Ketika seorang trader merasa telah cukup berpengalaman di dunia trading forex,
ia akan rentan terserang “penyakit sombong”. Ia mulai percaya bahwa ia
memang benar-benar bisa memprediksi dengan tepat ke mana harga akan
bergerak. Ia merasa jumawa, merasa berada di puncak dunia. “Penyakit”
ini sungguh sangat rentan menyerang siapa pun yang telah berkecimpung di
dunia trading forex selama bertahun-tahun. Apalagi ternyata mayoritas analisa yang ia buat ternyata valid, sehingga ada beberapa institusi seperti broker forex
dan/atau penyedia layanan analisa trading tertarik untuk memanfaatkan
jasa analisa darinya. Jangankan yang “veteran forex” dan sukses, yang
pemula dan remuk redam pun sering terserang “penyakit” ini; bahkan lebih
parah. Ironis memang.
ia akan rentan terserang “penyakit sombong”. Ia mulai percaya bahwa ia
memang benar-benar bisa memprediksi dengan tepat ke mana harga akan
bergerak. Ia merasa jumawa, merasa berada di puncak dunia. “Penyakit”
ini sungguh sangat rentan menyerang siapa pun yang telah berkecimpung di
dunia trading forex selama bertahun-tahun. Apalagi ternyata mayoritas analisa yang ia buat ternyata valid, sehingga ada beberapa institusi seperti broker forex
dan/atau penyedia layanan analisa trading tertarik untuk memanfaatkan
jasa analisa darinya. Jangankan yang “veteran forex” dan sukses, yang
pemula dan remuk redam pun sering terserang “penyakit” ini; bahkan lebih
parah. Ironis memang.

Penyakit “merasa hebat” seperti ini
kerap menggiring seorang trader untuk berpikir bahwa ia telah
benar-benar mengetahui setiap inci dari pergerakan pasar. Asumsi seperti
ini – celakanya – justru berbahaya karena bisa membuat seorang trader
forex merasa seperti “Dewa Trading”. Pengidap “Sindrom Dewa Trading”
memiliki semacam keyakinan bahwa ia bisa benar-benar memprediksi ke mana
harga bergerak tanpa pernah meleset. Dalam pikirannya ia PASTI AKAN
UNTUNG. Dalam keadaan seperti ini, ia telah benar-benar merasa bisa
menihilkan kemungkinan bahwa ia bisa saja melakukan kesalahan.
kerap menggiring seorang trader untuk berpikir bahwa ia telah
benar-benar mengetahui setiap inci dari pergerakan pasar. Asumsi seperti
ini – celakanya – justru berbahaya karena bisa membuat seorang trader
forex merasa seperti “Dewa Trading”. Pengidap “Sindrom Dewa Trading”
memiliki semacam keyakinan bahwa ia bisa benar-benar memprediksi ke mana
harga bergerak tanpa pernah meleset. Dalam pikirannya ia PASTI AKAN
UNTUNG. Dalam keadaan seperti ini, ia telah benar-benar merasa bisa
menihilkan kemungkinan bahwa ia bisa saja melakukan kesalahan.
Tetapi sayangnya pada kenyataannya tidak
seorang trader pun bisa menghilangkan unsur ketidakpastian di pasar
forex. Ketidakpastian telah menjadi karakter setiap bentuk bisnis;
itulah yang disebut dengan resiko. Tidak ada seorang pun yang bisa
memberikan prediksi yang 100% akurat mengenai apa yang akan terjadi di
pasar selanjutnya. Sekali lagi: TIDAK ADA.
seorang trader pun bisa menghilangkan unsur ketidakpastian di pasar
forex. Ketidakpastian telah menjadi karakter setiap bentuk bisnis;
itulah yang disebut dengan resiko. Tidak ada seorang pun yang bisa
memberikan prediksi yang 100% akurat mengenai apa yang akan terjadi di
pasar selanjutnya. Sekali lagi: TIDAK ADA.
Prediksi 100% Akurat? Ah, Jangan Mimpi !
