*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Siapa Darmawan Mangoenkoesoemo?
Yang jelas sudah ada entri nama Darmawan Mangoenkoesoemo dalam laman (bahasa
Inggris) Wikipedia. Nama Darmawan Mangoenkoesoemo juga ditemukan pada entri
nama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Iravati Mangunkusumo Sudiarso. Nama Darmawan
Mangoenkoesoemo juga dapat dihubungkan dengan tokoh Indische Vereeniging di
Belanda, Goenawan Mangoenkoesoemo. Dalam hal ini Goenawan Mangoenkoesoemo
bersama Sorip Tagor Harahap dan Dahlan Abdoellah berbicara di dalam Kongres
Mahasiswa Hindia di Belanda tahun 1917 (yang diketuai oleh HJ van Mook).
adalah seorang pianis dan guru musik yang telah berkiprah dalam dunia seni
lebih dari lima puluh tahun. Hingga kini, Iravati masih aktif sebagai Direktur
Utama Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik. Iravati mendirikan “Sudiarso
Duo” pada tahun 1993. Tahun 2008, Sudiarso Duo menjadi duta dalam misi
kebudayaan Indonesia di Eropa Timur. Iravati lahir di Surabaya, 28 September
1937. Ayahnya, Ir. Darmawan Mangoenkoesoemo, adalah mantan Menteri Kemakmuran
Republik Indonesia pada Kabinet Sjahrir (1945-1946) dan merupakan adik dari Dr
Tjipto Mangoenkoesoemo, Iravati terlahir sebagai anak perempuan kedua dalam
keluarganya. Iravati mulai belajar musik pada usia 5 tahun di bawah bimbingan
ibunya sendiri, Hestia Mangunkusumo, yang kemudian dilanjutkan ke Madlener dan
Henk de Strake. Pada tahun 1955, Iravati melanjutkan studi musiknya ke
Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda. Ia berguru pada pianis-komponis
Leon Orthel. Tahun 1958, Iravati lulus dengan penghargaan khusus untuk interpretasi.
Prestasinya yang cemerlang dalam musik membuatnya terpilih mendapatkan beasiswa
Fullbright dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Peabody
Conservatory of Music, Baltimore, Maryland, Amerika Serikat tahun 1962. Tahun
1964, Iravati berhasil menyelesaikan studi Master of Music di Peabody
Conservatory of Music, Baltimore. Setelah memperoleh gelar tersebut, Iravati
kembali ke tanah air. Pada tahun 1968, Iravati terpilih menjadi anggota Dewan
Kesenian Jakarta dan diangkat sebagai Ketua pada tahun 1973-1981 dan 1986-1989.
Ia juga pernah menjadi dosen pada Akademi Musik LPKJ (1973-1976) dan Akademi
Sinematografi LPKJ (1977-1979) (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Darmawan Mangoenkoesoemo? Seperti disebut di atas, Darmawan
Mangoenkoesoemo yang pernah menjadi Menteri Kemakmuran awal era Republik
Indonesia adalah insinyur lulusan Delft, adik dari Dr Tjipto Mangoenkoeoemo dan
ayah dari Iravati
Mangunkusumo. Lalu
bagaimana sejarah Iravati Mangunkusumo? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia Darmawan
Mangoenkoesoemo: Insinyur Lulusan Delft
Pada
tanggal 1 Januari 1917 di Utrecht diumumkan pendirian organisasi anak Sumatra
yang diberinama Sumatra Sepakat. Organisasi ini bagian dari dari Indische
Vereeniging. Pengurus Sumatra Sepakat adalah Sorip Tagor Harahap (ketua),
Dahlan Abdoellah (sekretaris), s Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia
(bendahara). Sebagai komisaris antara lain Tan Malaka.
Pada tanggal 3 Januari 1917 akan berangkat
kapal ss Sindoro dari Batavia dengan tujuan akhir Rotterdam via Padang (lihat Sumatra-bode,
02-01-1917). Dalam manifest kapal terdapat nama Goenawan Mangoenkoesoemo dan
istri. Sorip Tagor adalah mahasiswa kedokteran hewan di Utrecht. Pada bulan
September 1917, Sorip Tagor lulus ujian dari tingkat tiga ke tingkat empat di Rijksveeartsenijschool
(lihat Algemeen Handelsblad, 23-09-1917). Sorip Tagor lulusan Veeartsenschool
di Buitenzorg tahun 1912 dan pada tahun 1913 berangkat studi ke Belanda.
