
berwisata ke Bali tidak mengeksplor
obyek wisata pantainya, karena pantai merupakan destinasi wisata yang sangat
identik di daerah ini. Meskipun begitu obyek wisata lainnya juga tak boleh Anda
acuhkan begitu saja hlo Sob. Pulau Bali sangat kental dengan adat budayanya
yang masih di lestarikan hingga saat ini.
mencari informasi mengenai obyek wisata di Bali yang tentunya unik dan menarik
untuk di tonton. Jika Anda seorang yang menyukai berpetualang dengan selalu
menginginkan suasana maupun pengalaman baru, coba deh melihat seni budaya
upacara Mengkotek di Desa Munggu, Kabupaten Badung ini.
tradisi ini cukup membuat hati was-was siapa saja yang melihatnya. Bayangkan
saja, tadisi ini adalah sebuah peperangan mengggunakan sebuah tongkat.
Bagaimana sudah penasaran ? oke dilajut lagi penjelasan tentang Upacara
Mengkotek ini. Tepatnya pada Hari Suci Kuningan warga Desa Munggu rutin mengadakan
ritual “Mekotek” didalam upacara “Ngerebeg”.
Upacara Mekotek merupakan bagiandari Upacara Dewa Yadnya yang dilaksanakan dikawasan Pura Kahyangan Tiga, yang mana
warga Desa Munggu menyiapkan sarana upacara seperti senjata suci yang akan
digunakan pada saat upacara. Sejalannya dengan acara tersebut, nantinya akan
dibarengi oleh gamelan serta masyarakat dengan melibatkan seluruh pria dari
usia 13-60.
mengenakan busana adat Bali ( udeng ikat kepala khas Bali, sarung poleng
kotak-kotak hitam putih) beserta membawa tongkat sepanjang 3,5 sampai 4 meter. Tradisi “Mekotek” merupakan sebuah tradisi
yang dipercaya bisa menjauhkan diri dari balak atau bencana. Tradisi ini sudah
dilakukan secara turun temurun dan merupakan warisan dari nenek moyang mereka.
secara berkesinambungan setiap 210 hari sekali saat hari Suci Kuningan. Kegiatan
tradisi ini sekaligus memperingati kemenangan Kerajaan Mengwi disaat perang
melawan kerajaan Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi yang mana dinamai
dengan sebutan “Mengkotek” karena berawal dari suara tongkat yang saling
bersentuhan dengan lainnya pada saat
disatukan menjadi bentuk kerucut menyudut ke atas.
warga tidak diperbolehkan ikut dalam “Mekotek” tatkala salah seorang
anggota keluarganya meninggal atau istrinya yang baru saja melahirkan. Dalam proses
permainannya, ratusan tongkat yang masing-masing dipegang oleh peserta perang
digabungkan dan terbentuk kerucut.
Setelah itu mereka bagi menjadibeberapa kelompok, yang mana tiap kelompok terdiri dari 50 orang. Sejumlah kelompok
ini akan jalan bersama-sama sambil membawa tombak, dan di tiap pertigaan akan
berhenti dan menyatukan ujung tombak sampai membentuk seperti kerucut. Dua atau
tiga pemuda akan memanjat kerucut tombak itu.
yang merasa tertantang diperbolehkan menaiki gabungan tongkat yang membentuk
kerucut tersebut dengan posisi berdiri diujungnya. Selain itu peserta lainnya
juga dengan cara yang sama, kedua kelompok upacara “mekotek” tersebut
dipertemukan untuk ditabrakkan dengan kerucut tombak kelompok lainnya.
puncak kerucut tombak harus berusaha keras untuk tetap menjaga keseimbangan dan
diantara dari mereka tidak berhasil dan terjatuh. Tetapi, bukan berarti yang
terjatuh kemudian dianggap kalah. Dalam upacara ini tidak ada menang maupun
kalah, semua peserta bersenang-senang bertawa ria dan saling menolong jika ada
yang terjatuh.
dikatakan cukup berbahaya, namun tradisi mengkotek dinilai sangat menyenangkan.
Seni pertunjukan Bali dalam perkembangannya menjadi bagian ritus sosial,
ekonomi dan estetik, disamping tetap untuk
seni persembahan, melengkapi kegiatan ritual di berbagai tempat suci
yang digelar masyarakat setempat.
benda-benda pura yang dianggap sakral juga dibawa berpawai. Seluruh peserta
Upacara Mekotek mengiringi benda-benda tersebut hingga ke lokasi sumber air. Setelah sampai ditempat, benda-benda
sakral tersebut akan dicuci sedemikian rupa.
dilaksanakan guna menyambut prajurit dari medan peperangan saat Kerajaan Mengwi
pada waktu memenangkan perang melawan kerajaan Blambangan di Pulau Jawa. Tradisi
Mekotek ini sempat di hentikan oleh Belanda pada tahun 1915, yang di anggap
membawa petaka bagi Belanda dan dapat terjadinya pemberontakan.
menyerang Desa Munggu, tradisi tersebut dilakukan kembali dengan alasan untuk
menolak balak. Selain dinamakan Mekotek, tradisi ini juga di sebut Ngerebek dan
sampai sekarang masih di lestarikan guna kepentingan upacara agama dan
melestarikan seni budaya Bali.
ini menggunakan peralatan berbahan besi yang bertujuan untuk memberi semangat kepada
para prajurit yang akan bertempur ke medan perang. Dengan demikian banyak peserta
Upacara Mengkotek mengalami luka-luka. Dari berjalannya waktu, senjata besi kini
diganti dengan tongkat kayu sepanjang 3,5 hingga 4 meter dengan ujung tumpul.
Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Indonesia.
Baca juga :






































