ADVERTISEMENT

Suasana menjelang salat berjemaah di
Sekolah Dasar Islam Lazuardi, Cinere, Depok, Jawa Barat, mendadak riuh.
Alih-alih bersiap-siap sembahyang, sekumpulan siswa malah berebut melihat dan
memegangi sajadah katun biru berlatar gambar pepohonan, langit, bulan, dan
bintang bersinar. Di bawahnya, dua kelinci sedang naik kereta api.
Wajah Tiara Swarna Maharani Iskandar dan Kirana Ratnakanya Paramartha Iskandar,
sang empunya sajadah, berseri-seri dan bangga karena kawan-kawannya menyukai
perlengkapan salatnya.
“Ini buatan bundaku. Kalau mau, pesan saja ke bundaku,” kata
Angelique Octaviana Aveling menirukan ucapan Tiara, anak sulungnya, lebih dari
setahun lalu itu. Tak disangka, kepolosan bocah berusia delapan tahun ini
justru mengubah jalan hidup Angelique. Beberapa orang tua sahabat sang anak
ingin membeli sajadah unik dan lucu tersebut.
Angel, begitu ia disapa, sebenarnya tak pernah berencana menjual perlengkapan
salat. Semula dia hanya membuat sajadah bermotif kartun agar sang buah hati
sukarela dan senang hati menjalankan ibadah lima waktu.
“Memotivasi anak agar mau salat, susahnya bukan main,” katanya. Dia lalu
bergerilya mencari peralatan salat yang disukai anak-anak. Nihil! Barang yang
dicarinya tak ada. Semua dalam desain konvensional, yang kurang menarik bagi
anak-anak baik dari ukuran maupun motifnya. Alhasil, Angelique bersama ibunya,
Sri Aveling, berinisiatif membuat sendiri sajadah bercorak gambar kartun untuk
kedua anaknya.
Namun, sejak pesanan berdatangan, ibu kelahiran 37 tahun lalu ini memberanikan
diri merintis usaha pembuatan peralatan salat anak-anak bernama “Lolipop
Kid’s Ware”. Kebetulan Angelique sedang tak punya kegiatan lain setelah
berhenti bekerja sebagai sekretaris di perusahaan minyak nasional. Adapun
ibundanya juga ingin menyibukkan diri setelah pensiun dari perusahaan minyak
asing.
Dengan modal awal Rp 3 juta dari kocek sendiri, medio April 2007 Angelique dan
Sri memulai pembuatan sajadah anak bercorak gambar kartun. Dia dibantu lima
tenaga kerja tak tetap dari lingkungan sekitarnya, sebagai tukang potong kain,
penjahit, dan pembuat bordir.
Agar produknya cocok dengan sense anak-anak, alumnus Fakultas Hukum Universitas
Pancasila ini membuat desain corak dan gambar berdasarkan masukan dari kedua
anaknya. Bocah-bocah cilik itu membuat gambar dan sketsanya. “Saya
memperbaiki dan menerapkannya pada sajadah yang akan dibuat,” ujar Angel.
Agar mudah dibawa-bawa, bahan sajadah dibuat dari kain katun lembut yang
ringan.
Untuk memasarkan produknya, anak tunggal dari pasangan Sri dan Willy Aveling
itu mempromosikannya lewat mulut ke mulut pada kegiatan ibu-ibu di sekitar
tempat tinggalnya di Limo, Cinere, Depok. Kadang-kadang pemasaran lewat bazaar
juga dilakoninya.
Tapi menjual sajadah khusus anak tak semulus yang dibayangkan. Selain
keterbatasan modal, menjual perlengkapan ibadah ternyata lumayan rumit.
Penjualan perlengkapan salat umumnya bergantung musim, seperti bulan puasa dan
Idul Fitri. Alhasil, Angelique bekerja keras menyiasatinya. Salah satunya,
melakukan inovasi dan diversifikasi produk. Penjualan sajadah, misalnya, satu
paket dengan baju koko dan mukena. Sajadah juga mulai dipasangi tali dan bisa
multifungsi sebagai alas salat dan tas untuk menyimpan mukena atau baju koko.
Strategi ini ternyata cukup berhasil. Penjualan produk-produk Lolipop Kid’s
Ware mulai meningkat. Pemesanan sedikit demi sedikit terus mengalir.
Angelique dan ibunya sebenarnya juga mencoba mempromosikan produknya lewat
pameran-pameran berskala nasional. Tapi ini hanya sesekali dilakoninya karena
biayanya cukup mahal, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Padahal
dana kami juga terbatas,” ujar wanita yang senang menggambar kartun ini.
