Sobekan tiket bioskop tertanggal 27 Februari 2011 edisi Glasgow Film Festival adalah West Side Story. Bahagianya gue ketika mengetahui bahwa dalam rangka 50 tahun perayaan rilisnya film ini, Glasgow Film Festival dengan baik mau mengangkat film klasik ini ke layar lebar. Gue memang baru nonton film ini satu kali, itu pun beberapa tahun lalu dan semenjak itu film ini langsung masuk dalam jajaran Top 5 All Time Favourite gue. Semenjak itu, gue selalu menunggu momen dan mood yang tepat untuk menontonnya lagi. Tapi siapa sangka kalau gue akan rewatch film ini di layar lebar! Belum lagi sobekan tiket film ini akan menjadi salah satu sobekan tiket yang paling berharga dalam koleksi gue. Ahey!
Cerita yang diadaptasi secara bebas dari kisah tragedi romantis klasik karya Shakespeare, Romeo and Juliet. Dalam film ini, kedua kubu yang bertikai adalah geng anak muda antara Jets, geng anak-anak kulit putih yang dipimpin oleh Riff, dengan Sharks, geng anak-anak imigran asal Puerto Rico yang dipimpin oleh Bernardo. Pertikaian dan perebutan wilayah di antara mereka pun semakin meningkat dan tidak terkontrol lagi. Namun sahabat baik dari Riff, Tony, bertemu dengan Maria di sebuah pesta dansa dan mereka berdua pun saling jatuh cinta. Tidak ada yang bisa menghentikan mengembangnya perasaan di antara mereka berdua, termasuk kenyataan bahwa ternyata Maria adalah adik kandung dari Bernardo.
Tony dan Maria pun harus sembunyi-sembunyi untuk sekedar bertemu dan melepas rindu. Lalu Sharks dan Jets akan mengadakan duel, Maria yang mendengar hal ini pun meminta Tony untuk menghentikan kekerasan dan duel tersebut. Tony yang muncul di tengah-tengah duel yang sedang berlangsung malah membuat keadaan menjadi tambah kacau. Ditambah dengan serentetan kejadian yang malah membuat jarak antara Tony dan Maria menjadi semakin jauh.

Mari bicara tentang lagu-lagunya. Salah satu yang membuat gue sangat mencintai sebuah film musikal adalah ketika lebih dari setengah dari semua lagu yang tampil di dalam film mudah untuk diingat kembali atau ear-catchy. Gue masih ingat lama setelah gue menonton film ini pertama kalinya, gue mendengar lagu Someday di radio dan entah kenapa gue merasa kenal dengan melodinya bahkan gue ikut bernyanyi.

Mungkin banyak sutradara dan penulis naskah yang tergoda untuk mengadaptasi kisah klasik Romeo dan Juliet dengan baju, latar, dan setting yang berbeda. Dari pertikaian antara dua kubu suporter sepak bola sampai pada para gnomeo penghuni taman yang bertetanggaan. Tapi rasanya engga berlebihan kalau gue bilang bahwa film ini adalah adaptasi bebas terbaik yang pernah gue tonton. Walaupun gue belum lahir di tahun rilisnya film ini, tapi gue yakin bahwa film ini ingin mengangkat isu permasalahan sosial yang ada pada saat itu.
Dengan memakai latar New York, sebuah kota besar yang menjadi daya tarik bagi para imigran. Perselisihan antara para imigran dengan para penduduk lokal ini memang bukan hal baru di negara maju. Permasalahan imigran yang datang ke kota-kota besar di negara Barat diangkat dengan baik oleh Biutiful.


Rating?
10 dari 10
*BONUS: salah satu adegan favorit gue, ketika Tony dan Maria pertama kali bertemu. Kalau di Romeo + Juliet – nya Baz Luhrman, digambarkan dengan indah lewat lagu Kissing You-nya Desree, di film ini digambarkan dengan rada norak dan cheesy tapi somehow sangat menggambarkan kira-kira apa yang Tony dan Maria rasakan (dan lihat) ketika saling melihat satu sama lain. Setelah itu, mereka yang dansa dengan koreografi yang imut dan menarik.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Baca juga cerita “behind the scene” gue pas nonton film ini di bioskop di sini.












