*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Dalam sejarah Indonesia banyak
tokoh yang tercecer, dan tidak terinformasikan. Hal itu karena dalam penulisan
narasi sejarah Indonesia umumnya yang digunakan adalah Hukum Bilangan Besar.
Tokoh sejarah dari golongan minoritas terbaikan atau sengaja disingkirkan. Namun
sejarah adalah sejarah. Sejarah sendiri adalah narasi fakta dan data. Nama Go
Hwan Tjiang luput dari perhatian para ahli sejarah. Padahal Go Hwan Tjiang
sama-sama diwisuda di Universitet Rotterdam.
Tjiang. Lahir di Bandjarmasin tanggal 15 Oktober 1906, menikah di Rotterdam
pada tahun 1937. Go Hwan Tjiang meninggal
di Rotterdam pada tahun 1962. Hanya itu. Banyak tokoh-tokoh sejarah seperti GO
Hwan Tjiang ini yang yang hilang begitu saja. Namun semua tokoh sejarah
memiliki hak untuk diinformasikan. Sebab merekalah yang lebih dahulu berkiprah
sebelum kita yang sekarang. Sudah menjadi tugas bersama untuk mendokumentasikan
sejarah Indonesia, apapun ras, agama dan perilakunya. Dengan demikian generasi
yang akan datang dapat mengetahui sejarah yang pernah terjadi di masa lampau.
Lantas
bagaimana sejarah Go Hwan
Tjiang?
Seperti disebut di atas, nama Go Hwan Tjiang nyaris tidak ada yang mengenalnya dan karena
itu namanya tidak terinformasilan. Namun sejarah adalah sejarah. Lalu
bagaimana sejarah Go Hwan
Tjiang?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Go Hwan
Tjiang di Rotterdam: Mohamad Hatta dan Perhimpoenan Indonesia
Tidak
ada angin tidak ada awan, hujan. Itulah sejarah awal Go Hwan Tjiang. Pada tahun
1927 Go Hwan Tjiang lulusan sekolah menengah (HBS) di Den Haag (lihat Nieuwe
Rotterdamsche Courant, 08-07-1927). Siswa yang diterima di HBS adalah lulusan
sekolah dasar berbahasa Belanda (ELS). Lulusan MULO diterima di HBS
ditenmpatkan di kelas empat. Secara keseluruhan lama studi di HBS lima tahun.
Lulusan HBS dapat melanjutkan studi ke fakultas/universitas.
pribumi) lulus sekolah mengah di Belanda bukan baru. Pada tahun 1907 Raden
Soemitro lulus HBS di Leiden dimana tiga tahun pertama HBS, Raden Soemitro
menyelesaikannya di sekolah HBS KW III School di Batavia. Pada tahun 1910
Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, lulusan ELS Medan melanjutkan
studi ke Belanda. Demikian juga Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia
lulusan ELS Sibolga pada tahun 1911 melanjutkan studi ke Belanda. Lalu kemudian
Amir Sjarifoeddin Harahap menyelesaikan HBS di Belanda tahun 1926 dan kemudian
kembali ke tanah air dan masuk Rechthoogeschool di Batavia tahun 1927. Mohamad
Hatta menyelesaikan sekolah MULO di Padang dan kemudian melanjutkan sekolah HBS
di Batavia pada tahun 1919 (di kelas empat PHS Batavia). Pada tahun 1921
Mohamad Hatta lulus HBS PHS Batavia dan langsung berangkat studi (universitas)
ke Belanda.
Go
Hwan Tjiang melanjutkan studi di Rotterdam. Pada tahun 1929 Go Hwan Tjiang
lulus ujian kandidat (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 22-11-1929). Disebutkan
di Nederlandsche Handelshoogeschool lulus ujian kandidat Handelswetenschap, Go
Hwan Tjiang. Di sekolah tinggi bidang perdagangan di Rotterdam ini sudah ada
Mohamad Hatta.
handels-economie di Nederlandsche Handelshoogeschool, Mohammad Hatta (lihat De
standaard, 28-11-1923). Pada tahun 1924 Mohamad Hatta menghadiri kongres
pendidikan di Belanda yang risalahnya dimuat pada majalah Oedaya (lihat Het
Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 18-06-1924). Kongres ini membahas
isu-isu pendidikan di Hindia, Kongres pendidikan yang pertama diadakan pada
tahun 1918 yang mana pada saat itu di dalam kongres tiga perwakilan Indische
Vereeniging berbicara yakni Sorip Tagor Harahap, Dahlan Abdoellah dan Goenawan
Mangoenkoesoemo. Pada tahun 1925 Indische Vereeniging yang telah diubah namanya
menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) membentuk komite
untuk menangani siswa-siswa yang datang berasal dari Hindia yang mengalami
kesulitan dimana kemite ini diketuai oleh Mohamad Hatta (lihat De locomotief, 04-05-1925).
