*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bengkulu dalam blog ini Klik Disini
Ibarat lirik lagu ‘kau yang memulai, kau yang
mengakhiri’ itulah yang terjadi pada orang-orang Belanda di Indonesia sejak era
VOC/Belanda hingga era Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana awalnya sudah
dideskripsikan pada artikel-artikel awal. Dalam artikel ini akan dideskripsikan
bagaimana orang Belanda harus berakhir di wilayah Bengkulu. Bagaimana
terjadinya? Tampaknya kurang terinformasikan.

Di
Bengkulu Bung Karno juga banyak berdiskusi dan berteman baik dengan pimpinan
Muhammadiyah Cabang Bengkulu dan tokoh agama lain serta tokoh-tokoh setempat.
Tidak hanya itu, Soekarno juga merangkul kaum muda. Bahkan, Bung Karno
mengambil alih klub musik Monte Carlo yang dikembangkan menjadi sandiwara musik
(Tonil), sebagai media penyebarluasan gagasan perjuangannya. ”Saat massa
Pengasingan Bung Karno diperbolehkan beraktivitas di luar rumah hanya saja
tidak diperkenankan keluar dari Kota Bengkulu dengan radius 40 kilometer dan
tetap mendapat pengawasan polisi Belanda,” ungkap Almidianto. Ternyata awal
kedatangan Bung Karno ke Bengkulu tidak disukai warga Bencoolen atau Bengkulu
karena mereka takut Sang Proklamator akan membuat pembaharuan yang tidak
diinginkan masyarakat. Banuak warga di sana yang menolak gagasan Bung Karno.
Pun begitu, justru warga menganggap Bung karno sebagai tempat bertanya berbagai
masalah, mulai dari urusan agama, rumah tangga, politik hingga urusan mencari
jodoh bagi anak gadis setempat. Tidak tanggung-tanggung ada 300-an anak gadis
yang meminta dicarikan jodoh. Banyaknya warga yang mendatangi rumah Bung Karno
membuat Belanda gerah dan mengirim intel untuk mengawasi tamu. Mereka khawatir
Bung Karno akan menularkan semangat perjuangan dan perlawanan. Akibatnya warga
tidak berani datang kecuali tokoh-tokoh setempat, sahabat dan teman
seperjuangan serta LCM Jaquet, pegawai Hindia Belanda yang mengurus tunjangan
Bung Karno yang lama-lama kagum pada Bung Karno yang ramah dan bersahabat. ”Meski
di tengah pengasingan dan pengawasan ketat polisi Belanda, perjuangan terus
digencarkan Bung Karno, guna membangkitkan nasionalisme, kemerdekaan,” cerita
Almidianto (https://www.detik.com/)
Lantas bagaimana sejarah detik-detik berakhir
Belanda di Bengkulu? Seperti disebuat di atas, bagaimana Pemerintah Hindia
Belanda di wilayah Bengkulu jelang kehadiran pendudukan Jepang kurang
terinformasikan. Satu yang jelas Ir Soekarno tahun 1942 dievakuasi ke Padang
untuk tujuan Australia. Lalu bagaimana sejarah detik-detik berakhir Belanda di
Bengkulu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan
bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan
menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama
yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Detik-Detik Berakhir Belanda di Bengkulu; Ir Soekarno
Dievakuasi ke Padang untuk Tujuan Australia 1942
Surat kabar Nieuwe Apeldoornsche courant, 27-02-1942 memberitakan dari Sumber
Pemerintah Hindia Belanda bahwa pasukan Jepang telah menduduki hampir seluruh Residentie
Benkoelen (24-02-1942). Surat kabar ini juga memberitakan Markas Besar Kerajaan
Belanda telah menginformasikan bahwa Angkatan Udara Angkatan Darat Jepang dalam
aksi menyeluruhnya untuk menghancurkan angkatan udara yang tersisa di Jawa pada
25 Februari. melakukan serangan dahsyat di lapangan terbang Kali Djati dan
menembak jatuh atau menghancurkan total 37 pesawat musuh di darat.
