*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini
Lain Medan lain pula Padang
Sidempoean. Pada era Pemerintah Hindia Belanda hanya dua matahari yang
menghangatkan kota Medan, yakni abang-adik Tjong Jong Hian dan Tjong A Fie. Di
bawah bayang-bayang dua konglomerat Medan itu muncul tokoh muda Tan Boen An, yang
menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) Medan. Biasanya tokoh Cina cari aman
di bawah pemerintahan Belanda (sejak era VOC, 1740). Nun, jauh di Tapanoeli di
Padang Sidempoean, dua tokoh Cina cukup menyita perhatian di Batavia. Dua tokoh
Cina van Padang Sidempoean itu adalah Lim Soen Hin dan Tjioe Tjeng Liong.
Keduanya pernah menentang otoritas Pemerintah Hindia Belanda. Bagaimana bisa? Nah, itu dia!
Batangtoru dan bersekolah di (kota) Padang Sidempuan. Dengan saudaranya dan
teman-temannya sesama Tionghoa asal Padang Sidempuan (antara lain Liem Boan
San) kemudian mendirikan perusahaan penerbitan surat kabar di Sibolga dengan
nama Tiong Hoa Ho Kiok Co. Mereka semua
adalah alumni Padang Sidempuan. Uniknya, Lim Soen Hin tidak hanya fasih
berbahasa Melayu dan Belanda tetapi juga bahasa Batak. Karenanya, Lim Soen Hin
juga menjadi asisten editor surat kabar Binsar Sinondang di Sibolga. Lim Soen
Hin juga adalah redaktur surat kabar Tapanuli bernama Warta Hindia. Lim Soen
Hin jauh sebelumnya telah merintis persuratkabaran di Padang dan bertindak
sebagai editor Bintang Sumatra dan Tjahaja Sumatra. TJIOE Tjeng Liong, anggota dewan
dan lahir di Padang Sidempuan memulai karir sebagai Wijkmeester der Chineezen di
Padang Sidempuan. Pada tahun 1917 berusaha membantu Lim Soen Hin di Sibolga
dengan banding di pengadilan untuk membebaskan Lim Soen Hin dari tuntutan
karena artikel-artikelnya menentang kapitalisme Belanda (lihat De Sumatra post,
30-03-1920). Tjioe Tjeng Liong berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal di
Batavia, tanggal 18 Agustus, 1934 Nomor 1 terhitung dari 24 Agustus 1934
ditunjuk sebagai anggota Dewan (Plaatselijken Raad) Onderafdeeling Angkola en
Sipirok. Tjioe Tjeng Liong menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh seorang
pedagang, Lim Hong Tek (lihat De Sumatra post, 01-09-1934). Tjioe Tjeng Liong
diangkat lagi sebagai anggota dewan untuk periode berikutnya (lihat De Sumatra post,
14-09-1938). (Tapanuli Selatan Dalam Angka)
Lantas
bagaimana sejarah Lim Soen
Hin dan Tjioe Tjeng Liong? Seperti disebut di atas, di Medan ada dua
tokoh penting, dua Tjong bersaudara, sementara dua tokoh Cina di Padang
Sidempoean adalah Lim Soen
Hin dan Tjioe Tjeng Liong. Lalu bagaimana sejarah Lim Soen Hin dan Tjioe Tjeng Liong?
Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya ada permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan
meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Pahlawan Indonesia dan Lim
Soen Hin: van Padang Sidempoean
Di
kota Padang pada tahun 1897 ada dua surat kabar berbahasa Melayu yakni surat
kabar Pertja Barat dan surat kabar Warta Brita. Setahun kemudian muncul
statement Dja Endar Moeda yang dikutip surat kabar berbahasa Belanda di Padang Sumatra-courant
: nieuws- en advertentieblad. Statement Dja Endar Moeda itu adalah bahwa
pendidikan dan jurnalistik sama pentingnya: sama-sama mencerdaskan bangsa.
