Penggunaan ternak besar sebagai
pengganti tenaga kerja manusia sudah sejak lama disadari oleh penduduk di
Soekaboemi. Ternak besar seperti kerbai digunakan untuk membajak sawah dan
menarik pedati. Demikian juga ternak besar yang sangat lincah yakni kuda
digunakan sebagai kuda tunggangan untuk perjalanan jarak jauh. Orang-orang
Eropa/Belanda juga menggunakan kuda sebagai alat transportasi yang tidak hanya
ditunggangi tetapi kuda juga dijadikan sebagai penarik kereta. Dalam
perkembangannya, kuda juga dijadikan aset penting, juga diikutsertkan dalam lomba pacuan kuda.
![]() |
| Arena pacuan kuda di Soekaboemi (1890) |
Pacuan kuda tidak hanya sekadar lomba, Tetapi
pacuan kuda juga menjadi simbol gengsi para pemilik kuda, pacuan kuda menjadi
sarana hiburan massal yang murah dan tentu saja secara diam-diam di dalam tribun
muncul praktek judi. Pacuan kuda adalah satu hal, dan penggunaan tenaga kerbau di
pertanian dan perdagangan adalah hal lain lagi. Namun dua hal tersebut menjadi
permasalahan ternak besar secara umum yang satu sama lain terkait.
kuda) yang menjadi aset dan faktor penting dalam pembangunan ekonomi
(perdagangan dan pertanian) menjadi salah satu perhatian pemerintah. Munculnya
penyakit ternak menjadi persoalan penting bagi pemerintah. Oleh karenanya
ternak besar selalu menjadi perhatian. Namun yang menjadi tantangan bagi
pemerintah adalah bangaimana menjaga kesehatan ternak besar dan bagaimana upaya
yang dilakukan untuk mengisolasi wilayah jika terjadi wabah penyakit. Ketiadaan
dokter hewan menyebabkan perihal ternak besar selalu dihantui oleh bayang-bayang
ketakutan.
adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber
buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku
juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam
penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut
di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja*.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com