Pada tanggal 27 Januari pesawat Jepang menyerang pelabuhan Emmahaven di
Padang (lihat Soerabaijasch handelsblad, 29-01-1942). Disebutkan serangan (Jepang)
terparah selama 24 jam terakhir terjadi di Emmahaven (pelabuhan Padang di
pantai barat Sumatera) dimana 7 pesawat pembom menyerang 9 kali, dan kerusakan
material terjadi. Dua kapal di pelabuhan hangus yang ketiga rusak. Tidak ada korban
jiwa di pihak kami. Serangan di pelabuhan Padang ini adalah serangan percobaan
dari Angkatan udara Jepang. Dalam berita-berita terakhir serangan Jepang
tanggal 27 dan 28 tersebut disebutkan satu kapal 10.000 Ton dan 3 kapal 6.000 Ton
dihantam. Meski demikian, wilayahj Kota Padang masih dianggap cukup aman.
Amigoe di Curacao: weekblad voor de Curacaosche
eilanden, 27-02-1942 memberitakan Jenderal Australia Gordon Bennett, yang
berhasil melarikan diri dari Singapura, saat ini berada di Padang (Batavia, GPD.
27.2). Kota Padang menjadi pusat Belanda pada detik-detik terakhir di pantai
barat Sumatra.
Sebagaimana diketahui, pada tanggal 8 Maret 1942 telah terjadi penyerahan
kekuasaan yang dilakukan di Kalidjati, Soebang, West Java. Hal itu sebelumnya Batavia
jatuh ke tangan militer Jepang (lihat Algemeen Handelsblad, 06-03-1942).
Disebutkan Jepang mendarat di Bayvia berdasarkan radio dari Tokyo 6 Maret. Markas
Kekaisaran Jepang melaporkan bahwa pasukan Jepang menduduki Batavia tadi malam.
Keseluruhan pendudukan selesai pada pukul setengah sembilan tadi malam,
meskipun Sekutu melakukan perlawanan keras kepala terhadap kemajuan Jepang di
banyak hal. Sementara itu, di beberapa titik masih ada aktivitas pergerakan
orang-orang Belanda termasuk di Kota Padang. Surat kabar Volk en vaderland: weekblad
der Nationaal-Socialistische Beweging in Nederland, 13-03-1942 memberitakan
daftar terhormat orang-orang Belanda yang sudah menjadi status interniran.
Lalu dalam perkembangannya kota Padang akhirnya
jatuh. Disebutkan Pangkalan (Jepang) di Sumatera, 18 Maret (Domei) — Pasukan
Jepang yang mendarat pada 12 Maret di pantai timur laut Sumatera telah menempuh
jarak 500 Km dalam enam hari. dan mencapai kota penting Padang pada tanggal 18
Maret. Dengan ini, operasi di Sumatera, menurut laporan “Tokio Asahi”,
bisa dibilang telah berakhir, karena sekarang semua pangkalan penting di pulau
besar ini ada di tangan Jepang (lihat Nieuwe Apeldoornsche courant, 19-03-1942).
Algemeen Handelsblad, 23-03-1942: ‘Menurut “Jomiuri Sjimboen”
menurut DNB dari Batavia, penguasa militer Jepang bermaksud untuk
mempertahankan semua pejabat pemerintahan pribumi dan juga sesedikit mungkin
mengubah badan pemerintahan yang ada di Jawa. Banyak pejabat Belanda yang sudah
dipecat. Menurut Asahi Shimboen, tentara Jepang telah membebaskan 150 wanita
dan anak-anak Jerman yang ditahan di barak Fort de Kock. Diketahui lebih lanjut
bahwa pada tanggal 18 Maret, setelah pendudukan Padang, pasukan Jepang melucuti
900 orang Inggris dan 800 orang Belanda. Sebagian besar orang Inggris adalah
tentara yang melarikan diri ke Sumatera sebelum jatuhnya Singapura’.
Satu yang menjadi pertanyaan diantara pribumi yang
terpenting adalah dimana Ir Soekarno berada. Sebagaimana diketahui sebelum
pendudukan Jepang di pantai barat di Bengkoeloe tanggal 24 Februari masih
berada di Bengkoeloe? Sementara orang-orang Belanda di Bengkoeloe segera
melakukan evakuasi ke Kota Padang. Besar dugaan setelah tanggal itu diduga kuat
Ir Soekarno telah turut dievakuasi orang Belanda dari Bengkoele ke Padang.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Ir Soekarno Dievakuasi ke Padang untuk Tujuan
Australia 1942: Bagaimana Kisah Selanjutnya?
