Setelah lebih dari 5 tahun tidak datang ke kota ini. Kunjungan saat itu
juga bukan untuk jalan-jalan. Tetapi, rapat dengan wedding organizer dan
keluarga besar dari pihak pengantin perempuan.
banyak tinggal di kota gudeg ini. Makanya, pernikahan memang akan
berlangsung di Jogja.
Persiapan pernikahan lebih banyak dilakukan oleh adik saya bersama istri
dan ibu mertuanya bekerjasama dengan salah satu wedding organizer. Tetapi,
ada hari H ‘kan gak mungkin adik saya atau istrinya yang terjun. Perlu
bantuan keluarga besar untuk membantu meskipun sudah ada WO.
Hanya saya dan adik yang datang mewakili keluarga besar dari pihak
pengantin pria. Sedangkan dari pihak perempuan, cukup banyak keluarga
besar yang datang. Terutama kakak-kakak dari ibunya.
Saya dan suami pernah beberapa kali diminta mengurus pernikahan. Malah
biasanya dimulai dari nol alias sejak awal kami yang mengurus. Makanya
saya pun dimintai tolong karena dianggap sudah paham tentang prosesi
pernikahan.
Canggung dan Sedih di Rapat Persiapan Pernikahan
Sore itu, saya merasa canggung dan baper. Saya memang punya pengalaman
mengurus pernikahan. Tetapi, biasanya berdua dengan suami.
Udah gitu, ibu mertua adik saya ‘kan anak bungsu. Kebanyakan yang datang
udah pada sepuh. Saya semakin merasa gugup. Apalagi saya gak terbiasa
ngomong di depan orang banyak. Biasanya suami nih yang bagian ngomong.
Saya sesekali aja menimpali.
Mamah menolak ikut karena merasa belum kuat hati. Papah baru aja wafat.
Mamah khawatir bakal sedih banget kalau ikutan rapat.
Almarhum Papah juga sosok yang supel. Sudah terbiasa berbicara du depan
banyak orang. Meskipun sejak awal, orang tua sudah meminta saya dan suami
untuk bantuin pernikahan adik. Tetapi, setidaknya saya membayangkan kalau
aja papah saat itu ada, paling enggak bisa membantu saya lebih
luwes.
menemani rapat dari awal. Dia dan istrinya masih harus mengikuti kelas pra
nikah. Syarat wajib bagi semua calon pengantin.
Huaaaa … Saya benar-benar sendirian. Rasanya saat itu saya beneran
pengen menangis …
Atmosphere Kuno dan Koleksi Mobil Antik di Oemah Djowo
Terasa sangat melelahkan karena saya tidak bisa tidur
semalaman.
Pengalaman Naik Kereta Taksaka Malam ke Jogja]
Sampai rumah bude adik ipar, saya langsung bebersih badan. Dilanjut dengan
sarapan kemudian tidur sampai menjelang makan siang hehehe.
Bangun tidur, saya kembali bebersih karena persiapan mau rapat. Setelah
itu lanjut makan siang. Disajikan brongkos daging yang rasanya enak.
Sampai saya nambah makannya.
Selesai makan siang, kami pun berangkat ke Oemah Djowo. Di dalam hati
merasa sangat gugup dan sedih. Tetapi, saya gak mau memperlihatkan. Paling
saya lebih banyak diam. Dan memang aslinya juga kalau ketemu banyak orang
lebih banyak diamnya. Beginilah kalau introvert hehehe.
lainnya, saya memilih untuk berkeliling. Memotret suasana resto.
Bangunan Oemah Djowo berbentuk joglo. Seperti rumah khas suku jawa.
Atmosfer kuno dan budaya terasa cukup kental di sini. Menurut info dari
situs Oemah Djowo, bangunannya termasuk dalam cagar budaya.
bila ingin mengadakan pertemuan, tanpa gangguan pengunjung lain. Kami juga
menggunakan ruangan ini. Di sampingnya ada mushola.
puluhan tahun. Oemah Djowo Classic Oto Resto, memang sesuai banget. Tidak
hanya bangunannya yang kuno. Deretan koleksi otomotif antiknya menambah
kesan masa lampau.
Ayam Ingkung Oemah Djowo
harus bertemu dengan orang-orang bikin nyaman dulu. Baru kegugupannya bisa
berkurang.
Keluarga besar adik ipar saya banyak yang ramah. Sejak saya tiba di rumah
budenya hingga pertemuan keluarga, kegugupan saya perlahan menghilang.
Apalagi salah seorang budenya memiliki hobi yang sama dengan saya.
Sama-sama suka memotret. Beliau duduk di sebelah saya dan langsung
mengakrabkan diri.