Berkat masukan kawan-kawan sekolahnya yang juga menggeluti bisnis rumah tangga,
Angelique memanfaatkan dunia maya alias Internet untuk berpromosi. Sebuah blog
beralamat www.sajadahanakku.multiply.com dibuat dan jadi sarana penjualan
produknya. Alamat ruang pamer (showroom) juga dicantolkan pada situs bisnis di
Internet, seperti milis komunitas eksportir dan http://www.indonetwork.net atau
http://indocrafter.com.
Ternyata hasilnya cukup lumayan. Sejumlah pesanan dari luar kota, kata dia,
mulai berdatangan. Bahkan ada eksportir dari Filipina dan Inggris menawarkan
diri untuk membeli produknya. “Masih dalam taraf penjajakan, belum ada
kesepakatan harga,” ujar wanita cantik ini. Soal harga jual, Angelique
keukeuh no comment. Tapi, berdasarkan penelusuran Tempo di pasar, harga sajadah
kartun ini sekitar Rp 150-170 ribu per item.
Menurut dia, pemasaran lewat Internet sangat membantu karena biayanya murah dan
hemat waktu. Transaksi bisa lewat surat elektronik atau telepon. Intinya, menjaring
fulus masih bisa dilakukannya sambil mendampingi kedua anaknya bermain dan
bersekolah.
Hoki tampaknya mulai mendekati istri M. Edwinsjah Iskandar ini. Wilayah
pemasaran sajadah khas anak miliknya semakin luas, tak hanya di Jakarta, tapi
juga Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan, bahkan Aceh. Omzet penjualan
sudah bisa mencapai Rp 3-11 juta per bulan.
Tak hanya menjual perlengkapan salat. Kini Lolipop Kid’s Ware juga merambah
pembuatan handuk unik, T-shirt, sarung bantal dan guling, serta seprai. Jadi,
berbisnis sekaligus ibadah, mengapa tidak?
Lolipop Kid’s Ware
Jalan Maumere Kaveling 165, Cinere Megapolitan Blok M
Depok 16515, Jawa Barat, Indonesia
Sekolah Dasar Islam Lazuardi, Cinere, Depok, Jawa Barat, mendadak riuh.
Alih-alih bersiap-siap sembahyang, sekumpulan siswa malah berebut melihat dan
memegangi sajadah katun biru berlatar gambar pepohonan, langit, bulan, dan
bintang bersinar. Di bawahnya, dua kelinci sedang naik kereta api.
Wajah Tiara Swarna Maharani Iskandar dan Kirana Ratnakanya Paramartha Iskandar,
sang empunya sajadah, berseri-seri dan bangga karena kawan-kawannya menyukai
perlengkapan salatnya.
“Ini buatan bundaku. Kalau mau, pesan saja ke bundaku,” kata
Angelique Octaviana Aveling menirukan ucapan Tiara, anak sulungnya, lebih dari
setahun lalu itu. Tak disangka, kepolosan bocah berusia delapan tahun ini
justru mengubah jalan hidup Angelique. Beberapa orang tua sahabat sang anak
ingin membeli sajadah unik dan lucu tersebut.
Angel, begitu ia disapa, sebenarnya tak pernah berencana menjual perlengkapan
salat. Semula dia hanya membuat sajadah bermotif kartun agar sang buah hati
sukarela dan senang hati menjalankan ibadah lima waktu.
“Memotivasi anak agar mau salat, susahnya bukan main,” katanya. Dia lalu
bergerilya mencari peralatan salat yang disukai anak-anak. Nihil! Barang yang
dicarinya tak ada. Semua dalam desain konvensional, yang kurang menarik bagi
anak-anak baik dari ukuran maupun motifnya. Alhasil, Angelique bersama ibunya,
Sri Aveling, berinisiatif membuat sendiri sajadah bercorak gambar kartun untuk
kedua anaknya.
Namun, sejak pesanan berdatangan, ibu kelahiran 37 tahun lalu ini memberanikan
diri merintis usaha pembuatan peralatan salat anak-anak bernama “Lolipop
Kid’s Ware”. Kebetulan Angelique sedang tak punya kegiatan lain setelah
berhenti bekerja sebagai sekretaris di perusahaan minyak nasional. Adapun
ibundanya juga ingin menyibukkan diri setelah pensiun dari perusahaan minyak
asing.
