![]() |
| Pantai Mandiri, Salah satu pantai favorit turis mancanegara untuk berselancar. |
Sebulan yang lalu, aku dan partner saya, Firmansyah (rekan-rekan Komunitas Pecinta Kopi di Lampung (KPKL) memanggilnya Blackbeans) bersepeda menempuh jarak yang lebih jauh lagi dari perjalanan sebelumnya yang pernah kami lakukan. Tour!
Lebih dari bike to camp, pergi bersepeda mengunjungi tempat yang indah, mendirikan tenda, menghabiskan malam lalu kembali lagi ke rumah keesokan harinya seperti yang biasa kami lakukan
sebelumnya, kali ini kami bersepeda cukup jauh dan terjauh bagiku, menjadi nomaden di jalanan dan berjumpa orang-orang baru yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Sangat menarik dan menyenangkan bagiku karena rute yang kami lewati adalah wilayah pesisir Lampung.
![]() |
| Rute Bukit Kemuning – Bandar Lampung via lintas pantai barat, kami tempuh selama 4 hari. |
Bumi Sekala Brak sendiri adalah sebutan untuk wilayah kabupaten
Lampung Barat baru-baru ini, karena di sana masih eksis sebuah kerajaan
adat asli Lampung di lereng gunung Pesagi (Lampung Barat), yakni Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak
(yang juga diyakini menjadi asal-usul suku Lampung). Namun, sesuai
berjalannya waktu adat kerajaan Sekala Brak pun telah tersebar kesegala
penjuru pesisir Lampung, yang bisa kita sebut dengan adat Lampung
Pesisir atau Lampung Sabatin.
perlengkapan yang terbatas, modal yang ku punya hanya sebuah sepeda gunung.
Beruntung, banyak kawan sepeda yang membantu melengkapi
kebutuhan perjalanan kami, seperti memodifikasi rak belakang sepeda,
tas pannier, tenda, matras, pompa angin, sampai tripod kamera. Okay. The best sponsorship is your friends.
![]() | |||||||||
| Puncak Betik, Sumber Jaya, Lampung Barat |
Di hari pertama, kami menempuh Bukit Kemuning (Lampung Utara) dengan menaiki bus legend-nya orang Liwa, Sekala Brak dengan biaya Rp100,000,- perpenumpang dan sepeda yang kami bawa. Tiba di Bukit Kemuning, kami pun berkemas merapikan
bawaan dan mulai mengayuh sepeda menuju wilayah kabupaten Lampung Barat. Sekincau menjadi target
kami bersepeda pada hari itu. Sekincau adalah dataran tertinggi di Lampung. Menuju Sekincau, udara yang kami rasakan kian dingin. Jadi, hari pertama kami akan dihabiskan dengan melewati banyak tanjakan. Kantap!
Â
itu, santai tapi pasti, mulai terlihat tulisan besar di atas sebuah
bukit di bawah patung-patung pengawal dengan membawa seorang muli
(gadis) bermahkota siger khas adat Lampung Saibatin memegang kotak
berwarna emas (sepertinya tari Sembah Batin). Bukit itu bertuliskan, “Bumi Sekala Bghak“.
Tulisan itu menandakan bahwa kita telah berada di wilayah sebuah
kerajaan tua di Lampung yang masih eksis hingga saat ini, yaitu Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak.
![]() | |
| Masjid Jami’i Aminatul Jannah di Puncak Betik, Sumber Jaya atau biasa warga sekitar menyebutnya masjid Puncak. |
Lalu, di bawah bukit tersebut berdiri sebuah masjid kecil berarsitektur detail nan megah. Masjid Jami’i Aminatul Jannah namanya. Penduduk sekitar biasa menyebutnya masjid Puncak. Kami sempatkan beristirahat dan kawan pun sholat di masjid tersebut.