Pada
tanggal 13 Oktober diadakan rapat umum Indische Vereeniging di Leiden (lihat De
nieuwe courant, 14-10-1917). Dalam rapat umum ini dilakukan pergantian pengurus
dengan pengurus baru RM Notodiningrat (ketua), Soerjomohardjo (sekretaris), RM
Tjkoroadisoerjo (bendahara). Komisasri Dahlan Abdoellah dan archivaris RM Noto
Soeroto. Dalam rapat umum ini juga dibentuk organ Indische Vereeniging, majalah
Hindia Poetra. Dalam pertemuan ini juga disepakati yang akan tampil sebagai pembicara
pada kongres Indologi Leiden (Het Indisch Studentencongres) adalah Dahlan
Abdoellah.
Indische Vereeniging, organisasi mahasiswa
Hindia didirikan oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan di Leiden pada
tanggal 25 Oktober 1908. Soetan Casajangan adalah mahasiswa kedua di Belanda
yang tiba tahun 1905. Mahasiswa pertama adalah Raden Kartono (abang RA Kartini)
yang tiba tahun 1896 segera setelah lulus di HBS Semarang. Pada saat jumlah
mahasiswa sebanyak 15 orang tahun 1908, Soetan Casajangan meminta Raden
Soemitro (lulusaan HBS Semarang) yang belum lama di Belanda untuk mengirim
surat undangan ke semua mahasiswa di berbagai kota untuk berkumpul di kediamananya
di Leiden. Soetan Casajangan membuka pertemuan dengan meminta Hoesien
Djajadiningrat untuk sekretaris pertemuan. Hasilnya disepakati dan didirikan
organisasi mahasiswa dengan nama Indische Vereeniging. Lalu secara aklamasi
pengurus diangkat Soetan Casajangan sebagai ketua dan Raden Soemitro sebagai
sekretaris. Soetan Casajangan, Sorip Tagor dan Soetan Goenoeng Moelia sama-sama
kelahiran Padang Sidempoean (Tapanoeli). Soetan Casajangan setelah lulus
sarjana pendidikan tahun 1911 kembali ke tanah air pada tahun 1913 dan diangkat
menjadi direktur sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock dan kini pada tahun
1917 sebagai direktur kweekschool di Ambon.
Kongres
Mahasiswa Hindia (Het Indisch Studentencongres) diadakan pada tanggal 23
Novermber 1917 di Leiden (lihat Algemeen Handelsblad, 24-11-1917). Kongres ini yang
pertama kali dan diketuai oleh HJ van Mook (Studenten-Indologenvereeniging).
Dalam kongres ini turut berpartisipasi Indische Vereeniging (Perhimpoenan
Hindia) dan Chineesebc Vereeniging Chung Hwa Hui. Tiga diantara pembicara dalam
kongres dari tiga pihak tersebut adalah HJ van Mook, Dahlan Abdoellah dan Han
Tiauw Tjong, Penyelenggaraan kongres ini sudah bergaung sejak awal Oktober (lihat
De nieuwe courant, 03-10-1917). Ini kongres adalah hajatan besar (bertepatan
dengan bulan rapat umum Indische Vereeniging).
Algemeen Handelsblad, 24-11-1917: ‘Indisch
Studentencongres. Kemarin pagi Kongres Mahasiswa Hindia dibuka di Leiden dalam
rangka peringatan lustrum ketiga (15 tahun) Asosiasi Mahasiswa-Indologis
(Studenten-Indologenvereeniging) yang didirikan pada tahun 1902. Auditorium
kecil Universitas sepenuhnya diisi dengan peserta konferensi (yang secara
konsisten terdiri dari mahasiswa yang terdaftar di universitas Belanda). Saat
ini Masyarakat Hindia adalah; Chineesebc Vereeniging Chung Hwa Hui; de
vereeniging van Indologlsche studenten van het Utrechtsch Studentencorps ‘Van
Verre’; de vereeniging Onze Koloniën te Delft; de Studentenafdeeling van de
Vereeniging Oost en West (Leiden); de vereeniging Kcempoelan Tani Djawi
(Wageningen); en de onderafdeelingen Tropische Land- en Boschbouw van de
Studentenvereeniging te Wageningen. HJ van Mook, presiden serikat membuka
pertemuan…(tiba giliran) Dahlan Ahdoellah sebagai pembicara mewakili Indische
Vereeniging: ‘Kami, Indonesiers adalah elemen utama di Belanda, rakyat Hindia,
dan karena itu kami memiliki hak untuk memiliki lebih dari sebelumnya dalam
pemerintahan nasional. Indisch Vereenigingner lebh tua dari yang lainnya…’.
