melihat semua artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini
Dua abad kehadiran orang Eropa/Belanda di
Tangerang nyaris tidak ada perhatian terhadap pengembangan sosial penduduk.
Kehidupan hanya menguntungkan pemilik lahan (landheer). Penduduk tak berdaya.
Jika pun ada keuntungan sosial yang diterima hanya sekadar peningkatan akses
yang lebih lancar ke ibu kota (stad) Batavia. Memang penduduk menjadi kosmopolitan,
tetapi tidak memiliki segalanya: tidak memiliki lahan, tidak ada sekolah dan
juga tidak mendapat layanan kesehatan. Itulah riwayat kelam penduduk di wilayah
Tangerang.
![]() |
| Mahasiswa dan Docter Djawa School di Batavia (1902) |
Seperti
halnya Bekasi, sejak era VOC wilayah Tangerang adalah wilayah tanah-tanah
partikelir (land). Yang berkuasa adalah para tuan tanah (landheer). Intervensi
pemerintah sangat minim, yang menentukan segalanya adalah para pemilik lahan. Pada
era Pemerintah Hindia Belanda, secara bertahap lahan dibeli pemerintah. Namun pemerintahan
hanya dipimpin seorang Schout (lebih mirip Sheriff daripada bupati). Schout
hanya sekadar melayani para tuan tanah (keamanan dan peradilan). Baru pada
tahun 1854 Tangerang dipimpin oleh seorang Asisten Residen. Ini sehubungan
dengan semakin meluasnya lahan pemerintah. Sejak inilah pemerintahan (yang
mengedepankan penduduk) dimulai. Pejabat pemerintah dari kalangan pribumi
ditambahkan (demang). Namun tupoksi pemerintahan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan
dasar penduduk. Dalam pembentukan sistem pemerintahan, tata kelola bidang
(dinas) pendidikan dan kesehatan berada pada urutan terakhir.
.
kemana. Hanya penduduk yang terluka parah seperti dicakar harimau yang mendapat
akses ke rumah sakit kota di Batavia. Kondisi ini selama berlangsung hingga
muncul wabah kolera tahun 1874. Pemerintah bergegas memberikan  layanan kesehatan bagi penduduk. Motivasinya
bersifat sekunder. Motivasi utama sesungguhnya adalah untuk melindungi ibu kota
Batavia terhadap ancaman epidemik. Itulah awal riwayat layanan kesehatan di
Tangerang. Bagaimana selanjutnya? Mari kita telusuri sumber-sumber tempo
doeloe.
utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat
kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai
pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi
(analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua
sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya
sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di
artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan
saja*.
*Akhir Matua Harahap,
penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga
ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat
(1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di
seputar rumah–agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel
di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya
jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang
memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia.
Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang
sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com