Berupaya memprediksi pergerakan pasar
ibarat berusaha memprediksi masa depan. Saya yakin Anda akan sepakat
dengan saya: tidak ada seorang pun yang bisa TAHU PERSIS apa yang akan
terjadi di masa yang akan datang, even in the next five minutes.
ibarat berusaha memprediksi masa depan. Saya yakin Anda akan sepakat
dengan saya: tidak ada seorang pun yang bisa TAHU PERSIS apa yang akan
terjadi di masa yang akan datang, even in the next five minutes.
Masih segar dalam ingatan saya, ketika
saya berbicara di sebuah forum tentang ketidakmampuan manusia
memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa
menit kemudian “kecelakaan kecil” terjadi: segelas air menumpahi laptop
saya. Jelas, saya sebelumnya tidak tahu hal itu akan terjadi. Seperti
itulah resiko.
saya berbicara di sebuah forum tentang ketidakmampuan manusia
memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa
menit kemudian “kecelakaan kecil” terjadi: segelas air menumpahi laptop
saya. Jelas, saya sebelumnya tidak tahu hal itu akan terjadi. Seperti
itulah resiko.
Sebagai trader, jika Anda bersikeras
memiliki “bakat supranatural” yang bisa memprediksi arah pasar
selanjutnya dan dengan keras kepala mengesampingkan setiap kemungkinan
yang ada, maka bersiaplah untuk menghadapi keterpurukan.
memiliki “bakat supranatural” yang bisa memprediksi arah pasar
selanjutnya dan dengan keras kepala mengesampingkan setiap kemungkinan
yang ada, maka bersiaplah untuk menghadapi keterpurukan.
Tentu saja kita tidak sedang
membicarakan mengenai kemampuan seorang trader berpengalaman dalam
mengenali tingkah laku pasar. Dalam analisa teknikal kita mempercayai
bahwa “history repeats itself”. Sejarah selalu berulang, dalam arti
perilaku pasar telah terbukti secara historis selalu berulang. Itulah
sebabnya kita bisa mempelajari dan memanfaatkan – misalnya – pola-pola candlestick, price action
dan perilaku indikator teknikal. Dari studi dan pengamatan seperti itu
kita kemudian bisa memperkirakan ke mana kemungkinan harga akan
bergerak.
membicarakan mengenai kemampuan seorang trader berpengalaman dalam
mengenali tingkah laku pasar. Dalam analisa teknikal kita mempercayai
bahwa “history repeats itself”. Sejarah selalu berulang, dalam arti
perilaku pasar telah terbukti secara historis selalu berulang. Itulah
sebabnya kita bisa mempelajari dan memanfaatkan – misalnya – pola-pola candlestick, price action
dan perilaku indikator teknikal. Dari studi dan pengamatan seperti itu
kita kemudian bisa memperkirakan ke mana kemungkinan harga akan
bergerak.
Kemungkinan Bukan Kepastian
Nah, ini kata kuncinya: “kemungkinan”. Memperkirakan potensi pergerakan harga BERBEDA dengan merasa jumawa bisa meramal ke mana harga akan bergerak. Pendekatan model “kemungkinan” ini kemudian yang membuat seorang trader forex mengambil langkah hati-hati dan antisipasi dengan memasang stop loss. Ia juga akan mengatur modalnya dengan position sizing. Kalaupun ia mengalami loss, ia akan menerimanya dengan lapang dada dan kemudian akan mengevaluasi strategi trading yang dipergunakannya. Ini yang tidak pernah akan dilakukan oleh seorang trader yang mengidap “Sindrom Dewa Trading”.
Pengidap “Sindrom Dewa Trading” sangat
mungkin tidak akan melakukan tindakan antisipasi resiko. Untuk apa, jika
ia merasa akan selalu benar? Kalaupun ternyata ia mengalami kerugian,
ia akan dengan keras kepala menyalahkan pasar (bagian ini yang selalu
paling menggelikan) dan tidak mau melakukan evaluasi pada strategi
trading yang ia miliki.
mungkin tidak akan melakukan tindakan antisipasi resiko. Untuk apa, jika
ia merasa akan selalu benar? Kalaupun ternyata ia mengalami kerugian,
ia akan dengan keras kepala menyalahkan pasar (bagian ini yang selalu
paling menggelikan) dan tidak mau melakukan evaluasi pada strategi
trading yang ia miliki.