Padang Sidempoean. Setelah lulus sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean
tahun 1884 ditempatkan sebagai guru di Batahan. Setelah beberapa kali
dipindahkan seperti di Air Bangis dan Singkil, Dja Endar Moeda pensiun lalu
berangkat haji ke Mekkah. Sepulang haji, Dja Endar Moeda memilih tinggal di
Padang. Ibu kota Province Sunmatra’s Weskust. Provinsi di Pantai Barat Sumatra
ini terdiri dari tiga residentie: Res. Padangsche Benelanden (ibu kota di
Padang), Res Padangsche Bovenlanden (Fort de Kock) dan Residentie Tapanoeli
(ibu kota di Sibolga). Pada tahun 1895 Dja Endar Moeda membuka sekolah swasta
di Padang (disebabkan banyak penduduk usia sekolah tidak tertampung di sekolah
dasar pemerintah). Lalu, seperti disebut di atas, Dja Endar Moeda menjadi
editor surat kabar Pertja Barat tahun 1897 (pribumi pertama menjadi editor
surat kabar). Sejak kapan surat kabar Pertja Barat diterbitkan kurang
terinformasikan. Yang jelas pada tahun 1890an masih eksis surat kabar Pembrita
Bahroe di Soerabaja (yang kehadirannya sudah ada sejak 1874) dan juga surat
kabar Bintang Soerabaja; surat kabar Bintang Barat di Batavia dan surat kabar
Pembrita Betawi (sudah eksis sejak 1889); Slompret Melajoe di Semarang; surat
kabar Tjahaja Sijang di Minahasa/Manado (yang sudah eksis sejak 1857). Semuanya
kepemilikannya dan editornya oleh orang Eropa/Belanda. Sebelum Pertja Barat dan
Warta Brita serta Tjahaja Sumatra, di Padang sudah lebih dulu eksis surat kabar
(dua kali seminggu) Palita Ketjil dengan pimpinan O Baumer (lihat Regerings-almanak
voor Nederlandsch-Indie, 1892). Palita Ketjil masih eksis hingga tahun 1895
dipimpin oleg R Edward van Muijen (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie,
1896). Pada tahun ini di kota Padang dicatat surat kabar baru Pertja Barat di
bawah pimpinan P Baumer dengan editor Dja Endar Moeda dan Lie Bian Goan. Lie
Bian Goan sendiri sebelumnya diberitakan tinggal di Tanah Abang, Batavia (lihat
Bataviaasch nieuwsblad, 28-01-1893). Sebelum,
bergabung dengan Pertja Barat, di Padang Lie Bian Goan bersama LHA Scholte
menjadi editor surat kabar berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh Oei Teh Liang
(lihat Dagblad van Zuidholland en ‘s Gravenhage, 15-08-1894). Dalam Almanak
1896 juga dicatat surat kabar Sinar Minang Kabau pimpinan dan editor Baharoedin.
Pada tahun 1899 surat kabar Pertja Barat dipimpin oleh LNAH Chatelin Sr dengan
editor tunggal Dja Endar Moeda (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie,
1899). Sementara itu, seperti disebut di atas surat kabar Tjahaja Sumatra
dipimpin K Baumer dengan editor tunggal Lim Soen Hin. Sedangkan surat kabar
Warta Brita editornya Soetan Bahaoedin.
Pada
awal tahun 1899 di kota Padang diketahui sudah ada surat kabar baru Tjahaja
Sumatra (lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 18-02-1899). Surat
kabar Tjahaja Sumatra (terbit dua kali seminggu) dipimpin oleh K Baumer dengan
editor Liem Soen Hin (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie, 1899). Dalam
hal ini di kota Padang sudah ada tiga surat kabar berbahasa Melayu. Pada tahun
1899 ini diketahui editor surat kabar Tjahaja Sumatra adalah Lim Soen Hin
(lihat Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 28-02-1899). Entah
kebetulan editor Pertja Barat dan editor Tjahaja Sumatra sama-sama kelahiran
Padang Sidempoean.
berbahasa Melayu di Padang, Pertja Barat dengan editor Dja Endar Moeda dan
Tjahaja Sumatra dengan editor Lin Soen Hin (lihat Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indie,
1900). Di seluruh Hindia Belanda pada tahun 1900 hanya ada tiga editor non
Eropa/Belanda yakni Dja Endar Moeda, Lin Soen Hin dan Oeij Tjaij Hin (surat
kabar Bintang Barat di Batavia).
