*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Nama
Malayonesia muncul satu dasawarsa yang lalu di Malaysia. Nama ini sebenarnya
adalah nama lama, Malayunesia yang diperkenalkan George Samuel Windsor Earl pada tahun 1850. Malayunesia dimaksudkan
untuk menggantikan Indien Archipel (Belanda) dan Indian Archiepelago (Inggris).
Namun Earl juga memeperkenalkan nama lain Indunesia. Rekannya, James Richardson
Logan tampknya tidak puas dengan nama Indunesia lalu diubah dengan nama
Indonesia. Logan secara konsisten menggunakannya.,

sebuah jurnal Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia yang dikelola
oleh James Richardson Logan. Kemudian pada tahun 1849George Samuel Windsor Earl
bergabug. Dalam volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On
the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian
Nations yang mana Earl menegaskan sudah saatnya Kepulauan Hindia untuk memiliki
nama khas, sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan
India yang lain. Earl mengajukan dua nama: Indunesia atau Malayunesia
(“nesos” dalam bahasa Yunani berarti “pulau”). Pada halaman
71 artikelnya itu tertulis: “… Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan
Melayu masing-masing akan menjadi “Orang Indunesia” atau “Orang
Malayunesia””. Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia
(Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia
sangat tepat untuk ras Melayu. Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu
dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan
istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia. Dalam volume IV itu
juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of
the Indian Archipelago yang menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan yang
sekarang dikenal sebagai Indonesia, sebab istilah Indian Archipelago terlalu
panjang dan membingungkan. Logan kemudian memungut nama Indunesia yang dibuang
Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka
lahirlah istilah Indonesia..Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di
dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke
Bahasa Indonesia): Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama
“Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun
pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan
geografi. (Wikipedia).
Lantas
bagaimana sejarah Malayonesia, nama Indonesia di Malaysia? Seperti disebut di
atas, nama Malayonesia belum lama diperkenalkan di Malaysia, tetapi nama
Melayunesia untuk menyebut nama Indonesia sudah eksis sejak 1850. Lalu
bagaimana sejarah Malayonesia, nama Indonesia di Malaysia? Seperti kata ahli
sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe..
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Malayonesia, Nama Indonesia di
Malaysia: Indien Archipel dan Indian Archipelago
Sesungguhnya
nama Malayonesia tidak ditemukan dalam sejarah, dalam arti substansial. Tidak
ditemukan nama Malayonesia dalam catatan sejarah. Sejauh ini hanya satu tulisan
yang menulis salah Malajoenesia dengan Malayonesia, yakni seorang Jerman B. von
Wüllerstorf-Urbair pada tahun 1868 (lihat buku/laporan perjalanannya berjudul Reise
der österreichischen Fregatte Novara um die Erde in den Jahren 1857, 1858, 1859
unter den Befehlen des Commodore B. von Wüllerstorf-Urbair). Tampaknya von
Wüllerstorf-Urbair keliru menyalin nama dari tulisan/teks Belanda Malajoenesia.
Dalam hal ini diduga Maloyonesia merujuk pada Malajo-e-nesia.

Oriental (Portugis). Oost Indien (Belanda) dan East India (Inggris). Pada era
VOC/Belanda, nama Oost Indien (Hindia Timur) yang kerap digunakan. Ketika VOC
dinyatakan bangkrut tahun 1799, pemerintah (kerajaan) Belanda mengakuisisi
Hindia Timur dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda (Nederlandsch Indie).
Namun tidak lama kemudian, Inggris yang berkedudukan di Bengkulu menduduki Jawa 1811 (Pemerintah Hindia Belanda
digantikan Inggris). Pendudukan ini tidak lama dan berakhir 1816. Sejak Inggris
kehilangan Hindia Belanda (dikembalikan kepada kerajaan Belanda), saat finishing
buku The History of Java, Thomas Stamford Raffles memunculkan gagasan penamaan
nama Nusantara (semua wilayah yurisdiksi Portugis di Timor, Spanyol di Filipna,
Belanda di Hindia Belanda, Inggris di Bengkulu dan Penang) dengan nama Polynesian
Hither untuk membedakan dengan Further Polynesians. Namun usulan Raffles ini
tidak berkembang hingga muncul nama George Samuel Windsor Earl (1950) dengan
nama Indunesia (Belanda: Indoenesia) atau Malayunesia (Belanda: Malajoenesia).
Nama Malayunesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda inilah yang dikutif
seorang penjelajah Jerman B. von Wüllerstorf-Urbair.
Sebelum
muncul nama Malajoenesia atau Indoenesia, sudah eksis nama Nusantara oleh
orang-orang Belanda dengan nama Indien Archipel (Kepulauan Hindia). Lalu
kemudian, orang-orang Inggris menyalinnya dalam bahasa Inggris sebagai Indian
Archipelago. Nama Indien Archipel atau Indian Archipelago yang ingin dikoreksi
oleh Earl dengan nama baru Indunesia (Indoenesia) atau Malayunesia
(Malajoenesia).

