*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Kota Bekasi dalam blog ini Klik Disini
Indramayu.
kota kuno di pantai
utara (pulau) Jawa. Kota ini diduga terbentuk tepat berada di muara sungai
Tjimanoek.
Hal serupa ini juga ditemukan di muara sungai Tangerang/Tjisadane (Tangerang);
muara sungai Jacatra/Tjiliwong (Zunda); muara sungai Bekasi/Tjilengsi (Bekasi);
muara sungai Karawang/Tjitaroem (Karawang/Tandjoeng Peora) dan
Pamunukan/Tjipunagara (Pamanukan). Seperti kota-kota lainnya, mengapa kota
Indramayu kini seakan berada jauh di pedalaman?

Kabupaten
Indramayu adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Ibu kotanya adalah
Indramayu. Nama Indramayu berasal dari kecantikan Istri Raden Arya Wiralodra
yang bernama Nyi Endang Darma Ayu, yaitu salah satu pendiri Indramayu 1527 M [7
Oktober 1527]. Tanggal tersebut juga diperingai sebagai Hari Jadi Kabupaten
Indramayu. Wilayah Indramayu konon merupakan bagian dari Kerajaan Galuh Purba
yang pusat pemerintahannya di kaki Gunung Slamet abad 1 Masehi. Raden Arya Wiralodra sendri
merupakan anak dari Tumenggung Gagak Singalodra dari Banyu Urip di Bagelen. Arya Wiralodra mencari
daerah baru hingga menemukan lembah Sungai Cimanuk. Nyi Endang Darma Ayu
sebutan Darma Ayu lama kelamaan menjadi Dermayu dan In Darmayu, kemudian
menjadi Indramayu. Wilayah Indramayu meliputi Indramayu timur (Sukagumiwang,
Tukdana, Bangodua, Widasari, Arahan, Santigi (Cènthigi), Sindang, Balongan,
Kedokanbuder, Juntinyuat, Krangkeng, Celeng (Lohbener), Kandanghaur (sebagian
wilayah), Losarang, Patrol, Sukra (Sakra), Anjatan, Bongas, Haurgeulis,
Bantawaru dan Plasa Kerep. Indramayu
adalah juga nama sebuah kota kecamatan di kabupaten Indramayu. Kota kecamatan ini adalah ibu kota Kabupaten Indramayu. Kelurahan/desa
di kecamatan Indramayu: Bojongsari, Dukuh, Gabuswetan, Karanganyar, Karangmalang,
Karangsong, Kepandean, Lemahabang, Lemahmekar, Margadadi, Pabeanudik, Paoman, Pekandangan
Jaya, Pekandangan, Plumbon, Singajaya, Singaraja, Tambak dan Telukagung.
(Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah kota Indramayu? Seperti disebut di atas, kota
Indramayi memeiliki sejarah yang panjang, kota disebutkan tanggal 7 Oktober
1527. Namanya disebut merujuk pada nama Nyi Endang Darma Ayu (menjadi
Indramayu). Lalu
bagaimana sejarah kota Indramayu? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe,
semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan
sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*
Indramayu. Kota Kuno di Muara
Sungai Tjimanoek; Proses Sedimentasi Jangka Panjang Terbentuk Menjadi Daratan
Bagaimana
kita memahami sejarah (kota) Indramayu, sumber terdekat adalah dari
catatan-catatan Eropa. Sejauh ini belum ada laporan penyelidikan baik artefak,
prasasti atau banguna-bangunan kuno yang ditemukan di Indramajo. Struktur
bangunan kuno berupa candi, yang terbilang dekat dengan Indramayu ditemukan di
Karawang (candi Batujaya) dan struktur mirip candi di Kendal. Okelah, sambil
kita menunggu temuan yang lebih tua, dengan memanfaatkan sumber terbaru, dalam
hal ini kita merujuk pada sumber (orang) Eropa bertarih 1527.

sebelum terbentuknya Kerajaan Jacarta dan Kesultanan Banten. Ini merujuk pada
laporan seorang Portugis, Joao de Barros di dalam laporannya (1527) yang
menyebutkan di pantai utara Jawa terdapat tujuh pelabuhan penting, yakni:
Chiamo, Xacatara, Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang dan Bantam.
Penulis-penulis geografi Belanda mengidentifikasi Chiamo sebagai Tjimanoek
(Indramajoe), Xacatara sebagai Jacatra, Caravam sebagai Karawang, Tangaram
sebagai Tangerang, Cheguide (Tjikande), Pondang (Pontang) dan Bantam (lihat
Tijdschrift van het Aardrijkskundig Genootschap, 1906, 01-01-1906). Peta-peta
awal tentang Hindia Timur (baca: Indonesia) dibuat olej orang-orang Portugis.
