Hukuman menjadi binatang adalah bentuk tekanan sosial dari masyarakat terhadap jomblo. Hanya karena tekanan sosial, jomblo menggunakan segala cara meskipun itu salah, demi dianggap “benar” di lingkungan sosial. Hotel adalah simbol dari society. Liat juga bagaimana hotel memberikan reward dan punishment terhadap peserta dalam setiap pencapaian pesertanya. Untuk reward seperti memberikan kamar yang lebih besar terhadap peserta yang mendapatkan pasangan, bahkan ada juga hadiah sebuah kapal Yacht. Yacht ibarat keluarga kecil yang mengarungi lautan kehidupan rumah tangga yang luas dan menantang. Ini merupakan metafora dari kehidupan masyarakat yang suka memberi pujian dan pengakuan bahwa punya pasangan itu adalah sebuah milestone pencapaian tolok ukur kebahagiaan seseorang, yang kalo ga dicapai tuh hidup berarti belum komplit, yang menganggap bahwa if you are single it is a failure. Sedangkan punishmentnya mereka mengubah manusia menjadi binatang sebagai simbol bahwa society jaman sekarang suka mengucilkan para jomblo seolah-olah mereka juga bukan manusia alias bukan bagian society mereka. The Lobster adalah bentuk extreme dari hal-hal diatas, paham extreme dari kedua kubu, Hotel dan Loners.
Padahal sebenarnya dalam film ini digambarkan ga ada satu pun pihak yang 100% benar ataupun 100% salah, baik Hotel maupun Loners dapat menjadi protagonis maupun antagonis secara bersamaan. Masing-masing mengajarkan apa manfaat, kebaikan dan keburukan dari tiap kebijakan yang diambil. Contohnya seperti Hotel yang menunjukkan demo panggung jika seseorang yang tidak punya pasangan punya resiko tidak ada yang merawat atau menjaga. Atau bagaimana hadiah seorang “anak” bagi pasangan yang sedang “cek-cok”, mereka anggap dapat mengurangi pertikaian rumah tangga, karena ini memang bener, pasangan tentu akan mikir 2 kali untuk bercerai kalo udah mikirin nasib anak jika broken home, ga ada yang namanya “mantan anak”. Sebaliknya Loners memberikan kebebasan individu untuk memiliki self quality-time tanpa harus ada orang lain yang mengganggu, asal jangan lupa untuk menggali kubur sendiri, haha… Jadi ya tergantung dari sudut pandang masing-masing, apapun yang dipilih akan selalu ada yang nganggap salah di mata society. David yang tidak cocok dalam Hotel, mencoba untuk keluar dari “kandang macan”, hanya untuk masuk “ekosistem buaya”, yaitu The Loners. David berpikir akan mendapatkan kecocokan dari sisi yang berlawanan dengan Hotel, tapi nyatanya yang ia dapati ga demikian, tetap ada aturan-aturan yang memberatkan ketika ia malah dapat pasangan disana. Jomblo ga sepenuhnya selalu bisa mengikuti perkataan society untuk harus punya pasangan karena memang merasa lebih baik sendiri dulu, dan sebaliknya jomblo juga ga bisa terus-terusan menjadi Loners yang hidup menyendiri karna sesekali bisa merasakan kesepian dan mendambakan bahu untuk disandar, eeaaaa…..