Pada bulan Januari tahun 1926 Indonesische Vereenigin melakukan pergantian
pengurus. Untuk pengurus baru sebagai ketua adalah Mohamad Hatta sebagaimana
dilaporkan pada organ organisasi majalah Indonesia Merdeka pada edisi Februati
(lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 25-02-1926). Disebutkan sebagai sekretaris
Abdoel Madjid, bendahara Aboetari dan sebagai komisaris Darsono dan Mr Soenario.
Pada tahun 1927 Mohamad Hatta, perwakilan dari Perhimpoenan Indonesia ke
kongres di Brussel (lihat Nieuwe Apeldoornsche courant, 10-02-1927). Disebutkan
kongres internasional itu melawan penindasan kolonial. Perwakilan dari Belanda adalah
Edo Fimmen dan Henriette Rland Hols, Ir Rutgers dan JW Krujt. Dalam
perkembangannya perwakilan Perhimpoenan Indonesia bertambah selain Mohamad
Hatta sebagai ketua juga Gatot sebagai sekretaris, Abdoel Manap dan Mohamad
Nazif (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 12-02-1927).
Mohamad
Hatta cukup sibuk dengan kegiatan organisasi dan isu-isu internasional yang
menyebabkan banyak waktu studi tersita. Sebaliknya Go Hwan Tjiang masih bisa
fokus. Miohamad Hatta yang sudah lulus ujian kandidat tahun 1923, bagaimana
kelanjutan studinya tidak terinformasikan. Sementara Go Gwan Tjiang yang baru
lulus HBS tahun 1927 pada tahun 1929 sudah lulus ujian kandidat, Akhirnya Go
Hwan Tjiang bersama Mohamad Hatta berhasil menyelesaikan studi mereka pada
waktu yang sama (lihat De Telegraaf, 05-07-1932). Disebutkan di Nederlandsche
Handelshoogeschool lulus ujian Handelswetenschap Mohamad Hatta, Go Hwan Tjiang
dan GHMJ Verhaegen.
Di tanah air banyak peristiwa yang telah
terjadi. Pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandoeng didirikan organisasi kebangsaan
Perhimpoenan Nasional Indonesia (PNI) oleh pada anggota Agemenen Studieclub
yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Pada bulan September 1927 Parada Harahap
sekretaris organisasi kebangsaan Sumatranen Bond mengirim undangan ke sejumlah
pemimpin organisasi untuk bertemu di rumah Prof Husein Djajadiningrat. Dalam
pertamuan ini disepakti pembentukan federasi organisasi kebangsaan yang diberi
nama Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
Secara aklamasi pengurus diketuai oleh MH Thamrin (Kaoem Betawi) dan sebagai
sekretaris Parada Harahap. Dalam pertemuan ini juga turut hadir Pasoendan,
Studieclub Soerabaja yang diwakili Dr Soetomo dan PNI Bandoeng yang diwakili Ir
Soekarno. Program PPPKI adalah membangun gedung Nasional dan kongres PPPKI yang
akan diadakan di Batavua pada bulan September 1928. Dalam penyelenggaraan
Kongres PPPKI ditunjuk Dr Soetomo sebagai ketua dan sebagai sekretaris Ir M
Anwari dari PNI Bandoeng. Dalam kongres ini disepakati platform federasi
sebagai federasi partai politik. Dalam Kongres PPPKI ini Parada Harahap
mengundang Mohamad Hatta untuk berbicara, namun berhalangan hadiri tetapi
Mohamad Hatta mengirim utusan Ali Sastro Amidjojo. Dalam kongres diputuskan
kongres berikutnya diadakan di Solo pada bulan September 1929. Pada bulan
Oktober 1928 diadakan kongres junior Kongres Pemuda. Panitia inti adalah
sebagai ketua Sogondo (Jong Java cabang Batavia) sebagai sekretaris Mohamad Jamin (Jong Sumatranen Bond) dan