Oemah Djowo menawarkan banyak menu Indonesia. Terutama menu rumahan ala
Jawa. Ada juga menu Londo (Western), tetapi hanya 3 macam yaitu steak
daging, steak ayam, dan spaghetti saus daging. Sahabat KeNai bisa memilih
per menu atau paket. Kalau paketan ada 4 macam pilihan yaitu
- Piyambangan (Paket 1 orang)
- Sekawan Bebrangen (Paket 4 orang)
- Wolu Berbrangen (Paket 8 orang)
- Sedoso Bebrangen (Paket 10 orang)

udah sore. Agak nanggung kalau mau makan berat. Tetapi, keluarga memilih
paket Piyambangan. Di paket ini ada 6 pilihan. Masing-masing terdiri
dari nasi putih, lauk, sambal, lalapan, dan teh manis/tawar. Lauknya
berbeda-beda dan 3 dari 6 paket ada sopnya.
Pilihan saya antara Paket Djawi 4 (ayam ingkung) atau 6 (bebek rempah).
Saya memang lebih suka daging bebek. Tetapi, saya penasaran dengan ayam
ingkung. Belum pernah mencoba menu ini. Bahkan saya baru tau
namanya.

Ayam Ingkung berasal dari kata “Ing/Ingsung” (Aku) dan “Manekung
(berdo’a dengan penuh hikmat). Memiliki sejarah dan filosofi yang
mendalam. Pada zaman dulu, menu ini dijadikan sesajian pada waktu yang
sakral. Sebagai bentuk rasa syukur manusia kepada Tuhan atas segala
kenikmatan yang diberikan di dunia.
ipar saya menambahkan info, kalau ayam ingkung adalah menu ayam kampung
utuh yang diungkep menggunakan tungku kayu dalam waktu lama. Citarasa
daging ayamnya tidak hanya gurih. Tetapi, bumbunya juga sangat meresap.
Tentunya saya jadi sangat tertarik dengan ayam ingkung. Apalagi saya
belum pernah melihat ada yang menjual menu ini di Jakarta.
Paket Djawi 4 pilihan saya pun datang. Ayam Ingkung yang disajikan,
tentu saja tidak utuh 1 ekor. Ternyata penampilannya mirip ayam areh.
Rasanya juga kurang lebih sama. Setelah saya kembali googling pun
resepnya kurang lebih sama.
Gak salah pilih menu deh saya. Ayamnya terasa gurih dan bumbunya
meresap. Bikin saya lupa, kalau baru aja makan siang dengan Brongkos.
Puas banget saya seharian itu karena semua makanan baik di rumah bude
adik ipar saya maupun di Oemah Djowo tuh enak semua. Alhamdulillah.
akan kembali ke Jakarta malam itu juga. Di bangunan utama, terlihat
sedang ada persiapan. Mungkin ada rombongan tamu yang akan merayakan
sesuatu sambil makan malam.
Cek Jadwal Big Bird Bandara Agar Tidak Ketinggalan Pesawat]
Tutup Permanen Karena Pandemi?
Piyambangan kisarannya antara IDR30K s/d IDR35K. Menu-menu satuannya
juga gak mahal.
Saya memang membandingkan dengan harga menu di Jakarta. Selain murah,
rasanya juga enak, porsinya pas, dan suasananya nyaman. Saya bertekad
harus makan di Oemah Djowo lagi kalau kembali ke Jogja.
Dengan berbagai alasan, cerita tentang makan sore di Oemah Djowo baru
saya posting sekarang. Berarti udah 1,5 tahun yang lalu. Google Maps
memberi keterangan kalau resto ini sudah tutup permanen.
pandemi COVID-19, kah?
tidak ada keterangan apapun. Hanya tau-tau berhenti posting hingga
sekarang. Saya cek di website Oemah Djowo pun gak ada informasi.
Saya tuh suka dengan konsep resto seperti Oemah Djowo, terutama
menu-menunya. Bukan saya tidak menyukai menu kekinian. Tetapi, menu
rumahan atau khas suatu daerah masih yang paling menarik. Di Oemah Djowo
ini banyak menu ala Jawa yang klasik.
Kalau memang tutup permanen karena pandemi, sedih lah saya. Pandemi
segeralah berlalu!
Oemah Djowo Oto Classic Resto




