![]() |
| Pesawahan Terasering di desa Mutaralam, Way Tenong, Lampung Barat |
![]() |
| Lagi nanjak, cekrek. |
Â
![]() |
| Sekincau, dataran tertinggi di Lampung. |
Adzan Maghrib telah berkumandang, kami pun berhenti di pekon (desa dalam bahasa Lampung Saibatin) Way Ngison untuk bermalam. Kami berniat mendirikan tenda di komplek Puskesmas di sana, namun beruntung, setelah bertemu dengan warga sekitar yang hendak sholat di masjid, kami disarankan untuk bermalam di masjid saja. Ditemani suara gerimis yang tak kunjung reda sejak kami tiba di Sekincau tadi, kami pun berbincang-bincang tentang perjalanan yang telah ditempuh hari ini. Malam pun kami lewati dengan tidur hanya berselimutkan kain sarung, padahal biasanya jika malam di tempat itu temperatur bisa hingga di bawah 20′ C. Ok! Tidur di tempat dingin gak pakai selimut, biar greget. Mission achieved!
![]() |
| Berteduh. |
![]() |
| Lamban Gedung Kepaksian Buay Belunguh Sekala Brak, Kenali, Belalau. |
Berangkatlah kami, melibas puluhan kilometer bersepeda di bawah rintik hujan. Akhirnya keluar mantel juga, kawanku pakai mantel handmade sendiri. Terbuat dari plastik ukuran jumbo, sepertinya bekas sayur, nemu di jalan sebelum sampai Sekincau kemarin, dilubanginya 2 sisi plastik besar itu untuk kedua lengannya dan ia pun menamai mantelnya itu Ironsuit MK 43. Okesip.
Rute untuk hari ke-2 bisa dibilang enak. Enak banget malah. Karena dari Sekincau menuju Liwa hingga pesisir Krui didominasi oleh jalanan menurun. Menuruni perbukitan, melewati pekon Bakhu, Simpang Luas, Kenali, Belalau, Sukarame, Kerang, Kutabesi, Canggu, Batu Brak, Kegeringan, Keramian, Kembahang, hingga Teratas, pekon-pekon yang masih khas dengan barisan rumah panggungnya. Ah! Akhirnya ku kayuh juga sepedaku ini melintasi kampung tercinta.
![]() |
| Lamban (rumah) Ugokhan Batin, Canggu, Batu Brak. |
![]() |
| Gedung Dalom (istana) Kepaksian Buay Pernong Sekala Brak di Batu Brak. |
Siang itu kami sampai di ibukota kabupaten Lampung Barat, Liwa. Mungkin, kalau googling kata “Liwa”, hasilnya adalah oasis terbesar di Abu Dhabi Arab, ya kan? Tetapi jika googling dengan kata kunci “Kota Liwa” maka tugu Kayu Akha-lah yang dominan muncul. Jadi, hanya ada dua tempat yang menggunakan nama Liwa di bumi ini, dan salah satunya ada di Lampung. Nama yang sangat-sangat tua. Liwa berasal dari kata Al-liwa (bahasa Arab: bendera kemenangan), yang pada sejarahnya para maulana atau Paksi Pak (Empat Paksi: Pernong, Belunguh, Bejalan Diway dan Nyerupa) dan ayahnya Maulana Penggalang Paksi menyiarkan menancapkan bendera kemenangan atas keberhasilan mereka dan pengikutnya setelah mengalahkan kerajaan Sekala Brak kuno yang dipimpin oleh seorang ratu, ratu Sekeremong di dalam perang. Dan dari nama bendera itu, digantinyalah nama wilayah yang sebelumnya, dari nama Bunuk Tenuak menjadi Liwa. kini, Liwa telah menjadi nama ibukota Lampung Barat dan juga salah satu nama marga dalam adat Lampung Saibatin.
Liwa adalah kota tempat ku tumbuh besar, kota kecil yang dingin di kaki gunung Pesagi. Sebuah kota yang menjadi persimpangan arah ke Krui (Pesisir Barat) dan Ranau (Sumatra Selatan), ditengahnya berdiri tegak tugu Kayu Akha, atau biasa kami sebut tugu Liwa. Sebuah kota yang terkenal akan kenikmatan kopi robusta dan kopi luwaknya. Sudah pernah dengar kopi Liwa, kan?
![]() |
| Turis di kota sendiri. |
Nama Liwa masih melegenda di ingatan masyarakat luas hingga kini.