Dahlan Abdoellah mengurai di awal tentang kehidupan awal di Hindia hingga
datangnya Belanda’.
Dari
kongres tersebut, pada intinya, pidato Dahlan Abdoellah mirip dengan pidato
Soetan Casajangan pada tahun 1911. Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging
Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri
Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam
forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat
percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: ‘Verbeterd Inlandsch
Onderwijs’ (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting
isi pidatonya.
Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).
..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya…cinta saya kepada
ibu pertiwa tidak pernah luntur…dalam memenuhi permintaan ini saya sangat
senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada
tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah
ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada
di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang
merindukan pendidikan yang lebih tinggi…hak yang sama bagi
semua…sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara ‘coklat’ dan
‘putih’ dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).
Dalam
pidato Dahlan Abdoellah, tampaknya Dahlan Abdoellah telah mengganti terminologi
‘coklat vs putih’ yang diapungkan Soetan Casajangan pada tahun 1911 dengan
terminologi Indonesier: ‘Wij, Indonesiers vormen in, Nederlandsch Indie het
hoofdbestanddeel der bevolking van Indie en als zoodanig hebben wij het recht
meer dan tot, dusver aandeel te hebben in het landsbestuur’ (Kami Indonesiers
membentuk Hindia Belanda adalah konstituen utama penduduk Hindia dan karena itu
kami memiliki hak untuk memiliki lebih dari berpartisipasi dalam pemerintahan
nasional). Ini dengan sendirinya, Dahlan
Abdoellah telah melanjutkan perjuangan Soetan Casajangan.
Sebagai suksesi Kongres Mahasiswa Hindia (Het
Indisch Studentencongres), pada tahun 1918 diadakan Kongres Mahasiswa Indonesia
yang pertama. Ini mengindikasikan nama Hindia telah diubah menjadi Indonesia.
Ketua kongres adalah JA Jonkman. Dalam kongres ini dari pihak Indische
Vereeniging berbicara tiga orang yakni Dahlan Abdoellah, Sorip Tagor dan
Goenawan Mangoenkoesoemo. Fokus pembicaraan dalam kongres tahun 1918 ini adalah
tentang kebutuhan perguruan tinggi di Hindia. Tema ini semakin diperdalam
setelah Soetan Casajangan berbicara pada tahun 1911.
Pada
bulan Mei 1918 Darmawan Mangoenkoesoemo lulus ujian transisi di HBS Semarang
naik dari kelas empat ke kelas lima, Darmawan Mangoenkoesoemo adalah seorang
aktivis pelajar di Semarang. Beberapa minggu sebelumnya Darmawan
Mangoenkoesoemo diangkat menjadi ketua pelajar pribumi di Semarang (lihat De
Indier, 04-03-1918).
Pada bulan Juni kongres pemuda Java diadakan
di Solo yang dibuka oleh ketua Soekiman Trikoro Darmo (lihat De locomotief, 15-06-1918).
Dalam kongres ini disepakati nama organisasi sebagai Jong Java dan akan
diajukan untuk badan hukum. Hasil rapat juga diputuskan untuk berorientasi
politik. Dalam kongres ini Darmawan Mangoenkoesoemo sebagai ketua delegasi dari
Semarang. Nun jauh disana di Belanda, Sorip Tagor di dalam majalah Hindia
Poetra pada edisi Januari 1919 menulis artikel yang pada intinya mengatakan
bahwa ‘studi dan kegiatan politik sejalan dalam organisasi’
Pada
bulan Juni 1919 Darmawan Mangoenkoesoemo lulus ujian akhir di HBS Semarang
(lihat De locomotief, 07-06-1919). Sementara itu abangnya, Goenawan Mengoenkosoemo
mahaiswa kedokteran di Leiden menjadi ketua redaksi majalah Hindia Poetra
(lihat De locomotief, 06-05-1919), Sedangkan abang mereka Dr RM Tjipto
Mangoenkoesoemo adalah ketua Insuliden cabang Bandoeng yang juga menjadi
anggota Volksraad, Pada tahun 1919 ini Darmawan Mangoenkoeosoemo berangkat
studi ke Belanda. Mereka bertiga adalah anak dari Mangoenkoesoemo, Patih dari
Mangkoenegaraan.
