Sejarah keberadaan orang Tiongkok
(orang Cina/orang Tionghoa) di Nusantara (baca: Indonesia) sudah sejak zaman
kuno. Intensitasnya semakin tinggi seiring dengan kehadiran orang Eropa
terutama sejak era Belanda/VOC. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, orang-orang
Cina mendapat tempat yang menguntungkan diantara orang Eropa/Belanda dan orang
pribumi. Banyaknya tuan tanah (landheer) menjadi salah satu bukti orang-orang
Tiongkok (Cina) sukses di Hindia Belanda. Penduduk asli (pribumi) masih harus
berjuang keras: menyingkirkan orang Eropa/Belanda dan menyaingi ekonomi orang
Cina.
Hoei Kan (HH Kan) adalah seorang tokoh terkemuka Peranakan Cina di Hindia Belanda.
Dia mendorong kerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda guna mencapai
kesetaraan legal bagi masyarakat Tionghoa di Hindia. Ayahnya, Han Oen Lee, sebagai
Luitenant der Chinezen di Bekasi, dan berasal dari keluarga Han Lasem – salah
satu keluarga Tionghoa paling awal sekaligus paling berpengaruh di Jawa. Kakek
moyang Kan, Letnan Han Khee Bing, adalah kakak tuan tanah Majoor Han Chan Piet
(1759-1827) dan Majoor Han Kik Ko (1766-1813). Ibunya bernama Kan Oe Nio,
merupakan putri Kan Keng Tjong, salah satu tuan tanah dan taipan terkaya dari
Batavia. Ia dididik dalam lingkungan Eropa, disekolahkan di ELS dan KW III S.
Pada tahun 1899, ia dinikahkan dengan sepupunya, Lie Tien Nio, putri Majoor Lie
Tjoe Hong, kepala bangsa Tionghoa di Batavia yang ketiga. Kan mendapat kesamaan
status dengan orang Eropa (gelijkgesteld) pada tahun 1905, setelah itu baru ia
dikenal secara luas sebagai Hok Hoei Kan atau H.H Kan. Karier politiknya dimulai pada Dewan Kota
Batavia dan China Chamber of Commerce (Siang Hwee). Kan diterima janji untuk
yang baru didirikan di badan legislatif pada tahun 1918. Kan tetap menjadi
anggota Volksraad hingga pembubarannya oleh Jepang 1942. Pada tahun 1928, Kan
memimpin sebagai Presiden pendiri – over pembentukan Chung Hwa Hui (CHH). Hubungan-nya
dengan kaum nasionalis Indonesia adalah ambigu. Pada tahun 1927, Kan menentang
memperluas waralaba untuk pemilihan Volksraad karena ia takut dominasi legislatif
oleh penduduk asli Indonesia. Pada saat yang sama, pada tahun 1936, ia didukung
naas Petisi Soetardjo, yang meminta Kemerdekaan Indonesia dalam sepuluh tahun
sebagai bagian dari persemakmuran Belanda. Ketika Jepang ditangkap Kan bersama
dengan para pemimpin lain. Kan dipenjarakan di Tjimahi sampai Jepang menyerah
pada tahun 1945. Dia meninggal di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng,
pada tahun 1951.
Lantas
bagaimana sejarah Kan Hok
Hoei?
Seperti disebut di atas, banyak peran yang melekat pada diri Kan Hok Hoei,
memiliki pendidikan Eropa yang baik, anggota dewan kota Batavia dan anggota
dewan pusat Volksraad. Tentu saja nama Kan Hok Hoei masih dapat dihubungkan dengan
pembentukan Chung Hwa Hui di Hindia, Lalu bagaimana sejarah Kan Hok Hoei?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Kan Hok
Hoei van Bekasi; Gemeenteraad, Chung Hwa Hui dan Volksraad
Seperti
disebur di atas, Kan Hok Hoei van Bekasi lahir tanggal 6 Januari 1881. Pada
tahun 1886 Tan Keng Ie mengundurkan diri sebagai Letnan Cina di Bekasi karena
kesibukannya sebagai administratus land Karang Tjongok (lihat Bataviaasch
nieuwsblad, 08-04-1886). Disebutkan sebagai penggantinya adalah Han Oen Lee,
pemilik land Gaboes. Han Oen Lee kemudian secara resmi diangkat sebagai Letnan
Cina untuk Bekasi dan Tabangboengin (lihat Bataviaasch handelsblad, 15-04-1886).