Dengan modal awal Rp 3 juta dari kocek sendiri, medio April 2007 Angelique dan
Sri memulai pembuatan sajadah anak bercorak gambar kartun. Dia dibantu lima
tenaga kerja tak tetap dari lingkungan sekitarnya, sebagai tukang potong kain,
penjahit, dan pembuat bordir.
Agar produknya cocok dengan sense anak-anak, alumnus Fakultas Hukum Universitas
Pancasila ini membuat desain corak dan gambar berdasarkan masukan dari kedua
anaknya. Bocah-bocah cilik itu membuat gambar dan sketsanya. “Saya
memperbaiki dan menerapkannya pada sajadah yang akan dibuat,” ujar Angel.
Agar mudah dibawa-bawa, bahan sajadah dibuat dari kain katun lembut yang
ringan.
Untuk memasarkan produknya, anak tunggal dari pasangan Sri dan Willy Aveling
itu mempromosikannya lewat mulut ke mulut pada kegiatan ibu-ibu di sekitar
tempat tinggalnya di Limo, Cinere, Depok. Kadang-kadang pemasaran lewat bazaar
juga dilakoninya.
Tapi menjual sajadah khusus anak tak semulus yang dibayangkan. Selain
keterbatasan modal, menjual perlengkapan ibadah ternyata lumayan rumit.
Penjualan perlengkapan salat umumnya bergantung musim, seperti bulan puasa dan
Idul Fitri. Alhasil, Angelique bekerja keras menyiasatinya. Salah satunya,
melakukan inovasi dan diversifikasi produk. Penjualan sajadah, misalnya, satu
paket dengan baju koko dan mukena. Sajadah juga mulai dipasangi tali dan bisa
multifungsi sebagai alas salat dan tas untuk menyimpan mukena atau baju koko.
Strategi ini ternyata cukup berhasil. Penjualan produk-produk Lolipop Kid’s
Ware mulai meningkat. Pemesanan sedikit demi sedikit terus mengalir.
Angelique dan ibunya sebenarnya juga mencoba mempromosikan produknya lewat
pameran-pameran berskala nasional. Tapi ini hanya sesekali dilakoninya karena
biayanya cukup mahal, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. “Padahal
dana kami juga terbatas,” ujar wanita yang senang menggambar kartun ini.
Berkat masukan kawan-kawan sekolahnya yang juga menggeluti bisnis rumah tangga,
Angelique memanfaatkan dunia maya alias Internet untuk berpromosi. Sebuah blog
beralamat www.sajadahanakku.multiply.com dibuat dan jadi sarana penjualan
produknya. Alamat ruang pamer (showroom) juga dicantolkan pada situs bisnis di
Internet, seperti milis komunitas eksportir dan http://www.indonetwork.net atau
http://indocrafter.com.
Ternyata hasilnya cukup lumayan. Sejumlah pesanan dari luar kota, kata dia,
mulai berdatangan. Bahkan ada eksportir dari Filipina dan Inggris menawarkan
diri untuk membeli produknya. “Masih dalam taraf penjajakan, belum ada
kesepakatan harga,” ujar wanita cantik ini. Soal harga jual, Angelique
keukeuh no comment. Tapi, berdasarkan penelusuran Tempo di pasar, harga sajadah
kartun ini sekitar Rp 150-170 ribu per item.
Menurut dia, pemasaran lewat Internet sangat membantu karena biayanya murah dan
hemat waktu. Transaksi bisa lewat surat elektronik atau telepon. Intinya, menjaring
fulus masih bisa dilakukannya sambil mendampingi kedua anaknya bermain dan
bersekolah.
Hoki tampaknya mulai mendekati istri M. Edwinsjah Iskandar ini. Wilayah
pemasaran sajadah khas anak miliknya semakin luas, tak hanya di Jakarta, tapi
juga Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan, bahkan Aceh. Omzet penjualan
sudah bisa mencapai Rp 3-11 juta per bulan.
Tak hanya menjual perlengkapan salat. Kini Lolipop Kid’s Ware juga merambah
pembuatan handuk unik, T-shirt, sarung bantal dan guling, serta seprai. Jadi,
berbisnis sekaligus ibadah, mengapa tidak?
Lolipop Kid’s Ware
Jalan Maumere Kaveling 165, Cinere Megapolitan Blok M
Depok 16515, Jawa Barat, Indonesia
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com



