Malayunesia (Malajoenesia). Sebab menurutnya Indunesia (Indoenesia) juga terkesan
merujuk pada Ceylon, Maladewa/Maldives. Oleh karena itu nama Indunesia (Indoenesia)
terpinggirkan. Akan tetapi, sebaliknya James Richardson Logan lebih memilih
Indunesia (Indoenesai( tetapi untuk lebih spesifik, menghindari munculnya
persoalan yang ditinggalkan Earl, Logan dengan mengganti huruf u menjadi o
sehingga mengusulkan nama Indonesia lebih sesuai (bahkan dari Malayunesia dari
Earl). Menurut Logan Indo dengan tambahan nesia yang merujuk dari bahasa Yunani
nesos=pulau-pulau, yang juga menurut Logan akan lebih sesuai dengan orang
Hindia yang telah memiliki bahasa sendiri yang mirip nesos atau nesia dengan noesa=pulau.
.Dalam hal ini sesungguhnya Indonesia versi Logan merujukan pada nama yang umum
sejak lama diantara orang-orang Belanda Indien Archipel (Inggris: Indian
Archipelago). Surat kabar De Indische courant, 11-03-1927.
Lalu
bagaimana dengan Malayonesia? Tidak muncul, karena pellnacong Jerman melakukan
kesalahan penulisan dalam bahasa Jerman. Lantas bagaimana dengan Malayunesia
sendiri? Juga tidak berkembang. Yang terus bergulir adalah nama Indonesia.
Namun persoalannya tidak lalu berhenti hingga munculnya nama Alfred Russel
Wallace (1869).
Nama Indien Archipel terus eksis yang juga
nama Inggrisnya Indian Archipelago juga tetap eksis. Bahkan nama jurnal
orang-orang Inggris di Singapoera menggunakan nama jurnalnya dengan nama Indian
Asrhipelago (jurnal dimana nama tersebut, Indunesia/Indoenesia dan Malayunesia/Malajoenesia
oleh Earl di satu sisi dan Indunesia dan Indonesia oleh Logan di sisi lain, dibahas).
Alfred Russel Wallace memperkenalkan nama Malay Archipelago sebagai nama lain
Indian Archipelago atau Indien Archipel.
Nama
Indonesia sejal Logan (1850) terus eksis meski orang Belanda lebih terbiasa
dengan nama Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Namun uniknya yang
mempertahankan nama Indonesia adalah penulis-penulis Jerman dan Prancis, sementara
penulis-penulis Inggris lebih terbiasa dengan Malay Archipelago (dari Wallace)
untuk nama lain Hindia Belanda (Nederladsch Indie). Nama yang mirip dengan
Nederladsch Indie untuk orang Inggris merujuk pada nama India sebagai British
India. Lalu pada tahun 1927 muncul polemik dengan asal-usul nama Indonesia
diantara orang-orang Belanda. Dalam konteks inilah lalu jurnal lama ditemukan
Indian Archipelagi edisi 1850 dimana nama Indonesia diusulkan oleh James
Richard Logan.
Pengadopsian nama Indonesia diantara
orang-orang pribumi Hindia Belanda bermula diantara mahasiswa-mahasiswa pribumi
asal Hindia Belanda di Belanda tahun 1917 dalam Kongres Hindia (Indisch
Congres) yang diketuai oleh HJ van Mook. Mahasiswa-mahasiswa yang tergabung
dalam Indische Vereeniging yang iikut berkongres menginisiasi untuk penyebutan
diri sebagai Indonesie (Orang Indonesia) dari nama Indonesia. Pada tahun
berikutnya 1918 nama Indisch Congres telah diubah menjadi Indonesia Congres.
Nama Indonesia inilah yang kemudian diadopsi di Hindia oleh banyak
organisasi-organisasi pribumi hingga nama Indonesia mulai menyyita perhatian
orang-orang Belanda pasca Kongres Pemuda 1926 di Batavia. Sementara itu di
Belanda pada saat pengurusan Dr Soetomo nama Indische Vereeniging diubah pada
tahun 1921 dengan nama Indonesiasch Vereeniging yang kemudian pada pengurusan
Mohamad Hatta 1925 namanya dipertegas dengan nama Perhimpoenan Indonesia dengan
organnya juga namanya diubah dari majalah Hindia Poetra menjadi Indonesia
Merdeka.
Lalu
bagaimana reaksi pemerintah dengan semakin maraknya penggunaan nama Indonesia?
Tampaknya tidak masalah, meski nama Indonesia adalah nama resmi dinatara
orang-orang Indonesia, tetapi bagi pemerintah nama resmi yang ada adalah
Nederladsch Indie (Hindia Belanda). Sebagaimana diketahui Ir Soekarno dkk pada
akhir tahun 1927 di Bandoeng mendirikan organisasi kebangsaan yang baru yang
diberi nama Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) lalu kemudian diikuti dengan
pembentukan federasi organisasi kebangsaan yang diberi nama Permofakatan
Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaa Indonesia (PPPKI). Lalu pada tahun 1928
diadakan Kongres PPPKI yang sebelan kemudian diadakan Kongres Pemuda (yang
kedua). Hasil keputusang Kongres Pemuda adalah satu nusa, satu bangsa dan satu
bahasa: Indonesia.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Malayonesia, Nama Indonesia di
Malaysia: Malay Archipelago
Pada
masa kini muncul nama Malaonesia di Malaysia. Seperti disebut di atas, nama
Malayonesia di Malaysia baru dibangkitkan kembali satu dasa warsa yang lalu.
Nama Malayonesia sudah pernah muncul pada tahun 1869 namun itu penulisan nama
yang salah dari Malayunesia atau Malajoenesia. Lantas mengapa Malayonesia yang
dipilih masa kini, bnkan Melayunesia?
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



