
pinnata). Kalau dalam bahasa Indonesia, sadapan dari enau atau aren
disebut nira. Nira tersebut manis rasanya, sedangkan ada dua jenis tuak
sesuai dengan resepnya, yaitu yang manis dan yang pahit (mengandung
alkohol).
Pohon enau atau aren dinamai bagot dalam bahasa Batak
Toba. Di kecamatan Balige yang berketinggian sekitar 900m di atas
permukaan laut, banyak bagot tumbuh sendiri. Dan bagot inilah yang tetap
digunakan untuk menyadap tuak.
Penyadap tuak disebut paragat
(agat=semacam pisau yang dipakai waktu menyadap tuak) dalam bahasa Batak
Toba. Setelah dipukul tandan berulang-ulang dengan alat dari kayu yang
disebut balbal-balbal selama beberapa minggu, baru dipotong mayangnya.
Kemudian membungkus ujung tandan tersebut dengan obat (kapur sirih atau
keladi yang ditumbuk) selama dua-tiga hari. Dengan prosedur ini barulah
milai datang airnya dengan lancar.
Seorang paragat menyadap tuak
dua kali sehari, yaitu pagi dan sore. Tuak yang ditampung pagi hari
dikumpulkan di rumah paragat. Setelah ujicoba rasanya, paragat
memasukkan ke dalam bak tuak sejenis kulit kayu yang disebut raru supaya
cocok rasanya dan alkoholnya. Raru inilah yang mengakibatkan peragian.
Resep membuat tuak berbeda-beda sedikit demi sedikit tergantung para
paragat. Resep masing-masing boleh dikatakan “rahasia perusahaan,” maka
tidak tentu siapa pun bisa berhasil sebagai paragat. Paragat harus
belajar dahulu cara kerjanya. Biasanya anak seorang paragat mengikuti
orang tuanya untuk belajar “rahasia” tersebut. Sepanjang diketahui,
tidak ada paragat perempuan, mungkin karena kegiatan paragat sehari-hari
yang turun ke jurang, menaiki pohon bagot dan membawa tuak yang
tertampung ke kampung sangat keras untuk perempuan.
Sebagian
paragat membuka kedai tuak sendiri, tetapi pada umumnya sebagian besar
paragat menjual tuak kepada kedai atau agen tuak. Dengan dekimian
paragat mendapat uang tunai setiap hari, maka taraf kehidupan paragat
lebih tinggi daripada pemilik lapok tuak.
Di masyarakat Batak
Toba, sudah merupakan kebiasaan bagi laki-laki yang menyelesaikan
kerjanya berkumpul di kedai pada sore hari. Mereka berbincang-bincang,
menyanyi, memain kartu, bercatur dan menonton televisi, sambil minum
tuak. Pada umumnya seorang petani biasa minum tuak beberapa gelas
sehari. Kalau laki-laki, baik yang muda maupun yang tua minum tuak di
kedai, tetapi jarang terdapat perempuan yang minum tuak di kedai bersama
laki-laki, kecuali pemilik kedai atau isterinya. Ada juga laki-laki
yang membeli tuak di kedai dan membawa botol yang terisi tuak ke
rumahnya atau ke rumah kawannya untuk minum tuak di situ.
Biasanya
kaum wanita Batak Toba tidak minum tuak. Namun menurut tradisi Batak
Toba, wanita yang baru melahirkan anak minum tuak untuk memperlancar air
susunya dan berkeringat banyak guna mengeluarkan kotoran-kotoran dari
badannya. Wanita minum tuak sebagai gantinya air minum, selama paling
sedikit satu minggu setelah melahirkan anak.
Tuak yang ada
hubungannya dengan adat adalah tuak tangkasan: tuak yang tidak bercampur
dengan raru. Tuak aslinya manis. Tuak yang manis disebut tuak na tonggi
dalam bahasa Batak Toba. Karena tuak itu berasal dari mayang bagot,
maka perlu diketahui legenda keberadaan batang bagot.
Legenda itu
sebagai berikut: Putri si boru Sorbajati dipaksa orang tuanya kawin
dengan seorang laki-laki cacat yang tidak disukainya. Tetapi karena
tekanan orang tua yang sudah menerima uang mahal, si boru Sorbajati
meminta agar dibunyikan gendang di mana dia menari dan akan menentukan
sikap. Sewaktu menari di rumah, tiba-tiba dia melompat ke halaman
sehingga terbenam ke dalam tanah. Kemudian dia menjelma tumbuh sebagai
pohon bagot, sehingga tuak itu disebut aek (air) Sorbajati. Karena
perbuatan yang membunuh diri itu dianggap sebagai perbuatan terlarang,
maka tuak tidak dimasukkan pada sajian untuk Dewata.
Tuak juga
menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah meninggal
dan sebagainya. Tuak termasuk sebagai minuman adat pada dua upacara adat
resmi, yaitu
Ketika
orang yang sudah bercucu meninggal, ditanam beberapa jenis tanaman di
atas tambak. Tambak pada aslinya merupakan kuburan dari tanah yang
terlapis, tetapi kuburan modern yang terbentuk dari semen pula disebut
tambak. Menurut aturan adat, air dan tuak harus dituangkan pada tanaman
di atas tambak. Tetapi sekarang ini biasanya yang dituangkan hanya air
saja, atau paling-paling tuak yang mengandung alkohol.
Dalam
upacara manulangi, para keturunan memberi makanan secara resmi kepada
orang yang sudah meninggal, dimana turunannya meminta restu, nasehat dan
pembagian harta, disaksikan oleh pengetua-pengetua adat. Pada waktu
memberikan makanan harus disajikan air minum serta tuak.
Sumber Referensi Artikel:
– Ginzel, L.S. 1984. Lapo Tuak, Arena Interaksi Sosial bagi Masyarakat Batak Toba
– Marpaung, P. 1989. Fungsi Sosial Minuman Tuak pada Masyarakat Urban Suku Bangsa Batak Toba di Pematang Siantar
– Sirait, W. dan O. Sihotang. 1986. Berbagai Fungsi Kedai Tuak. Pemikiran tentang Batak