Di Kota Padang dalam situasi
tidak menentu (akibat serangan militer Jepang), Pemerintah Hindia Belanda mulai
secara bertahap dievakuasi dengan kapal ke Australia. Situasi yang semakin
membuat panik, orang-orang Belanda tidak peduli lagi dengan siapa kecuali
masing-masing ingin menyelamatkan dirinya. Soekarno di Kota Padang dengan
sendirinya terlepas dari ikatan politik dengan Pemerintah Hindia Belanda (dibiarkan
mengurus dirinya dan keluarganya sendiri).
Soerabaijasch handelsblad, 26-02-1942 memberitakan bahwa masyarakat
tidak menanggapi alarm pertama ini, karena kami terbiasa dengan banyak alarm
harian. Namun demikian, ada beberapa tanda ketegangan diantara penduduk kota,
tetapi tidak ada yang bisa mengatakan alasannya. Ini berlangsung sangat lama
untungnya tidak ada serangan udara pertama Ketika sinyal “semua aman”
diberikan, orang-orang kembali ke kehidupan normal. Apa yang dimaksud
ketegangan diantara penduduk kota Padang, itu terjadi setelah Jepang menduduki
Bengkoelen pada tanggal 24 Februari. Sementara itu serangan Jepang di pelabuhan
Emmahaven berlangsung mulai tanggal 27 Februari. Ketegangan diantara penduduk
kota Padang diduga terjadi tanggal 25 atau 26 Februari. Besar dugaan ketegangan
ini terjadi karena Ir Soekarno menghilang.
Saat situasi chaos inilah,
Soekarno dan keluarganya tinggal
bersama di rumah Egon Hakim. Kelak orang Belanda sangat–sangat menyesalinya karena di Bengkoeloe ada kans
untuk membunuh Soekarno (De Telegraaf, 21-03-1966). Dan, sebagaimana akan
dideskripsikan secara panjang lebar di bawah ini, lolosnya Soekarno di Padang
menjadi faktor terpenting berubahnya jalan sejarah Belanda di Indonesia
(setelah 350 tahun). Soekarno, yang anti Pemerintah Hindia Belanda, adalah musuh terbesar bagi
orang Belanda.
Egon Hakim adalah anak Dr, Abdul Hakim (Nasoetion), mantan Wakil Wali Kota (Loco Burgemeester)
Padang (1931-1938) dan anggota senior (Wethouder) dewan kota (Gemeenteraad)
Padang (1938-1942). Soekarno dan Egon Hakim sudah lama saling kenal. Egon Hakim
juga adalah menantu MH Thamrin, mantan Wakil Wali Kota (Loco Burgemeester)
Batavia. Egon Hakim menempuh pendidikan sekolah menengah (SMA) di Belanda (De
Gooi- en Eemlander: nieuws- en advertentieblad, 05-07-1924). Egon Onggara Hakim
menyusul Amir Sjarifoeddin Harahap studi ke Belanda. Egon Hakim melanjutkan ke Universiteit Leiden
di bidang hukum dan mendapat gelar Meester (MR) tahun 1933. Egon Hakim pulang
ke tanah air dan lalu kemudian diangkat sebagai pengacara (advocaat en
procureur) di Kantor Raad van Justitie di Kota Padang (De Indische courant,
31-05-1935). Pada jelang berakhirnya era kolonial, Dr. Abdul Hakim dan Mr. Egon
Hakim (ayah dan anak) adalah dua tokoh paling berpengaruh di Kota Padang. Dr,
Abdul Hakim sebagai anggota senior (Wethouder) dewan kota (gemeenteraad) dan
Egon Hakim sebagai advokat.
Ir. Soekarno dan
keluarga dari Bengkulu di Padang (saat situasi chaos) tinggal dengan keluarga
advokat (Mr. Egon Hakim). Soekarno dan keluarga hanya aman dan nyaman bersama
keluarga Egon Hakim. Selain Soekarno dan Egon Hakim sudah sejak lama saling
kenal, posisi Egon Hakim di Padang sangat kuat, apalagi ayahnya adalah
wethouder dan loco-burgemeester. Lalu setelah tanggal 18 Maret 1942 pemerintah militer Jepang di Kota Padang
membawa Soekarno kepada pemimpin militer tertinggi Jepang di Sumatra yang
berkedudukan di Fort de Koek (lihat De waarheid, 25-09-1945).