di Belanda. Ini bermula ketika tiga tokoh Bandoeng (Nationaal Indische Partij) EF
Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto Mangoenkoeoeomo diasingkan ke
Belanda tahun 1914. Namun karena alasan kesehatan, Dr Tjipto dipulangkan ke
tanah air, sementara Sopewardi Soerjaningrat masih sempat menyelesaikan
studinya dan mendapat akta guru LO. Soewardi Soerjaningrat pernah menjadi
editor majalah Hindia Poetra sebelum kembali ke tanah air. Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo lulusan sekolah kedokteran Batavia Docrer Djawa School/STOVIA,
lulus tahun 1905. Yang sama-sama lulus dengan Tjipto Mangoengkoesoemo
(kelahiran Poerwadadi) antara laian Abdoel Hakim Nasoetion dan Abdoel Karim
Lubis kelahiran Padang Sidempoean.
Setelah
kedatangan Darmawan Mangoenkoesoemo di Belanda, tidak lama kemudian pada tanggal
3 April Dr Goenawan Mangoenkoeosoemo kembali ke tanah air setelah menyelesaikan
studi kedokteran di Leiden. Dr Mangoenkoesoemo di dalam manifes kapal Prinses
Jualiana bersama istri (lihat De Maasbode, 03-04-1920)
Soetan Casajangan diundang kembali oleh
Vereeniging Moederland en Kolonien dari tanah air untuk berpidato di hadapan
para anggota organisasi pada tanggal 28 Oktober 1920 dengan makalah 19 halaman
yang berjudul :’De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek
(modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Forum ini juga dihadiri oleh
Sultan Yogyakarta. Soetan Casajangan tetap dengan percaya diri untuk membawakan
makalahnya. Berikut beberapa petikan isi pidatonya:
Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and
Gentlemen).
….saya berterimakasih kepada Mr. van Rossum,
ketua organisasi…yang mengundang dan memberikan kesempatan kembali kepada
saya…di hadapan forum ini….pada 28 Maret 1911 (sekitar sepuluh tahun
lalu)…saya diberi kesempatan berpidato karena saya dianggap sebagai pelopor
pendidikan bagi pribumi…ketika itu saya menekankan perlunya peningkatan
pendidikan bagi bangsa saya…(terhadap pidato itu) untungnya orang-orang di
negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri
saya..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa)
pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan telah bekerja keras untuk
merealisasikannya..yang membuat ribuan desa dan ratusan sekolah telah membawa
perbaikan..termasuk konversi sekolah rakyat menjadi sekolah yang mirip
(setaraf) dengan sekolah-sekolah untuk orang Eropa..
Sekarang saya ingin berbicara dengan cara yang
saya lakukan pada tahun 1911…saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan
bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah
(politik etik) dalam pendidikan…tetapi kesetaraan antara coklat dan
putih…saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda,
bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri…mereka terutama pengusaha paling
takut dengan usul kebijakan baru ini…karena dapat merugikan
kepentingannya..perlu diingat para intelektual kami tidak bisa tanpa dukungan
intelektual bangsa Belanda..organisasi ini saya harap dapat menjembatani
perlunya kebijakan baru pendidikan. saya sangat senang hati Vereeniging
Moederland en Kolonien dapat mengupayakannya…karena anggota organisasi ini
lebih baik tingkat pemahamannya jika dibandingkan dengan Dewan..’.
Darmawan
Mangoenkoesoemo lulus ujian propadeutisch di bidang scheikundig (teknik kimia)
di Universiteit te Delft (lihat De standaard, 16-06-1921). Disebutkan Darmawan
Mangoenkoesoemo lahir di Poerwadadi (sama dengan Dr Tjipto). Di fakultas ini
sudah ada terlebih dahulu Raden Soerachman.