Pada
tahun 1900 diketahui Dja Endar Moeda telah mengakuisiasi saham surat kabar
Pertja Barat dan sekaligus percetakannya. Dja Endar Moeda menerbitkan surat
kabar baru berbahasa Melayu yakni Tapian Na Oeli (sasaran pembaca di wilayah
Residentie Tapanoeli).
menginisiasi pembentukan organisasi kebangsaan di Padang yang diberi nama Medan
Perdamaian dimana Dja Endar Moeda sebagai ketua. Organ dari organisasi ini
diterbitkan majalah dwi mingguan yang diberi nama Insulinde. Untuk membantu Dja
Endar Moeda sebagai editor Insulinde, didatangkan guru muda lulusan sekolah
guru di Fort de Kock, Djamaloedin.
Pada
tahun 1901 selain memiliki surat kabar Pertja Barat dan surat kabar Tjahaja Sumatra
terus bersaing di kota Padang. Dja Endar Moeda dan Lin Soen Hin masih tetap
eksis. Nama Oeij Tjaij Hin tidak ada lagi. Surat kabar Bintang Barat di Batavia
sudah tidak ada lagi. Namun sebaliknya, di Semarang terbit surat kabar Bintang
Semarang (tiga kali dalam seminggu) dengan editor Sie Hian Ling. Sedangkan di
Jogjakarta terbit surat kabar Retnodjoemilah (dua kali seminggu) dalam
dwibahasa (Melayu dan Jawa) dengan editor [Dr] Soediro Hoesodo yang diterbitkan
oleh Firma H Buning.
sekaligus yakni surat kabar berkala Tapian Na Oeli dan majalah Insulinde serta
satu surat kabar harian Pertja Barat (tiga kali dalam seminggu). Dalam hal ini
surat kabar Tjahaja Sumatra terbit dua kali dalam seminggu (diterbitkan P Baumer
dan editor Lin Soen Hin). Surat kabar harian (terbit setiap hari kecuali hari lubir)
berhasa Melayu adalah Pembrita Betawi di Batavia yang diterbitkan dengan editor
dari Albrecht en Co; surat kabar
Warnasari di Buitenzorg yang diterbitkan oleh L Weber dengan editor F Wiggers;
Bintang Betawi (van Dorp en Co/J Kieffer; dan Hoekoem Hindia (Vasques/A
Vermeer).
Nama
Dja Endar Moeda menjadi tunggal diantara insan pers non Eropa/Belanda. Dja
Endar Moeda tidak hanya menangani tiga media sekaliigus, Dja Endar Moeda juga
adalah penerbit dan pemilik percatakan (NV Snelpersdrukkerij Insulinde). Dalam
hal Haji Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda adalah pemilik portofolio
tertinggi diantara orang non Eropa/Belanda dan dapat dikatakan sudah bersaing
dengan pengusaha media orang-orang Eropa/Belanda. Meski sama-sama kelahiran
Padang Sidempoean, Lim Soen Hin tampaknya sulit mengejar prestasi Dja Endar
Moeda.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Lim Soen Hin:dan Tjioe Tjeng
Liong: Lawan Belanda
Surat
kabar Tjahaja Sumatra masih eksis hingga awal tahun 1904 dimana yang menjadi
editor masih tetap Lil Soen Hin (lihat Sumatra-bode, 02-01-1904). Surat kabar
ini masih berada di dalam grup media Baumer en Baumer. Namun tampaknya pada
akhr tahun 1904 tidak berada di surat kabar Tjahaja Sumatra.
Pada awal tahun 1905 diketahui di dalam
jajaran editor sarat kabat Tjahaja Sumatra (diterbitkan Karl Baumer) sudah
diisi oleh Datoe[k] Soetan Maharadja (lihat Sumatra-bode, 02-01-1905). Lantas
dimana Lim Soen Hin sekarang? Pada akhir tahun 1905 di Padang, seroang
Eropa/Belanda bernama Rogge akan menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu
dengan nama Sinar Sumatra (lihat De locomotief, 11-10-1905). Beberapa minggu
kemudian diketahui Sinar Sumtra telah terbit (lihat De locomotief, 03-11-1906). Dalam berita ini juga diketahui
sudah eksis surat kabar Pembrita Atjeh. Catatan: Surat kabar Pembrita Atjeh
yang diterbitkan di Kota Radja kemudian diketahui dipimpin oleh Dja Endar
Moeda.
