*Untuk
melihat semua artikel Sejarah Manado dalam blog ini Klik Disini
Satu fase perjalanan Republik Indonesia yang
paling kompleks terjadi pada tahun 1957 dan 1958. Salah satu hal yang
terpenting pada fase ini adalah soal deklarasi (proklamasi) Perjuangan Rakyat
Semesta (Permesta) pada tanggal 2 Maret 1957. Salah satu tokoh penting dalam
Permesta ini adalah Letnan Kolonel Ventje Sumual. Permesta awalnya berpusat di
Makassar dan kemudian bergeser ke Manado.

waktu yang relatif berdekatan muncul deklarasi (proklamasi) Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia pada tanggal 15 Februari 1958 dengan tokoh
sentralnya Letnan Kolonel Achmad Hoesein. PRRI awalnya berpusat di Padang dan
kemudian bergeser ke Bukittinggi. Dalam dua situasi ini di Djakarta terdapat
tiga tokoh Bandoeng: Ir. Soekarno, Jenderal Abdoel Haris Nasoetion dan Ir. Djoeanda.
Dalam fase ini Ir. Soekarno dan Jenderal Abdoel Haris Nasoetion terkesan
dwitunggal baru menggantikan dwitunggal lama (Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta),
Dengan munculnya nama Ir. Djoeanda terkesan muncul trio baru menggantikan trio
lama (Ir. Soekarno, Drs. Mohamad Hatta dan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap). Tiga
trio baru kebetulan Alumni Bandoeng.
Bagaimana sejarah Ventje Sumual dan bagaimana
sejarah Permesta sudah banyak ditulis, yakni pada fase yang sangat kompleks. Namun
untuk membatasi, bagaimana itu semua bermula? Seperti kata ahli sejarah tempo
doeloe, semuanya ada permulaan. Itulah menariknya sejarah, sejarah yang paling menarik
terdapat pada bagian permulaan. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan
wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.
Sejarah
seharusnya memiliki permulaan. Jika sejarawan gagal memberikan bukti catatan
tertulis, setiap orang bahkan oleh penduduknya sendiri akan menciptakan
imajinasi sendiri. Untuk menghindari hal itu terjadi, sumber utama yang
digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar dan
majalah sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber
disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
Ventje Sumual van Minahasa: Abdoel Haris Nasoetion Diantara Permesta dan
PRRI
Pada bulan Juni 1956 terjadi mutasi di lingkungan
TNI angkatan darat. Kolonel AE Kawilarang, komandan TT III/Divisi Siliwangi dan
Kolonel JF Warouw, komandan TT VII/Divisi Wirabuana diangkat menjadi duta besar
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
28-06-1956). Sebagai pengganti mereka adalah Letkol Kosasih dan Letkol Ventje Sumual.
Juga disebutkan Panglima TT V/Divisi Brawidjaja Kolonel Sudirman diangkat
menjadi Komandan Operasi Sulawesi Selatan dan Tenggara menggantikan Letkol
Abdurrachman.
Mutasi
di lingkungan angkatan darat adalah hal yang biasa. Kolonel AE Kawilarang sebelum
menjadi komandan TT III/Divisi Siliwangi adalah komandan TT I/Divisi Boekit
Barisan (yang digantikan oleh Kolonel Maludin Simbolon dari TT II/Divisi
Sumatra Selatan). Kolonel AE Kawilarang adalah sahabat lama Kepala KASAD
Jenderal Abdoel Haris Nasoetion. Yang terkesan luar biasa adalah dua kolonel
asal Minahasa ‘pensiun’. Kolonel Sudirman dan Letkol Ventje Sumual memiliki
fungsi yang berbeda (tetapi berkoodinasi). Dalam struktur Komando Operasi
Sulawesi Selatan dan Tenggara, Letkol Ventje Sumual sebagai kepala staf. Ruang Komando
Operasi Sulawesi Selatan dan Tenggara lebih mobile.