Beberapa bulann sebelumnya Sorip Tagor
diwisuda dan mendapat gelar dokter hewan (lihat Het Vaderland: staat- en
letterkundig nieuwsblad, 30-01-1921). Pada tahun ini juga Dr Sorip Tagor
kembali ke tanah air dan ditempatkan sebagai dokter hewan di lingkungan istana
Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Penunjukan dan pengangkatan ini secara resmi
berdasarkan surat keputusan menteri koloni no 89 tanggal 26 Mei 1921 (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 22-09-1921).Dr Sorip Tagor Harahap adalah kakek dari
artis Risty Tagor. Di ini universiteit te Delf pada tahun 1922 Raden Soerachman
lulus ujian akhir dan mendapat gelar insinyur teknik kimia dan kemudian kembali
ke tanah air. Dahlan Abdoellah lulus ujian acte MO vóór de Maleis che taal en
letterkunde (lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad,
28-06-1923). Gelar MO (sarjana pendidikan) ini adalah gelar yang sama yang
telah diraih Soetan Casajangan pada tahun 1911.
Pada bulan Juni 1923 Darmawan Mangoenkoesoemo lulus ujian kandidat di
Delft (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 19-06-1923). Ini tinggal selangkah
lagi. Pada bulan Juli Darmawan Mangoenkoesoemo diberitakan lulus ujian akhir
dan mendapat gelar insionyur teknik kimia (lihat Delftsche courant, 02-07-1924).
Ir Darmawan Mangoenkoesoemo kembali ke tanah air. Di tanah ayah Darmawan
Mangoenkoesoemo mendapat kenaikan pangkat dari patih menjadi regent di
Tjilatjap (lihat De Preanger-bode, 30-08-1924).
Pada tahun 1924 ini para pengurus organisasi
mahasiswa Indonesia di Belanda mulai mengalami peningkatan eskalasi politik.
Seperti pernah dikatakan Sorip Tagor pada edisi pertama Hindia Poetra pada
tahun 1919 bahwa studi dan politik bersesuaian dengan organisasi. Organisasi
mahasiswa sendiri pada kepengurusan Dr Soetomo dkk tahun 1921 telah menmgubah
nama organisasi dari Indische Vereeniging menjadi Indonesiasche Vereeniging.
Pada tahun 1924 ini Mohamad Hatta dkk mengubah namanya lagi menjadi Perhimpoenan
Indonesia (PI). Organ majalah Hindia Poetra telah digantikan dengan majalah
baru dengan nama Indonesia Merdeka.
tahun 1925 Ir Darmawan Mangoenkoesoemo telah berada di tanah air. Tampakanya pemerintah
tidak memperhatikan posisi apa yang dapat diberikan seperti halnya Ir
Soerachman sudah menjadi insinyur teknik kimia di Departemen Industri yang
membidangi teknik batik rakyat. Ir Mangoenkoesoemo dianggap anti Belanda
sebagaimana dialamatkan kepada para anggota Perhimpoenan Indonesia di Belanda.
Dalam situasi itu Ir Darmawan Mangoenkoesoemo menjadi guru di Jogjakarta.
De courant Het nieuws van den dag, 11-07-1925):
‘Seorang insinyur pribumi yang baru saja tiba dari Belanda tidak bisa
mendapatkan pekerjaan di Pemerintah, yang ia telah ditugaskan dari Belanda. Ini
menyangkut insinyur kimia muda Darmawan Mangoenkusoemo, saudara dari pemimpin
rakyat yang terkenal Tjipto Mangoenkoesoemo. Selama studinya, ia tampaknya
telah terlibat oleh tindakan anti-Belanda yang keras, dan sekarang harus hidup
sebagai guru di sekolah nasionalis di Djokja dengan gaji f30 per bulan’.
Lantas
apakah Ir Darmawan Mangoenkoesoemo akan berubah seperti abangnya Dr Tjipto
Mangoenkoesoemo yang menentang pemerintah sehingga diasingkan ke Belanda tetapi
kemudian berubah lebih cooperative dengan pemerontah? Yang jelas belum lama ini
sadudaranya Dr Boediardjo menikah dengan gadis Belanda di Semarang, Juga saudaranya
yang menikah dengan putri Solo belum lama ini telah diangkat menjadi patih
(merintis karir seperti sang ayah yang sudah menjadi regent di Tjilatjap. Tidak
lama kemudian Ir Darmawan Mangoenkoesoemo pindah ke Bandoeng dan sebagai guru
di sekolah Dr Douwes Dekker (lihat De Indische courant, 21-08-1925).
Teman-teman Ir Darmawan Mangoenkoesoemo dari
kelompok cooperative merasa iba terhadapnya atau ingin menyelamatkan Ir Darmawan
Mangoenkoesoemo agar terhindar dari golongan nasionalis, memberi dukungan bagi Ir
Darmawan Mangoenkoesoemo. Teman-temanya itu adalah Dr Sardjito dan Dr Soesilo
(keduanya telah memeperoleh gelar doktor dalam bidang kedokteran di Belanda)
serta seorang notaris Soewandi (lihat De Indische courant, 25-08-1925).