Peta-peta Portugis masih tampak sederhana seperti peta tertua tahun 1525. Peta
ini terus diperbarui dengan bertambahnya ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan
oleh orang Eropa khususnya Belanda.
Laporan
Portugis tahun 1527 tampaknya tahun yang sama yang dikutip di atas dari la,am
Wikipedia dimana disebut Indramayu didirikan tanggal 7 Oktober 1527. Namun
laporan Portugis tidak menyebut nama Indramayu, yang disebut adalah nama sungai
(Tjimanoek). Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa kota Indramayu belum dikenal,
yang dikenal adalah kota (sungai) Tjimanoek.
Pada masa ini kita tidak mengenal nama kota
Tjimanoek,yang dikenal hanya sebagai nama sungai (dimana kota Indramayu
berada). Kota Tjimanoek bisa jadi merujuk pada kota Pamanoekan di muara sungai
Tjipoengara. Penulis-penulis (dan juga pembuat peta-peta) Portugis tidak/belum
lazim (belum membutuhkan) nama sungai, kecuali mereka membutuhkan nama tempat
(kota) sebagai pusat perdagangan (kemana mereka menuju dan dari mana komoditi
diekspor/dimuat untuk tujuan Eropa. Lazimnya nama (tempat) kota berada di muara
sungai. Oleh karena itu nama kota juga mengindikasikan nama sungai (dari sudut
pandang dari pelayaran/laut).
Jika
pada tahun 1527 awal didirikannya (kota) Indramayu, tentu saja belum dikenal,
dalam perspektif Portugis Tjimanoek haruslah dianggap suatu kota yang dikenal.
Dengan demikian, yang dimaksud penulis Portugis adalah (kota) Pamanoekan. Dalam
hal ini dengan sendirinya kota Pamanoekan jauh lebih tua dari kota Indramayu?
Posisi geografis (GPS) dua kota tersebut
(Pamanoekan dan Indramajoe) tentu saja tidak dilihat dari masa kini, tetapi
harus dilihat dari masa lampau. Pada masa lampau di zaman kuno, posisi letak
(gps) kota Pamanoekan dan Indramajoe tepat berada di muara sungai di garis
pantai (Tjipunagara dan Tjimanoek). Seperti kita perhatikan nanti, di depan dua
kota terjadi proses sedimentasi jangka panjang yang terbentuk daratan (yang seolah
dua kota ini kini jauh di pedalaman).
Satu
peristiwa penting pada masa itu (sekitar tahun 1527) adalah terjadinya invasi
(kerajaan) Demak yang beragama Islam di wilayah Hindoe yang berpusat di (kota)
Padjajaran (ibu kota Kerajaan Pakwan). Invasi ini dilancarkan dari tiga kota
utama (Tjirebon, Zunda dan Banten).
Kota-kota di pantai utara (yang dicatat)
penulsiu Portugis (Banten, Pondang, Tjikander, Tangerang, Jacatra, Karawang dan
Tjimanoek (Pamanoekan?) diduga kuat adalah kota-kota pelabuhan Kerajaan Pakwan.
Seperti dalam catatan Portugis lainnya (Tome Pires) untuk mengimbangi ancaman
Demak, Padjajaran/Pakwan meminta bantuan Portugis tahun 1522 yang tengah
melakukan ekspedisi ke pantai utara Jawa dari Malaka. Akan tetapi tampakanya,
kekuatan Demak bukanlah lawan Portugis, apalagi Portugis masih tahap
ekspedisi-ekspedisi pelayaran (termasuk ke Demak). Invasi Demak pada tahun 1926
tidak terhindarkan dan menjadi malapetaka bagi Pakwan/Padjadjaran di Banten.
Lalu kemudan Jacatra/Zunda ditaklukkan Demak pada tahun 1527. Ini dengan
sendirinya kerajaan Pakwan/Padjajaran dalam posisi terkepung di (pantai) utara.
Besar
dugaan bahwa kota Indramajoe terbentuk di muara sungai Tjimanoek sesuai dengan
penanggalan yang disebut di atas (tahun 1527). Suatu tahun dimana wilayah
muara-muara sungai di pantai utara Jawa sudah jatuh ke tangan Demak.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kota Kuno di Muara Sungai Pantai Utara Jawa: Tangerang,
Zunda, Bekasi, Karawang, Pamanukan, Indtramayu
Tunggu deskripsi
lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





