*Untuk melihat semua artikel Sejarah Museum dalam blog ini Klik Disini
Dalam
sejarah Indonesia, perdagangan barang kuno dan benda antik sudah ada sejak era
VOC. Perdagangan ini mulai intens ketika Radermacher menginisiasi pendirian
lembaga ilmu pengetahui dan seni di Batavia (Bataviaasch Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen). Lembaga yang didirikan tahun 1778 mulai mendirikan
perpustakaan dan museum. Meski pendirian museum tidak dimaksudkan untuk
meningkatkan perdagangan benda kuno dan barang antik, hanya untuk menyimpan yang
dapat dilihat oleh publik, tetapi kenyataannya perburuan benda kuno dan barang
antik telah menciptakan market tersendiri.

menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Barang antik adalah barang kuno
yang bernilai seni atau benda budaya, sementara barang kuno adalah barang yang
berasal dari zaman purba. Dalam hal ini museum tidak hanya untuk tempat
menyimpan dan memamerkan ke publik tentang barang atau benda kuno dan barang
antik tetapi juga ada yang secara khusus untuk menyimpan dan memamerkan barang
produk industri yang sudah lama (tidak kuno dan juga tidak antik), spesimen
spesies atau varitas flora dan fauna. Sedangkan perpustakaan (bibliotheek) menurut
KBBI adalah (1) tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan
penggunaan koleksi buku dan sebagainya; (2) koleksi buku, majalah, dan bahan
kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan. Dalam
hal ini perpustakaan dapat menyimpan koleksi yang lama atau yang baru. Sejalan
dengan pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan dan museum ini secara paralel
lapak dan toko di pasar-pasar atau tempat tertentu.
Salah
satu kolektor benda kuno dan barang antik pada era Hindia Belanda adalah Egbert
Willem van Orsoy de Flines. Sang kolektor ini, yang awalnya hanya sekadar
sebagai peminat, namun dengan meningkatnya pemahaman dan kemampuannya
menganalisis benda kuno dan barang aktik, dirinya kemudian diminta oleh
pengurus untuk menjadi salah satu kurator museum Bataviaasch Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen. Itulah Egbert Willem van Orsoy de Flines. Lantas
siapa dia? Seperti kata ahli sejarah tempo doeloe, semuanya
ada permulaan. Untuk
menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri
sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah seharusnya memiliki permulaan. Jika
sejarawan gagal memberikan bukti catatan tertulis, setiap orang bahkan oleh
penduduknya sendiri akan menciptakan imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal
itu terjadi, sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber
primer’ seperti surat kabar dan majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
Egbert Willem van Orsoy de
Flines dan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen
Tunggu
deskripsi lengkapnya
Seniman-Seniman Terkenal: Perkembangan
Perdagangan Benda Kuno dan Barang Antik di Indonesia
Tunggu
deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com


