Kampung Empang, suatu kampung tua di Bogor. Nama Kampung
Empang paling tidak sudah teridentifikasi pada tahun 1825. Ini bermula dari Mr.
Cobben memasang iklan untuk menjual rumah dengan taman yang indah di Kampong
Empang, Buitenzorg (lihat Bataviasche courant, 14-12-1825). Masih di koran yang
sama, Mr. Cobben juga ingin menjual logement (losmen) beserta perabotannya dan
kuda, kerbau serta pedatinya. Rumah dan losmen tersebut besar kemungkinan
berdekatan, tetapi tidak diketahui persis posisi ‘gps’nya. Inilah awal berita
adanya kampong Empang di Bogor.
![]() |
| Kampong Empang, 1867 |
Pada tahun 1843 Asisten Residen Buitenzorg, DCA van Hogendorp mengumumkan
perbaikan sejumalah jembatan, termasuk jembatan yang berada di dekat rumah
Bupati (Javasche courant, 18-02-1843). Jembatan yang dimaksud ini di kampong
Empang adalah jembatan di atas sungai Tjisadane.
tempat orang Eropa, tetapi juga ibukota penduduk pribumi (mengacu pada kediaman
Bupati). Kampong Empang berada di lembah yang dialiri oleh sungai Tjisadane.
![]() |
| Hotel Bellevue, 1867 |
Pada tahun 1853 di Buitenzorg dilaporkan keberadaan Hotel Bellevue.
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1853
memberitakan bahwa hotel tersebut telah diakusisi oleh W. Hamstra. Hotel
Bellevue juga disebut sebagai Logement Bellevue. Selain Hotel/losmen Bellevue
di Buitenzorg juga dilaporkan terdapat losmen di Kota Batoe (lihat Java-bode:
nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1853). Dalam
berita ini, hanya dua losmen ini yang disebutkan dan tidak ada losmen lainnya
di Buitenzorg. Hotel Bellevue ini kemungkinan besar adalah logement (losmen)
milik Mr. Cobben sebelumnya. Hotel Bellevue atau losmen Mr. Cobben di kampong
Empang pada masa ini berada persis di Bioskop Ramayana yang sekarang.
tinggal, kampong Empang juga dinilai sebagai tempat yang strategis yang
menghubungkan Kota Buitenzorg dengan lereng gunung Salak hingga ke Kota Batoe. Yang
dimaksud Kota Buitenzorg adalah lokasi di sekitar Kantor/rumah Asisten Residen
yang berada di depan Istana Buitenzorg (situsnya masih eksis hingga ini hari).
di Kampong Empang paling tidak sudah terdeteksi pada tahun 1843 (Javasche courant, 18-02-1843). Tidak
diketahui kapan Kampong Empang menjadi ibukota. Sementara itu di distrik Buitenzorg
sendiri, selain penduduk pribumi, populasi orang-orang Eropa dan Tionghoa sudah
banyak termasuk landerein Bloeboer dimana Kampong Empang berada. Orang-orang
Arab bahkan hingga pada tahun 1861 belum ditemukan di Buitenzorg.
![]() |
| Sketsa (peta) Bloeboer, 1874 |
Pada awal pembagian administratif
Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan),
yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Pada tahun
1861 (lihat Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861) terdiri dari 62
tanah (landerien) dan 1.030 kampong. Jumlah penduduk sebanyak 341.083 jiwa,
tidak termasuk orang Eropa/Belanda
sebanyak 759. Orang Eropa/Belanda umumnya berada di Depok, Bloeboer, Pasar dan
perkebunan swasta (Pondok Gede, Dermaga, Tjiomas, Tjikoppo, Tjiseroa,
Tjitjoeroek dan Tjiawi). Jumlah populasi orang Eropa/Belanda terbanyak
berdasarkan statistic 1861 terdapat di Land Depok dan Land Bloeboer. Jumlah
orang Eropa/Belanda di Land Depok sebanyak 303 orang dan di Land Bloeboer
sebanyak 250 orang. Land Bloeboer sendiri adalah ibukota Buitenzorg dimana juga
terdapat banyak Tionghoa. Di ibukota ini jumlah Tionghoa terbanyak yakni
sebanyak 2.188 jiwa (jumlah kedua terbanyak di Tjilengsie sebanyak 1.008 jiwa).
Wilayah perkotaan di Bloeboer yang umumnya dihuni oleh orang-orang Tionghoa
disebut wijk (yang dibedakan dengan kampong). Meski orang-orang Tionghoa
tersebar di seluruh Regenschappen Buitenzorg, namun di setiap land lainnya
jumlahnya tidak lebih dari 500 jiwa. Dalam laporan statistik penduduk ini,
tidak ditemukan orang Arab namun di Bloeboer sudah terdapat 45 orang timur
asing lainnya.