Menjelang waktu sahur pada tanggal tanggal 15 Februari 1994 (belum
lahir), kota Liwa dan sekitarnya diguncang gempa tektonik berpusat di
Sesar Semangko berkekuatan 6.5 SR hingga menewaskan ratusan jiwa dan
hampir semua bangunan rata dengan tanah. Begitu banyak korban dari gempa
tersebut karena terjadi saat warga masih sedang tidur. Aku belum lahir waktu itu.
![]() | ||
| Tugu Kayu Akha, Kota Liwa. |
Makan siang selesai, istirahat puas, sepeda dikayuh lagi. Kawanku sedikit kecewa karena gagal mencicipi kenikmatan kentalnya Mie Ayam Sarka yang berada di simpang empat Taman Jaya, Liwa karena tutup. Mie Ayam Sarka menjadi salah satu menu makanan yang wajib dicicipi jika sedang ada di Liwa.
Â
![]() |
| Isi bahan bakar dulu. Eh, gak perlu ya. |
Sepeda kami cek lagi, rem, ban, hingga bawaan supaya tak jadi masalah di perjalanan nanti karena tujuan berikutnya adalah Krui, ibukota babupaten Pesisir Barat. Untuk mencapai Krui, kami akan memasuki hutan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, kawasan hutan hujan tropis di ujung selatan pulau Sumatra. TNBBS merupakan tempat tinggal bagi tiga jenis mamalia besar yang paling terancam di dunia, yaitu gajah, badak dan harimau sumatera. Entahlah, kenapa manusia suka mengancam ciptaan Tuhan lainnya demi ego sendiri.
![]() |
| Memasuki Wilayah Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Kubuperahu, Liwa. |
![]() |
| Gapura TNBBS, juga sebagai tanda perbatasan antara Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat. |
![]() |
| Salah satu dari sekian banyak air terjun kecil di sepanjang kawasan TNBBS, pekon Labuhan Mandi, Krui. |
![]() |
| Gara-gara keasikan foto-foto, sepedaku tiba-tiba roboh dan nyungsep masuk siring yang dalamnya 3 meter. Setelah dicek, bersyukur gak ada masalah. Seandainya ada yang rusak, terpaksa aku pulang kampung ke Liwa, gak jadi touring 😀 |
Dua jam berlalu, tibalah kami di Krui dan disambut oleh hujan deras sederas derasnya hujan. Sepertinya langit berbahagia kami tiba. Ada pengalihan jalur karena ada tayuhan (acara adat Lampung), kami pun terpaksa harus mengambil jalan memutar yang agak jauh melewati jalur alternatif ke Bengkulu.
![]() |
| Selama di Pesisir Barat ban sudah bocor sampai 3 kali. |
Selama melintas Pesisir Barat, tak ada pantai yang kami singgahi hingga akhirnya hari itu kami hanya bisa menempuh sampai pantai Mandiri, salah satu pantai yang sangat dekat dengan jalan lintas, salah satu spot favorit para turis mancanegara untuk berselancar ria (Lainnya ada Pantai Labuhan Jukung dan Tanjung Setia). Sayang sekali, selama di sana kami tak berjumpa satu pun turis yang berselancar atau pelesiran karena masih musim hujan, mungkin juga karena ombak samudra yang belum asik untuk diselancari. Sore itu cuaca masih mendung dan semakin gelap sehingga kami tak bisa menyaksikan eloknya matahari terbenam yang sudah tersohor 11-12 dengan pantai Kuta Bali.
![]() |
| Senja di pantai Mandiri |
![]() |
| Sambil membayangi kekasih yang telah membelikan sendal baru demi perjalanan ini. |
Beruntung lagi, setelah puas bersantai-santai di pantai, seorang pemilik warung di dekat pantai mempersilahkan kami untuk beristirahat di pondok miliknya. Jadi, gak perlu pakai tenda, deh. Malam di tepi pantai kami habiskan untuk bercengkrama dengan pemilik warung dan beberapa warga sambil minum kopi lalu tidur ditemani deburan ombak besar samudra Hindia. Tidur di pantai samudra Hindia. Mission achieved!