Pada
akhir tahun 1906 terbit surat kabar baru di Padang, Sinar Sumatra. Di Kota
Radja (Atjeh) juga diketahui sudah eksis surat kabar Pembrita Atjeh. Peta
persuratkabaran semakin meluas, tidak hanya di Padang, Medan dan Sibolga tetapi
juga sudah meluas hingga ke Atjeh. Sebagaimana diketahui bahwa komunikasi
antara pantai barat Sumatra (Padang dan Sibolga) dengan pantai timur Sumatra
(Medan) harus melewati rute pelayaran melalui ujuang Sumatra (Batavia) atau
ujung utara Sumatra (Sabang dan Kota Radja). Sebagaimana diketahui pada tahun
1905 perlawanan pejuang di Atjeh sudah berakhir. Besar dugaan surat kabar
Pembrita Atjeh muncul di Kota Radja karena situasi dan kondisi sudah kondusif.
Dja Endar Moeda merintas awal media di Kota Radja.
Pada tahun 1902 di Medan, penerbit surat kabar
Sumatra Post menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Pertja
Timor (merujuk pada nama Pertja Barat?). Editor yang diangkat untuk menangani
redaksi Pertja Timor adalah Hasan Nasoetion gelar Mangaradja Salamboewe.
Seperti halnya Dja Endar Moeda, Mangaradja Salamboewe juga adalah alumni
sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean (jabatan terakhirnya adalah jaksa di
Natal sebelum terjun ke dunia jurnalistik di Medan). Pada tahun 1903 mantan
redaktur surat kabar Sumatra Post di Medan, K Wijbran pimpinan surat kabar
berbahas Melayu Pembrita Betawi merekrut Tirto Adh Soerjo (pernah studi di
Docter Djawa School/STOVIA, hanya sampai tahun keempat). Pada tahun 1906 Tirto
Adi Soerjo diberitakan menjadi editor surat kabar baru Sinar Matahari (lihat Soerabaijasch
handelsblad, 23-11-1906).
Surat
kabar Sinar Sumatra diketahui beralamat di Kampong Cina di Padang (lihat
Sumatra-bode, 07-08-1907). Surat kabar ini disebutkan diterbitkan oleh percetakan
Snelpersdrukkerij ‘De Volharding’. Penerbit ini selain surat kabar Sinar
Sunatra juga pada tahun 1908 menerbitkan majalah olahraga dengan nama De
Voetbal (lihat Sumatra-bode, 28-07-1908). Dalam berita ini disebutkan editor
surat kabar Sinar Sumatra adalah Lim Soen Hin. Sementara editor majalah De Voetbal
adalah SA Tengbergen.
Tidak diketahui sejak kapan Lim Soen Hin
sebagai editor surat kabar baru Sinar Sumatra. Namun diduga kuat sejak awal
diterbitkan, selepas tidak menjadi editor lagi di surat kabar Tjahaja Sumatra.
Nun, jauh di Medan, setelah menerbitkan surat kabar Ppembrita Atjeh di Kota
Radja, Dja Endar Moeda diberitakan pada akhir tahun 1909 meneribitkan surat
kabar baru yang diberi nama Pewarta Deli. Surat kabar Pewarta Deli ini
diterbitkan oleh NV Sarikat Tapanoeli dimana Dja Endar Moeda termasuk pengurus
perusahaan. Kini, media Dja Endar Moeda sudah terdapat dari pantai barat hingga
pantai timur Sumatra. Surat kabar Pewarta Deli di Medan akan bersaing dengan
surat kabar Pertja Timor yang masih dipimpin oleh Mangaradja Salamboewe. Surat
kabar berbahasa Belanda sendiri di Medan ada dua: yang pertama Deli Couranta
(sejak 1885) dan Sumatra Post (sejak 1899).
Surat
kabar De Preanger-bode, 05-09-1917 menyebutkan bahwa Lim Soen Hin sudah menjadi
editor surat kabar Sinar Sumatra selama 10 tahun. Jika keterangan ini hitung
mundur itu berarti sejak tahun 1907, tahun dimana surat kabar Sinar Sumatra
kali pertama diterbitkan. Dapat dikatakan Lim Soen Hin terbilang awet di Sinar
Sumatra (suatu waktu yang sangat lama di dalam satu media).
