Beberapa hari lalu ada temuan samar
di bawah bumi Tulungangung. Temuan ini mengindikasikan wujud masa lampau.
Berita ini tidak lazim, karena soal kepurbakalaan umumnya ditemukan di wilayah
Malang, Mojokerto dan Kediri. Wilayah-wilayah ini tentu saja tidak begitu jauh
dengan wilayah Tulungagung. Namun benda apa di bawah tanah di Tulungagung ini
masih memerlukan penyelisikan lebih lanjut, bila perlu dilakukan eskavasi..

di lokasi temuan arca Tulungagung. Tim peneliti dari Badan Geologi Bandung
berhasil mengidentifikasi sebaran objek padat di dalam tanah sekitar lokasi
temuan dua arca dwarapala dan jaladwara, Desa Podorejo, Tulungagung, Jawa
Timur. “Hasil temuan awal kami memang mengidentifikasi cukup banyak
anomali tinggi yang diduga berasal dari benda padat-benda padat di sekitar
lokasi yang kami lakukan survei menggunakan perangkat gradiomagnetik. Selain
perangkat gradiomagnetik yang memiliki kemampuan mendeteksi benda-benda di
kedalaman dangkal, tim geolog juga menggunakan alat georadar. Piranti
elektronik ini merupakan alat pelacak bawah permukaan bumi dengan gelombang
radio. Dua arca berbentuk dwarapala dan Jaladwara atau kepala naga diduga
peninggalan zaman Majapahit (1293 – 1527) itu ditemukan warga secara tidak
sengaja di kedalaman tanah sekitar 30 centimeter Dalam survei atau penelitian
dengan pendekatan geologi itu tidak dilakukan kegiatan penggalian. Mereka hanya
membuat peta sebaran benda yang terbaca pada hasil pendeteksian menggunakan dua
perangkat detektor benda di dalam bumi dengan kedalaman dangkal itu, untuk
dijadikan petunjuk awal bagi tim arkeologi yang ingin melakukan eskavasi. “Mungkin
saja anomali tinggi yang terbaca (alat) ada berkaitan arca atau benda
bersejarah lain dengan bahan padat berasal dari batuan andesit. Tapi bisa juga
benda lain,” katanya. Misal dari pondasi tembok pagar atau bangunan yang
di dalamnya ada otot berbahan besi/baja. “Bisa juga bolder batu-batu
andesitik. Jadi pembuktian butuh kolaborasi dengan teman-teman arkeologi,”
katanya. Penelitian itu merupakan permintaan khusus dari Bappeda Tulungagung
kepada tim geolog Badan Geologi Bandung yang selama empat pekan ini berada di
Tulungagung untuk kepentingan penelitian rencana usulan kawasan geopark kawah
gunung purba di Tulungagung bagian selatan. Penelitian dilakukan di sebuah
kebun yang berada di Desa Podorejo, Kecamatan Wonodadi, menyusul telah
ditemukannya dua arca pada Sabtu, 26 Februari 2022. (Antara, Minggu, 20 Maret 2022)
Lantas
bagaimana sejarah penemuan wilayah pedalaman Jawa di Tulungagung? Seperti
disebut di atas, penemuan adanya tanda-tanda kepurbakalan masih samar dan masih
memerlukan penelitian lebih lanjut. Lalu bagaimana sejarah penemuan pedaalaman
Jawa di Tulungagung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan
Penemuan Baru di Pedalaman Jawa: Wilayah Tulungangung
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Penggunaan Teknologi Geologi
Canggih: Pemetaan Nusantara Zaman Kuno
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