Disebutkan atas inisiatif Dr Sardjito, Dr Soesilo dan Soewandi, sebentar lagi
akan mendirikan yayasan nasional berbentuk perusahaan dengan tujuan menghimpun
dana agar kaum terpelajar Indonesia bisa mendirikan usaha sendiri. Salah satu
alasan yang melatarbelakangi keputusan ini, antara lain, fakta bahwa insinyur
kimia Darmawan Mangoenkoesoemo, karena kekurangan uang tunai yang diperlukan
untuk usahanya sendiri, terpaksa menjadi guru di sekolah Taman Siswo, sementara
pengetahuannya dapat digunakan untuk melayani rekan-rekan senegaranya dengan
cara yang lebih sesuai dengan studinya. Sebelumnya, Dr Soetomo setelah kembali
studi dari Belanda pada tahun 1924 mendirikan studieclub di Soerabaja. Dr
Soetomo cooperative dengan pemerintah sehingga mendapat jabatan sebagai kepala
rumah sakit kota di Soerabaja. Dr Soesilo adalah adik Dr Soetomo. Pada tahun
1926 Soekarno lulus dengan mendapat gelar insinyur teknik di THS Bandoeng.
Seperti halnya Dr Soetomo, Ir Soekarno (Ir M Anwari dan mahasiswa tingkat akhir
THS M Putuhen) di Bandoeng juga membentuk studieclub yang diberi nama Algenieene
Studieclub..
Pada
bulan November 1926 Algenieene Studieclub menyelenggarakan rapat umum di
Bandoeng yang dihadiri asekitar 600 orang. Dalam acara ini diundang Stokvios
untuk berbicara dengan tema “Politik dan Ekonomi dalam pemerintahan
kolonial” (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-11-1926). Disebutkan dalam
rapat umum ketua panitia adalah Ir Darmawan Mangoenkoesoemo. Dalam rapat umum
ini juga dihadiri Dr Tjipto, Dr Douwes Dekker, Dr Goenawan dan Mohamad Sanoesi.
Dalam rapat umum ini Ir. Anwari, Ir. Soekarno dan guru Kadmirah duduk di meja
dewan (dekat dengan pembicara). Mr Stokvis berbicara bahasa Belanda yang juga
diterjemahkan dengan ringkas oleh Ir Soekarno ke dalam bahasa Melayu. Diskusi
semakin menghangat yang kemudian diakhiri rapat umum tepat pada pukul 12 siang.
Di Batavia, Parada Harahap pemimpin NV Bintang
Hindia dan pemimpin redaksi surat kabar Bintang Hindia merekrut dua jurnalis
muda di Bandoeng. Ini sehubungan dengan Parada Harahap mendirikan kantor berita
Alpena dengan menempatkan sebagai editor Alpena, WR Soepratman (tinggal di
pavilieum rumah Parada Harahap). Mohamad Tabrani yang belum lama lulus OSVIA
Bandoeng ditempatkan sebagai editor di surat kabar Hindia Baroe (eks Neratja
dimana pada tahun 1923 Parada Harahap pernah sebagai editor sebelum mendirikan
Bintang Hindia). Pada bulan September 1925 Parada Harahap, jurnalis senior
pendiri surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempoean sebelum hijrah ke Batavia,
menginisiasi pembentukan organisasi jurnalis dimana sebagai ketua Mohamad
Tabrani, WR Soepratman sebagai sekretaris dan Parada Harahap sendiri sebagai
ketua komisaris. Pada bulan April 1926 diadakan Kongres Pemuda di Batavia
sebagai ketua panitia adalah Mohamad Tabrani (jurnalis muda di Hindia Baroe)
dimana di dalam kongres salah satu pembicara Bahder Djohan, mahasiswa STOVIA yang juga ketua Jong Sumatranen
(Parada Harahap sendiri adalah sekretaris organisasi kebangsaan Sumatranen
Bond). Kongres Pemuda ini diadakan di gedung Bintang Timoer di Weltevreden. Pembina
