Untuk
memulai bisnis penangkaran cucak rowo, sebaiknya didasarkan pada hobi.
Namun, bukan berarti jika kurang memiliki hobi tidak bisa terjun ke
bisnis penangkaran cucak rowo. Sebenarnya
banyak penangkar cucak rowo yang siap membantu. Tinggal sekarang
bagaimana memilih penangkar binaan cucak rowo yang baik dan bertanggung
jawab. Safrudin menyarankan, jika ingin belajar dengan prospek yang
maksimal sebaiknya membeli induk yang berasal dari penangkar
berpengalaman. Biasanya penangkar yang sudah lama akan memberikan
bimbingan, malah jika kurang berhasil bertelur bisa ditukar kembali
dengan yang lebih prospek. ”Saya sudah mencoba. Kalau mau bisnis jadi
penangkar, carilah bimbingan dengan yang sudah berpengalaman,” terang
Safrudin. Cara memaster induk cucak rowo pun harus benar dan
dilatih satu hari delapan jam selama minimal delapan bulan. Untuk
memudahkan pelatihan, baiknya di sela-sela kandang diputarkan CD dengan
suara sayup-sayup santai. Burung tersebut pasti akan mengikuti suara
CD-nya. Namun, ada baiknya kalau mau memaster induk cucak rowo
sebaiknya tiga hingga empat ekor. “Tidak mungkin bisa satu hari
melakukan itu kalau tidak menggunakan alat,” ujarnya. Untuk melihat
perkembangan induk cucak rowo, penangkar bisa mempergunakan teknologi
CCTV yang ditempatkan di dalam kandang. Jumlahnya bervariasi, bisa tiga
atau empat, bergantung kebutuhan. Keberadaan CCTV itu juga bisa
digunakan untuk menjaga keamanan dari cucak rowo. Maklum, harga per ekor
cucak rowo relatif mahal, apalagi jika telah berusia lebih dari satu
tahun dan bersuara ropel. Sedangkan masalah bertelur bagi burung cucak
rowo, Safrudin mengatakan untuk tahap awal memang diperlukan waktu yang
cukup lama. Tapi setelah itu, burung cucak rowo akan bertelur
setiap dua minggu. Pada usia 1,5 bulan, anakan cucak rowo sudah bisa
ditawarkan kepada peminat dengan harga mulai dari Rp2,5 juta per ekor.
(*/Koran SI) |