Dari Fort de Kock inilah lalu kemudian kerjasama strategis pimpinan
militer Jepang dengan pimpinan politik Indonesia mulai dirancang. Keberadaan Soekarno di Padang (lalu ke Fort de Kock) diduga kuat sudah
diketahui oleh Parada Harahap dan Mohammad Hatta. Hal ini boleh jadi karena
Parada Harahap dan M. Hatta sudah sejak era Belanda telah menjalin kerjasama
dengan Jepang. Pada bulan November 1933 Parada Harahap memimpin rombongan tujuh
orang Indonesia pertama ke Jepang. Di dalam rombongan ini termasuk M. Hatta
yang baru lulus sarjana di Belanda.
Soekarno berada di Fort de Kock
selama empat bulan (lihat De waarheid, 25-09-1945). Mengapa begitu lama? Hal itu boleh jadi karena situasi dan kondisi di Batavia belum sepenuhnya kondusif untuk mengimplementasikan kerjasama
Jepang dan Indonesia. Di satu pihak keberadaan Belanda belum steril dan di
pihak lain militer Jepang masih melakukan konsolidasi di seluruh Indonesia.
Pada fase inilah skenario kerjasama dimantapkan antara militer Jepang
dengan para pemimpin Indonesia, antara lain yang boleh jadi paling utama:
Soekarno di Padang dan Fort de Kock, Abdullah Lubis dan Adinegoro di Medan,
Abdul Hakim Harahap dan Hazairin di Tapanoeli, Parada Harahap dan Mohammad
Hatta di Batavia serta Gele Haroen dan Abdul Abbas di Tandjong Karang
(Lampong). Lalu kemudian, pada bulan Julu 1942 Soekarno berangkat ke Batavia
(lihat De waarheid, 25-09-1945) dan tentu saja bergabung dengan kawan lama yang
sudah lama menunggu yang satu visi dan misi sebagai pejuang revolusioner (non
koperatif terhadap Belanda), yakni: Parada Harahap dan Mohammad Hatta.
Kedatangan Soekarno di Batavia
sudah barang tentu membuat Parada Harahap dan Mohammad Hatta tersenyum, Lalu
pemimpin militer Jepang mengangkat Soekarno sebagai partner utama Jepang
ditengah penduduk Indonesia yang disebut Ketua Dewan Pertimbangan Pusat
(Voorzitter van de Centrale Advies Raad) Tjoeo Sangi In. Atasan Soekarno adalah
Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer Tertinggi yang merangkap Kepala
Staf Militer) di Indonesia.

Yang duduk sebagai anggota Tjoeo Sangi In yang diketuai Soekarno antara
lain Drs. Mohammad Hatta, Dr. Abdoel Rasjid Siregar (anggota Volksraad dari
dapil Tapanoeli), Mr. Dr. Husein Djajadiningrat. Ketiga tokoh ini sangat
dikenal Parada Harahap. Dalam pembentukan PPPKI tahun 1927 dilakukan di rumah
Husein Djajadiningrat. Dalam pembentukan PPPKI ini turut hadir Dr. Abdoel
Rasjid Siregar dari Volksraad. Foto: Soekarno, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat
(Tjoeo Sangi In) di Djakarta melaporkan tentang (hasil) keputusan Sidang Dewan
pertama kepada Kepala Dewan Militer Jepang (Gunseikan) pada tanggal 20 Oktober
1943. Parada Harahap sendiri tidak
termasuk dalam anggota dewan yang diketuai Soekano ini, tetapi Parada Harahap
(sesuai profesinya dan julukannya The King of Java Press) menjadi pemimpin
sentral dari pihak Indonesia di pusat informasi Jepang. Parada Harahap merekrut
tiga pemuda seusia untuk bekerja di Radio Militer Jepang di Batavia yang kelak
lebih dikenal sebagai Adam Malik (pendiri kantor berita Antara), Mochtar Lubis
(pendiri surat kabar Indonesia Raya) dan Sakti Alamsyah Siregar (pendiri surat
kabar Pikiran Rakyat Bandoeng). Sementara Adinegoro menjadi pemimpin media
Jepang di Sumatra. Foto: Soekarno
melapor kepada kepada Gunseikan, 20 Oktober, 1943
Lain Ir Soekarno, lain pula Mr HJ van Mook. Saat
mana serangan Jepang terhadap Jawa, jalur lalu lintas terputus dari dan ke
Jawa, HJ van Mook tengah berada di Eropa/Inggris. Celakanya, keluarga HJ van
Mook masih di Batavia. Dalam satu pemberitaan FKN Harahap, pemimpin organisasi
mahasiswa Indonesia (Perhimpoenan Indonesia) di Belanda menyebutkan bahwa yang
menyelamatkan keluarga HJ van Mook untuk dievakuasi ke Australia adalah Mr Amir
Sjarifoeddin Harahap, yang saat itu masih memiliki kantor advocaat di
Soekaboemi. Amir Sjarifoeddin Harahap ‘menyelundupkan’ keluarga HJ van Mook
dari Batavia melalui Soekaboemi terus ke Pelaboehan Ratoe dimana kapal-kapal Belanda
yang masih memiliki akses pelayaran dari dan ke Australia.
