*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Ada dua masa sejarah tentang
penemuan/identifikasi pulau Borneo (kini Kalimantan). Peta Ptolomeus pada abad
ke-2 telah disalah interpretasi seribu tahun kemudian. Hingga sejauah ini
seperti yang dicatat Wikipedia, pulau Taprobana itu adalah pulau Sri Lanka.
Namun di dalam blog ini sudah diidentifikasi dengan cermat pulau Taprobana itu
adalah pulau Kalimantan. (Lihat Sejarah Menjadi Indonesia (77): Taprobana
adalah Borneo; Kapuas, Kahayan, Barito. Mahakam, Kayan, Sugut Pulau Kalimantan).
Peristiwa kedua pada era Hindia Belanda tentang identifikasi pedalaman pulau
Borneo.
Indian Ocean island of Sri Lanka was known to the ancient Greeks. Reports of
the island’s existence were known before the time of Alexander the Great as
inferred from Pliny. The treatise De Mundo, supposedly by Aristotle (died 322
BC) but according to others by Chrysippus the Stoic (280 to 208 BC),
incorrectly states that the island is as large as Great Britain (in fact, it is
only about one third as big). The name was first reported to Europeans by the
Greek geographer Megasthenes around 290 BC. Herodotus (444 BC) does not mention
the island. The first Geography in which it appears is that of Eratosthenes
(276 to 196 BC) and was later adopted by Claudius Ptolemy (139 AD) in his
geographical treatise to identify a relatively large island south of
continental Asia. Taprobana is undoubtedly the present day Sri Lanka when
referring the map. The identity of
Ptolemy’s Taprobane has been a source of confusion, but it appeared to be the
present day Sri Lanka on the medieval maps of Abu-Rehan (1030) and Edrisi
(1154) and in the writing of Marco Polo (1292). However, on the maps of the
Middle Ages, the fashion of using Latinised names and delineating places with
fanciful figures contributed to absurd designs and confusion regarding the
island and Sumatra. In the fifteenth century, Niccolò de’ Conti mistakenly
identified Taprobana with a much smaller island. Taprobana/Ceylon/Sri Lanka is
marked in the 1507 Martin Waldseemuller map. The question of whether the
Taprobana shown on Ptolemy’s map was Sri Lanka or Sumatra resurfaced with the
display of Sebastian Munster’s 1580 map of Taprobana, carrying the German
title, Sumatra Ein Grosser Insel, meaning, “Sumatra, a large island”. (Wikipedia)
Lantas
bagaimana sejarah penemuan wilayah pedalaman Borneo? Seperti disebut di atas, wilayah
pedalaman Borneo menjadi teka-teki sejak era Portugas, era VOC hingga era
Pemerintah Hindia Belanda. Hal itu karena tidak seorang pun yang berhasil memberi
gambaran yang sebenarnya. Lalu bagaimana sejarah penemuan wilayah pedalaman pulau
Borneo/Kalimantan? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan
Penemuan Pedalaman Borneo: 1824 hingga 1863
Ada dua
hal yang selalu diulang-ulang hingga ini hari terkait dengan pulau Kalimantan
yang terhubung satu sama lain. Pertama soal paparan Soenda, dimana dipercaya
bahwa pulau Sumtara, pulau Jawa dan pulau Kalimantan pada masa lalu menyatu
dengan darataa Asia yang disebut paparan Sunda. Apakah masih berlaku teori itu?
Kedua, peta kuno yang dibuat Ptolomeus pada abad ke-2 sebagai pulau Tabrobana diyakini
sebagai pulau Sri Lanka. Apakah teori tersebut masih berlaku? Sekarang diajukan
hipotesis baru.
Hipotesis baru adalah pertama pulau Taprobana
adalah pulau Borneo/Kalimantan. (bukan yang lain). Hipotesis kedua adalah
daratan Asia tidak pernah menyatu dengan daratan Sumatra. Jawa dan Kalimantan.
Satu lagi yang perlu ditambah tetapi akan dibuat artikel sendiri adalah teori
proto Melayu dan deutro Melayu..
Merujuk
pada artikel di blog ini berjudul Sejarah Menjadi Indonesia (77): Taprobana
adalah Borneo; Kapuas, Kahayan, Barito. Mahakam, Kayan, Sugut Pulau Kalimantan;
pulau Taprobana yang diterbitkan pada era Ptolomeus adalah pulau Kaimantan pada
masa ini. Dengan membandingkan pulau Tabrobana dengan peta pulau Kalimantan
masa ini, mengindikasikan bahwa pulau Taprobana (Borneo/Kalimantan) telah meluas
ke selatan dan ke barat. Perluasan daratan Taprobana ini disebabkan karena ada
proses sedimentasi jangka panjang di perairan (laut/rawa-rawa).
Proses sedimentasi ini karena adanya aktivitas
gunung api, aktivitas manusia (pertambangan dan pembakaran huta) serta
aktivitas lainnya karena erosi (dialirakan oleh curah hujan). Massa padat (sampah
tumbuhan dan lumpur) memenuhi dasar laut di sekitar pantai. Ketinggian dasar
laut meningkat (pendangkalan) yang kemudian melewati permukaan laut. Proses
peninggian permukaan daratan yang baru terus berlansung karena adanya pelapukan
sampah tumbuhan. Lambat laun dalam jangka panjang luas daratan baru terbentuk
yang kini menjadi bagian dari wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan
sebagian Kalimantan Timur. Dengan demikian bentuk pulau Kalimantan yang asli
(terawal) adalah bentuk pulau Taprobana yang dipetakan pada era Prolomeus pada
abad ke-2. Proses sedimentasi jangka panjang (yang membentuk daratan baru) juga
terjadi di pulau Sumatra (pantai timur) dan pulau Jawa (pantai utara), serta
daratan Indo China (pantai timur).
Di
perairan antara pulau Sumatra, Jawa dann Kalimantan dengan wilayah Semenanjung
dan Indo China, yang dalam hal ini laut Jawa, selat Karimata dan selat Malaka
masih terus berlangsung proses sedimentasi bawah laut. Dengan kata lain proses
pendangkalan terus terjadi hingga ini hari. Dalam hal ini laut Jawa dari waktu
ke waktu semakin menyempit. Pada suatu waktu di masa yang jauh di masa depan kemungkinan
terjadinya penyatuan daratan benua Asia dengan pulau Sumatra, Jawa dan
Kalimantan terjadi. Oleh karena itu paparan Soenda itu terjadi di masa depan,
bukan di masa lampau (sebagaimana yang diteorikan).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Peta Pulau Taprobana Abad ke-2:
Penemuan Pedalaman Borneo
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



