*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Banten, klik Disini
Seorang
penulis bertanya pada dirinya belum menemukan arsip otentik yang menyebutkan
siapa orang Banten pertama yang melaksanakan ibadah haji. Namun dia mengutip
satu tulisan bahwa setelah penyebaran Islam pertama di Banten, Sunan Gunung
Jati mengajak putranya Hasanuddin menunaikan haji ke tanah suci. Okelah itu
satu hal. Jika kita kembali pada pertanyuan penulis tersebut di atas tentu
tetap menarik untuk ditelusuri. Sebab sejarah adalah narasi fakta dan data. Sejarah
(kesultanan) Banten terbilang sejarah lama, kesultanan yang memiliki data
sejarah yang sangat lengkap (relatif terhadap yang lain).

baru dimulai oleh pemerintah secara terorganisir pada era Hindia Belanda. Sulit
memperoleh keterangan penyelenggaraan perjalanan haji pada era VOC. Hanya
penyelenggaraan haji dari Mesir dan Turki yang terinformasikan pada era VOC. Boleh
jadi hal itu karena Mesir dan Turki begitu dekat dengan Mekkah (Arabia).
Penyelenggaraan perjalanan haji di Mesir dan Turki ini dilakukan melalui darat
dengan kafilah unta. Orang-orang (yang sudah beragama) Islam nusantara (Hindia
Timur) tentu saja membayangkan Mekkah begitu jauh dan hanya efektif dilakukan
melalui pelayaran. Namun dalam konteks pelayaran ini, orang-orang Mesir, Turki,
Arab, Persia, Moor sudah hilir mudik berdagang ke nusantara dengan kapal-kapal
mereka. Para pedagang-pedagang manca negara ini tentulah sudah banyak yang pernah
berhaji. Bagaimana dengan orang-orang di nusantara?
Orang
Arab yang sudah berhaji datang ke nusantara adalah satu hal. Orang asing yang sudah
lama di nusantara, kemudian berangkat untuk berhaji adalah hal lain. Orang
pribumi yang sudah sejak lama beragama Islam berangkat haji ke Mekkah adalah
hal lain lagi. Lantas bagaimana dengan penduduk asli Banten melakukan
perjalanan haji ke Mekah? Pertanyaan yang terakhir inilah yang mebutuhkan data
otentik. Seperti
kata ahli sejarah
tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan
gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya
sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi,
sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti
surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan
artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel
saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah
pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk
lebih menekankan saja*.
Haji dan Para Haji Banten
Sejarah
penyelengaraan haji sangatlah menarik. Bagaimana tidak? Jarak dari nusantara ke Mekah sangatlah jauh, harus
dilakukan pelayaran jarak jauh dari kota-kota pelabuhan seperti di Jawa dan
Sumatra ke Jeddah. Lalu dari Jeddah ke Mekkah dengan mengendarai unta melalui
gurun dan padang tandus. Haji sendiri adalah salah satu rukun yang harus
ditunaikan oleh penduduk yang beragama Islam (tentu saja atas dasar mampu).
Mampu tidak hanya soal fisik (kesehatan) dan juga tidak hanya sebatas kemampuan
finansial. Dalam pelayaran dan kafilah itu juga harus tersedia dan mampu
berlayar di lautan berminggu-minggu.
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Ulama Syaikh Nawawi al-Bantani
di Mekkah
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


