Ratu Gede Pancering Jagat
bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon cemara landung. Singkat
cerita, dilokasi itulah mereka melaksanakan upacara perkawinan yang disaksikan
oleh penduduk disaat sedang berburu.
Sebelum melakukan ritualpernikahan, Ratu Gede Pancering Jagat mengajak beberapa orang desa cemara
landung guna mendirikan sebuah desa bernama “Taru Menyan”, berjalannya waktu
dan lama kelamaan sebutan Taru Menyan berubah menjadi “Trunyan”. Karena desa
Trunyan memiliki tradisi yang menarik, menjadikanya sebuah Desa Bali Aga yang terkenal
dan sebagai salah satu tujuan wisata unik di Pulau Bali.
sebelah barat Danau Batur Kintamani,
untuk menuju ke Desa Trunyan ada 2 jalur. Jalur pertama bisa menggunakan jalur
darat dan yang kedua adalah jalur air yakni melewati danau. Jalur darat akan
membutuhkan waktu perjalanan sekitarnya 45 menit sampai 1 jam dengan melewati
Desa Penelokan.
2 cara penyebrangan yang mana lewat Desa Trunyan sendiri dengan waktu perjalanan
sekitar 15-20 menit atau bisa juga lewat pelabuhan kedisan yang akan memakan
waktu sekitar 45 menit. Ketika sudah masuk ke dalam kawasan wisata ini, pembaca
akan disambut oleh 2 candi yang dipenuhi tengkorak.
yang memiliki jiwa pemberani ya !!! Namun bagi pembaca yang penasaran, tidak
usah takut untuk mengunjunginya. Karena banyak sekali pemandu wisata yang mana
dapat kamu sewa pada saat penyeberangan. Selamat berlibur Guys !!!
13 Makanan Tradisional Khas Bali Yang Masih Eksis Sampai Sekarang
21 Oleh-Oleh Khas Bali Yang Enak, Tahan Lama Dan Mudah Di Dapat
20 Wisata Kuliner Terkenal Di Bali Yang Enak Dan Murah
42 Tempat Wisata Di Bali Yang Wajib Kamu Eksplor & Ketahui
Daftar Pantai Di Pulau Bali Yang Bisa Kamu Kunjungi







































