Dalam
sejarah kuno Nusantara, ada satu terminologi umum yang ditemukan di berbagai
tempay terutama di (pulau) Jawa dan (pulau) Sumatra yakni terminologi pagar.
Pada peta Belanda/VOC lingkungan kraton Jogjakarta dicatat sebagai Pagar
Mataram atau Pager Mataram. Pagar ini merupakan lingkatan/persegi batas yang
membedakan lingkungan kraton dengan bagian luar. Kata pagar juga ditemukan di
daerah hulu sungai Batanghari yakni Pagar Oedjong atau Pagaar Oedjoeng (kini
Pagaruyung). Di daerah hulu sungai Musi juga ditemukan kata pagar sebagai nama
tempat Pagar Alam. Dalam hal ini wilayah daerah hulu aliran sungai Baroemoen
ditemuukan kata pagar untuk menunjukkan nama tempat, salah satu diantaranya
Pagar Oetan (kini Pargarutan).
yang kemudian bahasa Sanskerta di Nusantara berevolusi menjadi bahasa Melayu.
Kata pagar masih ditemukan pada masa ini di dalam kam bahasa Indonesia yang
diartikan sebagai yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat)
pekarangan, tanah, rumah, kebun, dan sebagainya. Kata pagar juga diterapkan
dalam berbagai aspek: pagar adat (ketentuan/peraturan adat; hukum adat; adat
istiadat); pagar ayu (barisan penerima tamu yang terdiri atas wanita-wanita
cantik); pagar betis (penjagaan yang ketat); pagar bulan (lingkungan awan yang
tampak mengelilingi bulan); pagar desa (pembantu penjaga keamanan desa di Jawa
Barat); pagar hidup (pagar dari pohon-pohonan yang rendah); pagar lambung (kubu);
pagar langkan (tembok penutup lorong yang dibangun di sekeliling candi); pagar
negeri (pelindung negeri). Dalam hal ini pengertian lahiriah dari kata pagar
pada masa lampau dan pada masa kini masih bersesuaian.
Lantas
bagaimana sejarah Pargarutan? Seperti disebut di atas, kota Pargarutan adalah
kota masa lampau yang masih eksis hingga ini hari di dekat Kota Padang
Sidempoean. Kota Pargarutan ini di masa lampau dinavigasi dari arah muara
sungai Baroemoen di pantai timur Sumatra hingga ke wilayah hulu yang berbatasan
dengan rimba raya di lereng gunung Loeboe Raja. Lalu apakah kota Pargaroetan
awalnya adalah suatu kraton (bagas gidang) zaman kuno seperti halnya kraton
Mataram dan rumah gadang Pagaruyung? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’
seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pargarutan Kota Kuno Angkola,
Pagar Oetan? Kraton Pagar Mataram hingga Rumah Gadang Pagar Oejoeng
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Pargarutan Era Hindia Belanda:
Antara Kuria Batunadua dan Kuria Baringin
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