kongres adalah Parada Harahap. Selepas kongres pada bulan Juni, Parada Harahap
mendirikan surat kabar baru dengan nama Bintang Timoer (surat kabar yang lebih
revolusioner). Pada tahun 1927, di Bandoeng, studieclub telah menjadi
organisasi kebangsaan yang baru yang diberi nama Perhimpoenan Nasional
Indonesia (PNI) yang mana sebagai ketua adalah Ir Soekarno dan diresmikan pada
tanggal 4 Juli. Sehubungan dengan itu, Parada Harahap menginisiasi pembentukan
federasi organisasi kebangsaan yang diadakan di rumah Prof Husein
Djajadiningrat. Sebagaimana diketahui, Husein Djajadiningrat adalah sekretaris
dalam pembentukan organisasi mahasiswa pribumi di Belanda tahun 1908 yang
diberi nama Indische Vereeniging yang mana sebagai ketua Radjioen Harahap gelar
Soetan Casajangan (yang pada tahun 1927 menjadi direktur sekolah guru Normaal
School di Meester Cornelis/Djatinegara). Hasil pertemuan dibentuk federasi
organisasi kebangsaan yang diberi nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenaan
Kebangsaaan Indonesia (PPPKI) yang mana sebagai ketua ditunjuk MH Thamrin
(Kaoem Betawi) dan sebagai sekretaris Parada Harahap (Sumatranen Bond). Dalam
rapat itu juga dibuat program yakni membangunan gedung nasional di gang Kenari
dan mengadakan Kongres PPPKI di Batavia pada bulan September 1927. Dalam
pertemuan pembentukan federasi ini turut hadir Ir Soekarno (PNI Bandoeng) dan
Dr Soetomo (Studieclub Soerabaja). Pada bulan Juli menjelang Kongres PPPKI,
para pemimpin organisasi pemuda berkumpul di Batavia dan membentuk federasi
yang diberi nama Persatoen Pemoeda dan Peladjar Indonesia (PPPI). Hasil
pertemuan sepakat mengadakan Kongres Pemuda pada bulan September di Batavia.
Pengurus PPPI yang juga menjadi komite inti kongres terdiri dari ketua Soegondo
(Jong Java cabang Batavia), sekretaris Mohamad Jamin (Jong Sumatra) dan
bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap (Jong Batak). Dalam Kongres PPPKI Ir
Soekarno berbicara, juga Mohamad Hatta (ketua PI di Belanda) diundang berbicara
tetapi tidak bisa hadir karena sibuk studi di Belanda tetapi mengirim
perwakilan yakni Ali Sastroamidjojo. Hasil kongres disepakati nama federasi
menjadi Perhimpoenan Partai-Partai Kebangsaan Indonesia (PPPKI) dan akan
menyelenggarakan kongres pada tahun 1929 di Solo. Sementara hasil Kongres
Pemuda adalah berupa putusan yang berisi satu nusa, satu bangsa dan satu
bahasa: Indonesia. Lagu Indonesia Raja karya WR Soepratman diperdengarkan di
dalam kongres. Dalam konteks inilah peran Parada Harahap saling terkait satu
sama lain.
Tampaknya
dorongan Dr Sardjito, Dr Soesilo dkk dan kampanye yang dilakukan menyebabkan
pemerintah berupah pikiran terhadap Ir Darmawan Mangoenkoesoemo. Pada bulan
Desember 1926 diketahui Ir Darmawan Mangoenkoesoemo telah diangkat pemerintah untuk
sementara sebagai dengan jabatan asisten pada Departemen Perindustrian dan Pertanian
(lihat Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indie, 29-12-1926). Di dalam departemen
ini sudah lebih dahulu ada Ir Soeracahman yang juga insinyur teknik kimia Delft
(lulus 1922). Dr Sardjito dan Dr Soesilo juga sama-sama lulusan Belanda. Dr
Sardjito adalah mantan ketua Boedi Oetomo cabang Batavia (1914-1916).
