*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Praktek
rentenir, praktek yang merugikan penduduk, bolah jadi sejak usia peradaban.
Oleh karena itu rente dianggap riba yang harus dientaskan. Upaya pengentasan
itu sudah dilakukan sejak lama, tetapi prakteknya masih terjadi hingga ini
hari. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan praktek rentenir,
bahkan di era modern ini, namun rentenir tetap ada..

Rentenir, Ini Kisah Sukses AgenBRILink Asal Lumajang. Selasa, 3 Mei 2022. Merdeka.com. Ririn Ristiani, AgenBRILink ngin membantu masyarakat di sekitarnya
terbebas dari jerat rentenir. Awalnya dia hanyalah nasabah BRI biasa yang pada
empat tahun lalu mendapatkan kucuran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar
Rp2 juta untuk menambah modal warung kopi dan makanan ringan serta usaha
parkiran Umi Ririn miliknya. “Saya ingin jadi agen karena ada produk KeCe
dan ingin bermanfaat untuk warga sekitar. Dari pada warga sekitar ini pinjam ke
rentenir dengan kondisi ekonomi yang sangat turun, “Saya wawancarai, saya
survei tempatnya jualannya apa, keluhannya apa, kebanyakan punya utang ke
rentenir. Saya kemudian konsultasi dengan mantri pembina saya, setelah by
checking baru bisa. Baru saya fasilitasi untuk melunasi rentenir dengan dikasih
usaha. Adapun saat ini Ririn mampu melayani sekitar 284 transaksi perbulan.
Dari jumlah itu, nilai transaksi pernah mencapai Rp114,5 juta per bulan. Dengan
menjadi Agen BRILink dan agen referral KeCe, kini Ririn mampu mengembangkan
usahanya menjadi toko barang-barang kebutuhan pokok. “Warung kopi dengan
pinjaman BRI dan menjadi AgenBRILink ingin saya kembangkan jadi toko sembako.
Alhamdulillah makin berkembang,” ujarnya. Di sisi lain Ririn pun memiliki
harapan khusus terhadap BRI. Dengan kondisi ekonomi masyarakat yang terpukul
krisis ekonomi akibat pandemi dan maraknya praktik rentenir, dia berharap
kehadiran BRI dapat semakin memberikan kemudahan layanan keuangan ke masyarakat.
Lantas
bagaimana sejarah praktek rentenir di Indonesia? Seperti disebut di atas, praktek rentenir masih ada hingga sekarang.
Jika banyak cara pada masa ini untuk meminimalkannya, bagaimana dengan masa
lampau di era Hindia Belanda. Lalu bagaimana sejarah rentenir di Indonesia? Seperti kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Upaya
Pengentasan Rentenir di Indonesia; Hindia Belanda hingga Ini Hari
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Upaya Pengentasan Rentenir di
Indonesia: Era Moderen
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