![]() |
| Foto Masjid Empang 1880 |
kapan masjid Empang diketahui keberadaannya? Informasi yang tersedia, gambar
masjid Empang yang paling awal ditemukan pada tahun 1880. Masjid ini terkesan
cukup besar dan cukup megah untuk wujud bangunan pada saat itu. Di depan masjid
Empang ini tampak lapangan yang cukup luas yang diduga menjadi aloon-aloon
kota.
kota adalah tipikal kota-kota yang didiami penduduk lokal di Jawa, termasuk di
Bandoeng dan Buitenzorg. Di Bandoeng lokasi serupa ini berada di area Kaoem. Aloon-aloon
di Buitenzorg diduga terdapat di kampong Empang yang boleh jadi area ini juga
disebut kaoem.
![]() |
| Soerabaijasch handelsblad, 10-06-1908 |
hanya memiliki masjid yang besar. Kampong Empang juga semakin terkenal di mata
orang-orang Eropa/Belanda karena di kampong ini tidak hanya terdapat Hotel
Bellevue, juga di kampong Empang juga terdapat rumah pelukis terkenal, Raden
Saleh. Sebagaimana Raden Saleh yang bernama asli Saleh Boestaman sejatinya
adalah pelukis kelahiran Semarang yang cukup lama berkiprah di Eropa yang
memiliki darah Arab dari pihak ayah. Apakah pilihan Raden Saleh bertempat
tinggal di Kampong Empang karena kampong Empang terkenal dengan keindahan
pemandangannya ke arah gunung Salak. Raden Saleh meninggal dunia tahun 1880
yang mana makamnya terdapat di Bondongan.
![]() |
| Foto Masjid Empang 1910. |
yang berada di Kampong Empang ini mendapat bantuan dari pemerintah untuk
dilakukan perbaikan. Kampong Empang juga mendapat bantuan untuk dua buah lampu
di sepanjang jalan utama (Soerabaijasch handelsblad, 10-06-1908). Masjid Empang
pada tahun 1910 terlihat sudah berbeda jika dibandingkan dengan foto 1880.
menjadi komunitas orang-orang Arab semakin berkembang. Keberadaan orang-orang
Arab di Kampong Empang juga mempekaya area dengan tumbuhnya pasar Empang. Pasar
ini tampaknya menjadi alternatif bagi warga untuk berdagang maupun berbelanja
selain pasar baroe yang terdapat di kampong Babakan Pasar.
Tjipakantjilan vs Tjisadane
![]() |
| Sketsa Michiel Ram en Cornelis Coops, 1701 |
Nama kampung Empang
diduga mengacu pada adanya empang  yang
dibangun di sungai Tjisadane. Lantas bagaimana munculnya empang? Pada masa
lampau, berdasarkan ekspedisi tahun, sketsa yang dibuat Michiel Ram en Cornelis
Coops, perkampungan hanya terdapat di sisi timur sungai Tkiliwong. Dengan kata
lain, di area Bondongan, Empang dan Pantjasan yang sekarang tidak ditemukan
kampung (wilayah hutan rimba). Lalu dalam perkembangannya, berdasarkan lukisan Js
Rach, 1771 sudah ditemukan lahan pertanian. Area yang lebih rendah dari sungai
Tjipantjilan dibentuk sawah dengan mengambil air dari sungai Tjipakantjilan
dengan cara membendung (apakah dari sini munculnya nama kampong
Bondongan/Bandongan?).
![]() |
| Area yang menjadi Empang/Bondongan (lukisan Js Rach, 1771) |
Secara alamiah sungai Tjipakantjilan
lebih tinggi dari sungai Tjisadane di hulu. Air sungai Tjipakantjilan inilah
yang mengairi persawahan di kampong Bondongan (air sungai Tjisadane berada di bawah).
Sejauh ini tidak ada kontribusi sungai Tjisadane terhadap pertanian di sekitar
Bondongan dan Empang. Akan tetapi selisihnya makin rendah di hilir hingga
aliran sungai Tjipakantjilan bermuara ke sungai Tjisadane (di Kampong Empang
yang sekarang). Dengan kata lain air sungai Tjipakantjilan bermuara ke sungai
Tjisadane (lihat foto 1860).
![]() |
| Foto 1860 |
Pemerintah Hindia
Belanda (era Daendles) dan pemerintah lokal (Bupati) mulai merencanakan
perluasan sawah di Panaragan dan Kedong Badak. Selama ini area tersebut berada
di ketinggian yang hanya sesuai dengan perkebunan lahan kering dan tidak
memungkinkan untuk persawahan untuk menghasilkan beras lebih banyak. Lalu
dibuat rencana pengalihan air sungai Tjipakantjilan tidak masuk ke sungai
Tjisadane tetapi dengan membuat kanal melalui Empang Atas dan Pledang. Kanal
ini cukup dalam di sekitar Jembatan Merah yang sekarang (lihat Johannes Olivier
dan K. van Hulst, 1835). Untuk menambah debut air yang melalui kanal baru ini
sungai Tjisadane dibendung. Air yang kini lebih tinggi di empang sungai
diatur melalui peraturan yang dialirkan menuju kanal baru melalui muara sungai Tjipakantjilan (lihat Staatsblad van
Nederlandsch-Indie voor 1859). Empang dan
kanal baru ini selesai pada tahun 1872. Pemakaian air dari bendungan
Empang diatur kembali kemudian, dimana di Pasar Tjitajam dibagi dua, ke barat
menuju Tjinere dan Pondok Labo dan ke timur setelah Pondok Tjina diteruskan ke
Tandjong Barat dan berakhir di Pegangsaan masuk ke Tjiliwong (lihat Staatsblad
van Nederlandsch-Indie No. 200 Tahun 1877). .