Orang-orang Eropa/Belanda di Padang terjebak, karena terputusnya lalu
lintas pelayaran dari dan ke kota Padang sejak Jepang melakukan percobaan
serangan ke pelabuhan Emmahaven pada tanggal 27 Februari. Sebagaimana dikutip
di atas, menurut Asahi Shimboen, bahwa pada tanggal 18 Maret, setelah
pendudukan Padang, pasukan Jepang melucuti 900 orang Inggris dan 800 orang
Belanda (sebagian besar orang Inggris adalah tentara yang melarikan diri ke
Sumatera sebelum jatuhnya Singapura). Banyaknya orang-orang Belanda di Padang,
karena semua orang Belanda di wilayah pantai barat mengarah ke kota Padang,
termasuk dari wilayah Tapanoeli dan wilayah Bengkoeloe.
Mengapa Amir Sjarifoeddin Harahap menyelamatkan
keluarga HJ van Mook? Tidak terinformasikan. Namun ada dugaan terkait dengan
kehadiran Mohamad Hatta dan Soetan Sjahrir yang diasingkan di Bandaneira
dievakuasi ke Soekaboemi oleh Belanda setelah serangan Jepang di wilayah Maluku
dan Papua. Sementara di Soekaboemi ada dua tokoh revolusioner yang berkeja di
bdiang advokat yakni Amir Sjarifoeddin Harahap dan Mr Sjamsoedin (putra asli
Soekaboemi).
Setelah dibubarkan PNI pada tahun 1930, lalu para eks PNI membentuk dua
organisasi politik di Batavia yakni Partai Indonesia (Partindo) dan partai
Pendididikan Nasional Indonesia (PNI). Mohamad Hatta dan Soetan Sjahrir masuk
PNI sementara Amir Sjarifoeddin Harahap dan Mr Sjamsoedin masuk Partindo yang
dipimpin oleh Mr Sartono. Di dalam Partindo Amir Sjarifoeddin Harahap sebagai
ketua cabang Batavia dimana Mr Sjamsoedin sebagai sekretarisnya. Dalam hal ini
diduga telah terjadi tawar menawar di Soekaboemi antara para pemimpin revolusioner
Indonesia yang dipimpin Mr Amir Sjarifoeddin Harahap dengan pihak Belanda,
dimana kemungkinan menjadi alasan mengapa Amir Sjarifoeddin Harahap membantu
mengevakuasi keluarga HJ van Mook dari Batvia ke Pelaboehan Ratoe. Akan tetapi
persoalannya di Padang berbeda dalam soal Ir Soekarno yang diduga terjadi pada
saat terjadi ketegangan di Padang sebagaimana dilaporkan surat kabar Jepang.
Dalam ketegangan itu diduga Ir Soekarno telah ‘diculik’ oleh para revolusioner di
Padang yang dipimpin oleh seorang advocaat di Padang, Mr Egon Hakim Nasoetion
(menantu MH Thamrin) dan menyembunyikan Soekarno dan keluarga di rumahnya.
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