sebagai bendahara Amir Sjarifoeddin Harahap (Jong Batak). Ketiganya mahasiswa
Rechthoogeschool Batavia dimana sebagai dekan mereka adalah Prof Husein
Djajadingrat. Hasil kongres adalah putusan mengenaio satu nusa, satu bangsa,
satu bahasa: Indonesia dimana lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman
diperdengarkan. Pasca Kongres PPPKI di Solo, Ir Soekarno dkk (dari PNI)
ditangkap karena menyebarkan brosur yang menentang otoritas pemerintah. Selama Ir Soekarno dkk di penjara, Mr Sartono
membubarkan PNI. Namun pada bulan April 1931 eks PNI membentuk organisasi yang
diberi nama Parti Indonesia (Partindo) dimana sebagai ketua Mr Sartono, Amir
Sjarifoeddin Harahap sebagai ketua cabang Batavia dan Mohamad Jamin sebagai
ketua cabang Soerabaja. Eks PNI yang lain juga mendirikan partai yakni Pendidikan
Nasional Indonesia (PNI). Setelah Ir Soekarno keluar dari penjara lebih memilih
bergabung dengan Partindo.
Drs
Go Hwan Tjiang tidak segera pulang ke tanah air. Sementara Drs Mohamad Hatta
bersiap-siap pulang ke tanah air. Go Hwan Tjiang masih di Belanda untuk
mengikuti program pendidikan untuk mendapatkan akta di bidang akuntansi.
Setelah tiba di Batavia, Drs Mohamad Hatta lebih memilih bergabung dengan
partai Pendidikan Nasional Indonesia.
Dalam perkembangannya Ir Soekarno kembali ditangkap karena
persoalan yang sama dengan sebelumnya. Pada tahun 1933 situasi dan kondisi di
Hindia sangat krisis. Hal ini karena surat-kabar dan majalah yang revolusioner
dibreidel termasuk surat kabar Bintang Timoer yang dipimpinan Parada Harahap.
Rumor juga muncul bahwa Ir Soekarno akan diasingkan. Lalu pada bulan November
1933 Parada Harahap memimpin tujuh revolusiner Indonesia berangkat ke Jepang.
Dalam rombongan ini termasuk Abdoellah Lubis pemimpin surat kabar Pewarta Deli
di Medan yang juga dibredel, Drs Sjamsi Widagda, Ph.D guru di Bandoeng (lulusan Rotterdam dan meraig
gelar Ph.D tahun 1926) dan Panangian Harahap (editor Bintang Timoer). Dalam
rombongan ini juga ada nama Drs Mohamad Hatta. Rombongan ini cukup lama di
Jepang dan kembali ke tanah air dan turun di pelabuhan Tandjong Perak Soerabaja
pada tanggal 13 Januari 1934. Pada hari yang sama Ir Soekarno diberangkatkan
dari pelabuhan Tandjoeng Priok Batavia ke pengasingan di Flores.
Pada
bulan Januari tahun 1934 ini diberitakan Go Hwan Tjiang lulus ujian rekeningswetenschap
(akuntansi) di Rotterdam (lihat De standaard, 17-01-1934). Go Hwan Tjiang di
Belanda kemudian membuka kursus boekhouden (pembukuan) bersama teman-temannya
(lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 08-02-1934). Disebutkan kursus boekhouden
dengan pengajar Drs acc Go Hwan Tjiang,
M Kats dan Liem Khiam King. Alamat kurusus di Vrieselaan 169b Rotterdam. Namun
dalam perkembanganya Go Hwan Tjiang kembali ke tanah air. Hal ini diberitakan
bahwa kapal ss Slamat tanggal 7 Maret dari Rotterdam dengan tujuan akhir
Batavia dimana terdapat nama Go Hwan Tjiang (lihat Provinciale Geldersche en
Nijmeegsche courant, 08-03-1934). Kapal ss Slamat akan tiba di Tandjoeng Priok
tanggal 5 April 1934 (lihat Deli courant, 28-03-1934).
Tunggu deskripsi lengkapnya
Go Hwan Tjiang: Sejarah adalah
Sejarah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com