Dalam perkembangannya Kepala staf angkatan darat,
Mayjen Abdoel Haris Nasution, pada tanggal 4 Oktober meminta Letkol Ventje Sumual
untuk melakukan penyelidikan anggota TNI yang terlibat korupsi dan politik. Seminggu
kemudian Letkol Ventje Sumual datang ke Djakarta untuk melaporkan hasilnya
(lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie,
15-10-1956).
Abdoel
Haris Nasution tampaknya kembali geram. Pada tahun 1952 Abdoel Haris Nasution
geram terhadap anggota parlemen dan kini para anggota TNI. Pada tahun 1952
marah karena anggota parlemen merecokin pemerintahan. Lalu, sebagai KASAD Majoor
Jenderal Abdoel Haris Nasoetion memimpin demonstrasi di depan istana yang
meminta bubarkan parlemen. Terhadap tindakan ini Abdoel Haris Nasoetion dirumahkan.
Lalu kemudian menyusul TB Simatoepang dirumahkan. Dalam perkembangannya karena
rasa solidaritas Menteri Pertahanan Hamengkoeboewono mengundurkan diri. Pada tahun
1955 saat Perdana Menteri dijabat Boerhanoeddin Harahap meminta Menteri Negara
Abdoel Hakim Harahap untuk mendamaikan para tentara. Abdoel Hakim Harahap
meminta semua perwira tinggi di Indonesia berkumpul (di Djogjakarta) untuk
memilih pemimpinnya. Lalu muncul dua nama: Kolonel Abdoel Haris Nasoetion (yang
masih dirumahkan) dan Kolonel Zulkifli Lubis. Perdana Menteri Boerhanoeddin
Harahap menhajukan nama Abdoel Haris Nasoetion kepada Presiden Soekarno.
Diterima. Sejak saat itu Abdoel Haris Nasoetion kembali mendapat jabatannnya
sebagai Kepala KASAD. Abdoel Hakim Harahap adalah mantan Residen Tapanoeli,
penasehat delegasi RI ke Den Haag dalam konferensi KMB tahun 1949, Wakil
Perdana Menteri RI yang terakhir di Djogjakarta dan mantan Gubernur Sumatra
Utara (kini menjadi Menteri Negara).
Pada bulan Desember terjadi mutasi di lingkungan TT
VII/Divisi Wirabuana. Komandan Resimen-24 Letkol Worang digantikan oleh Majoor
Somba (lihat De nieuwsgier, 19-12-1956).
Letkol Worang dipindahkan ke TT VII/Divisi Wirabuana, Majoor Somba sebelumnya
adalah staf officer TT VII/Divisi Wirabuana. Sebelumnya, Komandan Resimen 25 di
Ambon telah digantikan dari Majoor J Sejowo kepada Majoor Pieters (lihat Java-bode
: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-12-1956). Majoor
J Sejowo akan menjadi kepala staf di TT VII/Divisi Wirabuana.
Lantas
mengapa ada Komando Operasi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Hal ini besar
kemungkinan karena wilayah Indonesia Timur masih terbilang masih ‘panas’ karena
Irian Barat masih dikuasai Belanda (belum diserahkan merujuk pada perjanjian
KMB 1949) dan masalah sisa RMS. Namun pasukan TT VII/Divisi Wirabuana bisa saja
bergesekan dengan pasukan Komando Operasi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Bahkan
yang menganggap dua komando ini bersifat subordinatif.
Permasalahan di internal TT VII/Divisi Wirabuana
mulai terasa. Gerakan pemuda sosialis di Minahasa meminta Kawilarang dan Warouw
yang keduanya masih di luar negeri supaya turun tangan (lihat Algemeen Indisch
dagblad : de Preangerbode. 12-01-1957). Apa yang menjadi permasalahan tidak
disebutkan. Yang jelas resimen baru dibentuk dengan nama Resimen Hasoenddin
(lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-01-1957).