Part II : Berisi Spoiler
Film ini mengajarkan bahwa cinta dan pilihan untuk hidup berpasangan semestinya datang dengan sendirinya, dan murni dari keinginan orang tersebut, tanpa ada tekanan dari manapun. Dan cinta yang sejati adalah cinta yang tulus, saling mengasihi dan menyayangi apa adanya, bukan dari unsur kesamaan atau unsur-unsur ga penting lainnya. Dan ga selamanya juga apa yang kita liat orang berpasangan itu “benar”, bahkan ada hubungan yang palsu, tidak dilandaskan atas cinta yang sebenarnya. Ini disindir lewat scene para Loners yang nyelinap masuk kamar manajer Hotel dan kemudian menyandera mereka berdua. Mereka “ngetest” cinta pasangan ini dengan sebuah pistol. Mereka mengancam akan membunuh mereka berdua, unless sang suami kalo suami mau hidup, dia harus tembak istrinya dengan pistol tersebut. Tanpa banyak pikir, dalam sekejap mata sang suami tega mematik pistol untuk membunuh istrinya, tapi ternyata pistol itu kosong ga ada peluru. Ini adalah kemenangan besar untuk Loners yang berhasil membuktikan kalo prinsip Hotel itu palsu dan tidak absolut. Begitupula saat David nyelinap ke Yacht untuk mengungkapkan kebohongan si pincang di depan cewek mimisan dan menyarankan mereka untuk saling jujur dalam relationship. Kepalsuan juga tak hanya ada pada orang yang berpasangan tapi juga orang yang sahabatan. Ini disampaikan melalui scene si cewek mimisan yang BFF-an dengan cewek rambut pirang. Pada hari dimana cewek rambut pirang akan di eksekusi menjadi binatang, ia menuliskan surat untuk sahabatnya, yang berisi unek-unek dia terhadap cewek mimisan yang cuma mentingin diri sendiri, sok pamer, sok baik, padahal akting doank. Banyak toh kita temui yang ginian di dunia nyata, sok-sok akrab depan orang atau di sosmed, padahal dalam hati ngedumel, di belakangnya sirik-sirikan, haha…
True love sebenarnya diuji saat ending. Jika saja David menyadari bahwa “kesamaan” bukanlah patokan “cinta”, maka semua akan happy ending. Tapi sayangnya David udah terjebak dalam tekanan sosial dan terdoktrin untuk bisa masuk dalam masyarakat harus berpasangan hingga tidak menyadari bahwa sebenarnya yang dia lakukan dan rasakan saat pertama kali wanita itu awal-awal mengalami kebutaan, dengan berada di sampingnya, menghibur dan membantunya, itulah true love-nya, ironi bukan… Begitu pula si wanita, jika saja dia mengerti tentang cinta sejati, seharusnya dia tidak meminta David untuk ikut membutakan matanya, melainkan harus terima keadaan dengan ikhlas dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada David mau kemana hubungan ini dibawa selanjutnya. Jika David juga punya true love, mencintai dirinya apa adanya, maka tentu ia akan mengerti bahwa hubungan itu lebih besar dari apa yang ditanamkan oleh society.

At last, ending film ini masih (sengaja) menggantung, dengan scene sang wanita yang terus menunggu, menunggu dan menunggu. Diserahkan kepada penonton untuk memberikan asumsi masing-masing. Ada 3 pilihan :
1. David beneran membutakan matanya, tapi kemudian karena buta dia ga tau jalan untuk kembali ke meja sang wanita, begitupun ia tak dapat lagi melihat yang mana wanitanya duduk.
2. David ga mau membutakan matanya, dia mesen gojek kemudian kabur meninggalkan sang wanita sendirian. Toh juga si wanita ga bisa ngeliat dia pergi.
3. David tidak membutakan dirinya, tapi berpura-pura bilang kalo dia buta. Ini agak mendekati true love sih, karena David mau menerima pasangannya apa adanya dan berbohong untuk kebaikan bersama. Dengan dia tetap bisa melihat, dia dapat menjaga sang wanita. Mereka hidup bahagia selamanya, eeaaa…. Tapi sayangnya opsi ketiga ini sulit terwujud, karena ntar diliat society mereka “tidak sama”, malah dilaporkan ke polisi dan ditindaklanjuti.
Akhir kata ada pertanyaan yang bagus dari David dalam film ini :
“Mana yang lebih mudah? Pura-pura gak punya perasaan padahal cinta? Atau pura-pura cinta tapi ngga?”
Dan pada akhirnya, society doesn’t care.