Untuk
dapat berfungsi sebagai sebuah kelompok sosial, kami sering menghindari
komunikasi langsung yang bisa menimbulkan konflik. Terdapat
kecenderungan untuk mencapai konsensus sosial: mengabaikan atau
mengacuhkan fakta-fakta sulit dan muncul dengan versi kenyataan yang
tidak terlalu menantang untuk anggota kelompok. Perusahaan
tidak bisa membiarkan saja kecenderungan manusiawi ini menyamarkan
kebutuhan akan tindakan radikal terhadap masalah-masalah yang penting.
Para kolega harus didorong untuk bersikap terus terang, jujur dan ‘apa
adanya’. Pemimpin perusahaan yang mengembangkan ide keterbukaan
dalam hubungan bisnis lebih dari siapapun juga ialah Jack Welch,
pimpinan dan CEO General Electric dari tahun 1981 hingga 2001.
Keterbukaan, tandas Welch, berkenaan dengan pertanyaan yang sukar.
Daripada membicarakan tentang sulitnya lingkungan usaha dan mengucapkan
selamat satu sama lainnya karena telah berhasil melewati saat-saat sulit
dengan baik. “Kini bayangkan sebuah lingkungan yang di mana
Anda bertanggung jawab atas keterbukaannya. Anda akan menanyakan
pertanyaan-pertanyan seperti: Adakah produk atau layanan baru dalam
perusahaan Anda yang belum pernah terpikirkan oleh kami? Bisakah kita
memulai bisnis secara lebih cepat dengan melakukan akuisisi? Bisnis ini
menggunakan begitu banyak sumber daya. Mengapa kita tidak
meninggalkannya saja?” Welch yakin bahwa keterbukaan membawa
lebih banyak orang terlibat dalam dialog yang akan menciptakan sebuah
lingkungan yang kaya akan ide. Ini juga akan mempercepat jalannya
berbagai hal:” Saat ide-ide disodorkan ke tiap orang, mereka bisa
berdebat tentangnya secara cepat, mengembangkannya dan meningkatkannya
serta bertindak atas ide tersebut.” Meskipun banyak perusahaan
menerima cara penyodoran gagasan ini dalam pelaksanaan bisnis, beberapa
budaya nasional (dan banyak orang dalam budaya apapun) bersifat menahan
pendekatan tersebut dan pemimpin harus mengingat hal ini. Jun
Tang, Presiden Microsoft China, menekankan kenyataan bahwa manajer bisa
menyakiti hati dengan berbicara terlalu terus terang dan menimbulkan
ketersinggungan. “Seseorang bisa menyakiti perasaan orang lain
selamanya. Budaya Amerika sangat terus terang. Namun orang (China) lebih
peka. Kepekaan ialah bagian dari budaya mereka yang berusia 5000
tahun.” Masalahnya tidak hanya tentang para manajer yang
menyakiti hati anggota timnya. Para karyawan yang menunjukkan adanya
masalah kepada seorang manajer bisa dianggap sebagai suatu usaha untuk
menyiratkan sebuah kritik terhadap manajer. Ia berusaha menunjukkan pada
manajer yang bersangkutan bahwa ia dalam tahapan tertentu bertanggung
jawab atas masalah itu. Perusahaan-perusahaan tidak bisa
berfungsi dengan baik dengan mengandalkan tata cara sosial yang berlaku
di kehidupan masa kini. Masalah harus diselesaikan dengan penuh
keterbukaan dan kejujuran. Diskusi yang jujur dan terbuka tentang
masalah bisnis harus membahas tentang inti permasalahan, menampilkan
pilihan-pilihan yang tidak mengada-ada tetapi realistis dan mempercepat
tanggapan perusahaan terhadap masalah. Keterbukaan juga membuka
debat yang bermanfaat dengan membuka dialog nyata tentang masalah yang
muncul. Di dalam beberapa budaya dan bagi sebagian orang di semua
budaya, terdapat resistensi terhadap prilaku yang terbuka ini, yang
mengimplikasikan kritik dan pelimpahan kesalahan. Ajakan kepada kolega
untuk berperilaku dengan “keterbukaan” yang nyata harus diberikan secara
seksama diiringi dengan keyakinan bahwa pembicaraan yang terus terang
tidak akan diberikan hukuman atau disalahartikan. Perbedaan budaya juga
harus turut diperhitungkan. (*/Akhlis) |