Resimen ini dipimpin oleh Majoor Andi Jusuf Amir, suatu resimen yang sebagian
besar terdiri dari kaum muda dari Sulawesi Selatan. Sebelumnya terdapat Resimen
23, Resimen 24 dan Resimen 25.
Dalam
satu kesempatan ketika melantik komando Makassar Overste Andi Mattalata,
sebagai komandan TT VII/Divisi Wirabuana, Sumual menyatakan ada ketidakpuasan
diantara para prajurit (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad
voor Nederlandsch-Indie, 06-02-1957).
Pada bulan Maret 1957 diberitakan Indonesia Timur
Indonesia Timur berlawanan dengan Djakarta (lihat Het vrije volk :
democratisch-socialistisch dagblad, 04-03-1957).
Ini sehubungan dengan deklarasi Letkol Ventje Sumual pada taggal 2 Maret 1957.
Disebutkan bahwa Indonesia Timur – meniru Sumatera – telah ‘memberontak’
melawan pemerintah pusat Djakarta. Panglima militer, Letnan Kolonel Ventje
Sumual, menyatakan berada di bawah darurat militer dan menyatakan perang untuk
wilayah Celebes dan Kepulauan Sunda Kecil termasuk Bali dan Maluku.
Disebutkan
lebih lanjut Letkol Ventje Sumual juga
mendirikan administrasi militer di Indonesia Timur yang artinya di wilayah ini ‘otoritas
pusat Djakarta tidak lagi diakui’. Pasalnya, seperti di Sumatera, ketidakpuasan
terhadap pemerintah pusat. Sumual, mantan pengawal Presiden Soekarno mengatakan
dalam sebuah proklamasi bahwa pembentukan pemerintahan militer diperlukan untuk
‘menyelamatkan negara dari bencana besar akibat perselisihan besar diantara
kita’. Ia menegaskan langkah tersebut bersifat sementara dan bukan berarti
Indonesia Timur lepas dari republik Indonesia. Ia tidak merinci alasan yang
membuatnya mengambil keputusan tersebut. Itu di Indonesia. Namun, sudah menjadi
rahasia umum bahwa nusantara Indonesia Timur juga tidak puas dengan pemerintah
pusat.Ada banyak keluhan tentang ‘sentralisme’ Djakarta dan kegagalan
pemerintah dalam pemberantasan korupsi dan pelaksanaan rencana pembangunannya. Kaum
‘revolusioner’ menuntut 70 persen dari hasil perdagangan luar negeri untuk
kepentingan wilayah mereka. Saat ini, Indonesia Timur harus membayar 90 persen
pendapatannya dari perdagangan luar negeri ke Djakarta. Persyaratan lainnya
adalah hak otonom penuh atas empat provinsi Hindia Timur, Gslebes, Klein Sunda
Eilandes, Maluku dan West Irian (Dutch West Guinea). Administrasi militer siap
merundingkan persyaratan ini dengan delegasi dari pemerintah pusat. Djakarta
belum memberikan komentar resmi tentang ‘pemberontakan’ tak berdarah hingga
pagi ini. Presiden Soekarno, yang menjabarkan rencananya untuk penyelamatan
bangsa’ pada Sabtu malam dalam rapat massa di Soerabaja tidak mengatakan
sepatah kata pun tentang hal itu. Presiden mengatakan ingin menyatukan kembali
Indonesia. Dia menegaskan tidak akan menyimpang dari prinsip demokrasi dalam menjalankan
konsepsinya. Indonesia tidak akan bergerak ke kiri karena itu, katanya, tapi ‘kami
akan lakukan untuk melanjutkan kebijakan luar negeri independen kami’.
Tunggu deskripsi lengkapnya
Ir. Soekarno va Drs Mohaad Hatta: Dwitunggal, Tanggal Tunggal, Tinggal
Tunggal
Tunggu deskripsi lengkapnya
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com