Hari ke-3. Udara pesisir menjadi sangat dingin karena hujan diri hari. Setelah bertanya-tanya soal jarak menuju TNBBS bagian Pemerihan, ternyata hari ini kami masih harus bersepeda di Pesisir Barat seharian. Melewati pantai Biha, Tanjung Setia, Ngambur, Melasti, Bengkunat, sampai tiba di desa Pemerihan kecamatan Bengkunat Belimbing. Semakin ke selatan, jalan raya semakin sepi. Terjawab juga rasa penasaranku tentang pemekaran wilayah Lampung Barat menjadi Pesisir Barat beberapa tahun silam, ternyata wilayah Lampung Barat sebelumnya masih sangat luas sehingga masih banyak daerah-daerah yang belum tersentuh oleh pembangunan.
Â
![]() |
| Salah satu pura di desa Baliyoga, Bengkunat, Pesisir Barat. |
![]() |
| Anak-anak yang mengira kami bule, akhirnya mengajak kami bermain bulutangkis. |
Berikut percakapannya:
Anak-anak SMP: Wih, wat bule uy cakak ketangin. Hello, Mister, good morning? (Wah, ada bule nih naik sepeda. Halo, mister, selamat pagi?)
aku: Nah, cawa api kuti? (Nah, ngomong apa kalian?)
Anak-anak: Yaaah, penyanaku bule. (yaaah.. kami kira bule) *bubar*
Orang tua: Singgah pay kuti no, Bule. (Mampir dulu kalian itu, Bule)
Saya: Iyu pak, sikam haga mulang, khadu dibi. (Iya pak, kami mau pulang, udah sore)
Orang tua: Nah, bule ni dapok cawa Lappung. (Nah, bulenya bisa ngomong Lampung) *ngomong ke tetangganya yang juga lagi duduk-duduk di rumah seberang*
*lagi jajan di warung karena cuaca waktu itu sedang panas*
Pemilik: Cari apa?
Saya: Sirup ni dapok dikeni es awek, Pak? (Sirupnya bisa dikasih es gak ya, Pak?)
Pemilik: *kaget* Nah, penyana ku jeno kuti ji bule, khadu bingung nyak khepa kanah ngejawabni. (Nah, saya kira tadi bule, udah bingung saya gimana nanti jawab omongan kalian) *Abis itu ngobrol, pake bahasa lampung*
Anak-anak SD: Hello, Mister. How are you?
Saya: Hi, so hot here, is there any cold place here?
Anak-anak SD: *nyengir *mundur* *minggat*
![]() |
| Air minum asli dari mata air |
Sore itu jalan mulai sepi, tak ada lagi rumah penduduk, dan timbul pertanyaan di benak saya, “Kok jalannya nanjak terus?”. Ternyata kami telah memasuki kawasan TNBBS lagi, wilayah perbatasan antara kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus. Untuk mencapai wilayah Tanggamus, kami harus melintasi hutan kawasan TNBBS wilayah Tanggamus. Saya pikir elevasi jalan dalam hutan kawasan bagian Pesisir Barat – Tanggamus sama saja seperti TNBBS bagian Liwa – Krui, namun kata Bang Firman, “Nggak, ini tanjakan yang paling ‘gak sopan’ di Lampung, semuanya tanjakan, curam-curam pula”. Teringat, beberapa bulan lalu, ada bis yang membawa para mahasiswa KKN Unila terperosok di daerah sini. Benar-benar cihuy tanjakan hutan kawasan di sini, ya!
![]() |
| Zigzag teruuus.. |
Tiba-tiba lelah mulai terasa, badan bergemetar, kami lapar. perkampungan sudah pasti gak ada lagi karena sudah di tengah hutan. Akhirnya kami berhenti untuk istirahat. Cek tas, untung masih ada 3 buah alpukat dan gula yang kami beli dari desa Baliyoga tadi pagi. Langsung saja kami kocok dalam gelas. Jadilah jus alpukat darurat. Sedap.
Â
![]() |
| Ngejus alpukat karena kelelahan dan kelaparan di tengah kawasan TNBBS Tanggamus. |
![]() |
| Pesawahan di salah satu pekon di Kota Agung, Tanggamus. |
Â
![]() |
| Akhirnya sepedaku bisa parkir di tepi pantai samudera Hindia. |






































