
Kerajinan gerabah tempel kulit bambu yang dikembangkan
Sunardi, warga Dusun Neco, Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mampu menembus pasar Eropa.
“Gerabah-gerabah ini banyak di pesan di sejumlah negara di Eropa dan omset
perbulan mencapai rata-rata Rp100 juta,” kata Sunardi, Minggu.
Menurut dia, usaha yang dirintisnya ini berawal ketika dirinya diberhentikan
dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan kerajinan ekspor pada 2002.
“Saat itu dengan modal Rp80.000 saya mencoba untuk membuat sesuatu yang
memiliki nilai dengan pengalaman yang saya miliki saat bekerja di perusahaan
kerajinan,” katanya.
Ia mengatakan, keseriusannya dalam menggeluti kerajinan gerabah tempel tersebut
saat ini mulai menampakkan hasil dengan pangsa pasar ekspor ke Eropa dan
Australia serta pasar dalam negeri. “Saat itu dengan dibantu dua tetangga,
saya mencoba membuat membuat contoh kerajinan gerabah tempel dengan memanfaat
limbah kulit bambu yang melimpah di sini karena sebagian besar penduduk Dusun
Neco merupakan perajin `kepang` (dinding bambu),” katanya.
Bekas kulit bambu yang tidak dipakai untuk membuat “kepang”
dimanfaatkan untuk membuat gerabah tempel. “Kulit bambu bekas dengan
ketebalan 0,5 milimeter itu setiap ikat dengan ukuran panjang 50 hingga 60
centimeter saya peroleh dengan harga Rp1.500 hingga Rp2.000 perikat,”
katanya.
Gerabah yang akan ditempeli dengan kulit bambu itu dibeli langsung dari perajin
gerabah di Kasongan, Bantul, dengan harga setiap gerabah mencapai Rp30.000
hingga Rp40.000 tergantung pada besar kecilnya ukuran gerabah.
“Proses pembuatan gerabah tempel sendiri cukup mudah yaitu mengolesi
gerabah dengan lem kayu, selanjutnya kulit bambu yang telah siap mulai ditempel
satu per satu dengan rapi,” katanya.
Setelah seluruh gerabah ditempel dengan kulit bambu, selanjutnya dikeringkan
dan setelah kering dicuci dan dijemur agar kering kembali. “Gerabah
kemudian dicat sesuai dengan permintaan dari pembeli. Ada sepuluh macam cat
yang biasanya diminta para pembeli, kami tinggal mengecat gerabah yang telah
ditempeli kulit bambu sesuai permintaan,” katanya.
Sunardi mengatakan, pemasaran kerajinan gerabah masih menggantungkan
“perantara” sehingga keuntungan yang diperoleh tidak cukup besar,
hanya dalam kisaran 20 persen dari harga yang diterima “perantara”.
Ia mencontohkan, untuk satu kerajinan gerabah tempel senilai Rp150.000 dengan
biaya produksi senilai Rp100.000, keuntungan yang didapat hanya sekitar
Rp30.000 sedangkan sisanya yaitu Rp20.000 untuk perantara. “Dalam satu
bulan kami dapat mengirim gerabah tempel antara 500 unit hingga 1.000 unit
dengan tenaga yang mengerjakan sekitar 30 warga sekitar,” katanya.
Sunardi, warga Dusun Neco, Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul,
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mampu menembus pasar Eropa.
“Gerabah-gerabah ini banyak di pesan di sejumlah negara di Eropa dan omset
perbulan mencapai rata-rata Rp100 juta,” kata Sunardi, Minggu.
Menurut dia, usaha yang dirintisnya ini berawal ketika dirinya diberhentikan
dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan kerajinan ekspor pada 2002.
“Saat itu dengan modal Rp80.000 saya mencoba untuk membuat sesuatu yang
memiliki nilai dengan pengalaman yang saya miliki saat bekerja di perusahaan
kerajinan,” katanya.
Ia mengatakan, keseriusannya dalam menggeluti kerajinan gerabah tempel tersebut
saat ini mulai menampakkan hasil dengan pangsa pasar ekspor ke Eropa dan
Australia serta pasar dalam negeri. “Saat itu dengan dibantu dua tetangga,
saya mencoba membuat membuat contoh kerajinan gerabah tempel dengan memanfaat
limbah kulit bambu yang melimpah di sini karena sebagian besar penduduk Dusun
Neco merupakan perajin `kepang` (dinding bambu),” katanya.
Bekas kulit bambu yang tidak dipakai untuk membuat “kepang”
dimanfaatkan untuk membuat gerabah tempel. “Kulit bambu bekas dengan
ketebalan 0,5 milimeter itu setiap ikat dengan ukuran panjang 50 hingga 60
centimeter saya peroleh dengan harga Rp1.500 hingga Rp2.000 perikat,”
katanya.
Gerabah yang akan ditempeli dengan kulit bambu itu dibeli langsung dari perajin
gerabah di Kasongan, Bantul, dengan harga setiap gerabah mencapai Rp30.000
hingga Rp40.000 tergantung pada besar kecilnya ukuran gerabah.
“Proses pembuatan gerabah tempel sendiri cukup mudah yaitu mengolesi
gerabah dengan lem kayu, selanjutnya kulit bambu yang telah siap mulai ditempel
satu per satu dengan rapi,” katanya.
Setelah seluruh gerabah ditempel dengan kulit bambu, selanjutnya dikeringkan
dan setelah kering dicuci dan dijemur agar kering kembali. “Gerabah
kemudian dicat sesuai dengan permintaan dari pembeli. Ada sepuluh macam cat
yang biasanya diminta para pembeli, kami tinggal mengecat gerabah yang telah
ditempeli kulit bambu sesuai permintaan,” katanya.
Sunardi mengatakan, pemasaran kerajinan gerabah masih menggantungkan
“perantara” sehingga keuntungan yang diperoleh tidak cukup besar,
hanya dalam kisaran 20 persen dari harga yang diterima “perantara”.
Ia mencontohkan, untuk satu kerajinan gerabah tempel senilai Rp150.000 dengan
biaya produksi senilai Rp100.000, keuntungan yang didapat hanya sekitar
Rp30.000 sedangkan sisanya yaitu Rp20.000 untuk perantara. “Dalam satu
bulan kami dapat mengirim gerabah tempel antara 500 unit hingga 1.000 unit
dengan tenaga yang mengerjakan sekitar 30 warga sekitar,” katanya.
Sumber :
ciputraentreprenuerchip.com
ADVERTISEMENT


