![]() |
| Peta 1880 |
Jauh sebelumnya sudah ada kanal yang
dibuat di era VOC yang menyodet sungai Tjiliwong di Kampong Katoelampa. Kanal
ini disebut Slokkan op Kalie Baroe. Air kanal ini mengairi persawahan bari di
Kampoeng Baroe yang diteruskan ke hilir. Kali Baroe ini yang mendapat pasokan tambahan
air dari Kali Tjikeas akan mengairi sawah hingga ke Batavia. Kanal ini akan
bertemu kembali dengan sungai Tjikias di Batavia (yang kemudian sungai/kali
baru itu dikenal sebagai Kali Soenter). Sementara itu, kali baru dari sungai
Tjisadane ini diintegrasikan dan memperbesar sungai kecil di Tjiliboet yang
kemudian diteruskan untuk mengairi persawahan baru di Bodjong Gede, Tjitajam,
Depok. Air yang jatu di UI yang sekarang dialihkan lagi dengan membuat kanal
lanjutan untuk mengairi persawahan di Srengeseng, Lentang Agoeng, Pasar Minggoe.
![]() |
| Peta 1900 |
Bendungan sungai Tjipakantjilan
dengan membentuk kanal baru inilah yang diduga diduga yang menjadi asal muasal
nama Kampong Empang. Sebagaimana dikutip di atas, nama Kampong Empang sudah
dilaporkan pada tahun 1825 (era Cobben). Sebab pembendungan ini sudah dimulai
sejak era Daendels (1809). Sedangkan bendungan sungai Tjisadane sendiri baru
terjadi pada tahun 1872. Dengan demikian, asal usul nama Kampong Empang baru
muncul antara 1809-1825.
Jenderal van den Bosch mulai menerapkan koffiestelsel, termasuk di Buitenzorg
dan Preanger. Kofficultuur selama ini (sejak era VOC), sentra produksi hanya
terbatas di Megamendoeng dan Tjiboengboelan. Dengan perubahan status menjadi koffiestelsel,
sentra produksi kopi diperluas ke lereng gunung Salak. Untuk mengefektifkan
kinerja koffiestelsel, para Bupati digaji tinggi, tetapi volume produksi kopi
harus terus meningkat.
efektivitas di dalam pemerintahan (kerjasama Pemerintah Hindia Belanda dan
Pemerintah lokal (dalam hal ini yang dipimpin Bupati) dengan sistem
koffistelsel maka ibukota kabupaten (Bupati) terpaksa dipindah. Bupati Bandoeng
pindah dari ibukota lama (kemudian disebut Dajeuh Kolot) ke ibukota baru (Bandoeng). Hal ini juga tampaknya yang berlaku bagi
Bupati Bogor dipindahkan ke Kampong Empang. Why? Lantas dimana ibukota kabupaten (Bupati) selama ini? Perlu penelusuran lebih lanjut.
sudah mulai berkembang dan dekat ke ibukota Buitenzorg. Sementara sentra-sentra
produksi di lerang-lereng gunung Salak (yang masuk wilayah Pantjasan, Tjiomas,
Dramaga dan lainnya) melalui Kampong Empang. Sebab segera Bupati Bogor pindah
ke Empang tidak lama kemudian jembatan di atas sungai Tjisadane diperbarui
berdasarkan berita tahun 1843 (sedangkan jembatan di atas sungai Tjisadane di
Panaragan (terusan Jembatan Merah) baru diperbarui (dari jembatan bambu menjadi
jembatan permanen) berdasarkan berita tahun 1894. Â Â Â Â Â
![]() |
| Kampung Empang, 1910 |
Area yang sudah
berkembang di lereng gunung Salak salah satunya adalah Kota Batoe. Berdasarkan
berita tahun 1853, ada dua hotel/losmen yang teridentifikasi di Buitenzorg
yakni Hotel Bellevue di Empang dan losmen di Kota Batoe. Hotel Bellevue ini tidak
lain adalah losmen milik Mr. Cobben pada tahun 1825.
tahun 1932 Hotel Bellevue dilikuidasi oleh pemerintah (dalam hal ini Perusahaan
Negara Kereta Api). Lalu gedung (eks hotel Bellevue) dialihkan sebagai gedung rapat
untuk Regetschappenraad (dewan kabupaten). Sedangkan kantor Landraad yang sudah
ada sejak lama berada disamping Hotel Bellevue. Lahan eks gedung kabupaten ini
kelak menjadi lokasi Bioskop Ramayana.
sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber
primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya
digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga
merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap
penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di
artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber
ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini
hanya untuk lebih menekankan saja.Â
