Sejak 1917 Lim Soen Hin tidak lagi menjadi
editor surat kabar Sinar Sumattra. Sementara surat kabar Sinar Sumatra masih
eksis. Sebelumya diketahui bahwa Lim Soen Hin terkenal delik pers. Lim Soen Hin
melawan kapitalisme di wilayahpantai barat Sumatra terutama di wilayah
Tapanoeli kampong halamanya. Sebagaimana diketahui pada tahun-tahun belakangan
mulai banyak investor perkebunan dari pantai timur Sumatra (Medan dan sekitar)
yang investasi di Tapanoeli terutama di wilayah Batang Toroe, kampong kelahiran
Lim Soen Hin. Besar dugaan bahwa Lim Soen Hin tidak lagi menjadi editor Sinar
Sumatra karena kasus delik pers ini.
Sebagai
penganti Lim Soen Hin di surat kabar Sinar Sumatra adalah Lim Kok Liang. Boleh
jadi Lim Kok Liang masih kerabat dekat Lim Soen Hin (dari Batang Toroe, Padang
Sidempoean).
Dalam kasus delik pers yang dialami oleh Lim
Soen Hin, seorang tokoh Cina terkenal di Padang Sidempoean, Tjioe Tjeng Liong
membelanya, banding di pengadilan daerah di Padang. Dalam kasus pembelaan ini
Gubernur Jenderal di Buitenzorg turun tangan. Akhirnya, pembelaan Tjioe Tjeng
Liong berhasil dimana hukuman Lim Soen Hin dibebaskan (dari tuntutan penjara).
Namun tidak diketahui pembebasan ini apakah dikenaikan denda atau tidak. Tjioe
Tjeng Liong adalah tokoh Cina terkenal di Padang Sidempoean yang menjabat
sebagai Kapten Cina di Padang Sidempoean. Tjioe Tjeng Liong adalah seorang
peranakan Cina yang mana ibunya adalah seorang wanita Padang Sidempoean. Darah
ibunya mengalir di dalam semangat juang Tjioe Tjeng Liong. Lalu apakah ada
hubungan kekerabatan anatara Tjioe Tjeng Liong dengan Lim Soen Hin?
Pada
tahun 1919 surat kabar Sinar Sumatra terkena lagi delik pers (lihat Sumatra-bode,
26-02-1919). Editor Lim Kok Liang, dituntut di pengadilan di Padang. Penuntutan
ini berawal pada bulan Agustus 1918 Sinar Sumatra menurunkan artikel berita
yang membuat seorang pejabat pemerintah keberatan dengan isinya (lihat Het
nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-08-1918). Jaksa penuntut
menuntut satu bulan penjara bagi Lim Kong Liang. Sampai sejauh ini kasus delik
pers di Jawa yang mendakwa jurnalis Cina tidak prernah terjadi. Selama ini yang
menjadi langganan delik pers adalah jurnalis pribumi seperti Dja Endar Moeda
pada tahun 1905 di Padang. Tuntutan terhadap Lim Kok Liang tidak dapat
dihalangi dan Lim Kok Liang divonnis satu bulan penjara (Het nieuws van den dag
voor Nederlandsch-Indie, 04-04-1919).
Setelah menyelesaikan hukuman penjara satu
bulan di Padang, Lim Kok Liang merantau ke Jawa dan berdonmisili di Semarang.
Sebagai seorang jurnalis, Lim Kok Liang menerbitkan surat kabar baru di
Semarang yang diberi nama Warna Warta. Sementara itu pada bulan September 1919
di Padang Sidempoean, seorang jurnalis muda yang baru pulang dari Medan, Parada
Harahap menerbitkan surat kabar yang diberi nama Sinar Merdeka. Motto surat
kabar Parada Harahap ini adalah adalah Oentoek Menegakkan Keadilan dan Menoedjoe
Kemerdekaan. Parada Harahap jurnalis revolusioner di Medan, kini di kampongnya
di Padang Sidempoean menerbitkan surat kabar yang lebih revolusioner lagi. Lim
Soen Hin sudah lama tidak terdengar beritanya setelah kasus delik pers yang
menimpanya. Sementara Lim Kok Liang asal Padang Sidempoeanm sudah hijrah ke
Semarang.
Tokoh
Cina asal Padang Sidempoean kini hanya tinggal nama Tjioe Tjeng Liong, sebagai
Kapten Cina di Padang Sidempoean. Apa marga ibu Tjioe Tjeng Liong tidak
terinformasikan. Besar dugaan ibu Tjioe Tjeng Liong bermarga Harahap (Padang
Sidempoean adalah wilayah ulayat marga Harahap).
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






