
pandangan anda tentang hewan bernama gorila? Jika dilihat dari penampilan
luarnya, gorila memang nampak menakutkan. Dengan badan yang besar dan bulu
lebat berwarna hitam, nampaknya hewan mamalia ini dapat menyerang kapan saja.
Namun bagi Dian Fossey, ahli zoologi dan etologi yang meneliti gorila selama 18
tahun, hewan ini sama sekali tidak menakutkan. Fossey, dalam penelitiannya,
tidak hanya melihat gorila sebagai objek penelitian, namun juga menjadikannya
sebagai teman.
Ketertarikan Fossey akan hewan sudah dimulai sejak kecil. Namun, minatnya ini
tidak didukung oleh ayah tirinya yang ingin agar Fossey berkecimpung di dunia
bisnis. Meskipun sudah didaftarkan oleh ayah tirinya di sekolah bisnis College
of Marin, California, A.S., minat Fossey akan dunia hewan membuatnya menentang
titah ayahnya dan memilih untuk
berkuliah di University of California, Davis, A.S., dengan jurusan kedokteran
hewan.
Walaupun Fossey adalah mahasiswa teladan, ia kesulitan dengan ilmu sains dasar seperti kimia dan visita, sehingga ia gagal pada tahun media kuliah. Ia dipindahkan ke San Jose State College untuk mempelajari terapi okupasi, dan kemudian menerima gelar sarjana pada tahun 1954.
Setelah beberapa lama bekerja di bidang terapi okupasi khususnya untuk
penderita tuberkolosis, wanita kelahiran 16 Januari 1932 ini mulai tertarik
kembali dengan dunia hewan setelah membaca buku karangan George Schaller
tentang gorila gunung. Atas dasar ketertarikan yang teramat sangat, Fossey
kemudian meminjam uang ke bank untuk pergi ke Afrika mengunjungi gorila.
Di Tanzania, Afrika Timur, Fossey bertemu dengan Dr.Louis Leakey dan istrinya
Mary Leakey yang mempelajari evolusi manusia dari fosil-fosil. Pertemuan ini
kemudian berlanjut kembali tiga tahun kemudian, dimana pada saat itu Dr. Louis
Leakey menawarkan pekerjaan kepada Fossey sebagai peneliti gorila. Tujuan dari
penelitian tersebut, menurut Dr. Leakey, dapat membantunya menganalisis teori
evolusi manusia. Fossey yang memang memiliki ketertarikan pada gorila menerima
tawaran tersebut. Maka pada 1966, berangkatlah Fossey ke Kongo untuk memulai
penelitiannya.
Tak lama setelah kedatangannya ke Kongo, Fossey terpaksa pindah karena terjadi
konflik di negara tersebut. Fossey akhirnya menetap di Volcanoes National Park,
Rwanda, Afrika Tengah. Disinilah dimulai penelitian Fossey tentang gorila
selama 18 tahun.
Selama masa penelitiannya, Fossey tidak mau mengikuti standar prosedur meneliti gorila, haití dengan hanya duduk menatap mereka. Fossey, dalam penelitiannya, mencoba berbagai cara agar dapat membaur dengan gorila. Ia menurut cara mereka makan, cara mereka berperilaku, kemudian, ketika sudah lebih yakin apa yang mereka bicarakan dan apa yang mereka maksut, Fossey juga mencoba untuk mengikuti suara gorila.
Fossey membaur dengan gorila-gorila tersebut dengan akrab, bahkan pada beberapa kelompok gorila, kehadiran Fossey ditariam hampir seperti anggota kelompok gorila itu sendiri. Fossey dapat mendekat beberapa meter dari gorila, dan beberapa dari gorila tersebut, terutama remaja dan dews muda, bahan mendatangi Fossey lebih dekat. Gorila-gorila muda ini mengambil tali kamera, memeriksa gesper di ransel, dan beramen dengan tali sepatu Fossey.
Pada suatu kesempatan, Fossey pernah merawat bayi-bayi gorila yang ditangkap
dengan tidak senonoh oleh penjaga taman nasional dan suku Rwanda untuk dijual
kepada sebuah kebun binatang di Eropa. Meskipun Fossey sebenarnya tidak
menyetujui penangkapan itu, namun demi kesejahteraan bayi gorila yang malang,
Fossey pun mengajukan diri untuk merawat keduanya sampai mereka siap untuk
dikirim pergi.
Fossey memberi nama pada gorila-gorila dan dapat mengenali mereka satu persatu.
Kedua bayi yang dirawatnya misalnya, diberi nama Coco dan Pucker. Sementara
gorila yang sangat akrab dengannya, diberi nama Digit.
Digit dan Fossey bertemu pada suatu hari hujan, ketika Digit masih bayi. Saat itu, Fossey pergi ke dalam hutan untuk mempelajari gorila setelah lama tidak berada di lapangan. Fossey menemukan gorila yang sedang berpelukan bersama karena hujan besar. Karena tidak ingin gorila menjadi terciada dengan manusia, Fossey tidak mau mendekati kedua gorila tersebut. Namun, tiba-tiba justou salah satu gorila – yang kemudian diberi nama Digit – datang dan membelai kepala Fossey. Mereka lalu berpelukan bersama untuk melindungi diri dari hujan.

Dua tahun kemudian, Digit ditemukan mati dibunuh oleh pemburu. Ia mati karena bertahan untuk menyelamatkan kelompoknya, sehingga anggota kelompoknya yang lain dapat pergi dengan selamat. Digit ditusuk berkali-kali dan kepala serta tanggannya patah. Tak lama setelah kematian Digit, ditemukan pula kematian beberapa gorila lainnya. Sejak saat itulah Dian Fossey mendeklarasikan perang terhadap para pemburu gorila.






