Fokus Pada Proses
Sebagai trader, sebaiknya Anda tidak
berupaya untuk meramal, melainkan “membaca”. Apa yang dibaca? Tentu
adalah perilaku dan situasi pasar terkini, untuk kemudian mengambil
langkah strategis dan antisipasi yang perlu.
berupaya untuk meramal, melainkan “membaca”. Apa yang dibaca? Tentu
adalah perilaku dan situasi pasar terkini, untuk kemudian mengambil
langkah strategis dan antisipasi yang perlu.
Ibarat menyetir mobil, ketika Anda ingin
menyalip mobil di depan, sebaiknya Anda tidak berasumsi “pasti tidak
ada kendaraan dari arah berlawanan”. Sebaliknya, yang harusnya Anda
lakukan adalah mengamati apakah dari arah berlawanan ada kendaraan yang
sedang berjalan? Jika tidak, silakan pacu mobil Anda untuk mendahului.
Jika ternyata ada, amati lagi: apakah kendaraan itu melaju kencang? Jika
ya, sebaiknya tunda dulu niat untuk menyalip. Konyol dan pandir jika
Anda bersikeras “tidak akan terjadi apa-apa” lalu nekat menyalip,
sementara banyak faktor yang sangat memungkinkan untuk “terjadi
apa-apa”.
menyalip mobil di depan, sebaiknya Anda tidak berasumsi “pasti tidak
ada kendaraan dari arah berlawanan”. Sebaliknya, yang harusnya Anda
lakukan adalah mengamati apakah dari arah berlawanan ada kendaraan yang
sedang berjalan? Jika tidak, silakan pacu mobil Anda untuk mendahului.
Jika ternyata ada, amati lagi: apakah kendaraan itu melaju kencang? Jika
ya, sebaiknya tunda dulu niat untuk menyalip. Konyol dan pandir jika
Anda bersikeras “tidak akan terjadi apa-apa” lalu nekat menyalip,
sementara banyak faktor yang sangat memungkinkan untuk “terjadi
apa-apa”.
Dalam trading, pola berpikir seperti di
atas merupakan proses meminimalisir resiko. Apakah sudah ada sinyal
trading yang valid? Apakah posisi yang akan diambil sudah sesuai dengan
trend? Apakah lot yang akan ditransaksikan sesuai dengan kekuatan modal?
Apakah batasan stop loss tidak terlalu besar? Apakah target profit
sudah realistis? Dan sebagainya.
atas merupakan proses meminimalisir resiko. Apakah sudah ada sinyal
trading yang valid? Apakah posisi yang akan diambil sudah sesuai dengan
trend? Apakah lot yang akan ditransaksikan sesuai dengan kekuatan modal?
Apakah batasan stop loss tidak terlalu besar? Apakah target profit
sudah realistis? Dan sebagainya.
Proses seperti ini, kemungkinan besar
diabaikan oleh pengidap Sindrom Dewa Trading. “Ah, tak perlu, nanti juga
pasti akan untung,” begitu mungkin yang ada dalam pikirannya. Jika Anda
sudah berpikir seperti itu – sorry to say – karir trading forex Anda sepertinya tak akan lama.
diabaikan oleh pengidap Sindrom Dewa Trading. “Ah, tak perlu, nanti juga
pasti akan untung,” begitu mungkin yang ada dalam pikirannya. Jika Anda
sudah berpikir seperti itu – sorry to say – karir trading forex Anda sepertinya tak akan lama.
Mungkin saat ini di luar sana ada
seorang pengidap “Sindrom Dewa Trading” sedang menertawakan tulisan ini
dan melontarkan segala macam apologi dan justifikasi. Tidak apa-apa.
Tugas saya hanya mengingatkan. Mudah-mudahan diterima.
seorang pengidap “Sindrom Dewa Trading” sedang menertawakan tulisan ini
dan melontarkan segala macam apologi dan justifikasi. Tidak apa-apa.
Tugas saya hanya mengingatkan. Mudah-mudahan diterima.
Baca juga:
Cara Menentukan Stop Loss (SL)
Tipe Trader Forex Seperti Apakah Anda ?
Resiko Dalam Trading Forex
ADVERTISEMENT