CatatanL district Bekasi terdiri dari onderdistrict Bekasi dan onderdistrict
Tjabangboengin.
Wilayah (district) Bekasi, Afdeeling Meester
Corneslis sudahh sejak era VOC dikapling-kapling sebagai tanah partikelir
(landrein). Namun karena sering banjir dan udaranya yang kurang sehat bagi
orang Eropa, landheer Eropa menjualnya dan menggantikan dengan lahan-lahan di
pedalaman seperti di Butenzog dan Tjiampea. Lahan-lahan eks land orang Eropa/Belanda
itu umumnya pembelinya adalah pengusaha-pengusaha Cina. Pada tahun 1869 terjadi
tragedi berdarah di Bekasi, Bapak Rama dari Ratoe Djaja (Depok) melakukan perlawanan terhadap
otoritasd pemerintah dan membuniuh sejumlah orang Cina di Lanad Pandok
Poetjoeng. Sejak itu, tingkat keamanan ditingkatkan. Orang-orang Cina yang
sempat mengungsi ke Batavia kembali lagi ke lahan-lahan mereka. Bapa Rama cs
dihukum gantung. Dengan semkin meningkatnya komunitas Cina di district Bekasi,
maka pemimpin komunitas diangkat pemerintah setingkat letnan untuk membantu
Schout Bekasi.
Seperti
disebut di atas, Han Oen Lee adalah ayah dari Kan Hok Hoei. Pada tahun 1891
diberitakan berangkat dari Batavia ke Soerabaja dengan kapal Van Dieman dimana
juga terdapat Han Oen Lee dan keluarga (lihat Java-bode : nieuws, handels- en
advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 28-02-1891). Besar dugaan Han Oen Lee
berasal dari Soerabaja. Setelah lama nama Han Oen Lee tidak terinformasikan,
pada tahun 1904 muncul nama Kan Hok Hoei (lihat De locomotief, 08-10-1904).
Disebutkan asosiasi Cina ‘Tiong Hwa Hioe Kwan’ mengadakan pameran Fancy Fair di
Batavia. Sebagai ketua panitia disebut Kan Hok Hoei, seorang Landheer (tuan tanah)
dari Bekasi. Kan Hol Hoei dalam menerima tamu orang Eropa/Belanda disebut
sangat fasih berbahasa Belanda. Dalam pameran ini disebut Mayor Cina Tio Tek Ho
[Majoor Cina di Batavia?] berbicara dalam pembukaan.
Dalam hal ini Kan Hok Hoei hanya
diidentifikasi sebagai landheer dari Bekasi. Apakah Kan Hok Hoei telah
menggantikan ayahnya, Han Oen Lee? Kan Hok Hoei dalam hal ini tidak
diidentifikasi sebagai letnan/kapten Cina Bekasi. Besar dugaan pemimpin
komunitas Cina di Bekasi (kapten) telah digantikan oleh orang lain. Namun yang
menjadi pertanyaan disebutkan Kan Hok Hoei sangat fasih berbahasa Belanda.
Apakah Kan Hok Hoei bersekolah di sekolah Eropa? Tidak terinformasikan. Meski demikian,
Kan Hok Hoei diduga pernah bersekolah di sekolah Eropa. Pada tahun tahun 1904
Kan Hok Hoei berumur sekitar 23 tahun (mahasiswa, yang belum lama lulus HBS).
Pada usia sekitar 18 tahun yang itu berarti tahun 1898-1900 tidak ditemukan
nama Kan Hok Hoei di sekolah KW III School Batavia. Lantas dimana Kan Hok Hoei
bersekolah? Di Soerabaja?
Pada
tahun 1909 Kan Hok Hoei diketahui sudah berstatus naturalisasi (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 09-12-1909). Ini mengindikasikan
bahwa Kan Hok Hoei disamakan statusnya sebagai warga negara Belanda. Pendidikan
dan kemampuan bahasa Belada Kan Hok Hoei merupakah faktor penting Kan Hok Hoei
mendapat pengesahan dari Menteri Kolono untuk mendapat persetujuabn permitaan
naturalisasi,.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Kan Hok Hoei: Hidup di
Sepanjang Jalan Perjuangan Bangsa Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