Kisah Dr Soetomo dan Dr Sardjito dimulai tahun
1915. Setelah berugas sebagai dokter pemerintah dua tahun di Tandjoeng Morawa
(Deli) Dr Soetomo ditempatkan di Jawa, Di Batavia Dr Soetomo meminta Dr
Sardjito untuk diadakan rapat umum para anggota karena ingin berbicara. Dalam
rapat umum yang dipimpin langsung Dr Sardjito kemudian Dr Soetomo menyatakan
bahwa kita (Boedi Oetomo) tidak lagi bisa sendiri. Banyak kuli asal Jawa di
Deli sangat menderita akibat ordonasi poenalie sanctie di perkebunan, Di luar
sana, terutama orang-orang Tapanoeli banyak yang pintar-pintar. Sejak inilah
mulai tumbuh dan semakin banyak para aktivis Boedi Oetomo yang mulai bergeser
menjadi visi nasional. Boleh jadi, sementara itu Dr Soetomo sudah mengetahui
sepak terjang Indische Vereeniging di Belanda yang bervisi nasional, organisasi
mahasiswa yang digagas diketua oleh Radjieon Harahap gelar Soetan Casajangan
pada tahun 1908. Tampkanya harapa Dr Soetomo itu belum terwujud karena aktivis
Boedi Oetomo masih terbelah, sebagia besar dengan visi kedaerahan (sebatas Jawa
dan Madoera) sebagian yang lain sudah bervisi nasional. Semuanya menjadi diam
kembali. Pada saar Dr Soetomo ditempatkan di Palembang sebagai dokter
pemerintahan, pada tahun 1918 muncul berita besar dari Deli. Seorang krani
(juru tulis perkebunan) membongkat kasus poenalie sanctie di
perkebunan-perkebunan. Krani ini awalnya mengirim laporannya ke surat kabar
Benih Mardika yang terbit di Medan. Lalu kemudian laporan itu diolah dan dibuat
artikel berseri. Artikel-artikel ini kemudian dilansir surat kabar Soeara Djawa
yang kemudian menjadi heboh di Jawa. Dr Soetomo di Palembang boleh jadi sumringah.
Kuli-kuli asal Jawa di Deli akan terbebaskan di Deli dari penderitaan. Krani
yang membongkar kasus poenalie sanctie di Deli itu adalah Parada Harahap. Untuk
membalas budi Parada Harahap (sekretaris PPPKI), pada saat penyelengaraan
Kongres PPPKI pada bulan September 1928, Dr Soetomo dengan sepenuh hati
bersedia menjadi ketua panitia kongres. Sebagaimana diketahui Dr Soetomo pada
tahun 1928 masih sebagai ketua Studieclub Soerabaja, grup pemikir yang dibentuk
Dr Soetomo sepulang studi dari Belanda pada tahun 1924. Dr Soetomo sendiri di
Belanda pernah menjadi ketua Indische Vereeniging (organisasi yang didirikan
Soetan Casajangan). Dr Soetomo berangkat studi ke Belanda pada tahun 1919
(sepulang dari Palembang). Pada tahun 1919 ini Dr Sardjito juga berangkat studi
ke Belanda.
Pengangkatan
Ir Darmawan Mangoenkoesoemo menjadi insinur di departenmen perindustrian
mendapat sambutan dari rekan-rekannya sebagaimana diberitakan De Indische
courant, 12-01-1927 yang mengutip surat kabar Darmo Kondo. Bad news, good news
ini sebagai berikut:
‘Mereka menulis kepada kami dari pihak paribumi
bahwa hari ini kita membaca laporan pengangkatan Ir Darmawan Mangoenkusoemo
sebagai Asisten Bidang Perindustrian Departemen Pertanian, Perindustrian dan
Perdagangan. Pengangkatan ini diterima dengan sangat memuaskan oleh para
intelektual pribumi yang, mengingat pernyataan kepercayaan Gubernur Jenderal saat
ini, sekarang menunggu apa yang bisa dilakukannya. Seperti diketahui, setelah
menyelesaikan studinya di Belanda, Ir Darmawan Mangoenkusoemo kesulitan mencari
pekerjaan di bawah kekuasaan GG Fock. Sebagai mantan ketua Indische Vereeniging
yang didirikan di Belanda, Ir Darmawan telah melakukan kampanye yang kurang
lebih ekstremis yang membuatnya agak berbahaya untuk membawanya ke layanan
pemerintah. Setibanya di Hindia, Ir Darmawan bergabung dengan Kstrija
Institute, sebuah lembaga pendidikan yang dipimpin oleh Dr Douwes Dekker.
Pengangkatan Pak Darmawan Mangunkusoemo ke dinas pemerintah dianggap sebagai
langkah menuju kerjasama yang sangat diperlukan untuk mendapatkan kembali
kepercayaan masyarakat pribumi, catat Darmo Kondo’.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Ir Darmawan Mangoenkoesoemo:
Menteri Kemakmuran Republik Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


